Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya, Aku Bertemu Denganmu
Kobaran api melahap sebuah rumah besar hingga langit malam dipenuhi cahaya merah menyala. Asap hitam membubung tinggi, sementara suara tembakan terdengar bertubi-tubi dari berbagai penjuru.
Jeritan manusia bercampur dengan suara benda-benda pecah, menciptakan kekacauan yang begitu memekakkan telinga.
Di tengah kobaran api itu, seorang anak kecil berlari sekuat tenaga.
Kakinya yang mungil menginjak lantai marmer yang berlumuran darah.
Tubuhnya membeku. Napasnya memburu. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga terasa seolah hendak meledak dari dalam dada.
Lalu, sebuah teriakan menyadarkannya.
"Elena! Lari!"
Anak kecil itu menoleh, melihat seseorang tergeletak di lantai dengan tubuh yang berlumuran darah.
"Daddy?" lirihnya
Belum sempat ia mendekat, seseorang meraih tangannya dengan kasar.
"Jangan kesana!"
Seorang pria menariknya menjauh dari tempat itu. Tapi, ia tidak mampu memalingkan wajahnya. Air matanya mengalir deras saat ia melihat ke belakang.
Dan, pemandangan yang ia lihat malam itu menjadi sesuatu yang tidak akan pernah mampu ia lupakan.
Orang-orang yang ia cintai satu per satu tewas. Tubuh mereka tergeletak di antara pecahan kaca dan genangan darah, sementara api terus menjalar, melahap rumah megah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung.
"DADDY!"
Elena terbangun dengan napas terengah-engah. Tubuhnya tersentak bangun dari tidurnya. Tangannya mencengkeram selimut begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya.
Untuk beberapa detik, Elena hanya duduk diam di atas tempat tidur sambil berusaha mengatur napas. Ia mengusap wajahnya, kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Mimpi yang sama," gumamnya lirih.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak malam itu. Tapi, ingatan tentang tragedi itu seolah tidak pernah benar-benar meninggalkannya.
Api yang berkobar, rentetan tembakan, darah yang menggenang, jeritan orang-orang dan, suara-suara yang terus memanggilnya.
Semua masih terekam jelas dalam ingatannya.
Elena menatap kosong ke depan. "Sampai kapan aku bisa berhenti memimpikannya?"
Tangannya mengepal di atas selimut. Rasa sakit itu sudah seharusnya terkubur bersama masa lalu. Tapi, bagaimana mungkin ia melupakan semuanya saat orang-orang yang membunuh keluarganya masih hidup dan bebas berkeliaran?
Elena memejamkan mata sejenak. Ia tidak boleh larut dalam masa lalu.
Sampai, terdengar ketukan dari luar kamar.
Tok! Tok! Tok!
"Elena!"
Elena membuka mata. Ia segera turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Setelah membukanya, ia sedikit membungkuk, melihat kepala pelayan berdiri di hadapannya.
"Semua pelayan diminta berkumpul di aula. Kita harus mempersiapkan pesta penyambutan."
Elena mengernyit. "Pesta?"
"Tuan muda pertama akan pulang hari ini."
Elena terdiam. Selama beberapa bulan bekerja di kediaman keluarga Bianchi, Elena belum pernah sekalipun melihat pria itu. Ia hanya mendengar berbagai cerita tentang putra sulung Victor Bianchi, Leon Bianchi.
Leon dikenal sebagai pria berbakat, kuat, dan sangat berbahaya.
Pria itu juga disebut-sebut sebagai salah satu orang paling penting dalam organisasi kriminal milik keluarga Bianchi, The Raven.
Tapi anehnya, meskipun Leon adalah putra sulung keluarga Bianchi, Victor seolah tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai anak yang pantas dibanggakan.
Tidak ada yang tahu pasti alasannya. Atau, memang tidak ada yang berani membicarakannya secara terbuka.
Tapi, mungkin Leon bisa menjadi kunci yang selama ini dia cari.
Memikirkan hal itu membuat sudut bibir Elena terangkat membentuk senyuman tipis penuh arti.
"Baik, Saya akan bersiap lebih dulu." Elena menutup pintu setelah kepala pelayan pergi. Lalu, ia berbalik, mengambil seragam pelayan yang tergantung rapi di sisi lemari.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan putra pertama keluarga Bianchi."
Selama ini, Elena sudah berusaha mencari informasi tentang The Raven. Tapi, organisasi itu jauh lebih sulit ditembus daripada yang ia bayangkan.
Penjagaannya sangat ketat. Gerak-gerik semua pelayan di awasi. Tapi, mungkin kepulangan Leon bisa mengubah semuanya.
***
Malam itu, kediaman keluarga besar Bianchi dipenuhi gemerlap cahaya dan hiruk-pikuk pesta. Alunan musik terdengar dari sudut ruangan, berpadu dengan denting gelas dan percakapan para tamu yang datang dari berbagai kalangan.
Para anggota keluarga Bianchi, orang-orang penting dalam organisasi, hingga beberapa sekutu utama berkumpul dalam satu tempat. Mereka datang untuk merayakan kemenangan besar The Raven dalam perebutan sebuah lahan strategis yang selama ini menjadi incaran berbagai organisasi dunia bawah.
Kemenangan itu bukan sekadar soal sebidang tanah.
Lahan tersebut memiliki nilai strategis yang sangat besar. Siapa pun yang menguasainya akan mendapatkan keuntungan sekaligus posisi penting dalam jaringan perdagangan gelap yang selama ini diperebutkan oleh banyak organisasi.
Dan malam ini, The Raven berhasil merebutnya.
Kemenangan itu membuat nama The Raven semakin disegani. Bahkan, bagi sebagian orang, organisasi tersebut kini semakin ditakuti.
Elena dan para pelayan sibuk berkeliling membawa nampan berisi minuman. Tapi, pikiran Elena hanya tertuju pada Leon.
"Kenapa pria itu belum datang?" batinnya
Hingga tidak berapa lama, pintu utama terbuka.
Percakapan yang sebelumnya riuh seketika mereda saat seorang pria masuk dengan langkah tenang dan penuh wibawa. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan sorot matanya tajam. Wajah tampannya memancarkan ketegasan yang membuat siapa pun yang melihatnya secara otomatis menaruh hormat.
Dia adalah Leon Bianchi, putra pertama Victor Bianchi. Pria yang selama ini dikenal sebagai salah satu anggota paling berbakat dalam keluarga Bianchi.
Dan, dialah orang yang memimpin langsung perebutan lahan tersebut.
Elena berhenti sejenak. Pandangannya tidak beralih pada sosok yang sudah ia tunggu sejak tadi.
Begitu Leon melangkah masuk, beberapa orang segera menghampirinya, mengucapkan selamat padanya. Tapi, Leon hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Tidak ada senyum lebar, maupun ekspresi bangga.
Bukan karena dia tidak menghargai ucapan mereka. Tapi, Leon tahu bahwa pesta ini sebenarnya bukan untuk dirinya.
Pesta ini diadakan untuk merayakan kemenangan The Raven.
Matanya kemudian menyapu seluruh ruangan dan tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Elena.
Leon sedikit mengeryit. Bukan hanya karena seorang pelayan yang berani menatap lama dirinya, tetapi karena ada sesuatu yang seolah mengusiknya
Sebuah sensasi aneh yang familiar tapi, dia tidak tahu apa itu.
Tapi, ia tidak memikirkannya. Pandangannya.kembali beredar dan berhenti pada sosok pria paruh baya yang berdiri di depan kerumunan.
Dia adalah Victor Bianchi. Ayah, sekaligus pemimpin The Raven.
Pria itu adalah sosok paling berpengaruh dalam hidup Leon, sekaligus orang yang diam-diam selalu membuatnya bertanya-tanya
Sementara Elena sendiri hanya senyum tipis dan kembali menjalankan tugasnya.
"Leon Bianchi, Akhirnya aku bertemu denganmu," batin Elena.
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊