Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Ujian Murid Luar
Tiga bulan berlalu di dalam Klan Tang terasa seperti tiga tahun bagi Tang Hyun, karena setiap hari di tempat ini adalah pertempuran antara hidup dan mati, antara tubuhnya yang menolak racun dan kemauannya yang memaksanya untuk menerima racun itu sampai ke sumsum tulang, dan di akhir bulan ketiga itu, ketika bekas luka baru sudah menutupi bekas luka lama dan darahnya sudah berubah menjadi hitam kemerahan yang jika diteteskan ke tanah bisa membuat rumput layu dalam sekejap, barulah Tetua Ketiga menganggapnya cukup layak untuk menghadapi ujian yang akan menentukan apakah dia bisa meninggalkan aula murid luar dan naik menjadi murid dalam.
Ujian Murid Luar diadakan setiap musim semi di halaman belakang kompleks Klan Tang, sebuah tempat yang disebut Lembah Kabut Ungu, karena sepanjang tahun lembah itu diselimuti kabut tipis berwarna ungu yang sebenarnya adalah campuran dari puluhan jenis racun ringan yang sengaja disebarkan agar orang luar tidak bisa masuk tanpa izin, dan bagi murid luar, masuk ke lembah itu sama saja dengan berjalan ke dalam rahang binatang buas dengan mata tertutup.
Pagi itu, ketika kabut masih tebal dan udara masih dingin menusuk, dua puluh tujuh murid luar berdiri berbaris di depan gerbang batu besar yang diukir dengan gambar seratus bunga plum dan seratus jarum tersembunyi, dan di depan mereka berdiri Tetua Ketiga bersama dengan dua Tetua lain serta tiga murid inti yang wajahnya tertutup topeng besi, karena murid inti Klan Tang tidak pernah menunjukkan wajah mereka di depan murid luar kecuali untuk membunuh.
"Aturannya sederhana," suara Tetua Ketiga menggema di seluruh lembah, berat dan tanpa emosi, "kalian punya waktu sampai matahari terbenam untuk mencapai patung di tengah lembah dan mengambil bendera Klan Tang yang tertancap di sana, selama perjalanan kalian boleh saling bertarung, boleh bekerja sama, boleh menggunakan racun, jebakan, atau apa saja, tetapi jika kalian keluar dari lembah sebelum waktunya habis atau jika kalian mati di dalam, maka kalian gagal dan akan dikirim ke tambang herbal di perbatasan untuk bekerja sampai mati."
Tang Hyun berdiri di barisan paling belakang, jubah ungu gelapnya sedikit berkibar tertiup angin, dan di tangannya dia menggenggam kipas besi pemberian Tetua Ketiga, sebuah senjata sederhana yang di dalamnya tersembunyi dua belas jarum beracun yang bahkan bisa menembus baju besi tipis dari jarak sepuluh langkah.
Dia tidak takut mati, karena dia sudah pernah mati sekali, dan dia juga tidak takut gagal, karena kegagalan baginya berarti kembali menjadi tidak terlihat, dan itu adalah hal yang paling dia benci di dunia ini.
Gong besar dipukul tiga kali, dan gerbang batu terbuka dengan suara berat yang membuat tanah bergetar, dan seketika itu juga dua puluh tujuh murid luar berhamburan masuk ke dalam kabut seperti sekawanan serigala yang dilepaskan ke dalam hutan.
Kabut di dalam Lembah Kabut Ungu bukan kabut biasa, karena begitu Tang Hyun melangkah masuk, tenggorokannya langsung terasa gatal dan matanya mulai berair, dan dia tahu bahwa ini adalah Kabut Pemecah Paru, salah satu racun paling dasar yang digunakan Klan Tang untuk menguji ketahanan murid baru, dan meskipun tubuhnya sudah ditempa selama berbulan-bulan, dia tetap harus menahan napas setiap beberapa langkah dan mengeluarkan racun dari tubuhnya melalui pori-pori kulit agar tidak keracunan.
Di depannya, dua murid luar sudah mulai bertarung, saling melemparkan bubuk berwarna dan melempar jarum kecil yang bersiul di udara, dan tidak butuh waktu lama bagi salah satu dari mereka untuk terjatuh dengan busa keluar dari mulutnya karena terkena racun di ujung jarum lawannya.
Tang Hyun tidak ikut campur, karena tujuannya bukan membunuh orang lain, tujuannya adalah mencapai patung di tengah, dan untuk melakukan itu dia harus bergerak cepat dan diam, seperti ular yang menyusup di antara batu.
Jalan menuju tengah lembah penuh dengan jebakan, ada tali tipis yang jika tersentuh akan melepaskan kabut beracun lebih pekat, ada lubang tertutup daun yang di dalamnya penuh paku beracun, dan ada bunga-bunga indah yang jika dicium aromanya akan membuat seseorang tertidur dan tidak akan pernah bangun lagi.
Namun semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hal yang paling berbahaya di lembah ini, yaitu murid luar lainnya.
Setengah jam kemudian, Tang Hyun berhenti di balik batu besar ketika dia mendengar suara langkah kaki mendekat, dan dari balik kabut muncul tiga orang yang berjalan bersama, dipimpin oleh seorang pemuda bernama Tang Bo, yang dikenal sebagai yang terkuat di antara murid luar tahun ini karena ayahnya adalah salah satu pengurus gudang racun.
"Kau," Tang Bo menunjuk Tang Hyun dengan dagunya, "kau anak baru yang dilatih Tetua Ketiga itu kan? Aku dengar kau bisa membuat orang mati hanya dengan menyentuhnya."
Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya berdiri dan menatap mereka dengan mata datar, karena dia sudah belajar bahwa di Klan Tang, berbicara terlalu banyak hanya akan membuatmu mati lebih cepat.
"Kami butuh orang tambahan untuk membuka jalan ke tengah," lanjut Tang Bo sambil tersenyum licik, "bagaimana kalau kau bergabung dengan kami? Tentu saja, setelah kita sampai di patung, benderanya akan jadi milikku."
Tang Hyun menggeleng pelan, dan itu sudah cukup untuk membuat Tang Bo mengernyit dan memberi isyarat kepada dua orang di belakangnya.
Pertarungan pecah dalam sekejap, dan kabut di sekitar mereka langsung berubah menjadi kacau karena bubuk racun dan jarum yang beterbangan ke segala arah.
Tang Bo adalah pengguna Cambuk Racun, senjatanya adalah cambuk panjang yang ujungnya dicelupkan ke dalam racun Kelabang Merah, dan setiap kali cambuk itu menyentuh tanah, tanah itu akan mengeluarkan asap dan meninggalkan bekas gosong.
Namun Tang Hyun sudah bukan Gu Cheol yang dulu, dia sudah terbiasa dengan rasa sakit, dan dia sudah terbiasa melihat kematian, sehingga ketika cambuk itu melesat ke arah wajahnya, dia hanya memiringkan kepala sedikit dan membalas dengan melemparkan tiga jarum dari dalam kipasnya.
Jarum itu melesat terlalu cepat untuk dilihat dengan mata biasa, dan sebelum Tang Bo sempat bereaksi, dua jarum sudah menancap di bahu kirinya dan satu jarum lagi menggores pipinya, meninggalkan garis hitam tipis yang langsung membengkak.
Tang Bo berteriak dan mundur, sementara dua temannya ragu-ragu untuk maju, karena mereka bisa melihat bahwa Tang Hyun bahkan tidak berkeringat, seolah pertarungan ini tidak lebih melelahkan baginya daripada berjalan biasa.
"Ayo pergi," salah satu dari mereka berbisik, dan tanpa menunggu jawaban, ketiganya berlari ke arah berbeda dan menghilang ke dalam kabut, meninggalkan Tang Hyun sendirian dengan tiga mayat yang mulai membiru di tanah.
Dia tidak merasa bangga, tidak merasa senang, karena baginya ini hanyalah langkah pertama, dan langkah selanjutnya akan jauh lebih sulit.
Ketika matahari sudah berada di atas kepala, Tang Hyun akhirnya mencapai bagian tengah lembah, dan di sana, di atas bukit kecil, berdiri sebuah patung batu setinggi tiga orang yang menggambarkan pendiri Klan Tang sedang memegang bunga plum di satu tangan dan sekantong racun di tangan lainnya, dan di kaki patung itu tertancap sebuah bendera kecil berwarna ungu dengan lambang Klan Tang.
Namun dia tidak sendirian.
Di depan patung itu sudah berdiri seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun, mengenakan gaun ungu muda khas Klan Tang, rambutnya diikat dengan pita perak, dan di pinggangnya tergantung beberapa kantong kecil yang mengeluarkan bau manis yang berbahaya.
Tang So-yeon.
Jantung Tang Hyun berhenti berdetak selama satu detik, karena inilah pertama kalinya dia melihat wanita itu dari jarak sedekat ini, bukan dari atap di Kaifeng, bukan dari kejauhan, tetapi benar-benar berdiri hanya sepuluh langkah di depannya.
Tang So-yeon, Racun Bunga Plum, salah satu dari Tiga Bunga Kecantikan Jianghu, dan juga orang yang menjadi alasan utama dia memilih untuk masuk ke Klan Tang.
Tang So-yeon menoleh perlahan ketika merasakan kehadiran orang lain, dan matanya yang berwarna ungu gelap menatap Tang Hyun dari atas ke bawah, tanpa ekspresi, tanpa rasa ingin tahu, seolah dia sedang melihat batu di jalan.
"Kau murid luar," katanya pelan, suaranya jernih dan dingin seperti air dari puncak gunung, "apa yang kau lakukan di sini?"
Tang Hyun ingin menjawab, ingin mengatakan sesuatu yang keren atau setidaknya memperkenalkan dirinya, tetapi lidahnya kelu, karena di depan wanita ini dia tiba-tiba kembali menjadi Gu Cheol, pengemis yang tidak layak untuk berbicara.
"Aku... aku di sini untuk ujian," akhirnya dia menjawab, suaranya serak.
Tang So-yeon tidak menjawab, dia hanya berjalan melewati Tang Hyun dan mengambil bendera di kaki patung dengan mudah, seolah tidak ada seorang pun yang berhak merebutnya darinya, dan sebelum pergi dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Kau punya bau racun yang aneh di tubuhmu," katanya, "bukan racun Klan Tang. Hati-hati, kalau Tetua tahu kau mempelajari sesuatu di luar ajaran klan, mereka akan membuangmu ke sumur racun."
Setelah mengatakan itu, dia melompat ringan dan menghilang ke dalam kabut, meninggalkan Tang Hyun berdiri terpaku di tempatnya, dengan dada yang terasa sesak bukan karena racun, tetapi karena sesuatu yang sudah lama dia lupakan.
Harapan.
Sore harinya, ketika matahari hampir terbenam, hanya tujuh orang yang berhasil keluar dari Lembah Kabut Ungu, dan di antara mereka adalah Tang Hyun, yang tubuhnya penuh goresan dan pakaiannya basah oleh keringat dan darah, tetapi tangannya tetap menggenggam erat kipasnya.
Tetua Ketiga menatapnya lama, lalu mengangguk sekali.
"Kau lulus," katanya, "mulai besok, kau adalah murid dalam Klan Tang."
Malam itu, di kamarnya yang baru, lebih besar dan lebih bersih dari sebelumnya, Tang Hyun duduk di depan jendela dan menatap bulan, dan di dalam pikirannya dia terus memutar ulang kata-kata Tang So-yeon tadi siang.
"Kau punya bau racun yang aneh di tubuhmu."
Itu berarti dia memperhatikannya, setidaknya selama beberapa detik.
Dan bagi Tang Hyun, beberapa detik itu sudah cukup untuk membuatnya bersumpah bahwa suatu hari nanti, dia akan berdiri di samping wanita itu bukan sebagai murid luar yang ketakutan, tetapi sebagai seseorang yang setara dengannya, seseorang yang cukup kuat untuk tidak kehilangan siapa pun lagi.
Di kejauhan, di paviliun murid inti, Tang So-yeon juga sedang menatap bulan, dan tanpa alasan yang jelas, dia tiba-tiba teringat bau racun aneh yang dia cium tadi di lembah, bau yang tidak seperti racun Klan Tang, melainkan bau yang lebih liar, lebih bebas, dan lebih berbahaya.
"Menarik," gumamnya pelan, lalu dia menutup jendela dan kembali ke latihannya.
Perang besar di dunia murim akan dimulai, dan di tengah-tengahnya, seorang pemuda bernama Tang Hyun baru saja mengambil langkah pertamanya.