Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Malam itu, pukul tujuh lewat tiga puluh menit.

Di depan cermin kamarnya, Evelyn menatap pantulannya sendiri sambil menghela napas panjang. Kemeja putih.

Blazer hitam yang pas di badan. Celana bahan berwarna krem. Rambut panjangnya diikat sederhana ke belakang.

Formal. Tapi tidak terlalu kaku. Cukup untuk menunjukkan bahwa dirinya datang sebagai pemimpin perusahaan, bukan mahasiswi yang biasanya berkeliaran di kampus dengan hoodie dan totebag.

Evelyn merapikan kerah bajunya. Lalu menatap tumpukan dokumen di meja.

"Yaudah lah."

"Kerja mati-matian juga ujung-ujungnya duitnya gue nikmatin."

Kalimat itu sukses membuat mood-nya membaik. Sedikit.

Di luar mansion. Mobil hitam sudah menunggu.

Reon berdiri di samping pintu belakang sambil mengecek tablet di tangannya. Begitu melihat Evelyn keluar, pria itu langsung berdiri tegak.

Klaim

"Selamat malam, Nona Evelyn."

"Malam, Pak Reon."

Evelyn masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan area mansion.

Sepanjang perjalanan Reon menjelaskan beberapa poin penting. "Loren Holdings bergerak di beberapa sektor besar. Logistik, energi, properti, dan distribusi industri."

Evelyn mengangguk. "Dan kerja sama kita?"

"Distribusi komponen industri." Reon menjelaskan dengan tenang. "Danesha memiliki beberapa pabrik komponen elektronik dan sistem otomasi."

"Nona tahu kan?" tanya pria itu.

"Sedikit. Sangat sedikit."

Reon pura-pura tidak mendengar bagian terakhir. "Kami ingin memperluas jalur distribusi nasional. Sedangkan Loren Holdings memiliki jaringan logistik yang sangat kuat."

Evelyn mulai paham. Jadi bukan kerja sama asal-asalan. Danesha mendapat akses distribusi yang lebih luas.

Loren Holdings mendapat suplai komponen industri dengan harga dan kualitas yang stabil. Sama-sama untung. Masuk akal.

Setidaknya tidak ada klausul aneh seperti beberapa dokumen yang pernah dia baca sebelumnya.

Tiga puluh menit kemudian. Mobil berhenti di depan sebuah hotel bisnis mewah. Gedungnya menjulang tinggi.

Lampu-lampu kristal menghiasi lobi. Bahkan aroma parfumnya terasa mahal. Evelyn langsung merasa dompetnya ikut minder.

"Mahal banget kelihatannya."

Reon tersenyum tipis. "Memang."Mereka berjalan menuju lantai khusus yang digunakan untuk pertemuan privat. Sesampainya di depan ruang VVIP, Evelyn diam sejenak.

Entah kenapa. Dadanya sedikit berdebar. Dejavu. Persis seperti saat pertama kali bertemu pihak Aurelius Consortium.

Waktu itu dia hampir salah menyebut istilah bisnis. Untung tidak ada yang sadar. Atau mungkin semua orang sadar dan memilih diam.

Pintu perlahan terbuka. Seorang pelayan mempersilakan mereka masuk.

Dan di dalam sana sudah duduk dua orang pria. Begitu melihat tamunya datang, keduanya langsung berdiri.

Etika bisnis. Sederhana.

Tapi penting. Pria pertama melangkah maju.

Tubuh tinggi. Setelan abu-abu gelap. Wajah tegas. Tatapan tajam.

Klaim

Namun tetap terlihat ramah. "Loren Vance."

Tangannya terulur. Evelyn tersenyum profesional. "Evelyn Adreena Danesha."

Mereka berjabat tangan.

Dan dalam hati Evelyn langsung berpikir. 'Anjir. Ganteng juga. Tapi... Kael masih menang tipis sih.'

'eh.. Tunggu. Kenapa gue malah ngebandingin cowok?'

Untung ekspresi wajahnya tetap profesional. Kalau tidak, Reon mungkin sudah pingsan saat itu juga.

Di samping Loren berdiri seorang pria berambut cokelat rapi. "Saya Hans Richter. Sekretaris pribadi Tuan Loren."

Evelyn kembali berjabat tangan. Setelah semuanya duduk, pembahasan langsung dimulai.

Tidak ada basa-basi panjang. Tidak ada pembicaraan kosong. Loren ternyata tipe orang yang sangat langsung pada inti masalah.

"Distribusi wilayah timur. Target pertumbuhan dua belas persen dalam satu tahun. Dan sistem integrasi gudang."

Satu per satu topik dibahas.

Evelyn membuka dokumen miliknya. Kadang bertanya. Kadang mencatat. Kadang membuat Loren sedikit terkejut.

"Tunggu." Evelyn menunjuk salah satu halaman. "Kalau pengiriman dipusatkan di gudang regional utama...

Bukankah waktu distribusi ke area terpencil justru lebih lama?"

Hans langsung menoleh.

Loren ikut mengangkat alis.

Pertanyaan itu cukup spesifik.

Padahal banyak pemilik perusahaan muda biasanya hanya fokus pada angka keuntungan.

Namun Evelyn justru melihat operasionalnya. "Itu benar."

Hans mengangguk. "Kami sudah mempertimbangkan hal itu."

"Dan solusinya?" Evelyn bertanya lagi.

Loren menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis. Gadis ini ternyata benar-benar membaca dokumennya. Bukan sekadar datang lalu tanda tangan. Diskusi berlanjut hampir satu jam.

Semakin lama suasana semakin santai. Bahkan beberapa kali Evelyn tanpa sadar mengeluarkan komentar khasnya.

"Kalau angka ini gagal tercapai gimana?"

Hans menjawab. "Kami melakukan evaluasi ulang."

"Syukurlah." Evelyn menghela napas lega. "Saya kira saya yang dievaluasi."

Untuk pertama kalinya malam itu, Loren tertawa kecil.

Reon sampai melirik heran.

Karena menurut informasi yang ia tahu, Loren Vance bukan tipe orang yang mudah tertawa saat rapat.

Akhirnya setelah seluruh poin dibahas... Dokumen terakhir ditutup. Loren mengulurkan tangan.

"Kalau begitu. Selamat atas kerja sama ini, Nona Evelyn."

Evelyn tersenyum. Kali ini lebih santai. "Selamat juga, Tuan Loren."

Jabat tangan terjadi. Secara Resmi. Kerja sama antara Danesha Group dan Loren Holdings disepakati.

Tepat saat itu Loren memandangi gadis di depannya beberapa detik lebih lama. Kini < Bab 28

dia sedikit mengerti. Kenapa Aurelius Consortium menerima kerja sama dengan perusahaan ini.

Bukan karena ukuran Danesha. Bukan karena pengaruh keluarganya.

Melainkan karena perempuan muda yang duduk di hadapannya.

Sangat menarik. Senyuman

tipis muncul di wajah Loren.

Namun tak seorang pun menyadarinya. Sementara Evelyn...

Masih sibuk memikirkan satu hal yang jauh lebih penting.

"Kalau kerja sama berhasil...

"Bonus gue naik nggak ya?"

Untung pikiran itu hanya berhenti di dalam kepala.

*

*

Kerja sama sudah resmi disepakati. Tanda tangan selesai.

Dokumen utama sudah dibereskan. Namun pertemuan itu belum benar-benar berakhir.

Di ujung meja, Reon dan Hans masih sibuk memeriksa beberapa dokumen tambahan.

Sesekali mereka berdiskusi mengenai jadwal implementasi proyek, target distribusi, hingga laporan yang harus dikirim minggu depan.

Sementara itu... Evelyn duduk diam. Dan Loren juga duduk diam. Berhadapan. Tepat.

Berhadapan.

"..."

"..."

Untuk beberapa detik suasana terasa sangat canggung.

Evelyn menatap gelas air di depannya. Lalu menatap meja.

Lalu menatap lukisan di dinding. Lalu menatap gelas lagi.

Dalam hati gadis itu mulai

panik.

'Gue ngomong apa ya?'

'Cuacanya bagus?'

'Nggak. Kita lagi di dalam ruangan.'

'Bapak udah punya pacar?'

'ANJIR JANGAN.'

'Bapak kerja apa?'

Dia hampir menampar

dirinya sendiri. Ya jelas kerja.

Orang pemilik Loren Holdings.

Untung semua itu hanya terjadi di dalam kepalanya.

Kalau sampai keluar mulut, mungkin Reon langsung pensiun dini.

Seolah menyadari

kepanikan yang terpancar jelas dari wajah Evelyn, Loren akhirnya membuka suara.

"Bagaimana kuliahmu?"

Evelyn langsung menoleh. "Oh. Aman terkendali."

alis. Loren mengangkat sebelah

"Benarkah?"

"Ya..." Evelyn tersenyum kering. "Kalau definisi aman itu tugas numpuk sampai kasur nggak kelihatan."

Sudut bibir Loren sedikit terangkat. "Jadi cukup sibuk."

"Banget." Evelyn menghela napas. "Saya kadang masih bingung. Mengelola perusahaan sambil kuliah?"

Evelyn langsung menunjuk Loren. "Nah itu. Tepat sekali. Kadang saya bangun pagi dan mikir..."

Dia menepuk meja pelan. ""Hari ini gue mahasiswa atau CEO sih?'"

Loren tertawa kecil. Namun cukup membuat Hans yang sedang membaca dokumen hampir salah membalik halaman.

Sejak kapan bosnya tertawa saat rapat? Loren menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kau cukup berbeda dari yang saya bayangkan."

Evelyn berkedip.

"Maksudnya?"

"Saya mengira pemimpin muda biasanya berusaha terlihat sempurna. Ego tinggi. Dan terlalu percaya diri."

Evelyn langsung menunjuk dirinya sendiri. "Oh, kalau itu saya gagal total."

Kali ini Loren benar-benar tersenyum. Entah kenapa berbicara dengan gadis ini terasa lebih santai dibanding kebanyakan pebisnis yang pernah ia temui.

Tidak dibuat-buat. Tidak penuh topeng. Kadang terlalu jujur malah. Beberapa menit kemudian... Hans akhirnya menutup map terakhir. "Selesai, Tuan."

Di sisi lain Reon juga mengangguk. "Dokumen tambahan sudah beres."

Evelyn yang mendengar itu langsung merasa lega.

Alhamdulillah.

Pulang.

Kasur.

Tidur.

Itulah tiga hal yang memenuhi pikirannya saat ini. Gadis itu berdiri dari kursinya.

"Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih atas waktunya."

Loren ikut berdiri sebagai bentuk sopan santun. "Sama-sama."

Namun tepat saat Evelyn

hendak melangkah... Petaka datang.

Kakinya sedikit tremor.

Mungkin karena terlalu lama duduk. Mungkin karena gugup.

Mungkin karena alam semesta memang suka mempermalukannya.

"Kya-"

Kesrek.

Kakinya terkilir. Dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam sepersekian detik.

Evelyn hanya sempat berpikir satu hal. 'Mati gue'.

BRUK.

Tubuhnya jatuh. Tepat. Ke arah Loren. Ruangan mendadak sunyi. Sangat sunyi. Hans membeku. Reon membeku.

Bahkan pelayan yang baru masuk membawa minuman ikut membeku.bSedangkan Evelyn...

Membeku paling parah.

Karena saat membuka mata...

Dia menyadari satu fakta mengerikan.

Tangannya mencengkeram jas Loren.bDan salah satu tangan Loren sedang menahan pinggangnya agar tidak jatuh.

"..."

"..."

Otak Evelyn langsung kosong. Kemudian penuh lagi. Lalu kosong lagi.

'ANJIR. ANJIR. MALU BANGET.'

Buru-buru dia berdiri tegak.

Wajahnya sudah merah sampai telinga.

"Maaf!"

"Maaf banget!"

"Itu tadi kecelakaan!"

"Saya nggak sengaja!"

"Serius nggak sengaja!"

Belum sempat Loren menjawab. Evelyn sudah mundur tiga langkah. Lalu empat langkah. Lalu berbalik. Dan kabur. Benar-benar kabur. Pintu hampir jadi korban karena dibuka terlalu cepat.

"NONA EVELYN!" Reon langsung berdiri.

Pria itu memijat pelipisnya.

Kemudian membungkuk sopan.

"Mohon maaf, Tuan Loren. Nona kami memang..."

Reon berhenti sejenak.

Mencari kata yang sopan. "... sedikit ceroboh."

Sedikit?

Hans merasa itu definisi yang sangat murah hati.

"Saya akan menyusulnya." Setelah itu Reon ikut pergi.

Tinggallah Loren dan Hans di dalam ruangan. Sunyi.

Beberapa detik berlalu. Hans melirik atasannya. Lalu melirik lagi.

Kemudian matanya membesar.

"Tuan..."

Loren menoleh.

"Ada apa?"

Hans menunjuk pelan.

"Anda... baik-baik saja?"

Loren mengernyit. "Kenapa?"

Hans menelan ludah. Karena untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun bekerja... Ia melihat telinga atasannya sedikit merah.

Merah. Tipis memang. Tapi jelas terlihat. Hans hampir mengira dirinya berhalusinasi.

Loren segera menyadari apa yang dimaksud sekretarisnya.

Wajahnya langsung kembali datar. Sedatar tembok beton.

"Hans."

"Ya, Tuan?"

"Kita kembali."

Hanya itu. Loren berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Hans yang masih berdiri bengong. Pria itu menatap punggung atasannya. Lalu mengingat kejadian beberapa menit lalu. Kemudian mengingat telinga merah itu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Hans merasa dunia bisnis jauh lebih menarik daripada yang ia kira.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!