Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst

Atau Baca di judul Bab contoh:

[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]

[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]





Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETIKA KEPERCAYAAN LEBIH CEPAT PERGI [POV FRAGMEN KEEMPAT: GU TIANMING]

Rumor itu menyebar persis seperti yang dijanjikan Pei Rong.

Dalam sebulan, jumlah pasien yang datang ke klinik Akademi Qingxu turun hampir sepertiga. Beberapa pindah ke tabib keliling yang baru membuka praktik di pasar, yang dengan senang hati membiarkan cerita tentang "murid magang ceroboh yang merusak jantung seorang penenun tua" menyebar tanpa mengoreksinya.

Gu Tianming tidak mencoba membantah cerita itu secara terbuka. Setiap kali seseorang bertanya langsung, ia menjawab jujur—ya, kesalahan itu terjadi, ya, Tuan Pei menanggung konsekuensinya, dan tidak, ia tidak akan berpura-pura itu tidak pernah terjadi hanya untuk menyelamatkan reputasi klinik.

Kejujuran itu tidak selalu membantu memulihkan kepercayaan secepat yang dibutuhkan.

---

Zhao Heng mengirim surat resmi pada minggu keempat, mengumumkan pencabutan seluruh sisa dukungan finansialnya pada akademi, dengan alasan yang ditulis rapi dan sopan: "insiden yang membahayakan keselamatan pasien membuat kami tidak lagi yakin investasi kami digunakan secara bertanggung jawab."

"Ia menunggu momen yang tepat," Gu Tianming berkata pada murid-muridnya yang berkumpul untuk membaca surat itu bersama, suaranya tetap tenang meski implikasinya jelas berat. "Ia sudah ingin menarik dukungannya sejak insiden Zhao Ming setahun lalu. Insiden Tuan Pei hanya memberinya alasan yang terdengar lebih pantas."

---

Kehilangan dana penuh dari Zhao Heng, ditambah penurunan jumlah pasien yang membayar, membuat akademi menghadapi krisis yang lebih nyata daripada sekadar pengurangan staf seperti sebelumnya.

Dalam pertemuan darurat dengan para tetua akademi, opsi-opsi yang dibahas semuanya terasa seperti kekalahan dalam bentuk berbeda: menutup sebagian klinik, memberhentikan beberapa murid magang, bahkan—yang paling menyakitkan bagi Gu Tianming untuk sekadar didengar—kemungkinan menutup akademi sepenuhnya kalau situasi tidak membaik dalam enam bulan ke depan.

"Kau seharusnya menerima permintaan Zhao Heng dulu, setahun yang lalu," salah satu tetua akademi berkata, tidak dengan kemarahan, hanya kelelahan yang jujur. "Memberikan perlakuan khusus pada anaknya yang gejalanya ringan tidak akan membunuh siapa pun. Kita bisa saja kehilangan dukungannya jauh lebih lambat."

Gu Tianming tidak membantah kemungkinan itu. Ia hanya tidak menyesalinya.

---

"Aku masih percaya itu keputusan yang benar," ia berkata. "Tapi aku juga tidak akan berpura-pura keputusan yang benar selalu murah harganya. Kita sedang membayar harga itu sekarang, dan aku tidak tahu apakah kita akan sanggup menanggungnya sampai akhir."

Pertemuan itu berakhir tanpa keputusan pasti, hanya kesepakatan untuk memantau situasi selama beberapa minggu lagi sebelum membuat keputusan drastis apa pun.

Gu Tianming pulang malam itu dengan beban yang terasa lebih berat daripada beban mana pun yang pernah ia tanggung sejak mendirikan klinik ini bertahun-tahun lalu—bukan hanya beban satu pasien, satu keputusan, tapi beban seluruh institusi yang mungkin tidak akan bertahan karena rangkaian keputusan yang, secara individual, masing-masing terasa benar saat diambil.

---

Chu Yan menemukannya di ruang kerjanya larut malam itu, catatan-catatan keuangan akademi terbentang di meja, wajahnya lebih lelah daripada yang pernah dilihat Chu Yan sejak insiden Tuan Pei.

"Aku punya ide," ia berkata, tanpa basa-basi, berdiri di ambang pintu dengan sesuatu yang terasa seperti tekad yang baru ditemukan.

Gu Tianming mengangkat pandangan, sedikit terkejut melihat muridnya—yang sejak insiden itu selalu tampak ragu, selalu bertanya apakah ia pantas tetap menjadi tabib—kini berdiri dengan postur yang berbeda, lebih tegak, lebih yakin.

---

"Aku sudah bicara dengan beberapa pasien lama kita," Chu Yan melanjutkan, tidak menunggu izin untuk melanjutkan. "Su Wan. Keluarga di Desa Xiaohe yang selamat dari wabah tahun lalu. Puluhan orang lain yang pernah kita rawat selama bertahun-tahun. Mereka semua masih percaya pada klinik ini, tapi mereka tidak tahu kita sedang menghadapi krisis sebesar ini karena kita tidak pernah memberi tahu siapa pun di luar akademi."

"Apa yang kau usulkan?" Gu Tianming bertanya, mulai memberi perhatian penuh.

"Biarkan mereka tahu," Chu Yan berkata. "Bukan untuk meminta simpati, atau untuk membantah rumor Pei Rong secara langsung. Hanya untuk memberi mereka kesempatan memilih apakah mereka ingin mendukung klinik yang pernah membantu mereka, dengan cara yang mereka mampu—sumbangan kecil, bantuan tenaga, apa pun yang mereka bisa berikan."

---

"Itu terdengar seperti memohon," Gu Tianming berkata, tidak yakin. "Aku tidak ingin klinik ini bertahan karena rasa kasihan orang lain."

"Ini bukan memohon," Chu Yan berkata tegas, kepercayaan diri yang jarang ia tunjukkan sejelas ini sejak insiden itu. "Ini memberi orang-orang yang pernah kita bantu kesempatan untuk membalas dengan cara mereka sendiri, kalau mereka memang menginginkannya. Kau selalu bilang tidak ada yang boleh dipaksa membuat pilihan tentang hidup mereka sendiri. Ini sama—biarkan mereka memilih, jangan putuskan untuk mereka bahwa mereka pasti tidak ingin membantu."

Gu Tianming menatap muridnya lama, menyadari argumen itu menggunakan prinsipnya sendiri dengan cara yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

---

Mereka mengirim pesan sederhana ke desa-desa yang pernah dibantu klinik selama bertahun-tahun terakhir—bukan permohonan dramatis, hanya penjelasan jujur tentang situasi yang dihadapi akademi, dan undangan terbuka bagi siapa pun yang ingin membantu dengan cara apa pun yang mereka mampu.

Responsnya tidak instan, tidak juga cukup untuk menyelesaikan krisis finansial sepenuhnya dalam semalam.

Tapi dalam dua minggu, sesuatu mulai bergerak—Su Wan datang membawa hasil kebunnya untuk dijual demi dana klinik, tiga keluarga dari Xiaohe mengirim sumbangan kecil yang mereka mampu, seorang tukang kayu yang pernah diselamatkan dari infeksi parah menawarkan memperbaiki bangunan klinik tanpa biaya sebagai balasan.

---

Itu tidak menutupi seluruh kekurangan dana yang ditinggalkan Zhao Heng. Tidak juga sepenuhnya membalikkan penurunan jumlah pasien yang masih ragu karena rumor yang masih beredar.

Tapi itu cukup untuk menunda keputusan drastis tentang penutupan yang dibahas para tetua, memberi klinik waktu tambahan untuk membuktikan dirinya tanpa harus langsung mengorbankan staf atau layanan.

"Ini bukan solusi permanen," Chu Yan berkata, memeriksa catatan sumbangan yang masuk minggu itu. "Kita masih butuh cara jangka panjang untuk stabil, bukan hanya bergantung pada kebaikan hati orang-orang yang kebetulan pernah kita bantu."

"Aku tahu," Gu Tianming berkata. "Tapi ini membuktikan sesuatu yang aku sendiri lupa selama krisis ini—kita tidak sesendirian yang kupikirkan."

---

Ia menatap muridnya, menyadari betapa jauh Chu Yan sudah berkembang sejak malam ia berdiri gemetar di sudut ruangan klinik, tidak yakin apakah ia pantas tetap menjadi tabib.

"Kau belum menjawab pertanyaanmu sendiri," ia berkata pelan. "Apakah kau masih ingin menjadi tabib, setelah semua yang terjadi."

Chu Yan berpikir sejenak, benar-benar mempertimbangkan pertanyaan itu, bukan menjawab secara refleks seperti yang mungkin dilakukan beberapa bulan lalu.

"Aku masih tidak sepenuhnya yakin," ia akhirnya berkata, jujur. "Tapi aku tahu aku tidak ingin klinik ini tutup karena aku terlalu sibuk meragukan diriku sendiri untuk membantu menyelamatkannya. Mungkin itu belum jawaban penuh atas pertanyaanmu. Tapi itu jawaban yang kupunya sekarang."

Gu Tianming mengangguk, tidak mendesaknya untuk jawaban yang lebih pasti, membiarkan krisis yang belum sepenuhnya terselesaikan itu menggantung di antara mereka, bersama harapan kecil yang, untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, terasa sedikit lebih nyata daripada sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!