Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 6: Undangan Pesta dan Kebimbangan Hati

Beberapa hari kemudian, sebuah amplop berwarna emas yang cantik dan berkilau dikirim ke rumahku, ditujukan langsung untukku. Saat Tante Lisa menyerahkannya padaku dengan wajah penuh senyum bahagia, aku membukanya dengan rasa penasaran. Ternyata itu adalah undangan pesta ulang tahun putri salah satu keluarga kaya yang berteman baik dengan keluargaku—pesta yang akan diadakan di rumah mewah di pinggir kota, dihadiri oleh seluruh kalangan kaya dan berpengaruh di kota ini. Dalam cerita aslinya, pesta ini adalah momen di mana Lily asli melakukan kesalahan terbesarnya: ia mabuk karena minuman yang diberikan Grace, lalu membuat keributan besar dan mempermalukan dirinya sendiri di depan semua orang, termasuk Ethan dan keluarganya. Sejak hari itu, nama Lily menjadi bahan pembicaraan yang memalukan di seluruh kota, dan itu adalah awal dari kehancuran reputasinya.

Aku meletakkan undangan itu di meja dengan perasaan cemas. Haruskah aku pergi? Kalau aku tidak pergi, mungkin aku bisa menghindari bencana itu. Tapi kalau aku tidak pergi, Grace mungkin akan mencari cara lain untuk menjebakku di tempat lain. Dan juga… Ethan dan Mark pasti akan hadir di sana. Jika aku tidak muncul, mungkin mereka akan berpikir aku takut atau menyembunyikan sesuatu.

"Apakah Nona akan pergi?" tanya Tante Lisa pelan, seolah membaca pikiranku.

Aku menghela napas panjang, lalu mengangguk perlahan. "Ya, Tante. Aku akan pergi. Tapi kali ini… aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Aku akan tetap tenang, menjaga sikap, dan tidak akan membiarkan siapa pun menjebakku."

Malam pesta itu tiba. Aku berdiri di depan cermin, mengenakan gaun sederhana berwarna merah muda lembut yang jatuh hingga betis, dengan lengan panjang berenda halus. Tidak ada hiasan berlian yang berlebihan, tidak ada potongan yang terbuka, hanya pita sutra merah muda yang diikat di pinggang dan rambut yang dikepang setengah dengan pita yang sama. Wajahku kulihat di cermin—cantik, sederhana, dan manis, tanpa riasan yang berlebihan. Ini bukan pesta untuk pamer kekayaan, ini pesta untuk belajar menjadi diriku sendiri.

Sesampainya di lokasi pesta, suasana di dalamnya sangat mewah dan megah. Lampu gantung kristal berkilauan di langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan, dan aroma bunga segar memenuhi udara. Para tamu mengenakan pakaian paling mewah dan berharga, berbicara dengan nada halus, dan berjalan dengan sikap yang anggun. Namun di balik kemewahan itu, aku tahu ada banyak sekali pandangan sinis, bisik-bisik jahat, dan niat buruk yang tersembunyi di balik senyum-senyum palsu itu.

Begitu aku melangkah masuk, seketika banyak pasang mata tertuju padaku. Mereka berbisik-bisik, membandingkan penampilanku yang sederhana dengan pakaian-pakaian mewah yang mereka kenakan. Namun aku tidak peduli. Aku berjalan tegak dengan senyum tenang di wajahku, menyapa siapa pun yang menatapku tanpa rasa takut atau rendah diri.

Tak lama kemudian, Grace muncul di hadapanku, mengenakan gaun merah menyala yang sangat mencolok, dengan senyum jahat yang tersembunyi di balik wajah manisnya. Dia berjalan mendekat sambil memegang dua gelas minuman berwarna merah muda yang berkilauan.

"Kak Lily! Kau datang juga!" sapanya dengan nada yang terdengar ramah namun penuh niat buruk. "Ini minuman spesial untukmu. Mari kita minum bersama untuk merayakan ulang tahun tuan rumah. Sebagai tanda perdamaian kita."

Aku menatap gelas di tangannya dengan hati-hati. Dalam cerita aslinya, minuman inilah yang membuat Lily asli mabuk dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Aku tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.

"Terima kasih, Grace. Tapi aku tidak minum minuman beralkohol. Dan untuk minuman yang ini… aku lebih suka memesan sendiri dari pelayan," jawabku tenang namun tegas, tanpa menimbulkan keributan. "Kalau kau ingin minum, silakan saja. Selamat menikmati."

Grace terdiam, wajahnya memucat karena kaget. Dia tidak menyangka aku akan menolaknya dengan begitu tenang dan tanpa curiga sama sekali. Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, suara yang sudah sangat aku kenal terdengar dari belakangku.

"Dia benar. Minuman yang dibawa orang asing memang tidak boleh sembarangan diminum."

Aku berbalik dan melihat Ethan berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan tampan, menatap Grace dengan tatapan dingin dan tajam yang membuatnya gemetar ketakutan. Di sampingnya berdiri Mark, juga mengenakan pakaian pesta yang rapi, dengan tatapan yang serius dan penuh kewaspadaan.

"Kau dengar itu, Grace?" tambah Mark dengan nada tegas. "Jangan coba-coba melakukan hal-hal yang tidak perlu di sini. Kami semua melihat apa yang kau lakukan."

Grace pucat pasi, buru-buru menurunkan tangannya yang memegang gelas itu, lalu tersenyum kaku. "Tentu saja… aku hanya bermaksud baik. Kalau begitu, aku pergi dulu." Ia bergegas pergi meninggalkan kami, seolah takut tertangkap basah melakukan kejahatan.

Setelah Grace pergi, Ethan menatapku lekat-lekat dari atas hingga bawah, seolah memastikan aku baik-baik saja. "Kau tidak apa-apa? Dia tidak menyakitimu?"

"Aku baik-baik saja, terima kasih Ethan," jawabku dengan senyum tulus. "Aku sudah siap menghadapinya. Aku tahu dia tidak akan melewatkan kesempatan seperti ini."

Ethan terdiam sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangannya ke arahku, telapak tangannya hangat dan lembut. "Kalau begitu, biarkan aku yang menemaniimu malam ini. Dengan begitu, tidak ada yang berani mendekatimu dengan niat buruk. Boleh?"

Aku menatap tangannya yang terulur, lalu ke wajahnya yang menatapku dengan tulus dan tulus. Jantungku berdegup kencang, namun bukan karena takut—melainkan karena perasaan hangat yang menyebar di seluruh tubuhku. Aku mengangguk pelan, lalu meletakkan tanganku di atas tangannya.

"Boleh."

Malam itu, Ethan tidak meninggalkanku sedetik pun. Kami berjalan berkeliling pesta bersama, berbicara dengan orang-orang, dan bahkan menari sebentar di tengah musik yang lembut. Di kejauhan, Mark melihat kami berdua dengan senyum yang sedikit sedih namun tulus—ia tahu bahwa hatiku sudah condong ke arah Ethan, dan ia rela melepaskan demi kebahagiaan kami berdua.

Saat pesta berakhir dan aku bersiap pulang, Ethan mengantarku sampai ke pintu mobil. Sebelum aku masuk, ia menatapku dengan tatapan yang dalam dan penuh perasaan.

"Kau malam ini… sangat cantik, Lily," ucapnya pelan, cukup untuk didengar telingaku. "Bukan karena gaun atau perhiasan, tapi karena senyummu yang tulus dan hatimu yang baik. Terima kasih sudah datang malam ini."

Wajahku memerah karena malu, dan aku menunduk pelan. "Terima kasih juga sudah menemani dan melindungiku, Ethan. Aku… sangat berterima kasih."

"Sampai jumpa besok," ucapnya lembut, lalu menutup pintu mobil perlahan.

Saat mobil melaju menjauh, aku melihat Ethan masih berdiri di sana sampai mobilku menghilang di tikungan jalan. Tanganku yang masih terasa hangat karena genggamannya menekan dadaku yang berdebar kencang. Malam itu, aku tidak hanya berhasil menghindari bencana yang seharusnya terjadi—aku juga menyadari sesuatu yang jauh lebih penting: perasaanku pada Ethan sudah bukan lagi sekadar rasa terima kasih. Dan entah bagaimana… perasaannya padaku juga sama.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!