Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jalan jalan kepantai berakhir

Kiba terus berlari menyusuri pinggir pantai, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Rin masih mengejarnya.

“Kembalikan ikat rambutku!”

“Ayo ambil!”

Rin mempercepat langkahnya. “Kiba!”

Kiba malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menjauhkan ikat rambut itu dari jangkauan Rin.

Rin mencoba meraihnya, namun tidak sampai. Ia melompat cepat. “Dapat!”

“Belum!” Kiba mengangkat tangannya semakin tinggi.

Rin kembali melompat, tetapi tetap tidak berhasil. “Turunkan tanganmu!”

“Tidak mau!”

Rin mendengus kesal. “Kau curang!”

“Namanya juga strategi.”

Rin hendak melompat lagi ketika Kiba tiba-tiba bergerak mendekat.

“Hei—”

Belum sempat Rin menghindar, Kiba merangkulnya erat dari belakang. “Ketangkap!”

“Kiba! Lepaskan!” Rin tertawa sambil berusaha melepaskan diri.

Namun Kiba justru mengangkat tubuhnya sedikit dari belakang. “Eh! Kiba!”

“Berat juga ternyata!”

“Siapa yang kau bilang berat?!” seru Rin tertawa sambil memukul lengan pria itu pelan.

Kiba akhirnya menurunkannya, tetapi karena berdiri terlalu dekat dengan bibir pantai, kaki mereka kehilangan keseimbangan.

“Woi—!”

*Byur!*

Keduanya jatuh terjerembap di atas pasir basah yang tersapu ombak. Beberapa detik mereka hanya diam membisu.

Rin mengangkat kepala lebih dulu. Rambutnya sedikit berantakan dan ujung pakaiannya basah terkena percikan air. Kiba yang berada di sebelahnya justru tertawa lepas.

“Hahaha... lihat wajahmu!”

Rin menatapnya tak percaya. “Ini gara-gara kau!”

“Tapi lucu.”

“Tidak lucu!” Rin mengambil segenggam pasir basah lalu melemparkannya ke arah Kiba.

“Hei!” Kiba tertawa sambil menghindar cepat.

Setelah puas saling menyalahkan, mereka akhirnya duduk berdampingan di pinggir pantai. Keduanya menekuk lutut, membiarkan kaki mereka dibelai air laut yang sesekali menyapu bersama ombak kecil.

Rin menghela napas panjang. “Capek.”

“Aku juga.”

Kiba mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Main game?”

Rin langsung menoleh antusias. “Main!”

Kiba membuka aplikasi permainan yang biasa mereka mainkan bersama. Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tenggelam dalam kesibukan menatap layar masing-masing.

Dua orang yang beberapa menit lalu berlarian tak tentu arah di pinggir pantai kini duduk berdampingan dengan tenang. Hanya sesekali mereka saling melirik atau berseru ketika permainan terasa kian seru.

Ombak terus bergulung lembut di hadapan mereka. Untuk sementara waktu, Rin benar-benar lupa akan rumah, ayahnya, Takumi, ataupun urusan perjodohan yang selama ini memenuhi kepalanya.

Beberapa menit berlalu.

Rin masih sibuk dengan layar ponselnya ketika Kiba tiba-tiba menyenggol lengannya.

“Rin.”

“Apa?”

“Kau kalah.”

Rin langsung menoleh. “Hah?!”

Kiba menunjukkan layar ponselnya dengan wajah puas. “Lihat sendiri.”

Rin mendekat, lalu mendengus. “Itu karena sinyalnya!”

“Alasan.”

“Memang sinyalnya!”

Kiba tertawa. “Kalau begitu kita taruhan.”

Rin menyipitkan mata. “Taruhan apa?”

Kiba menunjuk laut. “Yang kalah harus main air sampai lutut.”

Rin langsung menatapnya curiga. “Kenapa aku merasa kau memang sudah merencanakan ini?”

“Tidak ada hubungannya.”

“Kau mencurigakan.”

Kiba hanya tertawa.

***

Mereka kembali bermain. Beberapa ronde kemudian, Rin kembali kalah.

Kiba langsung berdiri. “Ayo.”

“Hah? Sekarang?”

“Iya. Janji adalah janji.”

Rin menghela napas panjang. “Baiklah.”

Mereka berjalan mendekati air. Ombak kecil menyentuh kaki mereka, dan Rin meringis ketika rasa dingin menyapu betisnya. “Dingin!”

Kiba malah tertawa. “Baru sampai sini.”

Ia mengambil air dengan kedua tangannya lalu mencipratkannya ke arah Rin.

“Hei!” Rin spontan membalas. Cipratan air mengenai kaus Kiba.

“Kau mulai, ya?”

“Kau duluan!”

Kiba kembali mencipratkan air. Rin mundur sambil tertawa, kemudian membalas lebih keras. Dalam beberapa menit, keduanya sudah tidak peduli lagi dengan pakaian yang basah terpercik air.

***

Setelah puas bermain, mereka kembali ke karpet. Kiba membuka kantong plastik yang sejak tadi membuat Rin penasaran.

“Nah.” Ia mengeluarkan beberapa bungkus camilan dan dua es krim.

Rin langsung menatapnya. “Kau bawa es krim juga?”

“Tentu.”

“Kau benar-benar mempersiapkan semuanya.”

Kiba mengangkat bahu. “Aku bilang juga apa. Ini perjalanan ke pantai.”

Rin mengambil satu es krim. “Lumayan.”

Mereka duduk santai sambil menikmati makanan dan melihat laut.

Setelah beberapa saat, Kiba menatap Rin. “Rin.”

“Hm?”

“Tadi kau bilang masih ingin bersenang-senang.”

Rin mengangguk. “Iya.”

“Kalau kau memang belum mau menikah, tidak masalah.” Kiba melanjutkan dengan nada santai, “Tapi kalau kau mau punya uang sendiri, kau harus punya sesuatu yang bisa kau andalkan.”

Rin terdiam. “Maksudmu?”

“*Skill*.” Kiba menunjuk ponsel di tangan Rin. “*Game* memang bisa menghasilkan uang. Aku tahu kau pernah *streaming* dan menerima pekerjaan dari sana.” Rin mengangguk pelan. “Tapi menurutku jangan jadikan itu satu-satunya sumber penghasilan. Kau tetap perlu punya kemampuan dasar untuk bertahan hidup sendiri. Kalau suatu hari *game* tidak menghasilkan apa-apa, kau mau mengandalkan apa?”

Rin tidak langsung menjawab.

Kiba tersenyum kecil. “Kalau kau tidak mau menikah sekarang, gunakan waktumu untuk belajar sesuatu.”

Rin menunduk. “Kuliah?”

“Bisa,” Kiba mengangkat bahu. “Atau belajar keterampilan lain. Yang penting kau punya bekal.”

Rin memainkan ujung bungkus es krimnya. “Kau sendiri kuliah karena memang suka belajar?”

Kiba tertawa kecil. “Tidak juga.” Ia kemudian memandang gedung-gedung yang terlihat dari kejauhan. “Aku dari dulu suka melihat bangunan besar.”

Rin mengikuti arah pandangannya. “Gedung?”

“Gedung tinggi, jembatan, tower... apa saja yang kelihatannya sulit dibuat.” Kiba tersenyum. “Dulu aku sering berpikir, kalau punya banyak uang, aku ingin membeli gedung yang kusuka.”

Rin terkekeh. “Lalu?”

“Aku sadar aku tidak punya uang sebanyak itu.”

Rin tertawa. “Terus bagaimana?”

“Aku berpikir, kalau tidak bisa membeli gedungnya... ya aku harus bisa membuatnya.”

Rin terdiam sebentar.

Kiba melanjutkan, “Makanya aku belajar. Aku kuliah teknik sipil, lalu mengambil bidang yang berhubungan dengan konstruksi.” Ia menatap kedua tangannya sendiri. “Sekarang aku bekerja sebagai insinyur sipil di bidang pembangunan. Aku juga sering bekerja bersama tim untuk proyek gedung dan tower.”

Rin memperhatikan Kiba. “Jadi sekarang kau benar-benar membuat gedung?”

“Tidak sendirian, tentu saja.” Kiba tertawa. “Ada banyak orang di belakang satu bangunan. Tapi aku bisa ikut membangunnya karena dulu aku mau belajar.”

Rin kembali memandang laut. Kata-kata itu perlahan masuk ke kepalanya. Selama ini ia hanya memikirkan satu hal: bagaimana caranya menghindari pernikahan? Tapi setelah itu? Ia belum pernah benar-benar memikirkannya.

“Jadi menurutmu aku harus kuliah?”

“Menurutku... kau harus punya pilihan.” Kiba menoleh kepadanya. “Kalau kau kuliah, setidaknya kau punya ilmu dan kesempatan untuk mencari pekerjaan yang kau mau.”

“Kalau aku tidak kuliah?”

“Tidak masalah,” Kiba menggeleng. “Tapi tetap cari sesuatu yang bisa kau pelajari. Jangan sampai waktumu habis hanya karena kau sedang menunggu sampai siap menikah.”

Rin terdiam.

Kiba lalu menyenggol bahunya pelan. “Kau masih muda, Rin. Justru karena masih muda, menurutku sayang kalau waktumu cuma digunakan untuk menghindari orang tua.”

Rin mendengus kecil. “Kau ngomong seperti orang tua.”

“Aku memang lebih tua darimu.”

“Tidak kelihatan.”

“Hei!”

Rin tertawa, dan Kiba ikut tertawa. Namun kali ini, Rin tidak langsung membantah. Ia menatap laut sambil memikirkan ucapan Kiba. Mungkin... ayahnya memang tidak sepenuhnya salah soal satu hal: ia memang harus memikirkan masa depannya. Hanya saja, Rin belum tahu masa depan seperti apa yang benar-benar ia inginkan.

***

Setelah matahari mulai meninggi, mereka membereskan barang-barang. Kiba melipat karpet dan memasukkan kembali semua perlengkapan ke dalam ransel, sementara Rin membantu mengumpulkan sampah dan merapikan tempat mereka.

“Sudah?”

“Sudah.”

Kiba berdiri sambil mengangkat ranselnya. “Ayo pulang.”

Rin memakai sandalnya kembali. Sebelum meninggalkan pantai, ia menoleh sekali lagi ke arah laut. Entah kenapa, hari itu terasa berbeda. Ia datang hanya untuk bersenang-senang, tapi ia pulang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar foto dan pasir di kakinya—sebuah pikiran baru tentang hidupnya sendiri.

Mereka berjalan menuju halte sambil terus bercanda.

"Baiklah sekarang aku benar benar lapar "

"mendengar ceramah dari insinyur sipil ternyata menguras energi ku !"

"dasar..kau ini rin !"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!