Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Pintu ruangan CEO Prameswari Group didorong terbuka dengan pelan dari luar.
Genta melangkah masuk dengan senyum tanpa dosa sambil menenteng dua kantong plastik berisi mangkuk styrofoam.
Aroma kaldu ayam dan cakwe goreng yang sangat gurih langsung memenuhi ruangan ber-AC yang dingin itu.
Di balik meja kebesarannya, Kiara sedang berdiri dengan wajah merah padam dan mata yang menyiratkan kepanikan luar biasa.
"Dari mana saja kau Genta?!" teriak Kiara berlari menghampiri suaminya dan langsung memeriksa lengan kemeja pria itu.
"Aku sudah mengerahkan puluhan satpam untuk menyisir jalanan mencarimu pagi ini!"
Genta hanya tertawa pelan melihat istrinya yang biasanya sedingin es kini mengomel layaknya ibu rumah tangga biasa.
"Aku sudah bilang di telepon tadi Nona CEO, aku hanya pergi membeli sarapan bubur ayam spesial untukmu."
"Kau belum makan apapun sejak semalam karena sibuk merawat lukaku, perutmu bisa sakit kalau langsung minum kopi."
Genta mengangkat kantong plastik itu tepat ke depan wajah Kiara, menyodorkan aroma makanan yang menggugah selera.
Kiara memukul dada Genta dengan kepalan tangannya, pukulan yang sama sekali tidak terasa sakit bagi Genta namun penuh dengan kelegaan.
"Kau benar-benar membuatku jantungan, aku kira para pembunuh bayaran itu kembali mengincarmu di jalanan!" omel Kiara dengan mata sedikit berkaca-kaca.
"Jangan pernah pergi sendirian lagi tanpa memberitahuku, kau mengerti?!"
Genta mengangguk patuh dan membiarkan istrinya itu menarik tangannya menuju sofa tamu di sudut ruangan.
Mereka berdua duduk berdampingan, menikmati bubur ayam hangat di tengah kesibukan kota metropolitan yang baru saja kehilangan salah satu raksasa bisnisnya.
Tidak ada satu pun berita di televisi yang menayangkan tentang pembantaian di markas Adhitama pagi itu.
Genta sudah memastikan pihak berwenang menutup rapat kasus tersebut karena tidak ada bukti dan Darmawan sendiri yang meminta kasus itu ditutup sebelum dia kabur ke luar negeri.
Satu minggu berlalu dengan sangat damai sejak kejadian penyergapan di jalan tol tersebut.
Keluarga Adhitama benar-benar lenyap dari peta bisnis kota seolah mereka tidak pernah ada.
Prameswari Group di bawah pimpinan Kiara langsung bergerak cepat mencaplok seluruh pangsa pasar yang ditinggalkan musuh mereka.
Nilai saham perusahaan melonjak drastis, membuat nama Kiara Prameswari diakui sebagai ratu bisnis tunggal di kota ini.
Kakek Baskoro juga sudah pulih sepenuhnya dan memilih pensiun ke vila di pegunungan, menyerahkan seluruh kendali pada cucunya.
Semuanya terlihat berjalan sangat sempurna, hingga suatu pagi sebuah berita mengejutkan menghantam layar televisi di seluruh kota.
Genta sedang duduk santai di lobi perusahaan membaca majalah saat Siska, sekretaris Kiara, berlari panik ke arah lift.
"Gawat! Nona Kiara harus melihat berita ini sekarang juga!" teriak Siska dengan wajah pucat pasi.
Genta meletakkan majalahnya dan menatap layar televisi raksasa yang menempel di dinding lobi.
Seorang pembaca berita dengan raut wajah tegang sedang membacakan laporan darurat dari Rumah Sakit Pusat Kota.
"Pemirsa, sebuah wabah penyakit kulit misterius tiba-tiba menyebar dengan sangat cepat di kalangan kelas atas kota kita."
"Puluhan istri pejabat, aktris terkenal, dan anak-anak konglomerat dilarikan ke rumah sakit pagi ini dengan gejala yang mengerikan."
Layar televisi kemudian menampilkan sebuah video amatir yang disensor di bagian wajah.
Terlihat seorang wanita sedang menjerit histeris sambil menggaruk-garuk leher dan lengannya hingga berdarah.
Kulit wanita itu yang tadinya putih mulus kini ditumbuhi sisik-sisik merah tebal yang terlihat seperti kulit siluman ular.
Bentuk sisik itu sangat menjijikkan, mengeluarkan cairan kuning berbau busuk jika digaruk secara paksa.
"Penyakit yang belum diketahui namanya ini menyebabkan rasa gatal yang membakar hingga ke tulang."
"Asosiasi Medis Kota telah turun tangan, namun sejauh ini belum ada satu pun obat yang mampu meredakan gejalanya."
Berita itu langsung membuat seluruh karyawan di lobi bergidik ngeri dan mulai berbisik-bisik panik.
Genta mengerutkan keningnya, matanya menatap tajam ke arah foto sisik merah yang diperbesar di layar televisi.
"Sistem, coba analisis gambar wabah penyakit di televisi itu," perintah Genta di dalam kepalanya.
[Mata Surgawi memproses gambar melalui layar...]
[Hasil Analisis: Wabah Sisik Iblis Darah. Bukan disebabkan oleh virus alami.]
[Penyebab: Reaksi alergi massal akibat penggunaan produk kosmetik impor ilegal yang terkontaminasi getah Bunga Bangkai Beracun.]
[Catatan: Penggunaan obat medis modern seperti steroid hanya akan membuat racun ini menyebar lebih cepat ke organ dalam.]
Senyum tipis misterius perlahan mengembang di sudut bibir Genta.
Ini bukan sekadar bencana, ini adalah peluang emas yang dijatuhkan langsung dari langit untuknya.
Genta segera bangkit dari kursi lobi dan melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif menuju ruangan istrinya.
Di dalam ruangan CEO, Kiara sedang menelepon beberapa kepala laboratorium farmasinya dengan wajah sangat tegang.
"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan penawarnya?! Obat salep kulit produksi kita tidak ada yang mempan sama sekali?!" bentak Kiara frustrasi.
Kiara membanting gagang teleponnya saat melihat Genta masuk ke ruangannya.
"Pemerintah kota baru saja menekan perusahaanku untuk segera menciptakan penawar wabah sisik merah itu."
"Jika kita gagal, kredibilitas Prameswari Group sebagai perusahaan farmasi terbesar akan hancur lebur dalam sekejap!" keluh Kiara memijat pelipisnya.
Genta melangkah mendekat dan memijat pelan bahu istrinya yang kaku dari belakang.
"Tenanglah Nona CEO, dokter-dokter bodoh di laboratoriummu itu memang tidak akan pernah bisa menyembuhkan penyakit ini."
"Ini bukan penyakit kulit biasa, ini adalah racun kosmetik mematikan yang tidak merespons bahan kimia modern."
Kiara langsung mendongak menatap suaminya dengan mata berbinar penuh harapan.
"Tunggu dulu, apa kau tahu cara menyembuhkannya Genta? Apa ilmu gunungmu punya resep obat untuk ini?" tanya Kiara antusias.
Genta mengangguk santai dan berjalan memutari meja kerja istrinya.
"Tentu saja aku punya, tapi aku tidak akan menyerahkan resep ini secara gratis kepada perusahaamu."
"Aku ingin kau menyewakan sebuah ruko kosong di seberang gedung Asosiasi Medis Kota sekarang juga."
Kiara mengerutkan keningnya kebingungan mendengar permintaan suaminya yang sangat tiba-tiba.
"Ruko kosong? Untuk apa kau menyewa gedung di depan markas para dokter sombong itu?"
Genta menyeringai lebar, matanya memancarkan ambisi yang sangat kuat.
"Aku akan membuka klinik pengobatanku sendiri hari ini."
"Aku akan menunjukkan pada para pejabat dan konglomerat itu siapa dewa medis yang sebenarnya di kota ini."