⚠️ PERINGATAN
Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.
Ketika seseorang telah memiliki segala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ORANG PERTAMA YANG MENYADARI [POV FRAGMEN KETIGA: ZHUO XUANCHEN]
Enam bulan setelah insiden alun-alun, jaringan formasi yang menghubungkan tujuh kota besar di Benua III sudah mencapai sepertiga penyelesaiannya—cukup jauh untuk mulai menunjukkan efek, belum cukup jauh untuk dianggap selesai.
Zhuo Xuanchen menikmati periode seperti ini. Bukan awal, ketika segalanya masih berupa cetak biru dan kemungkinan. Bukan akhir, ketika hasil sudah pasti dan kejutan sudah habis. Tapi tengah—saat sistem cukup besar untuk mulai punya kehidupannya sendiri, kadang berperilaku dengan cara yang bahkan tidak sepenuhnya ia duga sebelumnya.
Ia sedang menikmati mangkuk mi di sebuah kedai kecil di Kota Hengshui, kota keempat dalam jaringannya, ketika seorang wanita muda duduk di seberangnya tanpa diundang.
"Kau Tuan Muda yang selalu duduk di Kedai Teh Tujuh Arah di Qiyun," katanya, bukan pertanyaan. "Aku sudah mencarimu selama dua bulan."
---
Zhuo Xuanchen tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun, meski di dalam hatinya, ia mulai menghitung ulang beberapa asumsi yang sudah lama ia anggap aman.
"Kau salah orang," ia berkata santai, menyesap mi-nya. "Aku hanya pedagang kecil yang suka bepergian."
"Pedagang kecil tidak biasanya muncul di lima kota berbeda tepat sebelum lima 'kebetulan' besar terjadi berturut-turut," wanita itu menjawab, matanya tajam, tidak sedikit pun goyah oleh sikap santainya. "Kerusuhan pajak di Hengshui yang tiba-tiba mereda karena seorang pejabat 'kebetulan' menemukan bukti korupsi atasannya sendiri di waktu yang tepat. Perselisihan dagang di Qiyun yang tiba-tiba padam karena teriakan seorang anak kecil yang 'kebetulan' terdengar sangat keras di momen yang tepat. Aku sudah mengumpulkan tujuh kejadian seperti itu dalam setahun terakhir, semuanya di kota-kota yang sama, semuanya menguntungkan pihak yang sama—pedagang kecil independen, bukan klan-klan besar."
Zhuo Xuanchen meletakkan sumpitnya perlahan.
"Hm... Siapa namamu?"
"Bai Rushuang," wanita itu menjawab. "Ahli waris Biro Informasi Sungai Perak. Keluargaku kehilangan setengah bisnis kami tahun lalu karena monopoli klan-klan besar yang baru saja mulai retak dengan cara yang sangat... rapi. Terlalu rapi untuk kebetulan."
---
Ini adalah pertama kalinya dalam enam tahun proyeknya berjalan, seseorang berhasil menyusun titik-titik yang cukup untuk mendekati kebenaran.
Zhuo Xuanchen merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan: kombinasi kewaspadaan dan—meski ia agak enggan mengakuinya—kekaguman yang tulus.
"Anggaplah," ia berkata hati-hati, "seseorang memang berada di balik pola yang kau lihat. Apa yang akan kau lakukan dengan informasi itu?"
"Tergantung motifnya," Bai Rushuang menjawab tanpa ragu. "Kalau motifnya kekuasaan pribadi, aku akan mengeksposnya ke seluruh benua. Kalau motifnya sesuatu yang lain..." Ia berhenti, menatapnya lebih tajam. "Aku ingin mendengar langsung dari orangnya."
Zhuo Xuanchen tersenyum tipis, kipas lipatnya terbuka dengan bunyi pelan.
"Kau berani berasumsi orang yang kau curigai duduk di depanmu sekarang."
"Aku tidak berasumsi," Bai Rushuang berkata. "Aku hanya memastikan sudah menyusun jebakan kecil sebelum aku duduk di sini—informasi palsu yang kusebarkan tiga hari lalu, hanya kepada tiga orang, masing-masing dengan detail sedikit berbeda. Kalau kau memang orangnya, kau pasti sudah tahu informasi mana yang salah, karena kau pasti sudah menerima ketiganya dan membandingkannya. Sedikit ekspresimu saat aku menyebutkan Hengshui tadi sudah cukup memberitahuku."
---
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Zhuo Xuanchen tertawa—bukan tawa mengejek, tawa yang benar-benar tulus, dengan sentuhan kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Baiklah," katanya, menutup kipasnya. "Kau menang ronde ini nona, Ya, aku yang menyusun sebagian besar 'kebetulan' yang kau sebutkan."
"Kenapa?"
"Karena delapan puluh persen jalur dagang formasi di benua ini dikontrol oleh dua klan yang, kalau dibiarkan, akan menghancurkan seratus pedagang kecil lainnya dalam sepuluh tahun ke depan," Zhuo Xuanchen berkata, nada bicaranya berubah lebih serius. "Aku tidak menginginkan kekuasaan pribadi dari ini. Aku menginginkan keseimbangan yang tidak bergantung pada belas kasihan segelintir orang berkuasa."
"Dengan cara memanipulasi ribuan orang tanpa sepengetahuan mereka," Bai Rushuang menambahkan, tidak sepenuhnya menuduh, tidak sepenuhnya menyetujui.
"Ya," Zhuo Xuanchen mengakui, tanpa pembelaan. "Aku tidak akan berpura-pura itu bukan masalah."
---
Bai Rushuang menyandarkan punggungnya, menyilangkan tangan, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran kemarahan yang tertahan dan rasa ingin tahu yang lebih besar daripada kemarahannya sendiri.
"Keluargaku kehilangan bisnis kami karena seseorang seperti dirimu memutuskan itu 'perlu' untuk keseimbangan yang lebih besar," katanya pelan. "Tidak ada yang bertanya pada kami apakah kami setuju jadi korban dari rencana besarmu."
Ini adalah pertama kalinya seseorang mengatakan langsung ke wajahnya konsekuensi manusia dari rencana-rencananya, bukan sebagai statistik abstrak, tapi sebagai wajah nyata di depannya, dengan kepahitan nyata di suaranya.
Zhuo Xuanchen tidak langsung menjawab. Ia memutar kipasnya perlahan, memikirkan kata-kata yang akan ia gunakan dengan lebih hati-hati daripada biasanya.
"Kau benar," ia akhirnya berkata. "Dan aku tidak akan mencoba meyakinkanmu bahwa kerugian keluargamu 'sepadan' dengan keseimbangan yang kubangun, karena itu bukan keputusanku untuk dibuat atas namamu. Yang bisa kutawarkan hanya ini: jaringan yang sedang kubangun, kalau selesai, akan membuat monopoli seperti yang menghancurkan bisnis keluargamu jauh lebih sulit terjadi lagi di masa depan. Itu tidak mengembalikan apa yang kalian hilangkan. Tapi mungkin mencegah keluarga lain kehilangan hal yang sama."
---
"Kau selalu memikirkan semuanya seolah kau bermain catur dengan seluruh dunia sebagai papannya dan manusia sebagai bidaknya," Bai Rushuang berkata, suaranya bercampur kekesalan dan sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan. "Apakah kau pernah berpikir tentang bidak-bidak yang tidak pernah setuju untuk dimainkan?"
Pertanyaan itu menghantam lebih dalam daripada yang Bai Rushuang sadari—karena itu adalah versi lain, lebih tajam, dari pertanyaan yang sudah lama mengganggu Zhuo Xuanchen sendiri sejak malam di alun-alun enam bulan lalu.
"Setiap malam," ia mengakui, jujur untuk pertama kalinya kepada orang lain tentang hal ini. "Aku bertanya-tanya apakah aku berhak melakukan semua ini. Aku belum menemukan jawabannya. Yang bisa kulakukan hanya berusaha memastikan hasil akhirnya lebih baik daripada kalau aku tidak melakukan apa pun sama sekali—dan menerima bahwa itu mungkin bukan pembenaran yang cukup bagi orang-orang yang kupakai sebagai bidak di sepanjang jalan."
---
Mereka duduk diam beberapa saat, mi di mangkuk Zhuo Xuanchen sudah mulai dingin, tidak lagi tersentuh.
"Aku belum memutuskan apakah akan mengeksposmu," Bai Rushuang akhirnya berkata, berdiri dari kursinya. "Tapi aku ingin mengawasi jaringanmu ini sampai selesai. Kalau aku melihat satu tanda bahwa ini benar-benar untuk kepentinganmu sendiri, bukan yang kau katakan tadi, aku tidak akan ragu membongkarnya ke seluruh benua."
"Adil," Zhuo Xuanchen berkata, mengangguk sekali.
"Dan," ia menambahkan, sudah berbalik untuk pergi, "lain kali kau menyusun rencana sebesar ini, mungkin coba tanya pendapat setidaknya satu bidak sebelum menggerakkannya. Kau mungkin terkejut setelah mengetahui mereka punya ide yang lebih baik daripada yang kau duga."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Zhuo Xuanchen sendirian dengan mi dinginnya dan sebuah pemikiran yang belum pernah benar-benar ia pertimbangkan sebelumnya dengan serius.
---
Malam itu, di penginapan kecil Kota Hengshui, Zhuo Xuanchen membuka kembali cetak biru jaringan formasinya, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menggambar.
Ia memikirkan kata-kata Bai Rushuang—tanya pendapat setidaknya satu bidak—dan menyadari betapa asingnya gagasan itu baginya, meski terdengar begitu sederhana saat diucapkan orang lain.
Seluruh hidupnya, ia sudah beroperasi dengan asumsi bahwa kebijaksanaan berarti melihat pola yang tidak bisa dilihat orang lain, menyusun rencana yang orang lain bahkan tidak sadari sedang terjadi. Ia tidak pernah benar-benar mempertimbangkan bahwa orang-orang yang ia anggap "bidak" mungkin, jika ditanya langsung, punya wawasan yang tidak pernah bisa ia lihat dari posisi ketinggiannya sendiri.
Ia menutup cetak birunya, mengambil lembar kertas baru, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun proyek ini berjalan, mulai menulis sesuatu yang bukan rencana rahasia, bukan formasi tersembunyi—melainkan sebuah undangan terbuka, ditujukan kepada perwakilan seratus pedagang kecil yang selama ini hanya ia anggap penerima manfaat pasif dari rencananya, mengundang mereka untuk pertama kalinya duduk bersama dan benar-benar berbicara tentang apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang ia asumsikan mereka butuhkan.
Ia menatap undangan itu lama sebelum menyegelnya.
"Menarik," gumamnya sendirian, kipasnya untuk sekali ini benar-benar tidak bergerak sama sekali di tangannya. "Rupanya masih ada permainan yang belum pernah kucoba, meski aku sudah menganggap diriku memahami semua aturan papan ini."