Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Will Go To You Like The First Snow
Day 13
"Ara, Bara sudah siap di kamarnya. Kamu jemput, terus kalian langsung ke taman, ya?"
"Oke, Kak."
Ara yang sudah selesai dirias oleh Marissa akhirnya berjalan menuju kamar Bara. Begitu pintu kamar dibuka, pandangan Ara langsung tertuju kepada Bara. Laki-laki itu sudah mengenakan tuxedo hitam yang membuat ketampanannya semakin terpancar.
Sangat tampan. Bahkan untuk beberapa detik, Ara hanya bisa terdiam sambil menatapnya.
Biru dan Yohan yang sedari tadi membantu Bara berpakaian langsung saling pandang. Keduanya terlihat puas melihat reaksi Ara sebelum akhirnya memilih keluar dan pergi ke taman terlebih dahulu.
Namun, bukan hanya Ara yang terpesona. Bara juga tampak terdiam ketika melihat Ara. Gadis itu mengenakan dress putih panjang dengan mahkota bunga yang menghiasi rambutnya. Sederhana, tetapi terlihat sangat cantik di mata Bara.
"Kamu cantik banget, Sayang."
"Kamu juga ganteng banget."
Ara kemudian menyerahkan sebuket bunga baby's breath kepada Bara. Bara menerimanya dengan tatapan penasaran.
"Sayang, kamu tahu nggak apa arti bunga ini?"
"Aku nggak paham masalah bunga. Emangnya artinya apa?"
"Cinta sejati, kemurnian, ketulusan, dan cinta abadi."
Ara tersenyum sambil memandangi bunga-bunga kecil berwarna putih itu.
"Memang biasanya bunga ini banyak digunakan untuk acara pernikahan seperti ini. Tapi aku lebih suka maknanya."
Ia menyerahkan bunga itu sepenuhnya kepada Bara.
"Dan aku pengin ngasih kamu bunga kecil berwarna putih ini."
Bara mengangguk sambil tersenyum.
"Bukannya seharusnya bunga ini kamu yang pegang, Sayang? Kenapa malah kamu kasih ke aku?"
"Aku pengin kelihatan beda aja."
Ara terkekeh.
"Nanti kalau acaranya udah selesai, kamu lempar aja ke teman-teman. Mereka pasti bakal saling rebutan buat menangkap bunga ini."
Bara mengangguk. Ia kemudian mengusap pipi Ara yang sudah dirias cukup tebal dengan lembut.
"Kita keluar sekarang, yuk? Kasihan yang lainnya. Pasti udah nunggu dari tadi."
Ara mengangguk. Ia kemudian mendorong kursi roda Bara menuju taman rumah sakit yang sudah dihias sederhana oleh Marissa dan teman-temannya.
Di sana sudah ada cukup banyak orang yang menunggu. Bukan tamu undangan seperti pada pernikahan umumnya, melainkan beberapa pasien, suster, dan dokter rumah sakit yang penasaran sekaligus ingin ikut menyaksikan kebahagiaan mereka.
Begitu kedua mempelai memasuki area altar, tepuk tangan meriah langsung terdengar. Yohan yang bertugas sebagai MC segera memulai acara. Petikan gitar Biru mengiringi suasana, sementara Yuvin memainkan piano dengan lembut.
Di sisi lain, Sora dan Marissa bertugas menaburkan bunga di sepanjang jalan yang dilalui Ara dan Bara.
...---...
"Ara Moana."
Yohan berdiri di hadapan mereka sambil memegang mikrofon.
"Apakah kamu bersedia menerima Bara Samudera sebagai seorang suami? Untuk saling memiliki dan menjaga, mulai sekarang sampai selama-lamanya, dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit, untuk saling mencintai dan menyayangi sampai maut memisahkan?"
Ara menatap Bara. Yohan melanjutkan pertanyaannya.
"Dan apakah kamu bersedia hidup bersamanya meskipun waktu yang dimilikinya mungkin tidak panjang?"
Air mata Ara mulai menggenang. Namun, ia tetap tersenyum.
"Aku, Ara Moana, bersedia menerima Bara Samudera sebagai seorang suami."
Suaranya terdengar bergetar.
"Aku akan saling memiliki dan menjaga dengannya, mulai sekarang sampai selama-lamanya. Dalam keadaan susah maupun senang, sehat maupun sakit. Aku akan mencintai dan menyayanginya sampai maut memisahkan kita."
Ara menggenggam tangan Bara semakin erat.
"Dan aku bersedia hidup bersamamu sampai maut memisahkan kita."
Bara tersenyum lebar. Ia terlihat berusaha menahan air matanya. Keduanya kemudian saling bertukar cincin yang mereka gunakan saat lamaran kemarin.
Setelah itu, Bara menarik Ara mendekat. Mereka saling memberikan kecupan lembut di hadapan para hadirin. Tepuk tangan langsung memenuhi taman rumah sakit.
Namun, beberapa orang justru sudah lebih dulu menangis. Teman-teman mereka, Biru, bahkan Marissa sudah sesenggukan sejak tadi karena tidak sanggup menahan haru melihat besarnya cinta Ara dan Bara.
"Gue udah nggak kuat, astaga, Han."
Sora mengusap air matanya.
"Dada gue sesek banget, padahal gue nggak punya asma."
"Sama, Sor."
Yohan ikut mengusap hidungnya.
"Nyesek banget rasanya. Sumpah, mereka pasangan paling menyedihkan yang pernah gue lihat."
"Kok menyedihkan, sih?"
Sora menatap Yohan.
"Janji pernikahan mereka aja kata-katanya kayak gitu. Terus kondisi Bara sekarang juga..."
Yohan langsung menundukkan kepala.
"Duh, bukan maksud gue mau ngomong yang enggak-enggak."
Sora kembali terisak. Ia benar-benar tidak tega membayangkan apa yang akan terjadi jika suatu hari Ara harus kehilangan Bara. Sampai-sampai ia hampir lupa bahwa Ara sebenarnya datang dari masa depan.
"Udah, Sor. Nangisnya ditunda dulu."
Yuvin menarik Sora dan Yohan.
"Itu Ara udah ngasih kode buat kita baris di belakang. Dia mau lempar bunga, tuh."
Mereka bertiga segera berdiri di belakang kedua mempelai. Biru ikut bergabung. Yohan, Yuvin, dan Biru bahkan mulai saling menyikut karena masing-masing ingin menjadi orang yang berhasil menangkap bunga.
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu!"
Bara melemparkan sebuket bunga baby's breath ke belakang. Bunga itu melayang di udara. Semua orang berusaha menangkapnya. Setelah saling dorong dan berebut, akhirnya Biru berhasil menangkapnya.
"Gue dapet!!!"
Biru mengangkat bunga itu tinggi-tinggi.
"Gue yang bakal nikah selanjutnya!"
Marissa, tunggu Biru sukses dulu, ya.
Bara dan Ara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Biru yang mendadak seperti anak kecil hanya karena berhasil mendapatkan bunga.
Bara kemudian menggenggam tangan istrinya.
"Istriku..."
Ara menoleh.
"Kamu udah siap buat ngabulin permintaan keduaku sekarang, kan?"
Ara yang memang sudah mempersiapkan diri untuk bernyanyi hanya mengangguk. Ia kemudian melangkah menuju panggung. Yuvin juga sudah berada di sana dan bersiap mengiringinya dengan piano.
"Udah siap, Ra?"
"Iya, Vin."
Ara menarik napas panjang.
"Kita mulai sekarang."
Alunan piano mulai terdengar. Ara menggenggam mikrofon dengan kedua tangannya. Kemudian ia mulai bernyanyi. Suaranya memenuhi taman rumah sakit.
Embun di pagi buta
Menebarkan bau basah
Detik demi detik kuhitung
Inikah saatku pergi?
Oh, Tuhan, ku cinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan kusakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta, sumpah, ku cinta
Sampai ku menutup mata
Cintaku sampai ku menutup mata
Oh, Tuhan, ku cinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan kusakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta, sumpah, ku cinta
Sampai ku menutup mata
Cintaku sampai ku menutup mata
Sampai Menutup Mata ㅡ Acha Septriasa
Lagu yang ia pilih terdengar begitu sendu, seolah-olah setiap baitnya merupakan doa yang diam-diam ia panjatkan untuk Bara.
Semakin lama, suara Ara mulai bergetar. Ia berusaha menahan tangis. Namun, dari bawah panggung, Bara sudah lebih dulu menangis.
Ia menatap Ara tanpa berkedip. Seolah-olah ingin menyimpan suara itu di dalam ingatannya untuk selamanya.
Begitu lagu selesai, Ara segera meletakkan mikrofon begitu saja. Ia turun dari panggung dan langsung menghampiri Bara. Tanpa mengatakan apa pun, Ara memeluknya erat. Bara membalas pelukan tersebut. Tangisnya semakin pecah.
Dari kejauhan, kedua orang tua Ara ternyata juga datang setelah sebelumnya diberi tahu oleh Biru. Papanya hanya sesekali mengusap sudut matanya yang mulai berair. Sementara Mamanya sudah menangis sesenggukan sejak tadi.
Papa Ara akhirnya menggenggam tangan istrinya. Ia menatap Ara dan Bara dari kejauhan.
"Biarkan anak kita bahagia dengan caranya sendiri."
Mamanya hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.
Lagipula, rekaman suara Vano juga sudah dikirim Ara kepada Papanya semalam. Setelah mendengar isi rekaman tersebut, beliau merasa sangat menyesal karena hampir memaksakan putrinya bersama seseorang yang ternyata memiliki niat buruk. Kini, ia memilih merestui hubungan Ara dan Bara.
...---...
"Terima kasih, istriku."
Bara mengusap pipi Ara.
"Sekarang tinggal ada satu permintaan lagi dariku."
Ara tersenyum.
"Apa permintaan terakhirmu, hmm?"
Bara hanya tersenyum penuh rahasia.
"Akan kuberitahu besok."
Ia mengecup kening Ara, lalu pipinya.
"Terima kasih. Terima kasih karena sudah mau menerima aku sebagai suamimu."
Ara hanya memeluk Bara semakin erat.
Namun, tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seorang wanita tua yang sedari tadi memperhatikan kebahagiaan keduanya.
Wanita itu tersenyum. Ia mengangguk beberapa kali, seolah-olah baru saja menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya.
Atau mungkin ia sedang memikirkan sebuah hadiah terbaik untuk kedua mempelai tersebut.
"Cinta kalian akan abadi."
Tatapannya beralih kepada bunga baby's breath yang digenggamnya.
"Seperti makna dari bunga ini."
Wanita tua itu kemudian meletakkan sebuket bunga baby's breath di atas sebuah bangku taman.
Setelah itu, ia berbalik. Melangkahkan kakinya perlahan menjauh dari taman.
Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Tidak ada yang tahu dari mana ia datang. Wanita tua itu sudah menghilang tanpa jejak. Yang tersisa hanya sebuket bunga kecil berwarna putih.
Seolah-olah bunga itu sengaja ditinggalkan untuk menandai sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.