Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: DUA DETAK, SATU NAMA
Pukul 02.17 dini hari.
Mesin CTG di sebelah kiriku berbunyi semakin cepat. Seratus enam puluh. Seratus enam puluh dua. Bukan detakku. Itu detak mereka yang panik karena aku panik.
"Tekanan darahnya naik lagi, Dok! 150/95!" suara suster jaga terdengar setengah berlari.
Arga langsung berdiri. Luna yang dari tadi tertidur di sofa juga langsung kebangun.
"Sinta? Sinta kamu kenapa? Sakit lagi?" Arga memegang tanganku erat. Tangannya dingin.
Aku tidak menjawab. Sakit yang tadi sudah mereda, sekarang datang lagi, tapi beda. Kalau tadi sakitnya seperti ditarik-tarik dari dalam, sekarang sakitnya seperti ada yang mau mendorong keluar paksa. Perutku mengeras seperti batu, kencang sekali, sampai aku tidak bisa bernapas.
Luna sudah di sisi kananku, memegang gelang emas putih di pergelangan tanganku. Gelang bertuliskan KELVIN JR - DARI PAPA KELVIN itu terasa panas.
"Dokter! Dokter tolong!" Luna berteriak.
Pintu UGD terbuka. Dokter Mira masuk dengan jas yang belum sempat dikancing sempurna. Di belakangnya ada dua suster lagi mendorong alat USG portabel.
"Tenang, semuanya tenang. Sinta, tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang. Lihat saya," Dokter Mira menatap mataku.
Aku mencoba menarik napas. Bau obat dan bau keringatku sendiri bercampur.
Dokter Mira mengoleskan gel dingin di perutku yang besar. Layar USG menyala.
Di sana, dua bayangan kecil itu masih ada. Masih bergerak.
"Detak jantung janin satu masih bagus, 155. Janin dua 148. Bagus. Keduanya masih bertahan," Dokter Mira berkata, tapi keningnya berkerut. "Tapi rahim kamu kontraksi terus-menerus. Ini kontraksi tanpa jeda. Ini yang bikin sakit luar biasa itu."
"Kenapa bisa gitu, Dok?" Arga bertanya dengan suara serak.
Dokter Mira melihat hasil lab di papan. "Rahim petarung, Arga. Saya sudah bilang dari awal. Rahim Sinta ini pernah keguguran tiga kali. Dindingnya sudah banyak luka. Sekarang dia harus menahan dua janin dengan dua selaput ketuban yang berbeda. Beban nya dua kali lipat. Makanya dia protes."
"Terus harus gimana, Dok?"
"Kita harus hentikan kontraksinya sekarang juga. Kalau tidak, ketuban bisa pecah dini. Di usia 29 minggu, kalau ketuban pecah, kita harus lahirkan. Dan itu terlalu cepat."
Suster menyuntikkan cairan bening lewat infusku. Rasanya dingin menjalar dari tangan sampai ke bahu.
"Ini obat penghilang kontraksi. Efeknya bikin jantung berdebar, tangan gemetar, jangan kaget ya, Sinta."
Benar saja. Tidak sampai lima menit, jantungku berdegup kencang sekali. Tanganku gemetar. Tapi ajaibnya, perutku yang tadi keras seperti batu, perlahan melunak. Rasa tarikan itu menghilang.
Aku bisa bernapas lagi.
Arga Jr menendang pelan. Seperti bilang, "Terima kasih, Ibu."
Kelvin Jr menyusul, tendangannya lebih lembut dari biasanya. Seperti bilang, "Maaf ya, Bu, bikin sakit."
Aku menangis. Bukan karena sakit. Karena lega.
Luna mengusap air mataku. "Udah, udah. Pinter. Dua-duanya pinter."
Dokter Mira mematikan USG. "Untuk malam ini kita tahan dulu. Sinta harus bed rest total. Tidak boleh turun dari ranjang sama sekali. Tidak boleh mengejan. Tidak boleh stres. Arga, Luna, tolong jaga jangan sampai dia banyak pikiran. Pikiran itu memicu kontraksi nomor satu."
Arga mengangguk cepat. "Siap, Dok. Saya di sini terus."
"Tapi ada satu hal lagi yang harus kalian putuskan malam ini juga," Dokter Mira mengambil kursi dan duduk sejajar dengan kami bertiga.
Suasana yang tadinya lega, langsung tegang lagi.
"Apa, Dok?" tanyaku pelan.
"Soal surat pernyataan nama. Saya butuh kejelasan. Karena ini kehamilan kembar beda ayah. Secara medis ini heteropaternal superfecundation. Jarang sekali, tapi bisa terjadi. Satu sel telur dibuahi Arga, satu sel telur lain dibuahi Kelvin. Dua ayah biologis, satu rahim."
Aku menunduk. Inilah rahasia yang selama ini aku simpan. Rahasia yang bikin aku dan Luna dulu bermusuhan.
Luna menggenggam tanganku lebih erat. "Udah gak apa-apa, Sin. Sekarang kita udah gak rebutan warisan lagi. Ceritain aja."
Aku menarik napas. "Jadi... waktu itu... aku..."
Arga memotong, "Lun, Sin, gak usah dibahas sekarang. Yang penting anaknya selamat dulu."
Dokter Mira menggeleng. "Justru harus sekarang, Arga. Karena kalau sesuatu terjadi malam ini dan kita harus operasi darurat sesar, saya harus tulis di rekam medis dan akta lahir sementara, siapa ayah biologis dari masing-masing bayi. Ini aturan rumah sakit. Tidak bisa ditunda."
Ruangan itu hening. Hanya suara mesin detak jantung.
Seratus lima puluh. Seratus empat puluh tujuh.
Dua detak yang setia.
Akhirnya aku bicara, dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Bayi yang di kiri, yang detaknya 155, yang lebih aktif... itu Arga Jr. Anak kandung Arga."
Aku mengelus perut kiri bawahku.
"Bayi yang di kanan, yang detaknya 148, yang lebih kalem... itu Kelvin Jr. Anak kandung Kelvin. Anak mendiang suami Luna."
Luna menangis. Bukan tangis sedih. Tangis lega karena aku akhirnya jujur tanpa dipaksa.
Arga terdiam lama. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak aku duga.
Dia membungkuk, mencium perut kananku, tempat Kelvin Jr berada.
"Terima kasih ya, Kelvin Jr, sudah jagain ibu kamu dan saudara kamu di dalam," bisiknya. "Papa Arga di sini. Papa Arga akan jadi papa buat kamu berdua."
Saat itu juga, aku merasakan tendangan paling keras malam ini. Bukan dari satu bayi, tapi dari dua bayi bersamaan. Seolah mereka berdua high-five di dalam.
Dokter Mira tersenyum untuk pertama kalinya malam itu. "Oke. Saya catat. Janin A - Arga Jr - ayah biologis Arga. Janin B - Kelvin Jr - ayah biologis Kelvin (alm). Ibu kandung Sinta. Saya akan tulis seperti itu. Dan untuk akta lahir nanti, nama ayah di kartu keluarga bisa Arga semua, tidak masalah secara hukum, karena Arga suami sah Sinta sekarang. Tapi secara medis, kita jujur."
"Terima kasih, Dok," kataku.
Dokter Mira berdiri. "Sekarang tidur. Kalian bertiga tidur di sini. Saya tidak mau ada kontraksi lagi. Kalau sampai jam 5 pagi kontraksi lagi, kita tidak ada pilihan selain rujuk ke ruang operasi untuk dijahit mulut rahimnya. Mengerti?"
Mengerti.
Lampu ruangan diredupkan. Suster keluar.
Tinggal kami bertiga. Aku di tengah ranjang. Arga di kursi kiri, memegang tangan kiriku. Luna di kursi kanan, memegang tangan kananku. Dan di atas perutku, dua tangan mereka bertemu.
Malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidur tanpa mimpi buruk tentang keguguran. Aku tidur dengan mimpi tentang Bab 40 yang tadi aku lihat.
Di mimpi itu, aku tidak melahirkan di UGD mewah ini. Aku melahirkan di rumah panggung sederhana, dengan kasur tipis. Tidak ada mesin canggih. Hanya ada Arga di kiri, Luna di kanan, Opa Oma di kaki, dan dukun beranak yang tersenyum.
Dan di antara kakiku, dua bayi laki-laki lahir bersamaan. Tangisnya bersahutan. Yang satu lahir duluan, lebih besar, mukanya mirip Arga. Yang satu lahir dua menit kemudian, lebih kecil, tapi matanya mirip Kelvin.
Dua-duanya aku peluk. Dua-duanya memanggilku Ibu.
Aku terbangun jam 4.55 pagi karena ada cairan hangat mengalir di antara pahaku.
Bukan darah.
Bukan air kencing.
Bening. Banyak.
Ketubanku pecah.
Aku membangunkan Arga dan Luna dengan panik. "Ga... Lun... pecah..."
Arga langsung pencet bel darurat. Luna langsung nangis.
Dokter Mira masuk berlari. Melihat cairan itu, wajahnya berubah.
"Oke. Tidak ada waktu lagi. Ini ketuban Janin B yang pecah. Kelvin Jr ketubannya pecah. Kita harus operasi sekarang. Siapkan ruang operasi! Panggil dr. Anestesi!"
Aku di dorong dengan ranjang. Arga berlari di sebelah kiri, Luna di sebelah kanan. Mereka berdua memegang tanganku sampai depan pintu ruang operasi yang tidak boleh mereka masuki.
Sebelum pintu tertutup, aku sempat berteriak, "Ga! Kalau harus pilih salah satu! Selamatkan Kelvin Jr dulu! Dia yang ketubannya pecah!"
Arga menggeleng sambil menangis, "Enggak! Dua-duanya harus selamat! Kamu juga harus selamat! Sinta! Rahim petarung gak boleh kalah di Bab 30!"
Pintu operasi tertutup.
Lampu putih menyilaukan mata.
Dokter Mira berkata, "Sinta, kita akan bius setengah badan. Kamu akan tetap sadar. Kamu akan dengar tangisan mereka lahir."
mampir juga di karyaku yah😊