Karena memiliki masalah keluarga yang cukup rumit, membuat Ranaya melampiaskan hidupnya di lantai disko. Motonya: Boleh nakal, asal tahu batas. Sayangnya, malam itu, batasnya benar-benar terlewati. Sebuah kecelakaan brutal membuat tubuhnya koma, sementara rohnya malah asyik gentayangan!
Sialnya, jadi arwah itu enggak segampang di film-film. Niat hati melompat elegan masuk kembali ke tubuhnya, Ranaya malah nyungsep di kolong ranjang. Masalah bertambah pelik ketika ia tau apa penyebab kecelakaan yang menimpanya. Ternyata ada udang di balik bakwan.
Berbekal status hantu amatiran dan bantuan seorang cowok indigo yang super cuek bebek, Ranaya harus menyelamatkan nyawanya sendiri. Kalau gagal? Ya wassalam, siap-siap saja jadi Kuntilanak Gen-Z selamanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan
Setelah menyaksikan semua kegilaan yang terjadi di apartemen Tommy, Ranaya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Lagi pula Tania sudah pergi setelah ia puas mencaci maki Tommy dan mendaratkan satu tamparan yang sangat keras di pipi pria itu.
Tadinya, Ranaya mau mengikuti ke mana Tania akan pergi. Tapi ia mengurungkan niatnya, karena entah kenapa Ranaya merasa penglihatannya mulai kabur, seperti orang yang akan pingsan.
****
Rumah Sakit Atmaja
Pagi hari, saat sinar mentari mulai masuk ke dalam ruang rawat Ranaya melalui jendela yang gordennya memang sengaja dibuka oleh Agatha. Sebuah gerakan kecil dari tangan Ranaya berhasil mengubah suasana ruangan, Agatha dan Cassandra saling menatap, seolah-olah ingin mengonfirmasi kalau mereka berdua tidak salah lihat.
"Jari Ranaya bergerak, Tan!" ucap Agatha. Ia menekan tombol di samping ranjang untuk memanggil dokter agar bisa memeriksa keadaan Ranaya. Apakah dia sudah menunjukkan perkembangan atau memang Agatha dan Cassandra yang salah lihat?
Sementara itu, sosok Ranaya melayang menembus pintu ruang rawat Arka. Ia benar-benar menyempatkan diri untuk mampir ke sana terlebih dulu, hanya ingin melihat apakah pria itu sudah bangun atau belum.
"Dari mana aja?" tanya Arka yang sudah bangun sejak setengah jam yang lalu. Pria itu duduk bersandar, infus di tangannya masih terpasang dan cairannya sisa seperempat. Kata dokter setelah cairannya habis, Arka boleh pulang.
Ranaya yang entah kenapa kini merasa lemas dan kepalanya pusing, mendekat. Wajahnya yang memang pucat, terlihat lebih pucat lagi dari biasanya. "Gue habis investigasi," jawab gadis itu pelan.
"Investigasi?" tanya Arka kebingungan, tidak paham ke mana arah jawaban Ranaya. Ia menatap wajah pucat Ranaya yang tidak seperti biasa. "Lu enggak apa-apa, kan?"
Pria itu jelas terlihat khawatir.
Ranaya menggeleng. "Gue ngerasa pusing dan lemas. Pandangan gue juga kabur. Emangnya setan bisa pingsan, ya?"
Arka diam sejenak. Memikirkan sesuatu yang entah benar atau tidak. "Investigasi itu, maksud lu apa? Lu kenapa? Habis dari mana?" tanya Arka, semua yang ada di pikirannya langsung ia keluarkan.
"Gue...," ucapan Ranaya terhenti saat penglihatannya kembali kabur dan kali ini mulai gelap. Gadis itu melayang semakin mendekat ke arah Arka sembari memejamkan matanya. "Gue... kayaknya mau pingsan—"
Brukk....
Tubuh Ranaya jatuh tepat ke dalam pelukan Arka yang spontan menangkap tubuhnya, membuat Arka meringis menahan sakit karena jarum infusnya tertarik.
"Ranaya... Hei...," Arka menggoyangkan tubuh gadis itu, tapi Ranaya tidak memberikan respons apa pun. Matanya terpejam rapat dengan wajah yang semakin pucat dan perlahan tubuhnya mulai terlihat memudar.
Menyadari kalau dugaannya benar. Arka mengeratkan pelukannya, bukan modus, tapi sebagai pelukan terakhir dan perpisahan yang mungkin tidak akan pernah bisa ia lakukan lagi sepanjang hidupnya. "Hidup lebih bahagia, ya, Ranaya. Terima kasih udah mampir ke hidup gue."
Kini, tubuh Ranaya tak lagi berada dalam pelukan Arka. Ia menghilang tanpa jejak, meninggalkan perasaan sedih yang entah mengapa menyesakkan dada Arka. Pria itu terpejam, ia tidak pernah menyangka kalau hari yang Ranaya nantikan selama ini justru akan menjadi hari yang menyakitkan juga baginya.
Tidak ada lagi yang akan mengikutinya sepanjang hari, tidak ada lagi yang akan bicara sembarangan dengan gaya narsis yang membuat Arka terpaksa menahan dan menyembunyikan senyuman, dan tidak ada lagi yang mampu membuat jantung Arka berdebar kencang tak karuan.
*
*
*
Di dalam kamar rawat Ranaya, Agatha dan Cassandra saling memeluk penuh haru ketika melihat Ranaya mulai membuka mata. Tangis keduanya pecah, saat dokter mengabarkan kalau Ranaya benar-benar sudah siuman dan semuanya baik-baik saja. Hanya saja Ranaya masih linglung dan mungkin belum bisa banyak bicara. Karena masih dalam masa pemulihan.
"Sayang." Cassandra mengusap pelan kepala Ranaya, lalu mendaratkan kecupan hangat di keningnya. Wanita itu terlihat benar-benar bahagia. Sampai air matanya terus menetes.
"Ma...," panggil Ranaya, suaranya pelan dan serak. Ia menatap mamanya yang menangis bahagia. Mengira kalau wanita itu menangis karena sedih.
"Jangan nangis." Ranaya menggeleng. Dia tidak suka melihat mamanya menangis seperti ini.
"Mama nangis karena bahagia, Sayang." Cassandra menjelaskan, ia juga menyeka air matanya, tidak ingin putrinya salah paham lagi. Cassandra mengecup punggung tangan Ranaya, ia tidak tahu lagi harus bagaimana menunjukkan rasa bahagianya.
Ranaya tersenyum samar, pandangannya kini tertuju ke arah Agatha yang berdiri tepat di sampingnya mamanya.
"Tha," lirih Ranaya. Ia memejamkan matanya saat bayangan akan kejadian-kejadian sebelum kecelakaan terputar di kepalanya, seperti potongan film.
lnjut kk, aku makin penasaran, ditunggu bab selanjutnya nnti malem
🏃♀️