Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Mungkin Begini Rasa Sakitnya Berkurang
Ekaterina
Cahaya meledak di kamar.
Aku bergerak terusik, masih setengah linglung.
Sampai kurasakan tangan-tangan menarikku tanpa kelembutan.
"Bangun, sialan."
Kagetnya membuatku langsung duduk di ranjang.
Bingung.
Ketakutan.
Seprai naik otomatis menutupi tubuhku sementara aku berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
Tapi begitu aku menatap Viktor...
aku tahu ada sesuatu yang berubah.
Tatapannya dingin.
Keras.
Berbahaya.
Sama sekali bukan pria yang menciumku beberapa jam lalu.
"Siapa yang mengirimmu?"
Viktor mengarahkan pistol ke kepalaku.
Tenggorokanku langsung kering.
Aku membeku.
Rasa takut mengunci seluruh tubuhku.
"Aku... aku butuh uangnya..."
Suaraku tersendat di tengah kalimat.
Air mata mulai membakar di mataku.
"Aku tak punya pilihan..."
Tapi dia tampak tak percaya sepatah kata pun.
Viktor mendekat lagi.
Dan itu membuatku ketakutan setengah mati.
"Siapa. Yang. Mengirimmu."
Setiap kata terasa lebih berat dari kata sebelumnya.
Tubuhku mulai gemetar.
Dan aku hancur begitu saja.
"Ivan Orlov."
Nama itu keluar di antara air mata.
Dan keheningan yang datang setelahnya terasa mencekik.
Viktor langsung menjauh dariku, mengusap wajah seolah berusaha mengendalikan amarahnya sendiri.
Aku meringkuk lebih dalam di ranjang, mencengkeram seprai erat-erat.
Dengan malu.
Dengan takut.
"Ayo... ceritakan semuanya."
Aku mulai menjelaskan semuanya di antara isak tangis.
Kantor itu.
Uang itu.
Operasi Lis.
Tawaran itu.
Bar itu.
Setiap kata membuatku merasa makin terhina.
Makin kotor.
Makin bodoh.
"Aku butuh uangnya... itu untuk operasi adikku..."
Suaraku hancur sepenuhnya.
Tapi Viktor hanya melepas tawa dingin.
Tanpa humor sedikit pun.
"Berhenti menangis. Kau mulai membuatku muak."
Kalimat itu lebih menyakitkan dari yang seharusnya.
Aku berusaha cepat mengusap wajahku.
Berusaha berhenti gemetar.
Tapi tak bisa.
Lalu dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
Ayahnya.
Aku mendengar semuanya dalam diam.
Setiap kata makin memperbesar keputusasaanku.
"Ivan Orlov."
"Dia merencanakan sesuatu terhadap Maxim."
"Perempuan bekas dari bar itu ada bersamaku."
Bekas.
Kata itu menembusku seperti belati.
Karena di saat itu...
aku sadar persis apa artinya diriku bagi mereka.
Bukan apa-apa.
Hanya sekeping benda yang bisa dibuang.
Setelah telepon itu, Viktor langsung pergi ke balkon, meninggalkanku sendirian di kamar besar itu.
Aku memeluk lututku ke dada, berusaha menahan tangis.
Tapi tak bisa.
Semuanya berjalan salah.
Semuanya.
Menit demi menit berlalu lambat sampai dia menerima telepon lain.
Kali ini ekspresinya berubah.
Jadi lebih berat.
Lebih serius.
Aku hanya mendengar sepotong-sepotong.
"Olga terluka... tapi dia baik-baik saja."
Perutku mencelos.
Ya Tuhan.
Ini jauh lebih buruk dari yang kubayangkan.
Jauh lebih buruk.
Ketika Viktor kembali ke kamar, aku nyaris tak sanggup menatapnya.
Dia membuka dompet, menarik beberapa lembar uang dan melemparkannya ke arahku tanpa benar-benar memandangku.
"Untuk malam ini."
Tenggorokanku langsung tercekat.
"Enyahlah dari sini."
Uang itu tercecer di ranjang.
Sebagai bayaran.
Seolah aku memang persis jenis perempuan yang dia kira.
Air mata mengalir diam-diam di wajahku sementara aku cepat-cepat berpakaian, berusaha mengabaikan sakit yang meremas dadaku.
Aku tak berkata apa-apa.
Karena memang tak ada yang bisa dikatakan.
Sebelum pergi, mataku terhenti pada lembaran uang yang tercecer.
Dan aku sama sekali tak sanggup menyentuh uang itu.
Tidak setelah semuanya.
Tidak setelah cara dia menatapku.
Maka aku pergi.
Hanya membawa serta rasa malu...
dan hati yang hancur berkeping-keping.
Aku keluar dari kamar dengan pandangan kabur oleh air mata.
Setiap langkah terasa menyakitkan.
Seluruh tubuhku terasa berat, tapi justru sakit di antara kedua kakikulah yang mengingatkanku pada semua yang terjadi di kamar itu.
Pada cara dia menatapku di akhir.
Seolah aku kotor.
Seolah aku memang seperti yang dia sangka.
Begitu keluar dari hotel, aku memeluk kedua lenganku ke tubuh, berusaha menyembunyikan gaun merah yang kini terlalu mencolok.
Terlalu memalukan.
Seharusnya aku berhemat.
Naik bus.
Memikirkan uang.
Tapi saat itu aku hanya ingin lenyap dari sana.
Maka aku masuk ke taksi pertama yang kulihat.
Sepanjang perjalanan, aku terus menatap kota dari balik jendela sementara air mata mengalir diam-diam di wajahku.
Aku berusaha mengusapnya.
Berusaha berhenti.
Tapi tak bisa.
Karena sakit.
Sakitnya lebih dari yang seharusnya.
Ketika taksi akhirnya berhenti di depan rumahku, aku cepat membayar lalu nyaris berlari ke pintu.
Begitu masuk, aku mengunci semuanya di belakangku.
Keheningan rumah kecil itu langsung menelanku.
Dan akhirnya aku runtuh.
Aku langsung ke kamar mandi bahkan tanpa menyalakan lampu dengan benar.
Kutanggalkan gaun merah itu dari tubuhku seolah kain itu membakar kulitku.
Lalu aku masuk ke pancuran.
Air panas mengguyurku selama beberapa menit.
Tapi tak ada yang terbasuh pergi.
Tidak rasa malunya.
Tidak penghinaannya.
Tidak cara Viktor berkata "untuk malam ini" sebelum melempar uang ke ranjang.
Dadaku meremas begitu kuat sampai aku nyaris tak bisa bernapas.
Aku menggosok kulitku perlahan, berusaha menghilangkan aromanya dariku.
Mungkin begini rasa sakitnya berkurang.
Mungkin begini aku bisa lupa bahwa, selama beberapa jam...
aku benar-benar mengira dia memandangku sebagai sesuatu yang berarti.
Setelah mandi, aku berpakaian perlahan.
Seolah tubuhku masih terlalu lelah untuk melanjutkan.
Tapi aku harus pergi ke rumah sakit.
Aku harus menemui Lis.
Karena di dekatnya, semuanya selalu terasa sedikit lebih tertahankan.
Langit sudah mulai terang ketika aku tiba di rumah sakit.
Begitu masuk ke kamar, Lis langsung tersenyum lebar.
"Kau lama sekali, Kathy."
Rasa bersalah langsung menembusku.
Aku berusaha membalas senyumnya.
Berusaha berpura-pura baik-baik saja.
Tapi adikku selalu bisa membaca.
Selalu.
Dia langsung mengerutkan dahi kecilnya.
"Ada apa? Kau sedih?"
Hatiku meremas.
Aku cepat menggeleng.
"Tidak... aku cuma terlalu banyak kerja."
Dia mengamatiku beberapa detik seolah sedang memutuskan mau percaya atau tidak.
Lalu tersenyum dengan cara manisnya yang selalu meruntuhkan hatiku.
"Nanti setelah aku dioperasi, aku juga mau kerja untuk bantu kamu."
Aku langsung menolak.
Dengan tegas.
"Tidak."
Aku mendekat ke ranjang dan menyelipkan sehelai rambut pirangnya ke belakang telinga.
"Kamu akan sekolah, Lis."
Dia mengerucutkan bibir kecilnya.
"Tapi kamu kerja terlalu banyak..."
Tenggorokanku tercekat sesaat.
Karena dia tak seharusnya menyadari hal-hal semacam itu.
Tidak di usia sekecil ini.
Kupegang wajah mungilnya di antara kedua tanganku.
"Kamu tak akan jadi seperti aku."
Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang kuinginkan.
Karena kenyataannya, aku tak ingin Lis tahu apa itu keputusasaan.
Aku tak ingin dia harus memilih antara harga diri dan bertahan hidup.
Aku tak ingin dia memandang dunia dengan rasa takut sepanjang waktu.
Aku ingin dia hidup.
Hanya itu.
Maka kucium keningnya lama-lama dan kupaksakan sebuah senyum.
Meski hatiku masih hancur berkeping-keping di dalam.