Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek sarah dan beban yang tersembunyi
Setelah kepergian Piku yang begitu tergesa-gesa tersebut, suasana di Good Resto perlahan mulai kembali tenang, meski ketegangan masih terasa jelas di wajah seluruh anggota keluarga Lidar. Kwila duduk di samping ayahnya, memeriksa luka di wajah pria tersebut dengan telaten, keterampilan yang telah dia asah selama bertahun-tahun bekerja sebagai perawat di rumah sakit.
"Bapak untung nggak kenapa-kenapa parah. Cuma memar aja, tapi tetep harus dikompres biar nggak bengkak," ujar Kwila sambil mengambil kotak P3K kecil yang selalu tersimpan di balik meja kasir restoran tersebut, sebuah kebiasaan berjaga-jaga yang sudah lama dia terapkan mengingat pekerjaannya di bidang kesehatan.
"Makasih, Nak. Untung juga ada Mas ini yang nolongin," ujar Tuan Lidar sambil melirik ke arah Dawin yang masih berdiri agak canggung di sudut ruangan, tidak yakin apakah harus tetap tinggal atau segera berpamitan mengingat situasi keluarga tersebut yang begitu personal.
"Mas, duduk dulu, jangan berdiri terus. Sup-nya juga belum habis kan tadi?" tawar Bu Misa, mengingat bahwa Dawin sebenarnya masih dalam proses menikmati makan malamnya sebelum kejadian tersebut mengganggu suasana restoran yang tadinya tenang itu.
Dawin kembali duduk di mejanya, meski perhatiannya masih sesekali teralihkan ke arah keluarga yang baru saja dia bantu tersebut, terutama ke sosok Kwila yang begitu sigap merawat ayahnya dengan penuh kasih sayang. Ada sesuatu dari cara Kwila bergerak, tenang namun penuh perhatian, yang membuat Dawin semakin yakin bahwa gadis tersebut memiliki hati yang begitu baik.
"Kalian sering diperas kayak gitu?" tanya Dawin akhirnya, tidak bisa menahan rasa penasarannya mengenai situasi yang baru saja dia saksikan tersebut.
Tuan Lidar menghela napas panjang, menatap Dawin dengan ekspresi yang menunjukkan kelelahan mendalam akibat masalah yang sudah lama membebani keluarganya tersebut. "Sudah hampir setahun ini, Nak. Piku sama teman-temannya minta jatah bulanan, katanya buat keamanan, tapi ya kita semua tau itu cuma modus pemerasan biasa."
"Kenapa nggak lapor polisi, Pak?" tanya Dawin lagi, mengerutkan dahi mendengar penjelasan tersebut.
"Udah pernah, Nak, tapi katanya bukti kurang kuat. Lagian, kami dengar-dengar, Piku itu bagian dari organisasi yang lebih besar, namanya BlackSystem. Katanya mereka punya orang dalam di kepolisian juga," jelas Tuan Lidar dengan nada yang menunjukkan keputusasaan, mengungkapkan kompleksitas masalah yang selama ini membayangi keluarganya tersebut.
Mendengar nama BlackSystem tersebut, Dawin merasakan sesuatu yang familiar, mengingat beberapa laporan intelijen yang pernah dia dengar sepintas mengenai organisasi mafia besar yang beroperasi di kota tersebut, terlibat dalam berbagai kejahatan mulai dari peredaran narkoba hingga perdagangan manusia. Namun dia memutuskan untuk tidak membagikan informasi tersebut secara terbuka, tidak ingin membuat keluarga tersebut semakin khawatir dengan detail yang mungkin belum sepenuhnya dia pahami sendiri.
"Kalau butuh bantuan lebih lanjut, Bapak bisa hubungi saya," ujar Dawin sambil mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan nomor teleponnya, menyerahkannya kepada Tuan Lidar sebagai bentuk kepedulian yang tulus terhadap keluarga tersebut.
Di tengah percakapan tersebut, terdengar suara batuk yang cukup keras dari lantai atas, membuat Bu Misa segera bergegas menaiki tangga dengan wajah yang menunjukkan kekhawatiran. "Itu ibu saya, Nak, lagi sakit," jelas Tuan Lidar kepada Dawin, menjelaskan sumber suara batuk tersebut.
"Sakit apa, Pak, kalau boleh tau?" tanya Dawin dengan nada penuh perhatian, ikut merasakan kekhawatiran yang tersirat dari raut wajah keluarga tersebut.
"Paru-parunya lemah, Nak. Sudah bertahun-tahun, tapi belakangan ini makin parah. Butuh pengobatan rutin yang lumayan mahal, makanya kami juga makin keteteran soal keuangan, apalagi ditambah pemerasan dari Piku itu," jelas Tuan Lidar dengan suara yang mulai bergetar, mengungkapkan beban ganda yang selama ini harus ditanggung keluarganya tersebut.
Kwila, yang mendengar percakapan tersebut sambil masih membereskan kotak P3K, ikut menambahkan penjelasan. "Nenek Sarah itu ibu dari Bapak, Mas. Beliau tinggal sama kami di sini, tapi kondisinya emang udah nggak sekuat dulu. Saya sendiri kadang bantu ngobatin di rumah pake pengalaman kerja saya di rumah sakit, tapi tetep aja perlu obat-obatan yang harganya nggak murah."
Mendengar penjelasan tersebut, Dawin semakin memahami betapa beratnya beban yang harus ditanggung keluarga sederhana tersebut—pemerasan dari mafia lokal, biaya pengobatan yang terus membengkak, serta tanggung jawab menjalankan restoran yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan mereka. Sebuah kekaguman baru muncul dalam dirinya, menyaksikan bagaimana keluarga tersebut tetap mempertahankan kehangatan dan keramahan meski dihimpit berbagai kesulitan hidup yang begitu berat tersebut.
"Kalau saya boleh tau, Nenek Sarah butuh obat apa aja, Bu?" tanya Dawin kepada Bu Misa yang baru saja turun kembali dari lantai atas setelah memastikan kondisi ibu mertuanya tersebut.
"Macam-macam, Nak, ada obat pengencer dahak, ada juga suplemen buat paru-parunya. Tapi nggak usah dipikirin, Mas udah cukup banyak bantu kami hari ini," jawab Bu Misa dengan nada yang menunjukkan rasa tidak enak hati, tidak ingin merepotkan lebih jauh pemuda asing yang baru saja mereka kenal tersebut.
Dawin mengangguk, meski dalam hatinya dia sudah mulai memikirkan berbagai cara untuk membantu keluarga tersebut lebih jauh, sebuah keinginan yang muncul begitu saja tanpa dia sadari sepenuhnya alasan di baliknya, apakah murni karena rasa iba, ataukah karena ketertarikan yang mulai tumbuh terhadap sosok Kwila yang begitu tulus merawat keluarganya tersebut.
Setelah menyelesaikan makan malamnya dan memastikan kondisi Tuan Lidar cukup stabil, Dawin akhirnya berpamitan, menyadari bahwa mobilnya di bengkel mungkin sudah selesai diperbaiki. "Terima kasih atas makanannya, Bu. Dan Pak, Bu, jangan sungkan hubungi saya kalau ada apa-apa lagi soal Piku."
"Terima kasih banyak, Nak. Semoga Tuhan selalu lindungi kamu di mana pun bertugas," ujar Tuan Lidar dengan penuh rasa syukur, menjabat tangan Dawin dengan erat sebagai tanda terima kasih yang mendalam.
Kwila mengantar Dawin hingga ke depan pintu restoran, sebuah kesempatan singkat yang membuat keduanya kembali bertukar pandang, menciptakan momen canggung namun penuh makna di antara mereka berdua. "Hati-hati di jalan, Mas," ujar Kwila dengan senyum tulus yang membuat jantung Dawin berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Terima kasih, Mbak Kwila. Semoga Bapak cepat pulih," jawab Dawin sebelum akhirnya melangkah keluar menuju bengkel tempat mobilnya diperbaiki, membawa serta perasaan hangat yang begitu asing namun menyenangkan, sebuah perasaan yang akan terus dia pikirkan sepanjang perjalanan pulang menuju markas malam itu, tidak menyadari bahwa pertemuan sederhana tersebut baru saja menjadi awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah seluruh arah hidupnya di masa depan.
Sepanjang jalan menuju bengkel tersebut, Dawin tidak bisa berhenti memikirkan wajah Kwila yang begitu tulus merawat keluarganya, serta beban berat yang harus ditanggung keluarga sederhana tersebut. Dia merenungi kembali kata-kata Tuan Lidar mengenai organisasi BlackSystem, menyadari bahwa mungkin sudah waktunya baginya untuk melaporkan informasi tersebut kepada atasannya, mengingat kemungkinan adanya keterkaitan antara organisasi mafia tersebut dengan berbagai kasus yang sedang ditangani unit intelijen militer tempatnya bertugas.
Sesampainya di bengkel, montir yang memperbaiki mobilnya menyambutnya dengan kabar baik. "Mobilnya udah beres, Pak. Cuma masalah di radiator aja, untung nggak parah," jelas montir tersebut sambil menyerahkan kunci mobil kepada Dawin.
"Terima kasih banyak, Pak," jawab Dawin, membayar biaya perbaikan tersebut sebelum akhirnya menaiki mobilnya dan melajukan kendaraan tersebut menuju markas, pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai keluarga Lidar dan ancaman yang mereka hadapi, serta bayangan wajah Kwila yang entah kenapa terus muncul dalam benaknya sepanjang perjalanan tersebut.