Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham, Cemburu Buta, dan Drama Parfum Wanita
Setelah insiden pengusiran Ethan dan Chloe yang berakhir kocak, kehidupan rumah tangga Reina dan Jino kembali berjalan normal—atau setidaknya, itulah yang dikira Reina.
Seminggu berlalu dengan damai. Jino kembali sibuk dengan urusan korporat di kantor pusat, sementara Reina fokus merampungkan bab-bab akhir novel wuxianya. Namun, kedamaian itu mendadak terusik pada suatu sore ketika Reina berniat memberikan kejutan kecil untuk suaminya.
Tanpa memberi tahu Jino, Reina mendatangi kantor pusat West Corporation menjelang jam pulang kerja. Dengan membawa sekotak kue buatan tangannya sendiri, ia melangkah masuk ke lantai paling atas tempat ruang kerja pribadi Jino berada. Para staf yang sudah mengenal Reina menyambutnya dengan senyuman hormat.
Namun, tepat saat Reina tiba di depan pintu kaca besar ruang kerja Jino, langkah kakinya terhenti seketika. Pintu tersebut tidak tertutup rapat; ada celah sekitar sepuluh sentimeter yang terbuka.
Dari dalam ruangan, terdengar suara seorang wanita asing yang asing di telinga Reina—suara yang terdengar lembut, manja, dan sangat akrab.
"Jino, kancing jasmu miring begini. Biar kubantu rapikan ya," ucap suara wanita itu. Disusul oleh suara desahan kecil yang terdengar begitu intim.
Jantung Reina berdegup kencang. Seketika itu juga, darahnya berdesir naik ke kepala. Ia membeku di tempat.
Melalui celah pintu, Reina melihat sosok seorang wanita cantik berambut pirang ikal mengenakan pakaian desainer mewah sedang berdiri sangat dekat dengan Jino. Wanita itu adalah Vanessa Vance—putri dari salah satu mitra bisnis luar negeri yang baru saja kembali dari Paris, sekaligus teman masa kecil Jino yang dulu sempat digadang-gadang akan dijodohkan dengannya sebelum Jino menikah.
Jino tampak berdiri kaku, namun ia tidak langsung menepis tangan Vanessa yang sedang merapikan jasnya. "Terima kasih, Vanessa. Tapi aku bisa melakukannya sendiri," jawab Jino dengan nada datarnya yang biasa.
"Ah, kau ini masih saja kaku seperti dulu, Jino. Padahal kita sudah lama tidak bertemu. Apa benar kau sekarang sudah menikah dengan wanita biasa? Mana mungkin pria sepertimu betah," goda Vanessa sambil tertawa kecil, sengaja mendekatkan tubuhnya semakin lekat ke dada Jino.
Bagi Reina, pemandangan dan percikan kalimat itu sudah lebih dari cukup untuk memicu tombol cemburu butanya. Selama ini Reina selalu digambarkan sebagai sosok yang kuat dan tidak terkalahkan, namun melihat suaminya digoda secara terang-terangan oleh wanita lain di ruang kerjanya sendiri berhasil meruntuhkan pertahanan tenangnya.
Wah, berani sekali perempuan silikon itu cari masalah di hadapanku! batin Reina bergemuruh.
Alih-alih mendobrak pintu dan mengamuk histeris seperti wanita di drama murahan, Reina justru menarik napas panjang, memasang senyoman paling manis yang ia miliki, lalu mendorong pintu kaca itu hingga terbuka lebar dengan bunyi klik yang cukup nyaring.
Jino dan Vanessa sontak menoleh ke arah pintu.
Begitu manik mata kelam Jino menangkap sosok Reina berdiri di ambang pintu dengan senyuman tipis yang tampak mengerikan, warna darah di wajah sang CEO seketika surut. Jino langsung menepis tangan Vanessa dengan kasar dan melangkah mundur menjauh.
"Reina..." panggil Jino kaget, suaranya mendadak berubah panik. "Kau... sejak kapan di sini?"
Reina melangkah masuk dengan anggun, meletakkan sekotak kue di atas meja kerja Jino dengan gerakan sedikit dibanting. Ia menatap Vanessa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata meremehkan, lalu beralih menatap Jino tajam.
"Baru saja, Tuan West," jawab Reina dengan nada suara manis yang dibuat-buat, namun menusuk tajam. "Wah, sibuk sekali ya kelihatannya? Sampai-sampai urusan 'merapikan kancing jas' harus dibantu oleh teman masa kecil tersayang. Kalau tahu suamiku sebegitu tidak berdayanya mengurus pakaian sendiri, kan bisa suruh aku datang tiap jam istirahat."
Vanessa mengerutkan keningnya, menatap Reina dengan sorot mata sinis. "Jadi... wanita biasa inilah yang berhasil merebut perhatian Jino? Kau tidak terlihat spesial sama sekali."
Reina tersenyum miring. Ia maju selangkah mendekati Vanessa. "Spesial atau tidak, setidaknya aku adalah istri sah yang tercatat di negara, Nona... siapapun namamu. Bukan tamu tidak diundang yang hobi tebar pesona di kantor suami orang!"
Jino segera melangkah mendekati Reina, meraih tangan istrinya dengan panik. "Reina, tunggu... ini tidak seperti yang kau bayangkan. Vanessa baru saja datang dan—"
"Diam, Tuan Jino!" potong Reina galak, menarik tangannya dari genggaman Jino. Ia mendengus kesal, memutar balik badannya, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah menghentak penuh amarah. "Nikmati saja sesi temu kangen kalian!"
Brak!
Pintu ruang kerja dibanting cukup keras dari luar.
Jino mematung di tempat. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Reina cemburu separah itu, dan akibatnya kini sang istri ngambek besar meninggalkannya sendirian.
Vanessa yang melihat situasi itu mencoba mendekati Jino lagi dengan senyuman menggoda. "Jino, biarkan saja dia—"
"Keluar!" bentak Jino dengan suara paling mengerikan yang pernah ia keluarkan, membuat Vanessa terpekik kaget dan mundur ketakutan. "Keluar dari ruanganku sekarang juga, atau aku pastikan perusahaan keluargamu hancur hari ini!"
Tanpa buang waktu, Vanessa langsung kabur terbirit-birit keluar ruangan.
Jino menyugar rambutnya frustrasi. Ia menyadari bahwa ia berada dalam bahaya besar. Istri tercintanya cemburu buta, dan misi pengejaran serta pembuktian cinta mati-matian Jino pun resmi dimulai hari ini!