Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Day
Beberapa hari berlalu sejak kematian Sang Raja yang menggemparkan seluruh penjuru negeri. Hari yang dinanti-nantikan oleh istana akhirnya tiba—hari penobatan resmi Putri Miyura sebagai Ratu baru Kerajaan Hikari. Pagi itu, suasana istana tampak begitu megah, dipenuhi hiasan kain sutra merah dan emas yang menjuntai di setiap sudut koridor utama.
Namun, di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, ketegangan justru mencapai puncaknya. Aragoto yang sejak beberapa hari lalu dikurung rapat oleh Martha dan Goro, menatap pintu kayu yang terkunci dari luar dengan tatapan penuh tekad. Ia tahu ia tidak boleh tinggal diam di saat Miyura melangkah menuju singgasana di atas darah dan kebohongan.
Tanpa ragu lagi, Aragoto mengambil sebuah kursi kayu kecil dan menghantamkannya dengan kuat ke arah kaca jendela rumah hingga pecah berkeping-keping. Suara pecahan kaca itu sontak membuat Martha dan Goro yang berada di ruangan lain terperanjat kaget. Sebelum orang tua angkatnya itu sempat mencegahnya, Aragoto sudah melompat keluar melalui jendela yang pecah, berlari kencang menerjang angin pagi menuju jantung Kota Hikari dan Istana.
Sesampainya di istana, Aragoto berhasil menyelinap masuk melewati gerbang belakang. Ia dengan cepat merapikan kerah seragam pelayannya yang sempat kusut, menetralkan pernapasannya, lalu berjalan tenang menelusuri lorong-lorong marmer istana yang dipenuhi oleh para pengawal dan bangsawan yang sibuk berlalu-lalang. Tidak ada seorang pun yang menaruh curiga pada bayangan Ratu tersebut.
Sementara itu, di dalam kamar rias pribadi yang luas dan dipenuhi aroma wewangian bunga mawar, Putri Miyura berdiri tegak di depan cermin besar berbingkai ukiran emas. Ia tengah menatap takjub ke arah gaun penobatan megah berwarna putih keperakan bertabur permata yang membalut tubuhnya, memancarkan aura kekuasaan yang absolut.
Sejumlah pelayan wanita tampak sibuk mondar-mandir di sekitarnya; ada yang merapikan lipatan gaun, menyisir rambut panjang sang putri, hingga membawa nampan berisi perhiasan mahkota.
Salah seorang pelayan wanita senior dengan hati-hati membungkuk di samping Miyura, lalu berkata dengan nada penuh takjim, "Gaun ini benar-benar terlihat sangat sempurna di tubuh Anda, Yang Mulia. Anda sungguh tampak seperti seorang Ratu sejati yang akan membawa kejayaan besar bagi Hikari."
Miyura tersenyum puas, mengangkat sedikit dagunya sambil menatap pantulan dirinya di cermin dengan sorot mata yang dipenuhi ambisi membara.
"Tentu saja," balas Miyura dengan nada angkuh namun terdengar begitu anggun. "Gaun ini melambangkan awal dari era baru. Seluruh dunia harus tahu bahwa mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa menentang setiap titah dan kehendakku di negeri ini."
Pelayan wanita lainnya mengangguk patuh sambil menyerahkan mahkota emas bertatahkan permata merah di atas sebuah bantal velvet merah. "Waktu penobatan sudah semakin dekat, Yang Mulia. Apakah Anda siap untuk melangkah keluar menuju aula utama?"
Miyura menghela napas pelan, merasakan detak jantungnya bergemuruh bukan karena gugup, melainkan karena rasa haus kekuasaan yang sebentar lagi terbayar lunas. "Ya... aku sudah sangat siap," bisiknya penuh keyakinan, tidak menyadari bahwa di luar pintu kamarnya, bayangan masa lalunya—Aragoto—kini tengah berjalan mendekat untuk menemui takdir akhir mereka.
.
.
.
.
Pintu kayu berukir megah itu terbuka perlahan tanpa suara. Aragoto melangkah masuk ke dalam kamar rias pribadi yang dipenuhi aroma wewangian mawar, menghentikan seluruh aktivitas para pelayan yang sedang sibuk merapikan gaun penobatan sang ratu.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak hening seketika. Para pelayan menoleh kaget, namun sebelum ada dari mereka yang sempat bersuara, Aragoto mengangkat sebelah tangannya dengan tatapan lurus yang tajam namun terkontrol.
"Tinggalkan kami berdua sekarang," ucap Aragoto dengan suara tenang, dingin, dan penuh wibawa mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk membantah.
Miyura, yang awalnya mengerutkan dahi karena terganggu oleh kedatangan yang tiba-tiba, menoleh lewat pantulan cermin besar di hadapannya. Begitu ia melihat sosok pria berseragam pelayan itu berdiri di ambang pintu, ekspresi wajahnya berubah melunak. Ia tidak merasa terancam; sebaliknya, seulas senyuman tipis yang tenang tersungging di bibirnya.
Miyura lantas melambaikan tangannya ke arah para pelayan yang masih termangu di tempat. "Kalian dengar apa kata pelayanku? Keluar dari sini sekarang juga, biarkan kami sendiri," titah Miyura dengan nada santai.
"B-baik, Yang Mulia," jawab pelayan senior tertunduk patuh, lalu memberi gestur kepada pelayan lainnya untuk segera berbondong-bondong meninggalkan ruangan. Dalam hitungan detik, pintu kamar kembali tertutup rapat, menyisakan hanya mereka berdua di dalam ruangan yang luas itu.
Miyura memutar tubuhnya perlahan, membiarkan gaun penobatannya yang megah berkibar ringan. Ia menatap Aragoto dengan senyuman santai, melangkah mendekat beberapa langkah dengan angkuh.
"Wah, lihat siapa yang datang," ucap Miyura ringan, menyindir dengan nada bercanda. "Kemana saja kau beberapa hari kebelakang ini, Aragoto? Kau menghilang begitu saja saat istana sedang sibuk-sibuknya mengurus pemakaman Ayah. Aku bahkan sempat tidak melihat batang hidungmu di saat aku paling membutuhkan bayanganku."
Mendengar ucapan santai tersebut, Aragoto terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa kering. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menelan ludahnya yang terasa begitu pahit. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata saudari kembarnya sendiri—orang yang baru saja ia layani untuk membunuh ayah kandung mereka, orang yang kini berdiri megah di hadapannya sebagai seorang Ratu, dan orang yang diam-diam telah merencanakan kematiannya pula.
"Yang Mulia..." ucap Aragoto dengan suara parau yang tertahan, berusaha menjaga suaranya tetap stabil di tengah badai emosi yang berkecamuk di dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. "Maafkan ketidakhadiran saya beberapa hari belakangan. Tapi... ada hal penting yang harus saya katakan kepada Anda sekarang."
Di tengah keheningan kamar rias yang dipenuhi kemegahan, Aragoto perlahan merogoh saku bagian dalam mantel pelayannya. Ia mengeluarkan sehelai kain kecil bercorak usang yang selama ini ia simpan rapat-rapat—pakaian bayi berbalut sulaman benang emas yang sama persis dengan yang tersimpan di lemari rahasia mendiang ratu, sebuah bukti tak terbantahkan tentang asal-usul darah biru yang mengalir di nadinya.
Aragoto melangkah maju, lalu meletakkan pakaian kecil itu di atas meja rias tepat di hadapan Miyura, di atas tumpukan permata dan perhiasan mahkota.
"Dengar baik-baik, Miyura," ucap Aragoto dengan suara bergetar namun sarat akan ketegasan yang menusuk jiwa. Ia menatap lurus manik mata saudari kembarnya tanpa keraguan. "Selama ini... kita berdua telah dimanipulasi oleh pria tua itu. Kita sebenarnya adalah saudara kembar yang terpisahkan sejak lahir."
Miyura yang tadinya berdiri dengan postur angkuh seketika tertegun. Alisnya berkedut, menatap kain usang di atas meja dengan napas yang mendadak tertahan.
Aragoto melanjutkan penjelasannya dengan nada yang semakin berat, membeirkan kebenaran pahit yang selama ini terkubur di balik dinding-dinding istana. "Tepat setelah kita lahir, Raja—ayah kita sendiri—memerintahkan seorang pelayan untuk membuangku jauh dari istana, menyerahkanku kepada Martha dan Goro agar aku dibesarkan sebagai rakyat biasa. Sementara itu, ibu kita, Sang Ratu, perlahan-lahan dihasut dengan kebohongan keji hingga ia kehilangan akal sehatnya dan berpikir bahwa ia hanya melahirkan satu anak saja... yaitu kau, Miyura."
Suasana di dalam ruangan mendadak membeku. Kalimat itu menggema di kepala Miyura, menghantam kesadarannya seperti sambaran petir di siang bolong.
Miyura terdiam seribu bahasa. Ia menatap kain bayi itu, lalu mendongak menatap wajah Aragoto dengan mata membelalak lebar. Otaknya yang cerdas dan penuh perhitungan langsung berputar cepat, menelaah setiap kepingan puzzle masa lalu, desas-desus istana, hingga sikap dingin sang raja yang selama ini tidak pernah ia pahami sepenuhnya. Seluruh realitas tentang asal-usulnya runtuh dan tersusun kembali dalam seketika.
Aragoto tidak memberi waktu bagi Miyura untuk memproses keterkejutan yang melanda pikirannya. Ia langsung melanjutkan kalimatnya dengan nada mendesak, menguak badai ancaman lain yang sudah di depan mata.
"Bukan hanya rahasia masa lalu kita yang harus kau hadapi, Miyura," ucap Aragoto dengan suara berat, menatap saudari kembarnya lekat-lekat. "Pangeran Yoshi saat ini sedang memimpin pemberontakan bersama Youra. Mereka bergerak tepat di hari penobatanmu ini, dan tujuan mereka hanya satu: menjatuhkanmu dan merebut kembali takhta istana."
Miyura tersentak kecil, raut wajahnya menegang. "Yoshi...? Pemberontakan...?" gumamnya, menyadari betapa berbahayanya situasi yang kini mengurung mereka.
Sebelum Miyura sempat membuka mulut untuk membantah atau menyela—terdorong oleh fakta baru bahwa pria di hadapannya adalah kakak kandung yang selama ini ia perlakukan layaknya bayangan—Aragoto dengan cepat memotong ucapannya. Ia melepaskan mantel pelayannya, lalu menyodorkannya ke hadapan sang ratu.
"Pakai ini, pakaianku," perintah Aragoto tegas, sorot matanya melembut namun penuh kepastian mutlak. "Para pemberontak dan pengawal tidak akan menyadari perbedaannya karena kita terlahir sebagai saudara kembar yang memiliki wajah serupa. Gunakan ini untuk melarikan diri lewat jalan rahasia."
Miyura menggelengkan kepalanya pelan, air mata yang selama ini tersembunyi di balik topeng kediktatorannya mulai menggenang di pelupuk matanya. Suaranya bergetar hebat saat ia akhirnya berhasil bersuara. "T-tapi... Aragoto! Kenapa kau melakukan ini setelah apa yang kulakukan padamu? Kau adalah... kau adalah kakakku! Kita seharusnya tidak berakhir seperti—"
"Cukup, Miyura," potong Aragoto lembut namun telak, menghentikan kalimat sang saudari. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di istana ini. "Biarkan aku yang mengenakan pakaian kebesaran itu dan tetap berada di sini sebagai dirimu. Dan kau... hiduplah dengan tenang di luar sana. Jangan terikat lagi dengan mahkota dan darah busuk istana ini. Mulai hari ini, hiduplah untuk dirimu sendiri."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Miyura menanggalkan gaun penobatannya yang megah dan mengenakan pakaian pelayan milik Aragoto. Ia menatap kembarnya untuk terakhir kalinya, menahan isak tangis yang mendesak di tenggorokannya, lalu berbalik melangkah cepat meninggalkan ruangan itu lewat jalur rahasia istana, membawa serta rasa penyesalan yang teramat dalam di hatinya.
.
.
.
Di dalam kamar rias yang kini sepi, Aragoto mengenakan mahkota dan jubah kebesaran sang ratu. Ia menoleh perlahan ke arah pintu yang tertutup rapat, menyunggingkan senyuman tipis yang tulus.
"Ibu... sebentar lagi aku akan menyusulmu," gumam Aragoto pelan pada dirinya sendiri, siap menyambut takdir akhir di ujung pedang para pemberontak.
Jauh dari kemegahan istana yang berada di ambang kehancuran, suasana di rumah sederhana pinggiran kota dipenuhi oleh kesedihan. Martha terduduk lemas di kursi kayu, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis tersedu-sedu, diteror oleh kecemasan luar biasa terhadap nasib Aragoto. Goro berdiri di sampingnya, dengan sabar merangkul pundak istrinya itu dan membisikkan kata-kata penenang, mencoba menguatkan hati wanita yang telah memberikan seluruh cintanya untuk membesarkan anak terbuang tersebut.