Indonesia
NovelToon NovelToon
RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

RNG Absolut: Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anime / Game / Slice of Life
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: webnakama

Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.

Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).

Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 — Dungeon Pertama Kita

"Oke, kalo kita mau serius, kita butuh clear record resmi buat guild ini. Gue pilihin satu Dungeon Menara Kabut. Level rekomendasi 25-30, cocok buat komposisi kita sekarang." kata Rin sambil ngebentangin peta digital di tengah markas mereka,

"Menara Kabut?" Souma nyengir, "gue pernah denger soal itu. Katanya susah, tapi hadiahnya lumayan buat guild baru kayak kita."

"Susah gimana maksudnya?" tanya Kaito, agak parno.

"Bukan monster yang jadi masalah utama, tapi mekanisme dungeon-nya. Ada teka-teki di tiap lantai yang harus diselesain bareng-bareng, dan kalo salah satu anggota party gagal ngikutin timing yang tepat, seluruh party bisa keteleport balik ke lantai dasar." jelas Rin.

"Jadi butuh koordinasi tim yang solid," simpul Mei, matanya berbinar excited, "asik dong! Ini bakal jadi tes pertama kita sebagai tim beneran."

Kaito natap tiga orang di depannya, ngerasa campuran antara excited dan deg-degan. Ini bakal jadi dungeon pertama mereka sebagai guild resmi, bukan cuma eksplorasi berdua kayak sebelumnya. Kalo gagal, bukan cuma dia yang kena dampak tapi seluruh tim yang udah percaya sama dia.

"Kita bisa, asal kita percaya sama peran masing-masing." kata Rin, seolah ngebaca kekhawatiran di wajah Kaito.

Menara Kabut berdiri di tengah rawa yang selalu diselimutin kabut tebal, bangunannya menjulang tinggi dengan arsitektur yang keliatan udah tua banget, dindingnya penuh lumut dan retakan yang entah gimana masih berdiri kokoh.

Lantai pertama ternyata cukup mudah, cuma gelombang monster standar yang bisa mereka tangani tanpa masalah berarti. Souma narik agro di depan, Mei ngatur heal dengan timing presisi, sementara Kaito sama Rin gantian ngasih damage dari sisi yang berbeda.

"Kalian beneran kompak banget, padahal gue baru dua hari gabung." komentar Mei, di sela-sela istirahat sebentar sebelum naik ke lantai dua.

"Lo juga cepet nyesuain diri, heal lo timing-nya pas banget tadi, kayak udah latihan bareng kita dari awal." kata Souma.

Mei tersipu dikit, buru-buru ngalihin pembicaraan. "Yaudah, lanjut yuk, keburu kabutnya makin tebel."

Lantai kedua ternyata jauh lebih rumit, ruangan besar dengan lantai berupa ubin-ubin yang menyala bergantian dalam pola tertentu, dan mereka harus nginjek ubin yang bener sesuai urutan sebelum waktu habis, atau seluruh party bakal keteleport balik ke lantai dasar.

"Pola pertama nyala di ubin biru kanan, terus ke tengah, terus kiri belakang, terus ke depan sekali lagi." Rin ngomong cepet, matanya fokus banget ngamatin urutan cahaya itu.

"Itu cepet banget urutannya!" seru Souma agak panik.

"Kita punya sepuluh detik. Kaito, ikutin gue. Souma, Mei, kalian di belakang kita, ikutin jejak yang udah kita injek."

Mereka bergerak cepat, dan buat sesaat semuanya berjalan lancar sampai di step terakhir, salah satu ubin yang seharusnya nyala biru malah nyala warna yang beda, bikin Rin ragu sepersekian detik.

"Rin, mana?!" teriak Kaito sambil ngeliat waktu yang tinggal dua detik.

Rin dalam kebingungan itu, refleks ngambil langkah yang salah.

Tapi anehnya, ubin yang dia injek yang seharusnya salah entah kenapa ikut menyala hijau, warna yang nunjukin langkah yang benar, seolah pola itu sendiri "menyesuaikan diri" sama langkah mereka di detik terakhir.

Panel hijau besar muncul di depan mereka: Lantai 2 Berhasil Dilewati!

Mereka berempat berdiri diem sejenak, napas ngos-ngosan, saling pandang dengan ekspresi campuran antara lega dan bingung.

"Itu... itu tadi harusnya salah kan?" tanya Souma masih syok.

"Harusnya," jawab Rin, natap Kaito dengan tatapan yang udah mulai familiar, tatapan curiga sekaligus penasaran yang selalu muncul tiap kali sesuatu yang mustahil kejadian di sekitar Kaito.

"Gue nggak ngelakuin apa-apa," kata Kaito, ngangkat kedua tangan defensif.

"Nggak, tapi lo ada di sini, dan mungkin itu udah cukup." gumam Rin.

Lantai ketiga ternyata beda lagi jenis tantangannya, bukan puzzle ubin, tapi lorong sempit yang penuh sama jebakan panah tersembunyi, dipicu oleh tekanan di lantai yang nggak keliatan sama sekali sampai udah keinjek.

"Pelan-pelan, gue nggak bisa deteksi pola jebakannya, terlalu random." kata Rin sambil jalan di depan dengan langkah hati-hati,

Mei yang jalan paling belakang, tiba-tiba kepeleset dikit di batu licin, dan refleks nginjek titik yang salah. Serangkaian panah langsung meluncur dari dinding kanan-kiri, cukup buat bikin siapa pun yang kena langsung kehilangan setengah HP.

"MEI, AWAS!" teriak Souma, refleks lompat ke depannya.

Tapi anehnya, semua panah itu meleset, bukan cuma dari Souma, tapi dari Mei juga, seolah lintasannya sendiri bergeser beberapa senti di detik terakhir tanpa alasan yang jelas.

"...Itu juga lo?" tanya Souma, natap Kaito yang berdiri agak jauh dari titik kejadian.

"Gue bahkan nggak deket-deket situ," kata Kaito sama bingungnya.

"Mungkin efeknya nggak butuh jarak deket, atau mungkin efeknya udah nyebar ke seluruh party, bukan cuma ke diri lo sendiri." gumam Rin sambil nyatet sesuatu di panel pribadinya.

Mereka lanjut jalan lebih hati-hati, walau ketegangan di lorong itu perlahan bercampur sama rasa penasaran yang makin dalam soal seberapa jauh sebenernya jangkauan "keberuntungan" yang Kaito bawa.

Lantai-lantai berikutnya dilewatin dengan kombinasi ketegangan dan keberuntungan yang serupa, sampai akhirnya mereka nyampe di ruangan puncak menara, tempat boss dungeon itu nunggu, sesosok naga kabut raksasa yang badannya keliatan setengah transparan, bergerak lincah walau ukurannya segede itu.

Naga Kabut Purba — Lv. 32

"Ini bakal lama, dia punya fase invisible tiap HP-nya turun dua puluh persen. Kita harus siap-siap kehilangan target sementara." gumam Rin, ngambil posisi tempur,

Pertarungan itu berlangsung sengit dan panjang, Souma nahan serangan utama dengan gigih, Mei ngatur heal dengan ritme yang nyaris sempurna walau beberapa kali harus buru-buru nyembuhin damage besar yang datang tiba-tiba, sementara Rin sama Kaito gantian ngasih damage di celah-celah kecil yang muncul tiap si naga keluar dari fase invisible-nya.

Di titik paling kritis, waktu HP naga tinggal sepuluh persen dan seluruh party udah keliatan kelelahan, si naga ngelakuin serangan area besar yang bakal ngenain semua orang sekaligus kalo nggak dihindarin.

"NGGAK SEMPET NGEHINDAR SEMUA!" teriak Mei panik.

Kaito tanpa mikir panjang lari ke tengah, berdiri di titik yang bakal jadi pusat ledakan, matanya nutup, berharap keberuntungannya, kalo emang beneran ada, bakal nyelametin mereka semua kali ini juga.

Ledakan itu kena telak, tapi entah kenapa damage-nya kerasa jauh lebih kecil dari yang seharusnya, seolah efeknya "terserap" sebagian oleh sesuatu yang nggak keliatan.

[Providence] telah aktif.

Panel kecil itu muncul sekilas, dan Kaito walau masih berdiri dengan HP yang tersisa cuma sedikit, berhasil bertahan cukup lama buat ngasih hit terakhir yang nutup HP si naga sampai nol.

Naga Kabut Purba itu ambruk, tubuhnya pecah jadi kabut yang perlahan menghilang ke udara, dan panel kemenangan besar muncul di depan mereka semua.

Dungeon Menara Kabut — CLEARED! Guild Fortuna Ascendant tercatat sebagai penakluk pertama dungeon ini bulan ini.

Mereka berempat berdiri diem sebentar, terus hampir bersamaan ambruk duduk ke lantai batu, ketawa lega yang campur aduk sama napas yang masih ngos-ngosan.

"Kita berhasil, kita beneran berhasil." gumam Souma, nggak percaya.

"Lo tadi gila banget Kaito, lo maju sendirian ke tengah ledakan gitu aja!" kata Mei masih syok.

"Gue nggak mikir, jujur aja cuma... insting aja bilang bakal baik-baik aja." kata Kaito sambil ketawa canggung.

Rin natap dia lama, ekspresinya susah dibaca, campuran antara khawatir dan sesuatu yang lebih hangat. "Jangan ulangin itu lagi tanpa ngomong dulu ke kita," katanya, tapi nadanya nggak sekasar kata-katanya.

"Noted," kata Kaito, nyengir.

Di sudut pandangannya, panel kecil lain muncul, terpisah dari notifikasi kemenangan resmi:

Resonansi terdeteksi: 41%

Kaito natap angka itu diem-diem, nggak bilang apa-apa ke yang lain buat sekarang. Tujuh persen naik dari kunjungan terakhir mereka ke gerbang itu. Nggak banyak, tapi cukup buat ngasih dia harapan kalo jalan yang mereka ambil ini emang bener.

Dia natap tiga orang di sekitarnya yang masih sibuk ketawa dan ngobrolin detail pertarungan tadi, dan mutusin buat nyimpen angka itu buat dirinya sendiri dulu, sementara. Bukan karena dia nggak percaya mereka.

Tapi karena buat sekarang, dia cuma pengen menikmati momen ini apa adanya, kemenangan pertama mereka sebagai tim, sebagai keluarga kecil yang baru aja mulai dia bangun.

Malem itu pas mereka akhirnya logout satu-satu, Kaito duduk sendirian sebentar di sofanya, natap langit-langit kamar dengan senyum yang nggak mau ilang. Besok dia harus kerja lagi, harus balik ke rutinitas biasa yang dulu terasa berat banget buat dijalanin. Tapi buat pertama kalinya, dia nggak takut sama besok. Karena dia tau, apa pun yang kejadian di dunia nyata, ada tempat lain yang nunggu dia, tempat di mana dia bukan cuma orang paling sial yang pernah ada, tapi orang yang punya tim, punya keluarga, dan punya alasan buat terus melangkah maju.

1
Zyren Vale
ikut meramaikan 🔥
Zyren Vale
kena kutukan nih
Zyren Vale
inti bumi kah
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Semangat ya thor🙏👍💪
Tio Buki
Lanjut
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Mampir gan👍👍👍👍
Tio Buki
Hadiah untukmu thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Ngak tau saya, yang hanya buang buang waktu saja
Tio Buki
Mungkin nama spesial
Tio Buki
Apa itu
Tio Buki
Tidak mengapa
Tio Buki
Bumi ya
Tio Buki
Siapakah dia
Tio Buki
Wow
Tio Buki
Seberapa jau kah
the virtuso
saling support yah thor👍
Giooooo
Keren ceritanya thorku 💪
Author Melda
salah suport kak mampir yah ke novel ak KKN DESA MATI👍
Author Melda: terimakasih kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!