Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Amira mengikuti dokter masuk ke ruang pemeriksaan.
Ia masih belum mengerti mengapa pemeriksaan tambahan itu diperlukan. Setahunya, kondisi tubuhnya setelah donor darah cukup baik. Sedikit lemas memang masih terasa, tetapi tidak sampai membuatnya khawatir.
Dokter mempersilakan Amira duduk.
"Tenang saja, Nona Amira. Pemeriksaan ini tidak akan membuat Anda kesulitan."
Amira mengangguk.
"Dok, sebenarnya ada apa? Tadi Ibu terlihat sangat cemas."
Dokter membuka berkas yang dibawanya.
"Kami menemukan adanya perbedaan pada beberapa data lama yang tercatat dalam berkas keluarga pasien."
Amira mengernyit. "Data apa?"
"Data biologis dan riwayat keluarga."
Amira semakin bingung. "Maksudnya?"
Dokter tidak langsung menjawab. "Kami tidak ingin membuat kesimpulan hanya berdasarkan satu pemeriksaan. Karena itu, kami membutuhkan pemeriksaan tambahan."
"Apakah ini berkaitan dengan Papi?"
"Iya."
Amira menatap dokter dengan lebih serius. "Apakah kondisi Papi memburuk?"
"Tidak. Justru kondisi beliau mulai membaik setelah transfusi."
Amira mengembuskan napas lega. "Lalu kenapa harus ada pemeriksaan seperti ini?"
Dokter menutup berkasnya. "Karena ada data yang tidak sepenuhnya sesuai. Kami ingin memastikan semuanya sebelum memberikan informasi kepada keluarga."
Amira terdiam. "Kalau begitu, lakukan saja, Dok."
Dokter mengangguk. Pemeriksaan dilakukan beberapa saat kemudian. Amira hanya diminta memberikan sampel tambahan. Setelah semuanya selesai, dokter menyimpan hasilnya dan meminta Amira menunggu.
Ia tidak tahu bahwa di balik pintu ruang pemeriksaan itu, sebuah pertanyaan besar sedang menunggu jawaban.
Di luar ruangan, Ambar semakin gelisah. Alika masih duduk di sampingnya.
"Mami."
Ambar menoleh. "Apa?"
"Kenapa pemeriksaan Amira sampai selama itu?"
Ambar menggeleng. "Mami juga tidak tahu."
Alika memandang ibunya. "Tadi dokter bilang ada data yang berbeda."
"Sudah, Alika." Nada suara Ambar membuat Alika terdiam.
Biasanya ibunya memang mudah tersinggung ketika membicarakan Amira. Tetapi kali ini ada sesuatu yang lain. Bukan kebencian tapi kegelisahan yang sulit disembunyikan.
"Mami benar-benar aneh sejak semalam."
Ambar tidak menjawab. Alika mengusap wajahnya. "Aku cuma ingin tahu apa yang terjadi."
"Kau tidak perlu tahu semuanya."
"Kenapa?"
Ambar akhirnya menatap putrinya. "Karena ada hal-hal dalam hidup yang lebih baik tidak pernah dibicarakan."
Alika mengernyit. "Termasuk tentang aku?"
Pertanyaan itu membuat Ambar membeku. Alika sendiri tampak terkejut dengan pertanyaannya.
"Kenapa Mami diam?"
Ambar memalingkan wajah. "Jangan bertanya macam-macam."
Alika hendak kembali bertanya ketika suara roda kursi terdengar dari arah belakang.
Kaizar mendekat. Sejak tadi ia tidak ikut campur dalam percakapan mereka. Tetapi cukup banyak yang sudah ia dengar.
"Kalau memang tidak ada yang perlu dibicarakan, seharusnya tidak ada alasan untuk terlihat gelisah."
Ambar langsung menoleh. "Tuan Kaizar..."
Kaizar menghentikan kursi rodanya. "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."
Alika menatap Kaizar, kemudian ibunya. "Mami memang terlihat gelisah."
Ambar berdiri. "Aku ingin menemui dokter."
Ia hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika seorang perawat memanggil. "Ibu Ambar?"
Ambar menoleh. "Ya?"
"Dokter meminta Ibu menunggu. Beliau akan segera menemui keluarga."
Jantung Ambar berdegup semakin cepat. "Baik."
Perawat pergi. Alika kembali duduk. "Kenapa dokter ingin menemui keluarga?"
Ambar tidak menjawab. Kaizar memperhatikan wanita itu dengan tatapan tenang. Kali ini ia tidak bertanya lagi. Sebab ada sesuatu yang mulai tersusun dalam pikirannya.
Ambar takut bukan karena Ganjar sedang kritis.
Ganjar sudah membaik. Lalu apa yang sebenarnya membuat wanita itu begitu ketakutan?
Hampir dua puluh menit kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Amira sudah selesai diperiksa."
Ambar segera berdiri. "Bagaimana hasilnya?"
Dokter memandang Ambar, lalu Alika dan Kaizar. "Ada beberapa hal yang perlu kami jelaskan."
Ambar merasa dadanya sesak. "Silakan, Dok."
Dokter membuka berkas. "Untuk transfusi, kondisi Amira tidak bermasalah. Donornya dapat digunakan dan tubuhnya juga dalam kondisi cukup baik."
Ambar mengangguk. "Syukurlah."
Dokter kemudian melanjutkan. "Tetapi mengenai data keluarga, kami menemukan ketidaksesuaian yang tidak bisa kami abaikan."
Alika mengerutkan kening. "Ketidaksesuaian apa?"
Dokter memandangnya. "Karena menyangkut hubungan biologis, kami tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dari pemeriksaan darah."
Ambar langsung pucat. Kaizar memperhatikan perubahan wajahnya.
"Jadi apa yang harus dilakukan?" tanya Kaizar.
Dokter menjawab tenang. "Jika keluarga ingin memastikan hubungan biologis secara akurat, pemeriksaan yang tepat adalah tes DNA."
Alika menatap dokter. "Tes DNA?"
"Iya."
Ambar menggenggam ujung bajunya. "Untuk siapa?"
Dokter melihat berkas. "Untuk memastikan hubungan biologis antara anggota keluarga yang bersangkutan."
Alika mulai merasa tidak nyaman. "Maksud Dokter... antara siapa dan siapa?"
Dokter hendak menjawab. Namun Ambar tiba-tiba berkata, "Jangan."
Semua orang menoleh. Alika paling terkejut. "Mami?"
Ambar sadar bahwa dirinya baru saja kehilangan kendali.
Dokter menatapnya. "Ibu Ambar?"
Ambar menggeleng cepat. "Tidak perlu."
Alika berdiri. "Mami, sebenarnya ada apa?"
"Alika, kita pulang saja."
"Papi masih di sini."
"Kita bisa menunggu sampai dia sadar."
"Tapi kenapa Mami takut dengan tes DNA?"
Pertanyaan itu membuat lorong rumah sakit terasa sunyi. Kaizar tidak bergerak. Amira yang baru keluar dari ruang pemeriksaan juga berhenti beberapa langkah dari mereka.
Ia mendengar kalimat terakhir Alika.
"Mami takut tes DNA?"
Ambar menoleh. Wajahnya seketika berubah.
Amira berjalan mendekat.
"Bu, ada apa?"
Tidak ada jawaban. Amira memandang dokter.
"Dok?"
Dokter menarik napas. "Saya rasa sebaiknya keluarga duduk terlebih dahulu."
Mereka akhirnya duduk. Amira berada di samping Kaizar. Alika duduk berhadapan dengan Ambar.
Dokter membuka berkas. "Setelah kami menemukan adanya ketidaksesuaian pada data keluarga, kami menyarankan pemeriksaan hubungan biologis agar tidak terjadi kesalahpahaman."
Amira mengerutkan kening. "Hubungan biologis?"
"Iya."
Alika mulai gelisah. "Hubungan biologis siapa?"
Dokter memandangnya.
"Antara Anda dan Tuan Ganjar Wijaya."
Alika membeku. Amira pun ikut terdiam.
"Kenapa harus saya?" tanya Alika lirih.
Tidak ada yang menjawab. Alika kemudian menoleh kepada Ambar.
"Mami?"
Ambar menundukkan kepala. "Mami..."
Suara Alika mulai bergetar. "Kenapa mereka harus memeriksa apakah aku anak Papi?"
Ambar tetap diam. "Jawab, Mi."
Ambar memejamkan mata. Bertahun-tahun.
Ia menjaga satu kebohongan. Menutup satu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Menyimpan sebuah kenyataan yang bahkan Ganjar sendiri tidak pernah mengetahuinya.
Selama ini ia mengira dirinya masih bisa mengendalikan semuanya. Tetapi hari ini, kebohongan itu telah menemukan celah. Dan celah itu bernama Amira.
Alika berdiri. "Mami..."
Air matanya mulai jatuh. "Aku anak Papi, kan?"
Ambar tidak sanggup menjawab. Keheningan itu sudah menjadi jawaban lalu Alika mundur selangkah.
"Tidak."
Ambar mengangkat wajah. "Alika..."
"Aku anak Papi, kan?"
Kali ini suara Alika meninggi. "Mami jawab!"
Ambar menangis. "Maaf."
Alika membeku. Hanya satu kata. Tetapi seluruh dunianya seperti runtuh setelah mendengarnya.
"Mami..."
Ambar menutup wajah. "Maafkan Mami."
Alika menggeleng berkali-kali. "Tidak."
Ia mundur. "Tidak mungkin."
Amira hanya memandang kakaknya. Ia tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti.
"Bu..." Amira menatap Ambar. "Apa maksudnya?"
Ambar menangis dalam diam. Alika menatap ibunya dengan mata penuh luka.
"Jadi selama ini..." Suaranya patah. "Selama ini aku bukan anak Papi?"
Ambar akhirnya mengangguk. Alika menutup mulutnya. Tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah.
Kaizar tetap berada di sisi Amira. Ia tidak mengatakan apa pun. Tetapi tangannya perlahan menggenggam jemari istrinya.
Amira menatap Ambar. "Kalau begitu..." Ia kesulitan melanjutkan kalimatnya. "Kalau Kak Alika bukan anak Papi..."
Amira menoleh ke arah pintu ruang perawatan tempat Ganjar masih terbaring.
"Berarti selama ini Papi membenciku karena alasan yang salah?"
Ambar menangis semakin keras. Amira tidak bergerak semua perlakuan Ganjar selama bertahun-tahun terasa memiliki arti yang berbeda.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Karena selama ini ia mengira dirinya adalah anak yang tidak pernah diinginkan. Padahal mungkin... ia hanya anak yang dibesarkan di tengah kebohongan orang lain.
Bersambung...