Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Setelah berjam-jam menatap layar dan menyusun dokumen bukti, Narendra menutup laptopnya dengan satu tarikan napas berat.
Pikirannya belum sepenuhnya tenang, tetapi kini jauh lebih terarah.
Tidak ada lagi keraguan; yang tersisa hanyalah tekad bulat untuk segera menuntaskan pekerjaannya dan pulang.
Ia berdiri dari kursi balkon, memandang matahari yang mulai tenggelam di balik garis cakrawala laut Bali.
"Aku tidak bisa tinggal lama-lama di sini," gumamnya pada diri sendiri.
"Semakin cepat proyek ini selesai, semakin cepat pula aku kembali dan membereskan semua urusan yang jauh lebih penting di Yogyakarta."
Narendra masuk ke dalam kamar, segera mengganti kemeja santainya dengan pakaian kerjanya.
Ia membuka peta rencana proyek, mulai menandai item-item yang bisa ia delegasikan kepada tim bawahannya, dan menyusun ulang jadwal koordinasi agar seluruh progres dapat dipercepat tanpa mengorbankan kualitas.
Di layar monitor pusat proyek, target penyelesaian awal tertera tiga minggu lagi.
"Aku pangkas jadi dua minggu," ucapnya tegas.
Semuanya menganggukkan kepalanya dan segera mereka kembali bekerja.
Narendra mendapati ponselnya bergetar di dalam sakunya dimana ada sebuah pesan masuk dari Tiyas.
[Gio, mengatakan kalau ada pekerjaan di Bandung. Aku yakin bukan urusan kantor.]
Narendra membalasnya tak kalah cepat:
[Mia, tadi juga mengirimkan pesan seperti itu, Tiyas. Tolong, kamu terus pantau. Aku akan percepat pekerjaan ku di sini. Kita harus siap saat waktunya tiba.]
Narendra menutup ponselnya dan kembali bekerja.
Sementara Narendra dan Tiyas merajut strategi di dua kota berbeda, Gio dan Mia melaju di atas jalan tol menuju Bandung dengan wajah berbinar.
Hati mereka terasa ringan, seolah dunia ini sepenuhnya milik mereka berdua.
Mia duduk di kursi penumpang, mengenakan kacamata hitam, sesekali tertawa kecil sambil membaca pesan di ponselnya.
Di sampingnya, Gio memutar lagu-lagu lama favorit mereka, sesekali melempar godaan yang disambut senyum manja Mia.
"Akhirnya kita bisa bebas juga, ya," ujar Gio sambil menyetir dengan sebelah tangan.
"Nggak perlu pura-pura lagi hari ini."
"Iya, capek banget harus akting terus di depan keluarga. Apalagi Narendra sekarang makin cerewet," balas Mia dengan nada jengkel.
"Kalau bukan karena hartanya, sudah dari dulu aku tinggalin dia."
Gio tertawa kecil, meraih tangan Mia sejenak sebelum kembali fokus ke kemudi.
"Tenang saja, sayang. Pelan-pelan semuanya bakal kita kuasai. Sekarang, kita nikmati dulu waktu kita di Bandung."
Mia menganggukkan kepalanya dan mencium pipi Gio.
Mereka tidak mengetahui jika di belakang mobil mereka, ada sepasang mata dan hati yang telah hancur sedang mengawasi.
Setiap langkah, setiap pesan, bahkan rute perjalanan itu telah direkam dan dicatat secara rapi di balik layar.
Langit Bandung mulai mendung ketika mobil Gio memasuki gerbang sebuah vila pribadi tersembunyi di kawasan Lembang.
Lokasinya jauh dari keramaian—tempat yang sengaja dipilih Gio dengan keyakinan penuh bahwa tempat itu aman, tenang, dan mustahil dijamah oleh orang-orang terdekat mereka.
"Wah, akhirnya sampai juga. ujar Mia antusias saat turun dari mobil, menghirup udara dingin pegunungan yang lembap.
"Kita bisa santai di sini. Nggak ada yang bakal ganggu."
Gio tersenyum lebar, merangkul pinggang wanita itu.
"Aku pilih tempat ini khusus buat kita, Mia. Tida ada yang tahu kalau kita ada disini."
Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam vila yang mewah dan tertutup rapat.
Sofa empuk, perapian modern, serta balkon luas yang menghadap langsung ke lembah berkabut menyambut kedatangan mereka.
Tanpa buang waktu, Mia melemparkan tasnya ke atas sofa dan merebahkan diri dengan manja.
"Kamu benar-benar tahu cara memanjakan aku, Mas." bisik Mia, menarik tangan Gio agar mendekat.
Gio mengecup keningnya lembut. "Kita punya dua hari penuh di sini. Sekarang kita tidak usah berfikir tentang Tiyas maupun Narendra."
Mereka berdua kembali mencium bibir satu sama lain.
Tanpa mereka sadari di saat mereka menikmati "kebebasan" semu itu, di sebelah kamar mereka ada Wildan yang memantau.
Di dalam kamar, Wildan menyipitkan mata sambil mengetik laporan cepat.
[Lokasi Gio terdeteksi: Vila pribadi di Lembang. Bukan hotel bisnis, bukan kantor cabang. Mia terdeteksi di lokasi yang sama sejak 20 menit lalu.]
Wildan menekan tombol kirim. Tak lama kemudian, notifikasi itu mendarat di ponsel Tiyas.
Tiyas membaca pesan tersebut dalam keheningan ruang kerjanya.
Bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis—bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum seorang wanita yang semakin yakin bahwa takdir sedang menuntunnya membuka kotak Pandora.
Tiyas yang sudah di rumah kediamannya lebih awal dari biasanya.
Kali ini bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena ia tahu sudah saatnya ia mengambil alih kendali penuh atas hidupnya—bahkan atas ruang-ruang di mana ia selama ini dibohongi.
Begitu memasuki rumah megah berlantai dua itu, Tiyas memanggil seluruh asisten rumah tangga dan staf.
Mereka berkumpul di ruang keluarga dengan raut wajah penuh tanya.
Belum pernah Tiyas memanggil mereka sekaligus dalam situasi seperti ini, apalagi dengan tatapan setegas malam itu.
"Mulai malam ini, kita akan merombak total rumah ini," ucap Tiyas tenang, namun suaranya menggelegar tegas di setiap sudut ruangan.
"Dinding ruang keluarga dan kamar utama akan dicat ulang. Saya ingin nuansa baru yang cerah—putih tulang, beige, atau peach muda. Semua tempat tidur di rumah ini dibuang, tanpa terkecuali, terutama yang ada di kamar utama."
Para pelayan saling berpandangan, terkejut, namun segera mengangguk patuh melihat kesungguhan di mata majikan mereka.
"Lakukan secepat mungkin, tetapi tetap rapi. Saya ingin rumah ini hidup kembali, seperti saya yang sedang bangkit."
Sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, ponsel para staf berbunyi serempak.
Notifikasi dari aplikasi mobile banking menunjukkan transfer bonus belasan juta rupiah masuk ke rekening masing-masing.
Seorang asisten rumah tangga wanita bahkan tampak menahan haru di kelopak matanya.
"Terima kasih banyak, Bu. Kami pasti akan melaksanakannya."
Tiyas mengangguk kecil, lalu berbalik menaiki tangga menuju lantai atas.
Langkahnya mantap, tanpa keraguan. Ia memasuki ruang tamu pribadi di lantai atas—sebuah ruangan yang selama ini jarang terjamah karena terlalu sibuk mengurus rumah tangga dan pekerjaan suaminya.
Ia berdiri di tengah ruangan, menatap jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
"Mulai hari ini, ini ruanganku," bisiknya pelan pada diri sendiri.
"Tempat saya berpikir, merancang masa depan, dan membuang setiap serpihan luka."
Ia menyalakan diffuser aromaterapi beraroma lavender, duduk di sofa panjang berwarna biru muda, lalu membuka laptopnya.
Sebuah folder baru ia buka dengan nama: Rekonstruksi Hati.
Di dalam sana, seluruh laporan Wildan, bukti digital, dan rekaman video telah tersusun rapi.
Sambil menatap layar yang menampilkan foto Gio, pertahanan Tiyas akhirnya runtuh juga.
Air matanya menetes dalam sunyi. Jari-jarinya bergetar saat ia meraih ponsel untuk mencari satu nama: Imelda, sahabat sejatinya sejak bangku kuliah, satu-satunya orang yang paling mengenal borok pernikahan itu sejak awal.
Panggilan terhubung. Suara riang Imelda langsung menyapa di seberang sana.
"Halo, Nay? Tumben banget telepon malem-malem—"
"Mel," suara Tiyas tercekat, bergetar hebat.
"Aku, sudah nggak sanggup lagi."
Seketika, suara di seberang sana terdiam. "Naya? Kamu kenapa suara kamu seperti itu? Ada apa, Tiyas?"
"Gio, Mel. Dia selingkuh sama Mia."
“APA?!” teriak Imelda di ujung telepon.
"Kamu yakin, Tiyas?"
"Iya Mel. Aku lihat sendiri mereka berselisih. Aku bahkan punya videonya."
Imelda langsung menutup ponselnya dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sahabatnya.
Ia Tidak terima jika ada seseorang yang menyakiti Tiyas.
Sesampainya di rumah Tiyas, Imelda turun dari mobilnya dengan sangat tergesa-gesa.
Tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan sweater rajut longgar dan celana training, ia berlari masuk tanpa permisi—seperti yang biasa ia lakukan selama bertahun-tahun persahabatan mereka.
Di lantai atas, Imelda menemukan Tiyas duduk meringkuk di sofa ruang tamu pribadi, dengan mata sembab dan wajah sepucat pualam.
Tanpa banyak bicara, Tiyas mengulurkan laptopnya. Imelda memutar video bukti itu—dan seketika matanya membelalak lebar, napasnya tertahan.
"Astaga, itu Mia?! Sepupumu sendiri?!"
Tiyas mengangguk lemah, air matanya kembali tumpah.
Imelda bangkit berdiri, berkacak pinggang dengan dada naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak.
"Kurang ajar! Pantesan dari dulu instingku udah nggak sreg sama tuh perempuan! Lihat gayanya saja sudah ketebak mentalnya!"
Tangisan Tiyas pecah semakin keras, tetapi kali ini bukan karena keputusasaan, melainkan karena akhirnya ada seseorang yang mendekapnya, mendengar jeritannya, dan ikut membara dalam amarah yang sama.
Imelda memeluk sahabatnya erat-erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatan.
"Udah, Tiyas. Kamu berhak nangis sekarang. Tapi habis malam ini, kita bangkit. Kita balas mereka. Kita tunjukin ke dunia, siapa sebenarnya yang hancur dan siapa yang bakal tertawa paling akhir."
Tiyas memejamkan mata di dalam dekapan hangat Imelda
Untuk pertama kalinya sejak badai pengkhianatan menghantam hidupnya, ia merasa tidak lagi berjalan seorang diri.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘