Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEPUTUSAN DI BATAS SENJA

Keputusan itu tidak lahir dari amarah, melainkan dari kedewasaan dan kelelahan batin yang sudah mencapai puncaknya.

Semalaman aku memikirkannya dengan matang di kamar yang sunyi. Melihat Kaito yang terus menyiksa dirinya dalam hening, serta hubunganku dengan Haruto yang kini hanya menyisakan keraguan dan kebohongan, aku tahu tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Hubungan ini sudah lapuk. Aku ingin mengakhirinya secara baik-baik dengan Haruto—tanpa pertengkaran, tanpa caci maki, dan sebagai dua orang dewasa yang saling melepaskan secara jujur.

Pagi harinya, aku mencoba mencari Haruto di area kampus. Aku mendatangi gedung fakultasnya, menunggunya di depan ruang sekretariat organisasi, tetapi sosoknya sama sekali tidak terlihat. Pikiranku mulai diliputi kegelisahan.

Aku mengambil ponselku, lalu mengetik sebuah pesan singkat dan mengirimkannya pada Haruto:

[Haruto, bisa kita bertemu hari ini? Ada hal penting yang ingin kubicarakan.]

Pesan itu terkirim, bercentang dua, tetapi tidak berkunjung dibaca apalagi dibalas hingga siang berganti sore.

Dengan perasaan cemas dan menggantung, aku memutuskan untuk melangkah menyusuri area pertokoan di pusat kota. Dinginnya angin musim dingin menusuk hingga ke tulang, tetapi langkah kakiku tetap berjalan tanpa arah yang pasti. Aku hanya ingin menenangkan pikiran yang terus berputar hebat.

Namun, takdir selalu punya cara tersendiri untuk menyingkap kebenaran.

Saat melewati sebuah toko pakaian yang cukup besar dan terang di pinggir jalan utama, mataku tak sengaja menangkap sosok yang sangat kukenal di balik kaca toko.

Itu Haruto.

Haruto sedang berdiri di dekat deretan gantungan mantel musim dingin, memegang sebuah cermin kecil dengan senyuman yang sudah lama sekali tidak pernah diperlihatkannya padaku.

Melihat keberadaannya di sana, dadaku berdesir tipis. Tanpa ragu, aku mendorong pintu kaca toko itu, berniat menghampirinya dan menyampaikan keputusanku yang sudah bulat secara langsung.

Langkah kakiku mendatangi Haruto dari belakang. Saat jarak kami tinggal beberapa langkah, aku menyentuh pelan lengan mantelnya.

Haruto tersentak hebat. Ia berbalik dengan spontan, dan saat matanya bertubrukkan dengan tatapanku, seluruh warna di wajahnya seketika sirna. Haruto terpaku kaku. Binar matanya membesar oleh kepanikan yang teramat sangat sebuah kepanikan dari seseorang yang tertangkap basah di tengah kebohongan besarnya.

Belum sempat aku mengangkat tangan untuk memulai interaksi atau mengetik di ponselku, pintu ruang ganti di samping Haruto terbuka.

Seorang gadis melangkah keluar dari sana. Gadis berambut cokelat terang bergelombang, mengenakan sweter rajut modis—sosok yang persis sama dengan foto kecil di kartu mahasiswa Haruto dan aroma parfum manis yang selama ini menempel di pakaiannya.

Gadis itu tersenyum manja, lalu tanpa ragu melingkarkan kedua tangannya di lengan Haruto dengan sangat erat, bersandar di bahunya.

Dari gerak bibirnya yang amat jelas, gadis itu berbicara pada Haruto dengan nada kasual yang penuh kepemilikan: "Sayang, yang ini bagus tidak untukku? Eh, siapa dia?"

Pandangan gadis itu beralih menatapku dari atas sampai bawah dengan kerutan bingung di dahinya.

Aku mematung di tempatku berdiri. Duniaku yang sunyi mendadak terasa makin kebas dan kedap udara.

Melihat bagaimana gadis itu merangkul lengan Haruto dengan begitu alami, dan bagaimana Haruto sama sekali tidak menepisnya—ia justru berdiri mematung dengan wajah pucat tanpa sanggup membela diri seluruh niat awalku untuk bicara panjang lebar seketika menguap tak berbekas.

Semua kebohongan, semua keterlambatan, semua aroma parfum asing, dan rasa asing yang kurasakan dalam beberapa bulan terakhir ini mendadak terjawab utuh dalam satu detik yang menyayat hati.

Tidak ada hal yang perlu diperdebatkan lagi. Semuanya sudah terlalu jelas.

Aku menatap Haruto lekat-lekat untuk terakhir kalinya. Tidak ada tangisan meledak-ledak di depan mereka. Aku mengambil ponselku dengan jemari yang bergetar tipis, mengetik beberapa kata sederhana, lalu menyodorkan layarnya tepat di hadapan Haruto:

[Terima kasih untuk segalanya, Haruto. Sampai jumpa.]

Haruto membaca pesan singkat itu. Wajahnya seketika runtuh oleh rasa bersalah dan ketakutan yang membuncah. Gerak bibirnya menyebut namaku secara refleks: "Hana, tunggu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan—"

Namun, aku tidak lagi memberi kesempatan baginya untuk menyusun kebohongan baru. Aku memasukkan ponselku kembali ke dalam saku, menyunggingkan senyum tipis yang amat getir, lalu berbalik arah.

Aku melangkah cepat keluar dari toko pakaian itu.

"Hana! Hana, tunggu dulu!" Haruto berusaha mengejarku, melangkah panik menuju pintu keluar.

Namun, baru dua langkah Haruto bergerak, gadis berambut cokelat itu mendadak menahan lengan Haruto dengan kuat, menariknya kembali sambil cemberut dan menuntut penjelasan: "Haruto! Kamu mau ke mana?! Siapa perempuan itu sebenarnya?!"

Cegatan gadis itu membuat langkah Haruto terhenti total. Ia terperangkap dalam jaring kebohongannya sendiri, menatap pasrah dari balik kaca toko saat aku melangkah makin jauh.

Begitu kakiku menyentuh trotoar jalan di luar, ketahananku runtuh sepenuhnya.

Air mata yang sejak tadi kubendung akhirnya pecah menelusuri pipiku yang membeku oleh angin dingin. Aku mulai berlari. Aku berlari sekuat tenagaku menembus lautan pejalan kaki di pertokoan kota Tokyo, tidak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarku. Air mataku menetes tanpa henti, membasahi syal dan mantel yang kukenakan.

Rasa sakit, Kecewa, dan rasa tertipu membakar dadaku hingga sesak. Pria yang selama ini kupercaya, pria yang kuharapkan bisa menjadi tempat bersandar saat duniaku sedang hancur, ternyata adalah orang yang memotong benang kepercayaan itu sendiri di belakangku.

Langkah kakiku yang lemah akhirnya membawaku ke sebuah taman kota yang sepi tak jauh dari stasiun.

Aku merosot duduk di salah satu bangku kayu di bawah naungan pohon yang meranggas. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, merengkuh lututku sendiri, dan menangis sesenggukan dalam keheningan duniaku yang pekat. Bahuku bergetar hebat. Di bawah pendar lampu taman yang temaram dan dinginnya malam yang merayap turun, aku meluapkan seluruh rasa hancur yang membendung di dalam dada.

Lama aku terduduk menangis di bangku taman itu, membiarkan air mata membasahi telapak tanganku yang membeku.

Setelah rasa sesak di dadanya sedikit berkurang dan air matanya mulai mengering, aku mengusap wajahku dengan telapak tangan yang dingin. Aku berdiri dari bangku taman, merapatkan jaket tebal yang kukenakan, lalu melangkah perlahan menyusuri jalanan malam untuk pulang ke rumah.

Malam itu, di sepanjang perjalanan pulang, aku menyadari bahwa satu bab dalam hidupku telah resmi ditutup dengan luka—tetapi setidaknya, aku telah membebaskan diriku sendiri dari kebohongan yang membendung.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!