Livia Prameswari, gadis lembut berusia delapan belas tahun, tanpa sengaja menyaksikan pembuangan mayat. Orang yang memergokinya adalah Keenan Adiprana—pewaris keluarga konglomerat nomor satu di Asia Tenggara sekaligus komandan tertinggi pasukan khusus yang ditakuti semua orang.
Keenan berusia dua puluh tiga tahun, tampan, berkuasa, arogan, dan berbahaya. Malam itu, pistolnya mengarah tepat ke kepala Livia. Seharusnya ia membunuh satu-satunya saksi tersebut, tetapi pelarian Livia justru membangkitkan obsesi yang tak pernah bisa ia kendalikan.
Livia takut, melawan, berbohong, mengkhianati, dan berkali-kali mencoba kabur. Namun semakin jauh ia melarikan diri, semakin kuat Keenan menariknya kembali ke dalam dekapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Lupakan Jordan, Ikut Denganku
Livia membuka pintu dan masuk ke mobil, membawa embusan angin dingin serta percikan gerimis. Untungnya, pendingin udara di dalam mobil diatur cukup hangat.
Ia menepuk butiran air dari bahunya, lalu menutup pintu kembali.
Kursi belakang mobil itu sangat mewah dan terasa begitu nyaman.
Livia duduk tegak. Sambil menggosok kedua tangan, ia memasang senyum paling ramah dan menyapa Keenan dengan hati-hati.
"Tuan Keenan, kebetulan sekali... kita bertemu lagi."
"Bukan kebetulan. Aku sedang menunggumu."
Keenan menunduk dan memandang tangan Livia yang sudah memerah hanya karena diterpa angin dingin. Ia menyelipkan sebuah penghangat tangan berbentuk kelinci putih ke telapak gadis itu.
Lucu sekali.
Livia mengamati boneka kecil yang hangat itu, lalu menoleh kepada Keenan.
Pria sekejam dan sekeras dirinya ternyata menyukai barang berbulu seperti ini?
Benar-benar aneh.
"Terima kasih, Tuan Keenan."
Livia memeluk penghangat tangan itu. Ketika menyadari sepasang mata biru pucat Keenan tak berkedip sedikit pun saat menatapnya, ia segera bergeser mendekati pintu mobil.
Jangan-jangan pria ini hendak membunuhnya untuk menutup mulut?
Tubuh Livia yang baru saja merasa hangat kembali sedingin es. Ia buru-buru menjaga jarak dari Keenan dan menatap penuh waspada.
"Tadi kau bilang... sedang menungguku?"
"Ya."
Keenan mengangguk. Tatapannya singgah sesaat di wajah Livia, kemudian berhenti pada lebam di dahinya yang bahkan tak mampu disembunyikan lapisan alas bedak tebal.
Sorot matanya seketika menggelap.
Tekanan tak kasatmata langsung memenuhi kabin. Dengan gugup, Livia menggenggam gagang pintu sambil mempertimbangkan apakah ia harus melompat keluar saat itu juga.
Keenan memandang tangan putihnya dan berbaik hati mengingatkan, "Kecepatan mobil ini lebih dari seratus kilometer per jam. Kalau kau melompat sekarang, benturannya akan membuat kepalamu pecah. Kau mungkin mati di tempat."
"Ha-ha..."
Niatnya dibongkar begitu saja. Livia tertawa kaku, menarik kembali tangan kanannya, lalu memeluk penghangat berbentuk kelinci itu lebih erat.
"Aku hanya... ingin memeriksa apakah pintunya sudah tertutup rapat. Lihat, pintunya sangat rapat. Aman sekali."
Sambil berbicara, Livia melihat mobil meninggalkan Jalan Pamelo dan terus melaju ke arah timur. Alarm bahaya langsung berbunyi keras di kepalanya.
Ia tak punya waktu lagi untuk meladeni Keenan. Tubuhnya condong ke depan dan tangannya menepuk sandaran kursi pengemudi.
"Itu..."
Pria di balik kemudi menoleh sedikit.
"Namaku Tegar."
"Oh, Kak Tegar..."
"Panggil Tegar saja."
"Baik... Tegar, kalian akan mengantarku pulang, kan?" Livia menunjuk ke arah kanan. "Rumahku ada di kawasan Taman Tirta, Vila Pir. Kau salah jalan."
Tegar mengeratkan genggaman pada kemudi tanpa bergerak. Sebaliknya, Reza yang duduk di kursi depan bertanya dengan nada penuh arti.
"Bukankah kau tinggal di distrik timur?"
"Mana mungkin?"
Livia menggeleng cepat. Dari sudut mata, ia diam-diam melirik Keenan yang tak menunjukkan emosi apa pun, lalu menjawab Reza dengan tawa ringan.
"Distrik timur begitu kacau. Memangnya aku punya berapa nyawa sampai berani tinggal di sana? Rumahku di Vila Pir. Vila Pir! Tegar, putar balik di depan dan antarkan aku ke sana."
Melalui kaca spion, Tegar memandang Keenan.
Pria itu tidak berbicara dan tidak memberi perintah. Diamnya berarti persetujuan. Tegar pun memutar kemudi dan berbalik arah dengan cepat.
Livia diam-diam mengembuskan napas lega.
Keenan memandang wajahnya yang masih menyimpan ketakutan. Sudut bibir dinginnya terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya.
"Kau cepat sekali merasa akrab. Bahkan anak buahku berani kau perintah?"
Livia menelan ludah. Ia menahan rasa takut yang semakin meresap sampai ke tulang dan membalas tatapan Keenan. Sebisa mungkin, ia membuat dirinya terlihat polos, bodoh, dan sama sekali tidak berbahaya.
"Tuan Keenan menungguku di sini karena khawatir aku tidak mendapatkan kendaraan malam-malam, lalu berniat baik mengantarku pulang, bukan?"
"Tentu."
Keenan tidak menyangkal. "Tapi aku penasaran. Kalau kau mampu tinggal di Vila Pir, mengapa masih perlu bernyanyi untuk mencari uang?"
"Aku hanya menumpang. Menumpang untuk sementara..."
Livia menyipitkan mata dengan senyum malu.
"Rumah itu milik omku. Aku tidak mungkin tinggal di sana selamanya sambil makan gratis, kan?"
"Masuk akal."
Keenan mengangguk.
Tatapannya jatuh pada kedua mata Livia. Setiap kali gadis itu tersenyum, matanya akan melengkung seperti bulan sabit, terang dan berkilau.
Rambutnya hitam, lebat, dan panjang. Ujungnya sedikit bergelombang, tergerai begitu saja seperti rambut boneka.
Ketika Keenan kembali mengamati wajahnya yang penuh coretan riasan, barulah ia menyadari bahwa sebenarnya setiap bagian wajah gadis itu sangat indah.
Termasuk bentuk bibirnya.
Senyum samar muncul di mata Keenan.
"Setelah tiba di Vila Pir, aku akan melihatmu masuk dengan mata kepalaku sendiri. Kalau tidak, kau harus ikut denganku."
"Tidak masalah!"
Livia menyetujuinya tanpa ragu, sama sekali tidak terlihat takut. Ia justru berharap Keenan menyaksikannya masuk ke vila. Dengan begitu, kecurigaan pria itu terhadap dirinya mungkin akan hilang.
"Tuan Keenan baik sekali. Banyak tamu besar di klub juga sering mengantarku kalau kebetulan lewat. Misalnya Bang Jordan—"
"Apa hubunganmu dengan Jordan?"
Keenan langsung memotong perkataannya dan bertanya tanpa basa-basi.
"Aku dan dia..."
Livia sengaja menghentikan kalimat sambil mengamati perubahan ekspresi pria di sebelahnya.
Ia semakin yakin bahwa selain belum mengetahui apakah Livia adalah saksi pada malam itu, ada satu alasan lain Keenan belum membunuhnya.
Jordan.
Keenan mungkin sedang mempertimbangkan hubungan Livia dengan tuan muda keluarga Halim tersebut.
Karena itu, Livia menundukkan kepala dan mengerucutkan bibir, pura-pura malu.
"Kami tidak punya hubungan apa-apa. Tapi... aku sangat menyukai Bang Jordan! Dia juga, ya... cukup menyukaiku. Hanya saja dia masih ingin bersenang-senang. Aku sedang menunggu sampai dia siap menjadi serius."
"Katamu dia menyukaimu, tetapi dia memanggilmu si buruk rupa?"
"Uhuk! Uhuk!"
Keenan membongkar kebohongannya tanpa ampun. Livia tersedak dan batuk beberapa kali karena malu.
Ia ingin mencari celah di lantai mobil dan menghilang di dalamnya. Wajahnya semakin merah, tetapi mulut kecilnya tetap bekerja tanpa henti, meneruskan kebohongan dengan percaya diri.
"Tuan Keenan, Bang Jordan pasti sudah menjelaskan di ruang VIP tadi, kan? Aku ini perempuan yang dia incar! Sebutan si buruk rupa hanyalah panggilan sayang khusus darinya. Bang Jordan bilang itu namanya... bumbu asmara!"
Livia memasang wajah tanpa dosa dan berani mengedip beberapa kali kepada Keenan. Dua kata terakhir sengaja ia tekankan dengan sangat jelas.
Keenan tampak kehilangan kata-kata sejenak.
Walaupun suasana sekarang sangat memalukan, setidaknya citra gadis cantik tanpa otak yang hendak dibangun Livia tampaknya berhasil.
Melihat Keenan menatapnya seperti sedang melihat orang bodoh, Livia bisa menebak isi pikirannya.
Mungkin pria itu merasa menembaknya hanya akan menjadi penghinaan bagi peluru yang digunakan.
Keenan mencibir pelan.
"Bumbu asmara? Bodoh sekali."
Empat kata singkat itu terdengar seperti musik paling merdu di telinga Livia.
Nyawanya selamat.
Ia menyandarkan sisi wajah ke dekat jendela, lalu memandangi gerimis yang berkilau di luar dengan tatapan menerawang.
"Bang Jordan begitu hebat. Tinggi, tampan, kaya, dan berkuasa. Dia memberi tip tanpa berkedip. Kalau bisa bersamanya, aku pasti bebas melakukan apa saja di Kota Kayan..."
Gadis itu bergumam tanpa emosi sambil terus memainkan peran sebagai perempuan bodoh yang tergila-gila pada uang dan kekuasaan.
Ia sama sekali tidak menyadari hawa buas di tubuh pria sebelahnya sedang lepas kendali.
Tatapan Keenan seolah ingin meremukkan tubuhnya, mengupas seluruh penyamarannya, lalu menelannya tanpa sisa.
Bahkan Tegar dan Reza yang duduk di depan ikut merasakan hawa dingin di tengkuk. Keduanya serempak melirik Keenan melalui kaca spion.
Livia tetap tidak menyadarinya.
Malam di Kota Kayan sebenarnya sangat indah. Cahaya bulan yang jernih jatuh di atas jalan basah dan butiran es yang memutih di tepi trotoar. Sayang sekali, keindahan itu dimiliki kota kejam yang menyerupai sarang iblis.
Jika kali ini ia berhasil melewati bahaya, lalu menemukan cara memperoleh cukup banyak uang untuk melunasi utang nyawa dan biaya hidupnya kepada Nathan, ia pasti akan meninggalkan Kota Kayan.
Ia ingin melihat seperti apa dunia di luar sana.
"Siapa namamu?"
Keenan menekan rasa dingin di sudut bibirnya dan memutus lamunan Livia.
"Namaku Via."
"Aku tidak menanyakan nama panggungmu."
Nada Keenan terdengar tidak puas. Ia memiringkan tubuh dan bergerak semakin dekat. Tatapannya tertuju pada mata Livia yang entah mengapa diselimuti air tipis.
"Siapa nama lengkapmu?"
Jarak mereka terlalu dekat.
Tatapan Keenan yang gelap bagaikan jaring besar yang bisa menangkapnya dengan mudah. Livia bahkan merasakan napas panas dan gelisah pria itu menyentuh ujung hidungnya, membawa aroma bersih dan dingin yang sangat kuat.
Tubuh Livia seolah membeku. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan tak sanggup bergerak, sehingga hanya bisa menjawab jujur.
"Namaku... Livia Prameswari."
"Hm."
Keenan akhirnya terlihat puas. Sedikit keliaran perlahan muncul di dasar matanya.
"Namaku Keenan Adiprana."
Livia sama sekali tidak tertarik.
Apa gunanya mengetahui nama pria ini? Bahkan Jordan harus memanggilnya dengan hormat. Entah seberapa besar keberuntungan yang dibutuhkan Livia agar berani menyebut nama lengkapnya secara langsung.
Livia terdiam. Keenan pun tidak berbicara lagi.
Dengan mata biru pucat, pria itu memandang gadis kecil dan rapuh yang berada sangat dekat dengannya. Diam-diam, ia merasakan bara asing kembali menyala cepat di dalam tubuhnya.
Lagi-lagi seperti ini.
Gadis tersebut tidak melakukan apa-apa. Hanya berada sedikit lebih dekat sudah cukup untuk mengusik ketenangan Keenan dan membangkitkan kegelisahan yang sulit dikendalikan.
Sumbernya adalah aroma samar yang terus mengelilingi Livia.
Bukan parfum, melainkan wangi alami yang sangat khas. Seperti sekuntum anggrek liar yang mekar sendirian di lembah dingin—tipis, jauh, bersih, sekaligus menyimpan rasa manis.
Sejuk seperti malam setelah hujan, tetapi justru menyalakan sesuatu yang panas di dasar hatinya.
Seolah kehilangan kendali untuk sesaat, Keenan mengangkat tangan. Ujung jarinya yang hangat menekan bibir Livia, lalu bergerak perlahan mengikuti garisnya.
Lembut.
Mata Keenan menyipit puas.
"Lupakan Jordan. Ikut denganku."
Mata Livia membelalak.
Apa?!