Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCU
Pagi hari di kediaman Antasena dimulai tanpa ada kemewahan yang santai. Tepat jam 8 mereka sudah berkumpul diruangan.. Ruang tunggu bernuansa putih bersih itu terasa dingin, dilengkapi dengan aroma antiseptik yang tajam, sangat kontras dengan kemegahan ruang makan malam kemarin. Sepuluh pria yang tersisa berdiri tegak, namun formasi mereka tampak sedikit tegang setelah menyadari beberapa wajah yang tadi malam ikut makan bersama kini sudah tidak ada lagi di tempat. Saringan tak kasat mata dari ruang monitor ternyata sudah memakan korban.
Namun kali ini pemeriksaan medis... Sebuah tes yang mutlak untuk klan tua seperti Antasena yang sangat menjaga kemurnian dan kualitas keturunan mereka. Ya satu persatu kandidat memasuki kamar itu. Sebuah pintu kayu tebal terbuka secara bergantian, menelan para peserta satu demi satu ke dalam sebuah ruangan periksa yang dipenuhi peralatan medis modern.
Di dalam sudah ada 1 orang petugas medis wanita. Dokter wanita itu mengenakan jas putih khasnya, duduk di balik meja periksa dengan tatapan mata yang sangat profesional, dingin, dan tidak menunjukkan ketertarikan personal sama sekali terhadap para pria kekar yang masuk.
Begitu giliran kandidat pertama masuk, sang dokter langsung memberikan instruksi tanpa basa-basi.
"silahkan buka pakaian anda," kata wanita itu sambil menyiapkan beberapa alat ukur dan stetoskop di atas meja.
Mendengar perintah yang begitu blak-blakan, kandidat nomor satu yang memiliki postur tinggi besar itu mendadak gugup. Wajahnya merona merah saat tangan dan jemarinya tertahan di kancing kemejanya. "maaf nona... apa perlu seperti ini?" tanyanya dengan suara agak bergetar, merasa harga dirinya sedikit terusik harus bertelanjang di depan seorang wanita asing.
Mendengar pertanyaan ragu-ragu itu, dokter wanita itu justru terkekeh pelan dengan nada yang sangat datar, seolah sudah ribuan kali menghadapi kepanikan pria di ruangannya.
"hahah kamu tak perlu hawatir," ujarnya sambil membalik lembaran dokumen medis di hadapannya. "aku sudah banyak melihat bentuk lelaki bahkan lebih banyak dari jumlah keluarga kalian."
Bagi seorang dokter spesialis yang disewa khusus oleh klan konglomerat, tubuh manusia hanyalah susunan anatomi, daging, dan tulang, bukan objek yang perlu dirasuki rasa canggung.
Mendengar ketegasan sang dokter, dengan mata terpejam kandidat no 1 itu pun melepaskan semuanya.. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya hingga tanpa sehelai benang pun, berdiri dengan kepasrahan total di bawah sorot lampu ruang periksa. Dokter melihat dan mengecek semuanya juga melakukan pengukuran.. Mulai dari tekanan darah, detak jantung, persentase lemak tubuh, hingga pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan tidak ada penyakit genetik atau kecacatan tersembunyi yang bisa merusak garis keturunan Antasena.
Setelah seluruh proses pengukuran fisik luar selesai, dokter itu kembali ke mejanya. la mengambil sesuatu dari laci, lalu dokter itu pun menyerahkan 1 botol plastik transparan berukuran kecil ke tangan kandidat yang masih canggung tersebut.
"kami perlu sperma mau untuk contoh," kata dokter dengan nada yang sangat santai, seolah sedang meminta sampel darah biasa. Contoh tersebut sangat krusial bagi laboratorium internal Antasena untuk menganalisis kualitas sel, motilitas, dan kesuburan calon menantu mereka.
Kandidat itu memandangi botol plastik kosong di tangannya dengan wajah yang semakin linglung. "gimana ini dok..." kata kandidat itu, kebingungan bagaimana harus melakukan tindakan se-pribadi itu di dalam sebuah fasilitas medis yang asing dan menegangkan.
"ya pikir sendiri... aku sibuk," kata dokter..
Dokter wanita itu langsung mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer, mulai mengetikkan data hasil pengukuran fisik luar yang baru saja ia lakukan. Si dokter tadi tahu bahwa dia bakal diminta bantuan dengan berbagai alasan oleh para kandidat pria yang canggung—mulai dari meminta privasi lebih, bantuan psikologis, hingga alasan konyol lainnya. Makanya dia pasang tameng duluan dengan bersikap sangat tidak acuh dan tegas, menutup segala celah kompromi bagi siapa pun yang masuk ke ruangannya.