[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberadaan Penyihir!
Lana adalah gadis remaja biasa di desa ini, penampilannya cukup di bilang cantik, banyak juga para pemuda yang melamarnya namun dia menolaknya, Lana merasa dia masih muda dan ingin membantu orangtuanya.
Sampai hari itu saat aku melihat rombongan ksatria memasuki desa kami.
Awalnya aku kira akan ada wajib militer paksa ternyata bukan, mereka hanya prajurit yang ingin beristirahat.
Di antara pria-pria dewasa yang tampak garang, sosok pemuda yang menunggangi kuda hitam-putih itu benar-benar menarik pandanganku.
Rambutnya yang hitam,sepasang mata merah ruby yang indah memancarkan aura yang begitu dingin namun memikat.
Jantungku berdebar kencang hampir meninggalkan dadaku.
Aku meremas sapu tangan kain hasil jahitan tanganku sendiri sambil melihat pemuda itu dari jauh.
Ibuku selalu bilang jangan sembarangan mendekati orang asing, apalagi tentara, tapi entah kenapa ada sesuatu pada dirinya yang membuatku berani.
Saat dia melintas, aku memberanikan diri maju.
Tanganku gemetar hebat saat menyodorkan kain itu.
Dia menerimanya!
Saat dia menatapku aku seketika menjadi gerogi.
Dia tidak mungkin menganggapku aneh kan?
Wajahku terasa terbakar saat itu, aku tidak sanggup menahan tatapan matanya lebih lama lagi, jadi aku segera berbalik dan lari secepat mungkin.
Aku yang terburuk! huhuhu
...........
Simon tidak langsung beristirahat ketika sampai di kamarnya.
Ia meletakkan sapu tangan pemberian gadis tadi di atas meja tanpa memikirkan hal aneh, pikirannya sekarang tertuju pada menaikan poin kemahirannya.
Simon mengambil posisi kuda-kuda rendah, memicu Pernafasan Ular Hitam, lalu beralih ke Pernafasan Gajah Bertanduk Dua berulang-ulang kali.
Syuut! Syuut!
Melancarkan Teknik Pedang Silang ke udara, gerakannya kini jauh lebih lihai dan efisien.
Tak lupa, ia memusatkan energi ke telapak tangannya, memicu getaran frekuensi tinggi yang membuat udara berdesing pelan Tinju Riak
Keringat membasahi tubuhnya, ia menyeka keringat dan memanggil panel transparan.
Nama: Simon Blake
Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 3
Ketrampilan:
Pernafasan Ular Hitam (Tinggi): 338/400
Pernafasan Gajah Bertanduk 2 (Dasar): 186/200
Teknik Pedang Silang (Menengah):158/300
Tinju Riak (Dasar): 142/200
Farmasi (Pemula): 37/100
Penjinak Hewan (Pemula): 61/100
Suara jangkrik di malam hari memberikan harmoni yang menenangkan.
Simon mengunakan kesempatan ini untuk berjalan keluar menuju sebuah sungai kecil yang arusnya tertahan oleh lapisan-lapisan es tipis.
Udara malam itu sangat menusuk, namun bagi Simon, kini metabolisme tubuhnya cukup kuat untuk menghasilkan panas internal yang ekstrem.
Jadi tidak masalah.
Simon melepas seluruh pakaian dan baju zirah kulitnya, menampakkan otot-otot yang indah dan kulit berwarna perunggu yang kini mengepulkan uap tipis akibat suhu tubuhnya yang tinggi.
Ia tidak mencari air hangat, jujur Simon penasaran bagaimana rasanya berendam di air dingin Utara yang konon bisa membekukan darah manusia.
Seketika Simon meluncur perlahan ke dalam kolam.
Permukaan es yang tipis itu hancur berantakan saat bersentuhan dengan tubuhnya yang berat.
Byuur!
"Hah..." Simon menghembuskan napas panjang, uap putih tebal keluar dari mulutnya.
Air es itu terasa seperti ribuan jarum kecil yang menusuk kulitnya, namun sesaat kemudian, rasa dingin itu justru memberikan sensasi kesegaran yang luar biasa pada otot-ototnya yang baru saja dilatih secara intens.
"Dinginnya memang tidak masuk akal" gumam Simon sembari memejamkan mata merahnya di tengah air yang membeku.
Saat ia sedang berendam di kolam air es, dia juga berjalan kesana dan kemari namun kakinya tampaknya menyentuh batu besar, tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah celah sempit di balik tumpukan kristal es pada dinding tebing.
"Apa itu?" gumam Simon.
Ia segera beranjak dari kolam tanpa mengunakan busana, mengabaikan angin beku yang menerpa kulit perunggunya yang sekeras ban mobil.
Sesampainya di depan celah tersebut, Simon melihat potongan-potongan es tajam yang menutupi pintu masuk gua layaknya jeruji alami. Ia segera meninjunya.
BOOM!
Tinju Simon menghantam bongkahan es tersebut.
Es itu hancur berantakan, memperlihatkan lorong gelap yang menuju ke bawah.
Simon merunduk dan memasuki gua. Ia menyadari tanah di dalam gua itu mengalami longsor hebat, namun struktur gua tersebut tetap kokoh berdiri seolah-olah ditopang oleh kekuatan yang tidak terlihat.
"Aneh... tanahnya longsor, tapi guanya tetap utuh?" Gumam Simon dengan waspada melihat sekitar gua.
Setelah berjalan cukup dalam, Simon tiba di ujung gua yang kering.
Di sana, bersandar pada dinding batu yang dingin, terdapat sebuah tengkorak manusia yang mengenakan zirah perak yang berkilau.
"Ada mayat di sini? Dan sudah menjadi tengkorak?" Simon mendekat, matanya menyipit meneliti zirah tersebut.
Yang membuatnya terkejut adalah zirah perak itu tidak lapuk, berkarat, atau kusam sedikit pun, meski lingkungan sekitarnya dipenuhi debu dan kelembapan. Berdasarkan pengetahuannya, ini mirip dengan logam Mithril! logam legendaris konduktor eter yang sangat tahan lama.
Di samping tengkorak itu, Simon menemukan sebuah kantung rami yang sudah hancur dimakan usia. Di dalamnya, terselip dua buah gulungan.
Simon membuka gulungan pertama dan membacanya dengan saksama.
"Teknik Pernafasan Titan Jormungar, dan juga teknik pernafasan tingkat tinggi!" desis Simon.
Gulungan itu menjelaskan bahwa teknik ini dibuat dengan meniru Titan Jormungar, makhluk legendaris penguasa es dan badai salju.
Teknik ini memiliki gerakan yang jauh lebih kompleks dan sulit dibandingkan Ular Hitam.
"Nampaknya orang ini adalah ksatria Utara yang malang. Aku tidak tahu apa penyebab kematiannya, tapi teknik ini... Tetap sebuah harta karun." Mata Simon berbinar.
Simon kemudian membuka gulungan kedua, yang ternyata adalah surat atau catatan harian.
Catatan itu ditulis oleh seorang gadis dengan tulisan tangan yang halus namun penuh penderitaan. Ia menceritakan bagaimana dirinya berhasil mendapatkan Kualifikasi Penyihir Tingkat 2 dan dibawa paksa menuju Benua Penyihir menggunakan Kapal Penyihir yang misterius.
Gadis itu menuliskan betapa kejamnya dunia di seberang samudra sana. Di sana, pengetahuan adalah segalanya, dan para magang sering dijadikan bahan percobaan jika gagal memenuhi target meditasi dalam tiga bulan. Ia berhasil selamat dan menjadi penyihir formal, bahkan mempelajari cara menempa Mithril. Zirah perak yang dikenakan mayat tersebut adalah buatannya sendiri untuk pria yang dicintainya: "Untuk Leodo cintaku," tulisnya di akhir surat.
.......
Simon tertegun, surat itu bergetar di tangannya.
"Penyihir? Kualifikasi tingkat 2? Kapal penyihir? Jadi.... penyihir itu memang nyata?!" seru Simon dengan muka yang terkejut.
Simon memang sedikit menduga bahwa dunia ini tidak hanya ada ksatria tapi mungkin juga ada penyihir, namanya juga fantasi Barat.
Dan yang lebih terkejutnya lagi ternyata benua yang ia tingali ini hanyalah sebutir debu bagi sang penyihir.
Dan para penyihir tinggal di benua lain yang di sebut benua penyihir!
Ia membaca baris terakhir catatan itu mengenai jadwal kedatangan kapal.
"Kapal penyihir hanya datang 10 tahun sekali ke pelabuhan rahasia. Catatan terakhir ini dibuat 29 tahun yang lalu" Simon menghitung dengan cepat dalam benaknya.
"Artinya, kemungkinan besar kapal itu akan muncul kembali dalam 1 tahun ke depan!"
"Hahahaha!" Simon tertawa dan tawanya menggema di dalam gua yang sunyi itu.
"Ternyata ada kekuatan yang jauh lebih kuat dari ksatria. Selama ini ksatria hanyalah semut yang memiliki fisik lebih kuat di mata mereka."
"Tapi aku tidak yakin dimana pelabuhan rahasia itu? Apakah aku bisa menemukannya informasi ini dari pasar gelap?" gumam Simon.
"Jelas aku tidak puas untuk menjadi ksatria, aku mau kekuatan yang lebih kuat lagi, aku ingin menjadi penyihir!" Kata Simon sambil menyipitkan mata merahnya yang seolah menyala.