Indonesia
NovelToon NovelToon
SKETSA PUTIH BIRU

SKETSA PUTIH BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:451
Nilai: 5
Nama Author: Aurentina Bulolo

Bagi Auren, kain biru tua yang kaku itu bukan sekadar seragam baru, melainkan awal dari cerita abadi yang akan ia lewati bersama Evan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurentina Bulolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genggaman Tangan Di Halte Bus

Evan dan Auren berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru. Tangan Evan masih merangkul tangan Auren dengan erat, seolah enggan melepaskannya barang sedetik pun. Beberapa siswa yang berpapasan dengan mereka sempat mencuri pandang, namun Evan bersikap acuh tak acuh dan tetap fokus pada gadis di sebelahnya.

Begitu mereka berdua melangkah masuk ke dalam ruang guru yang sejuk, Guru Piket langsung menyambut mereka dengan senyuman.

"Eh, Evan. Loh, kamu ke sini sama Auren juga?" tanya Guru Piket agak terkejut, namun tidak mempermasalahkannya

"Iya, Bu. Ada apa ya memanggil saya?" tanya Evan dengan sopan, kembali ke mode ketua kelas yang berwibawa.

Guru Piket itu kemudian menunjukkan sebuah berkas berkas pendaftaran. "Begini, Evan. Sebagai ketua kelas, Ibu mau menginfokan kalau besok kelas kalian akan kedatangan seorang murid baru. Dia pindahan dari luar kota. Ibu minta tolong agar kamu dan perangkat kelas lainnya nanti bantu dia untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah ya."

Evan mengangguk paham setelah membaca sekilas informasi umum murid baru tersebut. "Baik, Bu. Besok akan saya kondisikan kelas dengan baik."

Setelah pembicaraan singkat yang berlangsung sekitar 10 menit itu selesai, Evan dan Auren pun berpamitan. Mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan sisa jam pelajaran. Beruntung, sisa hari itu berjalan dengan sangat tenang. Belajar mengajar berlangsung seperti biasa tanpa ada gangguan, bahkan Balisya memilih untuk diam dan tidak mencari gara-gara, membuat Auren bisa bernapas lega.

Kringgg!!!

Bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas, termasuk Evan dan Auren. Sesuai dengan kebiasaan mereka, Evan selalu memastikan Auren pulang dengan aman. Sore itu, Evan menemani Auren berjalan kaki menuju halte bus terdekat.

"Sini tas kamu, biar aku yang bawa," ucap Evan lembut saat mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah. Tanpa menunggu jawaban, Evan langsung mengambil alih tas sekolah Auren lalu merangkulnya di salah satu bahunya, membuat beban Auren menjadi ringan.

"Eh, Van, tidak usah repot-repot..." ucapan Auren terhenti saat merasakan kehangatan tiba-tiba menjalar di jemarinya.

Evan menyusupkan jari-jemarinya di sela-sela jari Auren, lalu menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat dan posesif. Langkah kaki mereka berdua melambat, menikmati angin sore yang berembus pelan.

"Gak repot sama sekali, Aurenku," ujar Evan sambil menatap Auren dengan tatapan mata yang begitu teduh.

Auren menunduk, menyembunyikan senyumannya yang merebak. Genggaman tangan Evan terasa begitu pas dan nyaman, seolah tangan mereka memang diciptakan untuk saling bertautan.

Sesampainya di halte, bus yang ditunggu Auren ternyata sudah datang. Sebelum Auren melangkah naik, Evan menahan tangannya sejenak. Ia memajukan tubuhnya, lalu dengan jari telunjuk dan tengahnya, Evan mengetuk punggung tangan Auren sebanyak dua kali.

Tok. Tok.

"Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai rumah, Aurenku," bisik Evan dengan senyuman manis berserta lesung pipinya yang memikat.

Auren mengangguk malu-malu. "Iya, Evan. Kamu juga hati-hati ya." Dengan hati yang berbunga-bunga, Auren melangkah masuk ke dalam bus, menyisakan Evan yang berdiri di halte sambil melambaikan tangan dengan tatapan yang terus melekat pada figur gadisnya.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Auren yang merasa tubuhnya gerah setelah perjalanan pulang langsung meletakkan tasnya di meja belajar. Ia segera mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi, benar-benar melupakan pesan Evan di halte bus tadi untuk langsung memberikan kabar.

Sementara itu di kamarnya, Evan duduk di tepi kasur sambil menatap layar ponselnya yang masih sepi. Menit demi menit berlalu hingga hampir satu jam sejak bus Auren berangkat, namun belum ada satu pun pesan masuk dari gadisnya. Rasa cemas mulai merayapi hati ketua kelas yang biasanya selalu tenang itu.

Tanpa ragu, Evan langsung menekan tombol panggilan.

Panggilan pertama... tidak diangkat.Panggilan kedua... tetap tidak ada jawaban.

Evan terus menelepon tanpa menyerah. Panggilan demi panggilan ia layangkan sebanyak mungkin. Pikirannya sudah melayang memikirkan hal-hal buruk, membuatnya tidak bisa tenang dan terus mondar-mandir di dalam kamarnya dengan ponsel yang terus berdering menyambungkan panggilan.

Di sisi lain, Auren baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia terkejut setengah mati mendengar ponselnya di atas meja terus-menerus bergetar dan berdering menyanyikan nada panggil. Begitu melihat layar, ada belasan panggilan tak terjawab dari Evan, dan kini ponselnya kembali berdering menampilkan nama cowok itu.

Auren dengan cepat menggeser tombol hijau ke kanan. "Halo, Evan?"

"Auren! Kamu ke mana saja? Kenapa baru angkat?" Suara Evan di seberang telepon terdengar sangat panik, napasnya bahkan sedikit memburu karena rasa khawatir yang membuncah.

Auren langsung merasa bersalah. "Maaf, Evan... maaf banget. Tadi begitu sampai rumah aku langsung mandi karena gerah sekali. Aku sampai lupa megang ponsel, apalagi buat kasih kabar ke kamu. Maaf ya bikin kamu khawatir."

Mendengar penjelasan itu, terdengar embusan napas lega yang sangat panjang dari ujung telepon. Ketegangan di tubuh Evan seketika mengendur.

"Syukurlah... aku benar-benar takut terjadi sesuatu sama kamu di jalan tadi," bisik Evan. Suaranya kini melunak, kembali menjadi sangat hangat dan penuh kerinduan yang mendalam. "Kamu tahu tidak? Satu jam tanpa kabar dari kamu itu rasanya lama sekali, Aurenku."

Wajah Auren kembali merona merah meski mereka tidak saling berhadapan. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, meremas ujung bajunya dengan salah tingkah. "Iya, aku tahu aku salah. Jangan marah ya, Evan?"

Evan terkekeh pelan di seberang sana. Suara kekehannya terdengar begitu seksi di telinga Auren. "Mana bisa aku marah sama kamu. Mendengar suara kamu sekarang saja sudah membuat rasa khawatirku hilang semua."

"Ih, Evan gombal terus," gumam Auren dengan suara pelan, menyembunyikan senyum bahagianya.

"Aku tidak gombal, aku serius. Lain kali, sebelum mandi atau sebelum melakukan apa pun, kabari aku dulu ya? Biar hatiku tenang," pinta Evan dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Iya, janji. Nanti-nanti langsung aku kabari," jawab Auren lembut.

Evan tersenyum di kamarnya, membayangkan wajah manis Auren yang pasti saat ini sedang memerah. "Yaudah, yang penting Aurenku baik-baik aja. Kamu istirahat yaa. Sampai jumpa besok yaa, Aurenkuu."

"Iya, Evan. Kamu juga istirahat ya," balas Auren sebelum panggilan itu akhirnya terputus dengan perasaan bahagia yang membuncah di dada mereka masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!