Indonesia
NovelToon NovelToon
Secrets Of A Broken Family

Secrets Of A Broken Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak, bogor part 2

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sabtu pagi, udara kota masih terasa dingin dan segar saat kelima anggota Alaxtar berkumpul di titik temu yang telah ditentukan. Deru lima motor sport yang dipanaskan menciptakan simfoni yang sangat familiar bagi mereka.

Leo sudah siap dengan motor hitamnya, sementara Aera duduk dengan jaket oversize milik Leo yang sengaja dipinjamkan agar ia tidak kedinginan saat menembus angin pegunungan.

Davin, Wain, dan Zayyan tampak sedikit berbeda tanpa kehadiran pacar-pacar mereka, namun semangat mereka justru tampak lebih liar dan bebas.

"Oke, boys and lady," seru Davin sambil memakai sarung tangan kulitnya. "Target kita adalah villa di kawasan Cipanas yang lokasinya agak tersembunyi. Zayyan sudah pesan tempat, dan logistik sudah aman di tas samping motor."

Leo menoleh ke arah Aera, "Siap, Ra? Pegangan yang erat, jalur menuju ke sana bakal banyak tikungan tajam."

Aera mengangguk mantap, tangannya melingkar sempurna di pinggang Leo. "Siap, Leo!"

Perjalanan dimulai. Saat mereka meluncur keluar dari kota, formasi Alaxtar terbentuk secara alami. Leo di depan sebagai penunjuk jalan, diikuti Wain dan Zayyan, sementara Davin menjadi penutup barisan. Kecepatan mereka terjaga, namun sesekali mereka melakukan akselerasi yang memicu adrenalin. Bagi Aera, ini adalah pengalaman pertama merasakan sensasi touring jarak jauh. Angin yang menerpa wajah, pemandangan kota yang perlahan berubah menjadi deretan pepohonan hijau, serta rasa aman karena berada di belakang Leo membuatnya merasa seolah semua beban hidupnya tertinggal jauh di belakang.

Beberapa jam kemudian, mereka sampai di kawasan Puncak. Suasana di sana benar-benar kontras dengan hiruk-pikuk kampus. Udara pegunungan yang menusuk tulang justru terasa menenangkan. Begitu tiba di villa yang dimaksud—sebuah bangunan kayu bergaya klasik dengan halaman rumput yang luas—mereka langsung disambut oleh udara sejuk yang berkabut.

"Gila, tempatnya mantap banget!" teriak Zayyan sambil membuka pintu villa yang luas.

Mereka mulai menurunkan barang bawaan. Karena tidak ada gadis lain, suasana berubah menjadi sangat santai. Tidak ada yang perlu menjaga image atau khawatir soal riasan wajah. Mereka benar-benar kembali menjadi anak muda yang bebas.

Malam harinya, ritual puncak dimulai. Zayyan dan Wain sibuk menyiapkan panggangan di halaman belakang, sementara Davin menyiapkan perapian. Aroma daging panggang dan jagung bakar mulai menyebar, beradu dengan aroma kayu pinus yang khas. Aera ikut membantu menyiapkan bumbu, merasa sangat diterima di tengah percakapan mereka yang penuh canda tawa.

Tepat saat api unggun menyala terang, Leo mengeluarkan ponselnya. "Guys, sesuai janji, waktu yang tepat buat toast."

Leo menghubungkan ponsel ke speaker dan melakukan panggilan video. Layar ponsel yang dipasang di atas meja kayu menampilkan wajah Alex yang sedang duduk di sebuah ruangan dengan latar belakang salju di luar jendela, ditemani Alexsa yang terlihat sangat cantik dengan gaya fashion luar negerinya.

"Woi, Alaxtar!" teriak Alexa dari layar dengan nada khasnya.

"Alex, Alexsa! Kangen banget!" teriak Wain dan Zayyan bersamaan.

"Puncak seru, ya? Gue bisa lihat dari video, tempatnya klasik banget," sahut Alex dengan senyum lebar. "Gue iri banget nggak bisa ikut bakar-bakar di sana."

Mereka pun menghabiskan waktu berjam-jam dengan mengobrol melalui layar, berbagi cerita tentang kehidupan kuliah, rencana masa depan, hingga kenangan-kenangan masa lalu saat mereka masih sering nongkrong di basecamp. Alexsa sempat menyapa Aera dengan ramah, membuat Aera merasa sangat terharu karena bisa mengenal sosok teman barunya meski hanya lewat virtual.

Setelah video call berakhir, suasana menjadi sedikit lebih syahdu. Mereka duduk melingkar di depan api unggun, menikmati malam yang dingin dengan segelas cokelat panas.

"Jujur, Ra," ujar Davin tiba-tiba sambil menatap api unggun. "Dulu kita pikir bakal susah banget kalau nggak ada Alexsa atau cewek-cewek lain di tengah kita. Tapi malam ini, gue sadar kalau Alaxtar bukan cuma soal siapa yang dibawa, tapi soal siapa yang ada saat kita jatuh dan bangkit."

Leo menatap Aera yang sedang menatap api dengan tatapan damai, lalu beralih menatap sahabat-sahabatnya. "Aera sudah jadi bagian dari kita. Dia sudah lihat sisi paling berantakan kita, dan dia tetap ada di sini. Itu yang lebih berharga daripada apa pun."

Aera tersenyum, air mata haru hampir menetes. "Terima kasih, semuanya. Kalau bukan karena kalian, mungkin aku masih terpuruk di rumah Oma sendirian."

Malam itu ditutup dengan tawa dan janji-janji persahabatan yang semakin erat. Di Puncak yang dingin, mereka menemukan kehangatan yang sesungguhnya.

Minggu pagi di Puncak menyambut mereka dengan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan, memberikan kesan mistis namun menenangkan. Suasana villa yang tenang perlahan terusik oleh suara tawa dari arah dapur. Ternyata, Wain dan Zayyan sudah bangun lebih awal dan mencoba bereksperimen dengan sisa bahan makanan semalam. Hasilnya? Bau kopi hitam yang pekat dan aroma mi instan rebus—menu wajib para biker di pagi hari yang dingin.

Leo keluar dari kamarnya dengan wajah yang masih terlihat mengantuk, rambutnya sedikit berantakan. Ia mendapati Aera sedang duduk di teras kayu, menikmati pemandangan kebun teh yang terbentang luas di depan villa. Gadis itu tampak sangat tenang, jauh berbeda dengan Aera yang pertama kali Leo kenal.

"Pagi, Ra," sapa Leo lembut. Ia berjalan mendekat dan memberikan secangkir teh hangat.

Aera menoleh, lalu tersenyum manis. "Pagi, Leo. Pemandangannya indah banget ya? Rasanya tenang banget di sini, nggak ada tekanan dari rumah, nggak ada tatapan menghakimi dari orang-orang."

Leo duduk di sampingnya, membiarkan bahu mereka bersentuhan. "Itulah gunanya kita touring. Kadang, kamu cuma butuh jarak dari masalah untuk sadar kalau kamu sebenarnya kuat."

Tak lama kemudian, Davin, Wain, dan Zayyan bergabung di teras. Mereka tampak jauh lebih segar dibanding semalam.

"Gila, ini sih healing tingkat dewa," ucap Zayyan sambil merentangkan tangannya, menghirup udara pegunungan dalam-dalam. "Jujur, gue sudah lupa rasanya bangun tidur tanpa memikirkan tugas makalah atau masalah organisasi kampus."

"Habis ini kita mau ke mana?" tanya Aera penasaran.

Davin tersenyum licik. "Karena kemarin kita sudah party bakar-bakar, sekarang waktunya tantangan. Ada jalur off-road ringan di dekat sini yang pemandangannya ke air terjun tersembunyi. Tapi, karena motor kita motor sport, kita harus titip motor di warga lokal dan lanjut jalan kaki sedikit. Berani?"

"Jalan kaki?" tanya Wain sangsi. "Lo tahu kan, Dav, gue paling anti sama yang namanya jalan kaki kalau jaraknya lebih dari seratus meter?"

"Makanya olahraga, makanya jangan main game terus!" timpal Zayyan sambil menjitak kepala Wain, memicu tawa mereka semua.

Setelah sarapan sederhana yang penuh dengan candaan, mereka pun bergegas bersiap. Leo membantu Aera menyiapkan tas kecil. Perhatian kecil yang diberikan Leo tidak luput dari pandangan teman-temannya. Mereka sadar bahwa Leo yang biasanya dingin dan kaku, kini berubah menjadi seseorang yang begitu protektif dan penuh perhatian.

Perjalanan menuju air terjun itu pun menjadi momen yang tak terlupakan. Mereka harus melewati jalan setapak yang cukup licin. Berkali-kali, Leo memegang tangan Aera untuk memastikan gadis itu tidak terpeleset. Bahkan ketika jalur semakin terjal, Leo tanpa ragu membiarkan Aera berpegangan erat padanya. Bagi Davin, Wain, dan Zayyan, pemandangan itu terasa seperti adegan film, namun mereka tahu itu nyata.

Saat mereka sampai di air terjun yang dimaksud, keindahan alam benar-benar membayar lunas lelahnya perjalanan. Air jernih yang jatuh dari ketinggian menciptakan kabut air yang menyegarkan. Mereka langsung menghabiskan waktu dengan bermain air, mengambil foto bersama, dan merekam video pendek.

Di sela-sela waktu santai, Wain mendekati Leo yang sedang berdiri sedikit menjauh, menatap Aera yang sedang tertawa bersama Zayyan. "Lo yakin cuma mau jadi temen selamanya, bos?" tanya Wain pelan.

Leo terdiam sejenak. Ia menatap Aera lama, lalu kembali menatap Wain dengan senyum yang sulit diartikan. "Gue nggak mau terburu-buru. Aera baru saja sembuh dari lukanya. Tugas gue sekarang bukan buat dapetin dia, tapi buat mastiin dia nggak ngerasa sendirian lagi. Selebihnya... biar waktu yang jawab."

Wain menepuk bahu Leo dengan bangga. "Gue salut sama lo. Lo beda banget sama yang lain. Kalau lo butuh bantuan buat menjaga dia lebih jauh, lo tahu ke siapa harus cari bantuan."

Leo mengangguk pelan, tatapannya kembali tertuju pada Aera. Dari kejauhan, tawa gadis itu terdengar renyah, sebuah suara yang entah sejak kapan menjadi melodi favorit Leo. Zayyan, yang berdiri di samping Aera, tampak sedang menceritakan sesuatu yang lucu, membuat Aera memegang perutnya sambil terus tertawa. Pemandangan itu sebenarnya cukup menyakitkan jika ego Leo sedang tinggi, namun kali ini, ia justru merasa tenang.

"Gue cabut dulu, ada urusan sebentar," ujar Wain sembari membetulkan posisi jaketnya. "Jangan kelamaan bengong, nanti Aera keburu diculik orang lain."

Leo terkekeh pelan, menepis candaan Wain dengan lambaian tangan. Setelah Wain menjauh, Leo memutuskan untuk melangkah mendekati dua orang yang sedari tadi ia perhatikan. Langkah kakinya berat namun mantap. Ia tidak ingin mengganggu, tapi ia juga tidak ingin hanya menjadi penonton dalam hidup Aera.

"Lagi bahas apa, nih? Kayaknya seru banget sampai kedengeran ke sana," ucap Leo, suaranya terdengar santai saat ia sudah berdiri di antara mereka.

Aera menoleh, matanya berbinar. "Eh, Leo! Tadi Zayyan cerita waktu dia nggak sengaja salah masuk kelas pas ospek. Masa dia ngira itu kelas sastra, ternyata kelas kedokteran hewan!"

Zayyan tertawa terbahak-bahak, mengacak rambutnya sendiri dengan canggung. "Sumpah, itu memalukan banget. Gue udah duduk tenang, tiba-tiba dosennya masuk bawa kucing, dan gue langsung sadar ada yang salah."

Leo ikut tertawa, meski pikirannya sedikit teralih pada bagaimana mata Aera selalu berkerut manis di sudutnya saat tertawa lepas seperti itu. "Itu sih emang lo-nya aja yang kurang fokus, Zay."

"Iya, nih. Emang dasarnya Zayyan rada konslet," timpal Aera, masih dengan sisa tawanya.

1
Amora
bagus
Amora
selalu aku pantau terus ceritanya
Amora
yaampun Thor pantesan aku tungguin gak up terus pdhal ganti kesini xixixi🤭
Aisyah Suyuti
good
Its_sellaaf
Hallo, ini sebenarnya kelanjutan ulang cerita sebelumnya, di judul pertama aku yaa aku ubah di awal karena cerita yang sebelumnya susah buat aku delete. Jadi aku bikin ulang lagi aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!