Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

The Lazy Emperor: Rise Of The Undying Demon King

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: BAGERAAA

Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi

Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.

Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.

Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.

Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.

Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.

Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.

Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.

Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.

Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.

Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.

Sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANDIT GUNUNG ARABEL

Perjalanan yang cukup lama akhirnya membawa rombongan kami memasuki wilayah Gunung Arabel.

Dari kejauhan, aku mulai melihat pepohonan yang menjulang tinggi di tengah hutan. Namun, ada satu pohon yang jauh lebih besar daripada yang lainnya.

Pohon itu berdiri seperti pusat dari seluruh wilayah hutan.

Aku menunjuk ke arahnya.

"Elisa, pohon raksasa yang di sana itu... apa kau tahu sesuatu tentangnya?"

Elisa melihat ke arah yang kutunjuk.

"Pohon itu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, Tuan. Bahkan Kekaisaran Varellion pernah mengeluarkan larangan keras kepada rakyatnya untuk memasuki wilayah hutan yang berada di sekitar pohon tersebut."

Aku mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Sayangnya, saya tidak mengetahui alasannya, Tuan."

Aku kembali menatap pohon raksasa tersebut.

Menarik... sebenarnya apa yang ada di sekitar pohon itu?

Rasa penasaranku semakin besar.

Namun, untuk saat ini aku tidak ingin mengambil risiko.

Mungkin lain kali aku akan datang dan melihatnya lebih dekat.

Perjalanan pun kembali dilanjutkan.

---

Tidak lama setelah rombongan memasuki hutan, Selena tiba-tiba membuka matanya.

Ia melihat ke arah pepohonan di sekitar kami.

"Sepertinya ada tamu yang tidak diundang."

Aku menoleh kepadanya.

"Maksudmu?"

Selena tersenyum tipis.

"Sepertinya ada yang sedang mengganggu perjalanan kita."

Beberapa detik kemudian...

KRESEK! KRESEK!

Suara langkah kaki terdengar dari balik pepohonan.

Kemudian ratusan orang bermunculan dari berbagai arah.

Mereka mengepung rombongan kami.

Para prajurit langsung bersiaga.

"SEMUA CABUT PEDANG KALIAN!"

Komandan regu berteriak keras.

"ADA BANDIT!"

Sring!

Puluhan pedang langsung terhunus.

Aku turun dari kereta.

"Selena, tetap di dalam kereta. Jaga Elisa."

Selena mengangguk.

"Baik, Tuan."

Aku kemudian berjalan menghampiri komandan regu.

"Apa yang terjadi?"

Komandan regu menundukkan kepala.

"Maaf atas perjalanan yang tidak menyenangkan ini, Tuan. Para berandalan itu sedang menghalangi jalan kita."

Aku melihat ke depan.

Barulah aku menyadari bahwa sebuah pohon besar telah tumbang dan menutup jalan.

Beberapa bandit bahkan berdiri santai di atas batang pohon tersebut.

Kemudian seorang pria berbadan besar dan kekar maju.

Ia memiliki tubuh seperti petarung, lengkap dengan senjata besar di tangannya.

"Waoooo! Lihat siapa yang datang!"

Ia tertawa.

"Seorang bangsawan tersesat di Gunung Arabel!"

Namun, ketika pandangannya berpindah ke arah kereta, matanya langsung tertuju kepada Selena dan Elisa yang sedang mengintip dari jendela.

Pria itu menyeringai.

"Hmmm..."

Ia mengusap dagunya.

"Sepertinya kita mendapatkan barang bagus hari ini."

Ia kemudian menunjuk ke arah rombongan kami.

"Dengarkan baik-baik!"

"TINGGALKAN SEMUA BARANG KALIAN!"

Ia menunjuk ke arah Selena dan Elisa.

"Dan tinggalkan dua wanita di sana!"

"Setelah itu, kalian boleh pergi."

Ia tertawa keras.

"Kalau tidak, nyawa kalian akan melayang!"

Para bandit di belakangnya ikut tertawa.

"Hahahahahaha!"

Bos bandit itu kemudian menghina kami.

"Beraninya bangsawan lemah seperti kalian melewati wilayah ini!"

"Untuk berani melangkahkan kaki ke Gunung Arabel, setidaknya kalian membutuhkan ribuan pasukan!"

Ia tertawa semakin keras.

"Lebih baik kalian tinggalkan semua barang kalian dan lari ke pelukan ibu kalian sambil merengek!"

"Huahahahahahaha!"

Aku hanya diam.

Menatapnya.

Kemudian aku menatap para bandit yang tertawa di belakangnya.

Entah kenapa...

Emosiku mulai terpancing.

Dasar bajingan.

Bos bandit itu masih terus berbicara.

Namun, sebelum ia sempat melanjutkan...

SRAK!

Kepalanya tiba-tiba terpisah dari tubuhnya.

Kepalanya terlempar dan jatuh tepat di depan anak buahnya.

Bruk!

Suasana langsung sunyi.

Tidak ada lagi suara tawa.

Aku berdiri beberapa meter dari tubuh bos bandit tersebut.

Aura hitam perlahan muncul di sekitar tubuhku.

Aku memang mudah terpancing emosi.

Dan sepertinya...

Rencana untuk merekrut para bandit baru saja berakhir.

Aku menatap para bandit yang tersisa.

"Komandan."

Komandan regu langsung menoleh.

"Ya, Tuan!"

"Bantai mereka semua."

Aku menunjuk ke arah para bandit.

"Jangan sisakan satu pun."

Aku kemudian menambahkan,

"Setelah selesai, kumpulkan semua mayat mereka menjadi satu."

Komandan regu terdiam sesaat.

Kemudian ia menghunus pedangnya.

"Baik, Tuan!"

"SERANG!"

---

Para prajurit langsung menyerbu.

Bandit yang sebelumnya memiliki keberanian besar mulai panik.

Namun, mereka sudah terlambat.

Aku sendiri ikut melompat ke tengah kerumunan mereka.

Sring!

Satu tebasan.

Srak!

Satu lagi.

Aku terus bergerak.

Tebasan demi tebasan membuat para bandit berjatuhan.

Beberapa anak panah melesat ke arahku.

Fuuush!

Aku memiringkan tubuh dan menghindarinya.

Anak panah tersebut melesat melewati kepalaku.

Aku langsung maju kembali.

Aura hitam mulai keluar dari tubuhku.

WUSSSHHH!

Dalam sekejap, aku menerjang para bandit yang berada di depanku.

Sementara itu, Maximus juga tidak mau ketinggalan.

"HIIIIH!"

Ia berlari ke tengah kerumunan.

BUK!

Satu bandit terlempar.

BRAK!

Bandit lainnya diinjak hingga tidak mampu bergerak.

Maximus bahkan menginjak tanah dengan keras hingga beberapa bandit terjatuh ketakutan.

Namun, sebagian bandit berhasil melarikan diri.

Maximus langsung mengejar mereka.

"Jangan sampai ada yang kabur!"

Aku berteriak,

"Maximus! Berhenti! Jangan kejar mereka!"

Namun...

Maximus tidak mendengarkanku.

Ia malah semakin jauh mengejar para bandit.

Aku menghela napas.

Sial...

Aku menoleh kepada komandan regu.

"Susul Maximus!"

"Baik, Tuan!"

Aku kemudian melihat pohon tumbang yang menghalangi kereta.

Aku mengangkat tanganku.

Aura hitam berkumpul di sekitarku.

SRAAAK!

Dalam satu tebasan, pohon besar tersebut hancur berkeping-keping.

Para prajurit yang menjaga kereta langsung terkejut.

Mereka menatap sisa-sisa pohon dengan wajah tidak percaya.

Aku menoleh kepada mereka.

"Segera susul yang lain."

"Baik, Tuan!"

Para prajurit langsung membawa kereta melewati jalan yang sudah terbuka.

Aku pun menyusul Maximus dan komandan regu.

---

Beberapa saat kemudian, kami akhirnya tiba di markas para bandit.

Namun, ketika komandan regu melihat keadaan di dalam markas tersebut...

Ia langsung terdiam.

Wajahnya berubah pucat.

Para prajurit terlihat sedang menahan beberapa bandit yang menyerah.

Sementara Maximus duduk santai di atas punggung salah satu bandit yang sudah ditangkap.

Aku berjalan menghampiri komandan regu.

"Ada apa?"

Komandan regu menunjuk ke arah dalam markas.

"Tu... Tuan..."

Suaranya terdengar lemas.

"Tolong lihat ke sana."

Aku mengerutkan kening.

Kemudian aku melihat ke dalam.

Mataku langsung menyipit.

Di dalam markas tersebut terdapat puluhan wanita yang dijadikan budak.

Sebagian besar terlihat dalam kondisi sangat buruk.

Mereka mengalami luka, kelaparan, dan berbagai penyakit. Beberapa bahkan sudah tidak mampu berdiri.

Sebagian lainnya ditemukan dalam keadaan telah meninggal.

Aku terdiam.

Suasana di dalam markas terasa sangat berat.

Mereka hanya menatap kosong ke arah kami.

Seolah-olah sudah kehilangan harapan.

Elisa yang baru menyusul tiba-tiba melihat keadaan tersebut.

Wajahnya langsung pucat.

"Ugh..."

Ia menutup mulutnya.

Kemudian berlari keluar.

Uwek!

Elisa muntah di luar markas.

Sementara itu, Selena hanya berdiri diam.

Wajahnya terlihat tenang.

Seolah-olah pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang asing baginya.

Aku mengepalkan tangan.

Aura gelap mulai muncul di sekeliling tubuhku.

Suaraku berubah menjadi berat.

"Komandan."

"Ya, Tuan."

"Bunuh semua bandit yang sudah ditangkap."

Komandan regu terdiam.

Aku melanjutkan,

"Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos."

"Periksa seluruh area markas ini."

"Jika masih ada bandit yang bersembunyi..."

Aku menatap tajam ke arah bangunan tersebut.

"Bunuh mereka."

Komandan regu dan para prajurit langsung menjawab.

"Baik, Tuan!"

Dari luar markas terdengar suara pedang beradu.

Sring!

Crak!

Suara perlawanan para bandit perlahan menghilang.

Aku berjalan semakin jauh ke dalam markas.

Tatapan para wanita yang berada di dalam sel tetap kosong.

Aku menghitung jumlah mereka.

Ternyata hanya 46 orang yang masih hidup.

Yang lainnya sudah meninggal.

Aku menarik napas panjang.

Setidaknya masih ada yang bisa diselamatkan.

---

Aku kemudian menemukan sebuah ruangan tertutup.

Di depannya terdapat pintu besi yang cukup tebal.

Aku menendangnya.

BRAK!

Pintu itu hanya sedikit penyok.

Aku menendangnya sekali lagi.

BRAKKK!

Pintu besi tersebut akhirnya rusak dan terbuka.

Aku membeku.

Di dalam ruangan itu terdapat tumpukan harta.

Koin emas.

Koin perak.

Pakaian mewah.

Minuman mahal.

Bahkan beberapa botol anggur berkualitas tinggi.

Aku langsung tersenyum.

Waooo...

Harta sebanyak ini?

Tidak kusangka para bandit itu mengumpulkan uang sebanyak ini.

Aku mengangkat tanganku.

Cincin Penyimpanan Tanpa Batas yang baru saja kudapatkan mulai bersinar.

Dalam sekejap...

Seluruh harta tersebut masuk ke dalam penyimpanan.

Aku kemudian membuka sistem.

"Jual semua item yang tidak diperlukan."

Sistem langsung memprosesnya.

Beberapa saat kemudian...

[Penjualan berhasil.]

[Anda memperoleh 76.800 Koin.]

Mataku langsung berbinar.

YESSSS! Dapat juga akhirnya!

Aku hampir tertawa kegirangan.

---

Setelah selesai, aku keluar dari markas.

Di luar, mayat para bandit telah dikumpulkan menjadi satu.

Aku juga membawa 46 wanita yang masih selamat keluar dari markas.

Sebelumnya aku telah memberikan mereka eliksir penyembuhan, sehingga kondisi tubuh mereka berangsur membaik dan mereka mampu berdiri.

Aku juga memberikan pakaian yang ditemukan di markas bandit kepada mereka.

Sedangkan mayat para korban yang telah meninggal...

Aku memasukkannya ke dalam penyimpanan.

Lumayan. Mayat mereka kusimpan saja daripada dikubur atau dibakar.

Aku kemudian memanggil para prajurit.

"Kondisi mereka masih belum baik."

Aku menunjuk ke arah 46 orang yang selamat.

"Sebanyak tiga puluh prajurit kembali ke benteng utama bersama mereka."

"Pastikan mereka mendapatkan perawatan."

Aku kemudian menunjuk ke belakang markas.

"Dan bawa gerobak serta kuda-kuda milik bandit."

"Jangan lupa karung makanan dan gandum yang mereka simpan."

Para prajurit mengangguk.

"Baik, Tuan!"

Aku tersenyum puas.

Huhuhuhu... lumayan.

Dapat suplai gratis.

Aku tersenyum lebar.

Namun, para prajurit justru menatapku dengan ekspresi aneh.

Aku langsung menghentikan senyumku.

"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"

Tidak ada yang menjawab.

Aku berdeham.

"Sudahlah. Segera berangkat."

"Baik, Tuan!"

Tiga puluh prajurit mulai bergerak kembali menuju benteng utama bersama para korban yang selamat.

Aku berdiri dan melihat mereka perlahan menjauh.

---

Setelah rombongan tersebut menghilang dari pandangan, aku menoleh kepada komandan regu.

"Siapa namamu?"

Pria itu segera menjawab,

"Nama saya Jaron, Tuan."

"Jaron..."

Aku mengangguk.

"Komandan regu ke berapa?"

"Saya Komandan Regu ke-6, Tuan. Saya berada di bawah kepemimpinan Jenderal Serof."

"Oh..."

Aku mengangguk lagi.

"Baiklah, Jaron. Terima kasih atas pengawalanmu hari ini."

Aku kemudian menambahkan,

"Aku tidak menyangka kita akan bertemu para bandit."

Jaron menghela napas.

"Terima kasih kembali, Tuan. Saya juga tidak menyangka Gunung Arabel ternyata menjadi tempat persembunyian para bandit."

"Aku juga awalnya tidak tahu kalau mereka menawan para wanita."

Aku memperhatikan Jaron.

Pria itu memiliki tubuh yang sedikit gemuk, kumis dan janggut yang cukup tebal, serta rambut panjang bergelombang.

Senjata utamanya adalah sebuah kapak besar.

Usianya sekitar 47 tahun.

Aku kemudian membuka hologram sistem.

> [STATUS]

Nama: Jaron

Gelar: Komandan Regu ke-6

Usia: 47 Tahun

Rank: B — Kekaisaran

Skill: Kekuatan Fisik, Penguat Mana

Aku melihat statusnya beberapa detik.

Skill-nya biasa saja.

Aku mengangkat bahu.

Ya sudah lah.

Aku kemudian memanggil yang lainnya.

"Serof, Elisa, Selena, Maximus."

Mereka semua menoleh.

"Kita lanjutkan perjalanan."

Maximus langsung berlari menghampiriku.

"Baik, Rajaku!"

Aku menatapnya.

Jangan sampai dia ngebut lagi...

Akhirnya, perjalanan menuju Kekaisaran Varellion kembali dilanjutkan.

Kini hanya tersisa 20 prajurit pengawal yang menemani rombongan kami.

Sementara 30 prajurit lainnya telah kembali ke benteng utama bersama para korban yang berhasil diselamatkan.

Aku menatap jalan panjang di depan.

Gunung Arabel masih membentang luas di hadapan kami.

Dan tanpa kami sadari...

Perjalanan menuju Kekaisaran Varellion ternyata baru saja memasuki bagian yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!