Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Melayani Kamu
Pagi hari seperti biasa, suster Eni masuk kamar Elena untuk memberikannya vitamin. Namun ia terkejut ketika melihat Angga ternyata ada di sana dan tidur di sisi Elena.
Suster Eni pun hendak keluar kembali, namun hal itu bertepatan dengan Angga yang telah membuka matanya.
"Masuk saja sus," ucap Angga sambil duduk di atas ranjang dengan pelan.
"Maaf, Tuan, saya ingin memberikan vitamin untuk nyonya Elena," ujar Suster Eni.
Angga mengangguk. "Lakukan."
Suster pun meletakkan vitamin itu di atas nakas beserta minumnya. Biasanya setelah itu ia akan membangunkan Elena, namun kali ini ia tidak melakukannya.
"Sarapannya sudah dibuatkan belum?" tanya Angga.
"Sedang disiapkan oleh Iroh Tuan."
Angga mengangguk tipis. Setelah suster Eni keluar dari kamar, Angga pun mendekatkan dirinya kepada Elena.
Ia menyentuh pelan wajah istrinya. "Sayang, bangun. Waktunya kamu minum vitamin."
"Sayang?" panggil Angga di telinga Elena dengan lembut.
Wanita itu pun membuka matanya dan terkejut melihat Angga berada di dekatnya.
"Mas Angga?"
"Iya, sayang? Bangun ya, kamu harus minum vitamin dan juga sarapan."
Elena pun hendak duduk dan dengan sigap Angga membantunya.
"Kamu kenapa di sini Mas?"
"Saya ingin memastikan kamu sarapan dan minum vitaminnya, Elena," sahut Angga tanpa menceritakan bahwa semalam ia tidur di sisinya.
"Aku pasti akan sarapan dan minum vitaminnya. Kamu tidak perlu menungguku seperti ini."
Angga tidak mempedulikan ucapan Elena. Pria itu menyiapkan air minum dan memberikan vitaminnya pada Elena, karena harus diminum sebelum makan.
"Aku bisa sendiri mas."
"Iya, saya tahu. Tapi saya ingin melayani istri saya. Apa itu salah?"
Elena terdiam, dan memilih menuruti Angga. Masih terlalu pagi jika ia harus berdebat dengan pria itu, sementara tenaganya belum ada.
Bersamaan dengan itu, Iroh pun masuk dan membawakan sarapan Elena dan juga Angga.
"Sarapannya Tuan, Nyonya."
"Letakkan di sana," perintah Angga.
Iroh pun menurut, namun saat meletakkan sarapan, Elena mencegahnya.
"Kenapa ada dua?"
"Ini sarapan nyonya Elena dan Tuan Angga, Nyonya."
"Bawa saja sarapan saya ke meja makan," perintah Angga.
Iroh pun mengangguk dan membawa kembali makanan Angga keluar kamar.
"Mas, bisa keluar saja dari kamar ini?"
"Tidak, Elena. Hari ini saya akan melayani kamu."
"Nggak perlu mas. Aku punya Iroh dan juga suster Eni di sisiku. Kamu nggak perlu sok perhatian kepadaku."
"Elena...."
"Masih terlalu pagi, apa kau tidak lelah berdebat dengan saya?"
"Aku tidak berdebat! Aku hanya tidak bisa memaafkan mu!"
Tanpa peduli dengan ucapan Elena, Angga mengambil sarapan Elena di maja lalu membawanya ke sisi wanita itu.
"Saya tidak memaksa kamu untuk memaafkan saya, Elena. Saya hanya ingin ada di sisimu hari ini," ujarnya seraya menyendokkan makanan di tangannya.
"Buka mulutmu," pinta Angga.
"Mas—"
"Buka mulutmu, Elena.."
Elena pun menurut. Ia membuka mulutnya dan melahap makanan yang disuapi Angga. Sejenak Angga tertegun. Selama ini ia tidak pernah berinisiatif untuk menyuapi Elena. Tetapi hari ini, ia baru menyadari bahwa melakukan hal tersebut untuk Elena sangat membahagiakan hatinya.
****
Sementara itu di sebuah Apartemen mewah kota Jakarta, Cindy sedang sarapan bersama Ridwan.
"Mas Angga hari ini mengurus pekerjaan apa kak?"
"Entahlah, kalau aku sih mengurus proyek bukit bintang. Mengurus pelepasan lahannya."
"Nggak sama Mas Angga?"
"Ya enggak lah Cin, masa bos selalu mengikuti bawahannya. Kamu kan dulu sekretarisnya, masa kamu lupa kalau dia kerjanya hanya memantau saja."
"Oh iya ya, sejak menikah dengannya aku lupa dengan pekerjaanku dulu. Ternyata enak juga ya punya suami kaya raya seperti Angga. Aku tidak perlu kerja cari uang, dan cukup mengandalkan dia saja," tutur Cindy.
Ridwan mengangguk. "Karena itu aku selalu mendukungmu. Karena kamu jadi istrinya, sekarang aku bisa mendapat pekerjaan dengan jabatan yang cukup tinggi."
Cindy mengangkat sudut bibirnya. "Pantas saja Elena tergila-gila dengan Angga sampai depresi begitu. Dia pasti nggak mau pisah dengan Angga karena takut tidak bisa menikmati fasilitasnya lagi."
"Elena depresi?"
"Entahlah, tapi saat ini dia sedang ditangani oleh psikiater. Baguslah, sudah cukup masa-masa emasnya jadi istri Mas Angga. Sekarang giliran aku yang menjadi istrinya dan akan menjadi satu-satunya istri Angga Mahardika."
Ridwan pun tersenyum kecil. "Apalagi rencanamu, hmm?"
"Kau sudah menjebak Angga hingga dia menikahi mu dan menjadikanmu istrinya dengan semua fasilitas mewahnya. Kau sampai melibatkan ayahnya. Sekarang kau mau melakukan apalagi?"
"Belum cukup kak, bagiku Mas Angga harus menjadi milikku satu-satunya. Aku tidak suka berbagi suami. Karena itu, aku ingin membuat Elena menghilang dari kehidupan Mas Angga selamanya..."
"Apa yang mau kamu lakukan?"
Cindy tersenyum jahat seraya menatap ke depan.
"Aku akan masuk ke rumah mereka untuk tinggal bersama Mas Angga di bawah atap yang sama. Dengan begitu, rumah tangga mereka pasti akan segera hancur di depan mataku..."