Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Eliana masih mematung di balik tirai beludru tebal, matanya membelalak menatap sprei putih di atas kasur kanopi yang kini ternoda cairan merah pekat. Suasana kamar menjadi hening mencekam pasca menghilangnya sang pembunuh bayaran ke luar jendela.
Jantung Eliana berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sakit. Ketakutan yang hebat mendadak menyerang pikirannya saat menyadari situasi tempatnya berdiri sekarang.
"Aduh, gimana ini?!" jerit Eliana dalam batinnya yang panik luar biasa. Suara itu meluncur jernih dan bergetar tepat di dalam kepala Lucien. "Gue harus jelasin apa ke Lucien kalau dia tanya dari mana gue bisa tahu bakal ada penusukan?! Mana ada orang bernalar sehat yang percaya kalau gue tahu ini semua gara-gara pernah baca novel?! Bisa-bisa gue dituduh sekutu si pembunuh atau dianggap nenek sihir gila!"
Lucien yang berdiri sangat dekat dengan Eliana memetakan setiap patah kata dari jeritan batin gadis itu. Pangeran Mahkota itu memilih untuk berpura-pura tidak mendengar isi pikirannya agar tidak memicu kecurigaan lebih lanjut.
Dengan nada suara yang sengaja dibuat tenang namun sarat akan tekanan dingin, Lucien memecah keheningan.
"Kau... sudah tahu ini akan terjadi?" tanya Lucien pelan, matanya menatap tajam ke arah mata Eliana yang berkaca-kaca.
Eliana tersentak kecil, refleks menggelengkan kepalanya dengan cepat. "S-Saya... saya cuma dengar bisik-bisik dari pengawal di bawah tadi, Pangeran!" alibi Eliana panik, memasang raut polos yang dipaksakan. "Mereka bilang ada orang mencurigakan yang mengendap-endap ke arah paviliun. Makanya saya panik dan langsung lari ke sini buat ngecek!"
Di dalam hatinya, Eliana menghembuskan napas lega sekaligus cemas yang amat sangat.
"Huuuh, untung akting gue masih lumayan rapi," batin Eliana berlanjut. "Tapi lalu sekarang gimana...? Gue berhasil merubah alur! Lucien selamat dan tubuhnya gak jadi melemah gara-gara racun belati itu. Tapi masalahnya... Perdana Menteri Oberon dan Rosalie gak bakal berhenti sampai di sini! Pasti bakal ada rencana pembunuhan atau jebakan lain yang lebih gila. Gimana ya caranya biar dia tetep aman?"
Lucien menyimak seluruh kekhawatiran tulus yang bergolak di dalam hati gadis pelayan itu. Untuk pertama kalinya, Lucien merasa ada seseorang di istana ini yang benar-benar memikirkannya tanpa niat terselubung untuk memanfaatkan posisinya.
Lucien melangkah maju setengah tapak, menatap lurus ke dalam iris mata Eliana dengan binar keputusan yang bulat.
"Mulai besok... kau bekerja padaku," ucap Lucien tegas dan dingin.
"Hahh??" Eliana melongo sempurna. Wajah cantiknya memancarkan kebingungan total. "M-Maksudnya gimana, Pangeran?"
"Kau bertugas sebagai pelayan pribadi yang menempel di sisiku," jelas Lucien datar tanpa keraguan. "Lagipula... bukankah kau melihat aku mati?"
"Ehh??" Eliana mendadak tersedak ludahnya sendiri, matanya membelalak lebar seperti melihat hantu.
"Tapi kau tidak mati," potong Eliana cepat dengan suara bergetar, mencoba meluruskan kalimat berbahaya tersebut. "Pangeran... kan masih hidup dan berdiri sehat di depan saya sekarang!"
Lucien menyunggingkan senyum tipis yang amat misterius di balik kegelapan kamar, menatap Eliana yang kini terjerat makin dalam ke dalam lingkar perseteruan takhta Kerajaan Valdoria.
Keesokan paginya, langit di atas Kerajaan Valdoria diselimuti awan kelabu yang tebal. Kabar mengerikan berembus seperti angin kencang ke seluruh penjuru istana utama: Pangeran Mahkota Lucien Valdoria ditemukan tidak bernyawa di kamarnya, bersimbah darah akibat tusukan senjata tajam di perutnya.
Aula besar Istana Utama mendadak diubah menjadi tempat persemayaman. Peti mati kayu mahoni berukir emas diletakkan di tengah-tengah ruangan bertingkat, dikelilingi oleh ribuan tangkai bunga lili putih dan nyala lilin duka cita. Seluruh pejabat tinggi, bangsawan, dan ratusan pelayan berkumpul dengan pakaian serba hitam, menciptakan atmosfer pencekam yang berat dan penuh duka.
Di antara barisan pelayan yang menunduk hormat, Eliana berdiri diam di sudut aula. Wajahnya dipasang serapi mungkin dengan ekspresi sedih yang samar. Namun, saat tatapannya jatuh pada sosok 'jasad' Pangeran Mahkota yang terbaring kaku di dalam peti mati dengan kain putih menutupi sebagian dada hingga lehernya, Eliana sama sekali tidak terkejut.
"Akting Pangeran dan Kenneth bener-bener niat banget," batin Eliana santai, meski matanya berpura-pura sembap demi formalitas. "Pewarna merah dari dapur disulap jadi darah mengering, terus tubuhnya diolesi ramuan pembuat napas buatan dari tabib kepercayaan. pantesan orang-orang istana langsung percaya kalau dia beneran mati."
Di dekat peti mati, Rosalie berlutut dengan gaun duka berwarna hitam yang amat anggun. Air matanya menetes merintik-rintik di atas pipinya yang pucat. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi 'kepergian' sang tunangan di depan seluruh mata bangsawan yang menatapnya iba.
Namun, ketika Rosalie membungkuk lebih dekat untuk meletakkan setangkai bunga lili tepat di samping kepala Lucien, wajahnya tertutup oleh juntaian rambut pirangnya dari pandangan publik.
Di titik itulah, tangisan Rosalie mendadak terhenti. Bibir cantiknya menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin dan penuh kejam.
"Padahal aku tidak berencana membunuhmu secepat ini, Lucien..." berbisik Rosalie dengan suara amat halus, hanya ditujukan untuk telinga 'jasad' di hadapannya. "Tapi sayangnya... dirimu terlalu lemah dan mudah disingkirkan."
Setelah bisikan maut itu lolos dari bibirnya, Rosalie langsung menegakkan tubuhnya kembali dan meledakkan tangisan histeris yang baru, berpura-pura hampir pingsan hingga harus dipapah oleh pengawalnya.
Di sisi lain peti mati, Raja Valdoria berdiri mematung dengan tongkat kebesarannya. Wajah sang Raja tampak lesu dan dipenuhi guratan kesedihan yang rumit. Namun, bukan rasa duka mendalam atas kehilangan anak kandung yang menyiksa pikirannya, melainkan kecemasan geopolitik. Pria tua itu mengurut pelipisnya, tampak kebingungan dan kebingungan setengah mati menentukan kepada siapa takhta kerajaan ini harus diserahkan sekarang setelah calon tunggalnya 'tewas'.
Sementara itu, di sudut depan peti mati, suara isakan tangis yang benar-benar tulus pecah. Tuan Putri Althea adik perempuan Lucien berlutut sambil menggenggam tepi peti mati dengan jemarinya yang gemetar. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi kain gaun gigilnya.
"Kakak... Bangun, Kak..." ratap Althea sesenggukan, matanya merah padam oleh rasa kehilangan yang amat dalam. "Kenapa Kakak meninggalkan Althea sendirian di tempat ini...? Siapa yang bakal melindungi Althea sekarang?"
Mendengar tangisan tulus sang adik dari balik penyamaran kaku 'jasadnya', dada Lucien yang semula berdetak sangat lambat mendadak terasa dihantam pilu, sementara Eliana di ujung ruangan hanya bisa menghela napas panjang melihat betapa dalamnya kepalsuan dan ketulusan yang saling bertabrakan di aula duka tersebut.