Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri yang sempurna
Derap langkah Alfa terasa begitu berat menelusuri lantai marmer dingin saat ia melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya membayangkan keletihan yang amat sangat, bukan sekadar lelah fisik usai seharian bekerja di kantor, melainkan beban batin yang sangat berat akibat ancaman sang ayah yang terus menekan benaknya.
Pria itu menyingsingkan lengan kemejanya dan menyangkutkan jas hitamnya begitu saja di lengan kanan.
Namun, begitu melangkah melewati koridor utama menuju area dalam, langkah Alfa terhenti seketika.
Di ruang tamu yang temaram, Senja tampak sedang duduk di atas sofa berbalut gaun rumahan berbahan sutra yang simpel namun anggun.
Sebuah buku tebal bersampul keras terbuka lebar di pangkuannya. Senja mendongak, menyadari kehadiran suaminya.
"Baru pulang, Mas?" Tanya Senja lembut.
Ia meletakkan pembatas buku, menutup bacaannya, lalu berdiri menghampiri Alfa. Tanpa ragu atau canggung, tangan lentik Senja terulur mengambil jas yang tergantung di lengan kekar Alfa untuk ia rapikan.
Alfa menatap Senja dengan pandangan tak percaya. Jarum jam dinding buatan Swiss di ruang tamu sudah menunjuk ke angka delapan malam.
"Kamu... kenapa belum tidur?" Tanya Alfa, suaranya terdengar agak serak.
"Kenapa masih duduk di sini? Ini sudah jam delapan malam, Senja. Harusnya kamu sudah istirahat di kamar."
Senja mengulas senyum tipis yang biasa, mengiringi langkah Alfa masuk lebih dalam.
"Aku sedang membaca buku dan belum mengantuk, Mas. Lagipula, udara di luar kamar lumayan segar."
Senja memperhatikan raut wajah Alfa yang kian pucat dan kuyu.
"Mas sudah makan malam?"
"Belum" Alfa menggeleng pelan.
"Kalau begitu, ayo ke meja makan" Ajak Senja ramah.
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Biar aku panaskan sebentar di dapur."
Alfa mengernyit bingung namun tetap mengekor di belakang Senja menuju ruang makan yang megah. Di atas meja kayu jati berukuran panjang itu, beberapa tudung saji perak menutupi hidangan yang tertata rapi.
"Aku membuatkan makanan kesukaanmu, Mas" Ujar Senja seraya membuka salah satu tudung saji, menampilkan semangkuk sup iga sapi berkuah rempah bening dan tumis daging sapi lada hitam yang aromatik.
"Aku tadi sempat menghubungi Mama dan menanyakan makanan apa yang paling kamu sukai... Tapi karena dibuat tadi sore, makanannya sudah dingin. Biar aku panaskan dulu di microwave sebentar."
Alfa terperangah. Matanya membelalak tipis menatap hidangan di meja, lalu berganti menatap wanita di hadapannya.
"Kamu... kamu memasak makanan ini sendiri?" Tanya Alfa takjub, tenggorokannya mendadak tercekat.
Seorang putri tunggal Prasetya Anjasmara yang terbiasa dilayani puluhan pelayan, turun ke dapur hanya demi memasakkan makanan untuknya?
"Iya, aku memasaknya sendiri" Sahut Senja santun.
"Tidak usah dipanaskan, Senja. Begini saja tidak apa-apa, aku sudah sangat lapar" Cegah Alfa cepat, tidak ingin merepotkan Senja lebih jauh lagi. Alfa menarik kursi untuk Senja, lalu duduk di sampingnya.
"Kamu sendiri... sudah makan?"
"Belum, aku menunggumu" Jawab Senja seadanya.
Kalimat itu diucapkan Senja dengan sangat polos dan datar, murni tanpa niat sedikit pun untuk mencari perhatian atau mencuri empati Alfa. Ia hanya mengutarakan fakta.
"Baiklah, ayo kita makan bersama!" Ajak Alfa, buru-buru menyodorkan piring ke arah Senja. Namun, Alfa menatap Senja dengan perasaan tak enak.
"Tapi lain kali... kalau aku pulang terlambat seperti ini, kamu makan duluan saja, ya? Tidak perlu menungguku."
Senja menyendokkan nasi ke piring Alfa dengan gerakan yang sangat telaten.
"Aku tadi memang belum merasa lapar, Mas. Jadi sekalian menunggumu saja."
Di balik jawaban ringkasnya itu, ada sebuah alasan jujur yang tak diungkapkan Senja. Menurutnya, duduk dan makan sendirian di meja makan raksasa rumah ini terlihat sangat menyedihkan dan sunyi baginya.
Memiliki teman makan, meski dalam ikatan pernikahan yang kaku, jauh lebih baik daripada harus menatap kursi-kursi kosong.
Alfa menyuap kuah sup iga buatan Senja ke dalam mulutnya. Rasa gurih rempah yang pas, daging yang lembut lumer di lidah, serta tingkat kematangan yang sempurna seketika memanjakan lidahnya.
"Terima kasih, Senja... masakanmu enak sekali" Puji Alfa tulus, menatap Senja dengan binar mata yang penuh apresiasi.
"Terima kasih untuk pujiannya, Mas" Balas Senja lembut, mengulas senyum tipis di bibirnya.
Alfa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terus menyantap makan malamnya dengan lahap.
"Aku benar-benar heran padamu, Senja. Rasanya... apa sih hal di dunia ini yang tidak bisa kamu lakukan? Aku rasa kamu bisa melakukan semua hal dengan sempurna."
Senja terkekeh kecil, sebuah tawa samar yang menyimpan kegetiran masa lalu. Ia menatap cangkir air putih di depannya.
"Aku dari dulu memang dituntut untuk bisa melakukan apa pun, Mas" Jawab Senja tenang, nadanya datar tanpa pretensi.
"Papaku menanamkan doktrin bahwa seorang Anjasmara tidak boleh terlihat cacat atau tidak mampu dalam hal apa pun. Jadi... mau tidak mau, aku mempelajari semuanya."
Alfa terhenti sejenak dari makan malamnya, menatap wawasan kehidupan Senja yang begitu berat.
"Sampai ke hal seni? Bermain musik pun kamu bisa?"
"Tentu" Sahut Senja mengangguk pelan. Mata cantiknya melirik ke arah grand piano hitam yang terpanjang elegan di sudut ruang keluarga.
"Apa kamu mau aku memainkan piano sebagai pengantar tidurmu malam ini?" Canda Senja dengan kerlingan mata halus.
Gurun keheningan di antara mereka perlahan mencair. Obrolan-obrolan ringan melantun begitu saja di meja makan, mengalir alami tanpa paksaan. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ada kehangatan nyata yang menyelinap masuk di antara deretan hidangan malam itu.
Usai makan malam, Senja lebih dulu Pamit naik ke lantai dua saat Alfa menerima panggilan telepon mendadak dari sekretarisnya mengenai berkas rapat esok pagi.
Di dalam kamar utama yang luas, Senja melangkah masuk ke dalam walk-in closet. Dengan cekatan, ia menyiapkan selembar baju kaos katun lembut berwarna abu-abu dan celana santai untuk Alfa. Ia meletakkannya dengan rapi di atas tempat tidur, persis di area yang biasa dipakai Alfa.
Tak lama kemudian, Alfa masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya terhenti ketika matanya menangkap setelan baju santai yang sudah tertata rapi di atas tempat tidur.
Perasaan tidak enak dan sungkan semakin menebal di dalam dada Alfa. Wanita ini benar-benar menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan sangat sempurna, memasakkan makanan, menunggunya pulang, hingga menyiapkan pakaian gantinya, di saat Alfa sendiri tahu betul bahwa hatinya masih terbagi dan terikat janji pada wanita lain.
Senja baru saja keluar dari area ruang rias sembari mengeringkan jemarinya dengan tisu ketika melihat Alfa berdiri mematung di samping tempat tidur.
"Mas" Panggil Senja pelan, membuka percakapan yang mendadak serius.
Alfa menoleh.
"Iya, Senja?"
Senja melangkah mendekat, berdiri berjarak satu meter di hadapan suaminya.
"Kalau Ares sampai tahu hubunganmu dengan Dila masih berjalan sampai sekarang... lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apa mereka juga sudah tahu?"
Alfa terdiam sejenak. Sorot matanya yang tadinya hangat perlahan meredup, berganti dengan kilat keputusasaan yang kelam.
"Mereka tahu..." Jawab Alfa rendah, suaranya nyaris tercekik.
Senja terhenyak. Kedua alisnya bertaut tipis. Ia sungguh tidak menyangka. Senja kira kedua orang tua Alfa tidak tahu-menahu mengenai skandal ini, sehingga membiarkan perjodohan berjalan begitu saja.
Namun fakta bahwa orang tua Alfa tahu putranya masih menjalin kasih dengan wanita lain dan tetap memaksakan pernikahan ini membuat Senja mengerti betapa kejamnya dunia yang sedang mereka huni.
"Tapi... mereka masih terus mendesakku untuk mengakhiri hubunganku dengan Dila" Lanjut Alfa lirih. Pria itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi penderitaan.
"Lalu... apa yang akan kamu lakukan, Mas?" Tanya Senja pelan.
"Aku masih meminta waktu pada Papa... sampai Dila menemukan donor ginjal dan sembuh total" Sahut Alfa dengan suara serak yang penuh beban penderitaan. Pria itu mendongak menatap Senja dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak mungkin meninggalkan dia begitu saja di saat keadaannya sedang sekarat seperti itu, Senja... Aku tidak sanggup."
Rasa frustrasi dan beban berat yang ditanggung Alfa seolah menguap ke udara kamar, menyelimuti mereka berdua.
Entah mengapa, mendengarkan kejujuran itu, Senja sama sekali tidak merasa marah, cemburu, ataupun dikhianati. Tidak ada secercah pun emosi negatif di dalam dadanya. Justru sebaliknya, melihat bahu tegap suaminya yang terkulai lemas ditindih beban ekspektasi keluarga dan rasa kemanusiaan yang menyiksa, Senja merasa sangat prihatin.
Senja menatap Alfa dengan pandangan mata yang amat teduh dan penuh empati. Di balik ketampanan dan posisi tingginya sebagai COO, Alfa hanyalah seorang pria biasa yang sedang hancur lebur dihimpit oleh kekuasaan orang tuanya sendiri, persis seperti dirinya yang selama ini hidup dalam cengkeraman Prasetya.
"Istirahatlah, Mas" Tutur Senja sangat lembut, tanpa ada nada menghakimi sedikit pun.
"Kamu sudah sangat lelah hari ini. Bersihkan diri dulu, lalu tidurlah!"
Alfa menatap Senja lurus-lurus, terpaku oleh kedalaman empati di mata wanita itu. Senja tidak menawarkan ceramah, tidak pula menuntut kepastian. Ia hanya menawarkan kedamaian yang teramat sangat dibutuhkan oleh jiwa Alfa yang sedang terluka.
"Terima kasih, Senja..." Bisik Alfa penuh haru sebelum melangkah pelan masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Senja yang berdiri membisu di tengah kamar, menatap pintu yang tertutup dengan helaan napas prihatin yang amat dalam.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.