Indonesia
NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebetulan Searah

Jam sepuluh malam, dan lampu di lantai dua puluh tiga tinggal menyala di tiga meja.

Gwen salah satunya. Dia sudah kehilangan hitungan berapa gelas kopi yang dia habiskan sejak sore, ketika email dari vendor lokasi kedua Meridian masuk mendadak—izin pemda yang tadinya diprediksi keluar dua minggu lagi, ternyata harus direvisi ulang karena ada perubahan regulasi zonasi yang baru diberlakukan minggu ini. Kalau dokumen revisinya tidak siap dan dikirim sebelum jam kerja pemda tutup besok, seluruh timeline lokasi kedua bisa mundur sebulan penuh.

"Gila," gumamnya sendiri, menatap layar yang penuh dengan tabel perbandingan regulasi lama dan baru. Dia sudah kirim pesan ke Pak Hardi dan dua anggota timnya, tapi satu sudah tidur, satu lagi lagi di luar kota, dan yang terakhir jawabannya cuma "wah gawat" tanpa solusi apa pun.

Dia baru sadar ada yang lain masih di lantai itu ketika suara langkah sepatu terdengar mendekat dari arah lift.

"Masih di sini?"

Gwen mendongak. Madoc berdiri di ambang kubikelnya, dasi sudah dilonggarkan, dua kancing atas kemejanya terbuka—versi yang jauh lebih santai dari yang biasa dia lihat di rapat.

"Ada masalah zonasi buat lokasi kedua," katanya, tanpa buang waktu untuk basa-basi. "Regulasinya berubah minggu ini, dan saya harus revisi dokumen sebelum jam kerja pemda besok."

Madoc melirik jam tangannya. "Berapa lama lagi selesainya?"

"Kalau gak ada gangguan lagi, dua jam."

Dia mendekat, menarik kursi kosong dari meja sebelah tanpa bertanya, lalu duduk di sisi meja Gwen. "Saya bantu."

Gwen menatapnya, agak bingung. "Bapak gak perlu—"

"Saya juga masih di sini," potongnya, membuka laptopnya sendiri. "Kirim aja file regulasinya."

---

Dua jam berubah jadi dua setengah, tapi bukan karena molor—melainkan karena Madoc ternyata jauh lebih cepat baca regulasi hukum daripada yang Gwen kira, dan dia menemukan satu celah di pasal yang bisa mempercepat proses tanpa harus revisi total.

"Ini," katanya, menunjuk satu ayat di layarnya, memutar laptop supaya Gwen bisa lihat. "Kalau kita ajukan sebagai penyesuaian minor, bukan permohonan baru, prosesnya lebih cepat. Gak perlu nunggu sidang zonasi ulang."

Gwen membaca ayat itu dua kali, memastikan tidak ada celah yang terlewat. "Ini bisa berhasil," katanya akhirnya, nadanya sedikit lega. "Saya kira harus mulai dari nol."

"Saya pernah pakai pasal ini buat proyek lain tiga tahun lalu," katanya, agak santai. "Ternyata masih relevan."

Mereka lanjut kerja dalam diam sesudahnya—Gwen menyusun ulang dokumen berdasarkan celah yang baru ditemukan, Madoc sesekali membaca ulang draftnya, memberi masukan singkat tanpa banyak komentar. Ada semacam ritme yang terbentuk di antara mereka, sesuatu yang efisien dan nyaman, seperti dua orang yang sudah lama bekerja bersama padahal baru tiga minggu kenal.

Jam setengah satu pagi, dokumen selesai. Gwen mengirimnya ke email resmi pemda, menyalin cc ke Pak Hardi, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi untuk pertama kalinya sejak sore tadi.

"Kelar," katanya, lebih ke diri sendiri.

"Kelar," Madoc mengulang, menutup laptopnya.

---

Lobi Kane Group sudah sepi total, cuma satu petugas keamanan yang duduk di meja resepsionis dengan mata setengah terkantuk. Di luar, hujan gerimis kecil membasahi jalan, membuat lampu kota terpantul kabur di aspal basah.

Gwen mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi taksi online, ketika Madoc—yang berjalan di sampingnya menuju pintu keluar—tiba-tiba berhenti.

"Mobil saya di basement," katanya. "Bisa saya anter pulang."

Gwen menoleh, agak kaget. "Gak usah, Pak. Saya udah pesen taksi."

"Rumah kamu di mana?"

Gwen menyebut nama daerahnya, dan Madoc mengangguk cepat—terlalu cepat.

"Kebetulan searah," katanya. "Saya juga lewat sana."

Itu bohong. Penthouse Madoc ada di arah yang benar-benar berlawanan, dua puluh menit lebih jauh dari daerah Gwen kalau memutar. Tapi kalimat itu keluar begitu saja, cepat dan tanpa pikir panjang, sebelum dia sempat menyadari kebohongannya sendiri sudah terlalu jelas untuk ditutupi.

Gwen menatapnya sebentar, mempertimbangkan. Bukan karena curiga soal kebenaran kalimat itu—dia tidak tahu rute rumah Madoc, jadi tidak ada alasan untuk meragukan apa yang barusan dikatakan. Yang dia pertimbangkan cuma soal logistik semata.

"Taksinya udah dipesen," katanya akhirnya, menunjukkan layar ponselnya sebagai bukti, "tiga menit lagi sampai. Kalau saya batalin sekarang, nanti kena charge."

Alasan itu sepenuhnya masuk akal, dan Madoc tidak punya cara untuk membantahnya tanpa terdengar aneh.

"Oh," katanya. "Ya udah kalau gitu."

Mereka berdiri di lobi, menunggu bersama tanpa perlu menunggu bersama—Gwen menunggu taksinya, Madoc menunggu entah apa, karena mobilnya sendiri di basement dan tidak ada alasan logis untuk dia masih berdiri di situ.

---

Keheningan yang terjadi sesudahnya terasa berbeda dari keheningan produktif yang mereka bagi selama mengerjakan dokumen tadi.

Madoc mencari topik untuk diomongin, dan tidak menemukan apa pun. Biasanya dia tidak pernah kesulitan menjaga percakapan—di rapat, di acara klien, di mana pun yang membutuhkan dia jadi orang yang mengontrol arah pembicaraan. Tapi berdiri di lobi kosong jam satu pagi, dengan satu-satunya orang lain yang ada di sana sedang sibuk memeriksa update lokasi taksinya di ponsel, dia tidak tahu harus mulai dari mana.

"Makasih udah bantu tadi," kata Gwen akhirnya, memecah diam itu. "Kalau gak ada Bapak, saya mungkin masih nyari solusi sampai subuh."

"Sama-sama." Jawaban itu keluar lebih singkat dari yang dia maksud.

Diam lagi. Gwen tidak merasa terganggu oleh itu—baginya, diam di antara dua orang yang sudah selesai kerja sama tidak butuh diisi apa-apa. Tapi Madoc merasa diam itu seperti ruangan yang terlalu sempit, dan dia tidak biasa dengan perasaan itu.

Ponsel Gwen bergetar. "Taksinya udah di depan," katanya, mengangkat tasnya.

"Hati-hati di jalan," kata Madoc, dan itu terdengar lebih kaku daripada yang dia inginkan.

"Bapak juga," jawab Gwen, sudah setengah berjalan ke pintu. "Makasih lagi buat tadi."

Dia keluar, masuk ke taksi yang menunggu, dan mobil itu melaju menghilang ke jalan yang basah, tanpa dia sempat menoleh ke belakang sekali pun.

Madoc masih berdiri di lobi selama beberapa detik lebih lama dari yang perlu, menatap pintu kaca yang sudah tertutup, sebelum akhirnya berjalan sendiri menuju basement—ke mobil yang sebenarnya akan membawanya pulang ke arah yang sama sekali berbeda dari yang barusan dia sebut.

---

Paginya, Elias menemukan bosnya sudah ada di ruangan sebelum jam tujuh—dua jam lebih awal dari biasanya—menatap layar laptop tanpa benar-benar mengetik apa pun.

"Pagi, Pak." Elias meletakkan kopi di meja, memperhatikan sesuatu yang beda dari cara Madoc duduk—bahunya sedikit kaku, matanya agak lelah tapi bukan jenis lelah karena kurang tidur biasa.

"Pagi."

"Kemarin lembur sampai jam berapa?"

"Satu-an."

Elias menaikkan alis. "Sendirian?"

"Ada Gwen juga. Ada masalah zonasi Meridian, kami selesain bareng."

"Terus?"

"Terus apa?"

"Ya, terus." Elias duduk di kursi seberang meja, tidak berniat pergi sebelum dapat jawaban yang dia mau. "Pulangnya gimana?"

Madoc terdiam sebentar, cukup lama untuk membuat Elias tahu ada sesuatu di balik jawaban yang akan keluar.

"Dia naik taksi sendiri," katanya akhirnya, nadanya datar tapi ada nada kecewa tipis yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Saya nawarin anter, tapi dia udah pesen duluan."

"Terus Bapak bilang apa waktu nawarin?"

"Bilang kebetulan searah."

Elias diam sebentar, menahan sesuatu di wajahnya yang mirip senyum tapi belum sepenuhnya keluar. "Pak. Rumah Bapak di arah yang beda banget sama daerah situ."

"Saya tahu."

"Terus kenapa Bapak bilang gitu?"

Madoc tidak menjawab. Dia mengambil kopinya, meminum satu tegukan panjang, seolah itu bisa jadi alasan untuk tidak perlu jawab pertanyaan yang jujur pun dia sendiri belum punya jawabannya.

Elias berdiri dari kursinya, berjalan ke pintu, tapi berhenti sebentar sebelum keluar.

"Kalau Bapak mau anter orang pulang," katanya, tanpa menoleh, "biasanya alasannya gak usah dicari-cari, Pak. Tinggal bilang aja."

Dia keluar sebelum Madoc sempat membalas, meninggalkan bosnya sendirian dengan kopi yang mulai dingin dan satu pertanyaan yang belum berani dia jawab sendiri: kenapa dia repot-repot berbohong soal arah rumah, untuk tawaran yang bahkan tidak diterima.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!