Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Menolak kata hati
Lima menit kemudian, Fadil melangkah kembali ke sudut VIP ballroom dengan segelas cangkir teh chamomile hangat di tangannya. Namun, langkah pria itu langsung terhenti saat matanya menyapu area lounge bernuansa perak tersebut.
Dimas, Cynthia, dan Maya masih berdiri di sana sembari menikmati champagne, tetapi sosok wanita bergaun dusty rose dengan rambut hitam panjang terurai itu sudah tidak ada di tempatnya.
"Mana Aura?" tanya Fadil, suaranya terdengar datar namun matanya menyapu sekeliling dengan cermat.
Dimas berpaling seraya menyesap minumannya. "Tadi dia pamit ke toilet sebentar, Dil. Katanya mau merapikan riasan," jawabnya.
Fadil pun mengangguk tipis, lalu berdiri menyendiri di dekat pilar sembari memegangi cangkir hangat itu. Di balik wajahnya yang tenang, ada desiran kecemasan tipis yang tak terjelaskan.
Sementara itu, di dalam area koridor luar yang sepi, Aura melangkah keluar dari area kamar mandi wanita. Ia baru saja membasuh telapak tangannya yang dingin dan mengusap pelipisnya dengan tisu basah.
Meski di hadapan teman-teman Fadil tadi ia mampu memposisikan dirinya dengan sangat dewasa dan tenang, jauh di dalam lubuk hatinya, Aura tetaplah manusia biasa.
Berada di tengah-tengah kerumunan orang asing, berpura-pura menjadi pasangan bahagia di atas panggung sandiwara, dan terus-menerus didikte oleh bayang-bayang masa lalu kakaknya perlahan menguras sisa-sisa tenaganya.
Hati Aura terasa begitu sesak dan menghimpit.
Saat menyusuri lorong yang sepi, ingatan Aura tak bisa dibendung dan melayang pada sosok Farhan.
‘Seharusnya... di pesta-pesta seperti inilah aku berdiri bersama Farhan,’ batin Aura merintih lirih.
Jika bersama Farhan, pria itu pasti akan menggenggam jemarinya dengan hangat, menatapnya dengan penuh cinta murni tanpa prasangka, dan berbisik manja menanyakan apakah ia lelah atau haus.
Bersama Farhan, ia tidak perlu memasang topeng kepura-puraan atau menahan rasa canggung yang menyiksa. Bayangan kebahagiaan sederhana yang kini telah terenggut itu membuat mata Aura kembali berkaca-kaca.
Ingin melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk ballroom yang megah namun membekukan, Aura melangkah menuju pintu kaca besar di ujung koridor yang mengarah ke area balkon luar gedung.
Ia membuka pintu kaca tersebut, melangkah keluar, dan membiarkan hembusan angin malam yang dingin menyapa kulit serta helai-helai rambut hitamnya yang terurai.
Aura memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan udara segar, hingga membuatnya merasa sedikit leluasa.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Sret!
Tiba-tiba, dari kegelapan sudut balkon, sepasang tangan kekar terulur dan menarik tubuhnya dengan cepat ke balik pilar besar.
"Argh!"
Aura tersentak kaget luar biasa.
"Kamu! Siapa—"
Aura mencoba melepaskan diri dan berusaha memberontak, lalu menghentakkan tangannya agar terlepas dari cengkraman tersebut.
Namun, tenaga sosok itu jauh lebih kuat. Sebelum Aura sempat menjerit atau memukul, tubuhnya diputar dan direngkup dalam sebuah pelukan erat dari belakang.
Dada pria itu menempel rapat di punggung Aura, sementara kedua lengannya mengunci tubuh Aura begitu erat, seolah-olah takut wanita itu akan menguap menjadi udara jika dilepaskan.
"Lepaskan!"
Aura hendak berteriak minta tolong, namun sebuah bisikan parau dan bergetar tepat di dekat telinganya langsung menghentikan seluruh pergerakan tubuhnya.
"Aura... ini aku."
Aura mematung seketika. Suara berbariton lembut yang penuh duka, kerinduan, dan kehancuran itu sangat ia kenali. Suara yang selama bertahun-tahun selalu menjadi tempatnya pulang dan berteduh.
"Farhan..." bisik Aura, air matanya menetes seketika membasahi pipi.
"Iya, Ra... ini aku," bisik Farhan yang semakin erat mendekap tubuh Aura, lalu menyembunyikan wajahnya di balik leher dan helai rambut panjang Aura yang beraroma wangi.
Napas pria itu memburu dan hangat di kulit leher Aura. "Aku mohon... jangan teriak, jangan usir aku, Ra. Tolong... sebentar saja..."
Aura memejamkan matanya rapat-rapat. Seluruh pertahanan diri yang ia bangun susah payah sepanjang malam runtuh berkeping-keping.
Sentuhan Farhan, aroma tubuh pria itu, dan nada suaranya yang sarat akan luka mendalam mengembalikan seluruh memori indahnya yang hancur dalam semalam.
"Farhan... kenapa kamu ada di sini?" tangis Aura pecah tanpa suara, tubuhnya bergetar di dalam dekapan Farhan. "Kamu tidak boleh seperti ini... aku... aku sudah—"
"Aku ikuti mobilmu sejak dari rumah itu, Ra," potong Farhan dengan suara yang pecah oleh isakan. "Setiap hari aku seperti orang gila menunggu di depan kompleksmu, berharap bisa melihat wajahmu sebentar saja. Aku tidak bisa tidur, aku tidak bisa makan, Ra... hatiku hancur melihatmu berdiri di samping pria itu malam ini..."
Farhan perlahan memutar tubuh Aura hingga mereka berhadapan di balik remangnya cahaya lampu balkon. Kedua tangan Farhan yang dingin membingkai wajah Aura, jemarinya dengan lembut mengusap air mata yang mengalir di pipi wanita yang teramat dicintainya itu.
Matanya yang sembap dan memerah menatap manik mata Aura lekat-lekat. "Katakan padaku, Ra... katakan padaku kalau kamu tidak bahagia bersamanya. Katakan kalau kamu dipaksa... Tolong, Ra... ikut aku pergi malam ini. Kita tinggalkan semua kekacauan ini."
Aura menatap wajah Farhan yang tampak begitu tirus dan hancur. Tenggorokannya terasa sangat menyengat, dipenuhi rasa bersalah dan cinta yang terlarang.
Di satu sisi, hatinya menjerit ingin lari bersama pria ini, kembali ke masa-masa indah saat hidup mereka seperti milik berdua. Namun di sisi lain, ikatan pernikahan sah, janji di hadapan Tuhan, serta ancaman kehancuran nama baik keluarga besarnya menahan kakinya bagaikan rantai besi yang tak terpatahkan.
"Farhan..." bisik Aura dengan suara yang hampir habis oleh air mata, kemudian menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Kita... kita sudah tidak bisa lagi."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣