"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Keheningan yang merayap di dalam ruangan sidang internal itu mendadak menjadi begitu pekat, menjelma laksana keabadian yang membeku. Kalimat penolakan yang meluncur dingin dari bibir Snow tak ubahnya bilah belati bertatahkan es—merobek keangkuhan takhta sekaligus membekukan aliran darah setiap insan yang menyaksikan.
Di balik pilar-pilar granit nan megah, udara seolah memadat; jawaban lugas nan getir itu menggantung di udara, mengisolasi tempat tersebut dalam duka yang teramat sunyi.
Keputusan Snow untuk menghempaskan lamaran sang Pangeran Blackwood di hadapan pasang mata Raja Alistair dan Ratu Baxeena menyisakan geming yang mencekam. Tidak ada bisik rahasia, tidak pula desah napas; yang ada hanyalah kehampaan yang meremukkan martabat sebuah keturunan.
Arthur mematung di posisi berlututnya. Semesta di dalam dadanya runtuh, menyisakan puing-puing rasa bersalah yang tak lagi bertepi. Tatapan matanya yang tajam—yang dahulu sanggup menggentarkan pertempuran—kini berbenturan dengan sepasang mata bening milik Snow yang berkilat bagaikan telaga purba: dingin, dalam, dan tak terjangkau.
Riak keputusasaan yang tiada tara menenggelamkan paras rupawannya yang pucat. Namun, alih-alih meledak dalam amarah yang membara atau mengerahkan segala dominasi kekuasaan militernya demi memaksakan kehendak, Arthur justru perlahan menganggukkan kepalanya.
Berulang kali, dengan gerakan lambat yang menyuarakan kehancuran jiwa secara mutlak.
Pria tegap itu menunduk pasrah. Dahinya hampir menyentuh dinginnya marmer yang tak berjiwa. Dialah sang pesakitan, dialah muara dari segala ratap dan sembilu yang melapisi perjalanan hidup wanita itu. Ia menerima penolakan tersebut bukan sekadar sebagai balasan atas kata-katanya yang lancang, melainkan sebagai hukuman yang layak diusungnya hingga ajal menjemput.
Arthur berikrar dalam keheningan sanubarinya bahwa ia tidak akan pernah lagi memaksakan kehendak atau membelenggu Snow dalam jerat kekuasaannya.
Oek! Oekkk!
Dari celah lorong Sayap Barat di lantai dua, jeritan tangis nyaring Pangeran Ocean mendadak pecah menggema. Suara itu meluncur deras, membelah lengang yang kaku, merambati anak-anak tangga marmer yang dingin dan menusuk aula sidang.
Tangisan bayi mungil itu sarat akan rasa lapar, ketakutan, dan kerinduan teramat sangat akan kehangatan dekapan seorang ibu—sebuah suara yang serta-merta merobek atmosfer ketegangan gila yang membakar ruangan.
Tanpa mengindahkan pandangan terperanjat dari Raja Alistair maupun tatapan menyelidik milik Ratu Baxeena, Snow langsung berbalik.
Dengan gerak gerak anggun nan terburu-buru, ia menaiki satu demi satu anak tangga menuju lantai atas. Gaun sederhananya berkibar tipis disapu angin malam, menyimbolkan naluri keibuannya yang meluap tajam, menghempaskan seluruh gengsi, amarah, dan dendam kesumat yang bertolak belakang di dalam dadanya. Baginya saat ini, hanya tangisan darah dagingnya yang berhak menguasai Hatinya.
Di saat yang bersamaan, di lorong pelataran luar yang remang disorot lampu-lampu lentera dinding, Savea sedang diseret secara paksa oleh empat pengawal kerajaan bersenjata lengkap. Keadaan jiwa wanita itu telah porak-poranda, tenggelam dalam samudera ilusi dan kegilaan yang mengerikan.
Rambut pirangnya yang semula tertata rapi kini terurai acak-acakan menutupi parasnya yang tirus. Bathrobe tebal berhias sulaman emas yang dikenakannya melorot pasrah di satu bahu, sementara sepasang matanya membelalak liar, memancarkan kelesuan jiwa yang terbakar oleh dendam yang tak kunjung padam.
"Kau tidak bisa menceraikanku, Arthur!" jerit Savea histeris, suaranya melengking parau bagaikan lolongan serigala terluka yang sarat akan ancaman saat mendapati langkah Arthur berjalan lambat melintasi lorong. "Kau tidak bisa! Kau berhutang besar padaku! Kau berhutang seluruh sisa hidupmu padaku, Arthur! Kau ingat itu?!"
Arthur menghentikan pergerakan langkah kakinya sejenak. Figur tegap itu menoleh lambat, menatap wanita yang selama beberapa tahun belakangan menyandang gelar istrinya. Tidak ada sekelumit pun benih iba atau celah kehangatan tersisa di dalam sepasang maniknya; hanya ada kehampaan yang kelam dan dingin menusuk kalbu.
"Tiga tahun sepertinya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi tiga bulan yang kau habiskan di dalam sel penjara, Savea," balas Arthur dengan intonasi rendah, amat tenang, namun mengandung daya hancur yang mematikan. "Seluruh beban dan hutang masa lalu itu... kuanggap sudah terbayar impas malam ini. Dan tunggulah kedatangan surat perceraian resmi dari pengacaraku."
Savea tersentak kaku, bagaikan dihantam petir di siang bolong. Kata-kata rahasia yang meluncur dari bibir Arthur mengunci kerongkongannya seketika, menghentikan jeritannya di udara sewaktu para pengawal kembali menyeret tubuhnya yang terkulai lemah menuju sel penampungan bawah tanah istana.
Kalimat yang diucapkan oleh Pangeran Blackwood itu terdengar amat ambigu bagi para pengawal yang berjaga—sebuah tatanan kata bertapis rahasia yang tak seorang pun sanggup mengurai maknanya di balik perbandingan angka tiga tahun dan tiga bulan tersebut, selain Arthur dan Savea sendiri.
Arthur melangkah pelan menelusuri karpet tebal yang melapisi koridor lantai dua, melangkahkan kakinya membuang sisa-sisa kebisingan menuju kamar perawatan sang putra.
Ketika jemarinya mendorong pintu jati berukir itu, aroma minyak lavender dan kehangatan ASI menyapa inderanya. Suasana di dalam ruangan tersebut terasa begitu teduh, hening, dan tenteram—sebuah kontras yang amat tajam dibanding bara permusuhan yang baru saja melalap aula sidang di lantai bawah.
Di atas sofa empuk berbalut kain beludru berwarna merah tua, Snow sedang duduk memangku Bayi Ocean. Baju bagian atas gaun sederhananya sedikit tersingkap, membiarkan bibir mungil Ocean menempel dan menyusu dengan begitu lahap.
Suara tegap tegukan halus dari kerongkongan bayi itu terdengar menyayat sekaligus menenangkan, diselingi dengan jemari kecilnya yang sesekali meremas lembut kain gaun ibunya dengan gerakan refleks yang polos.
Arthur menghentikan dorongan jemarinya pada bingkai pintu. Pemandangan di hadapannya—seorang ibu yang sedang mengalirkan kehidupan bagi buah hatinya—terasa begitu sakral sekaligus meremas ulu hatinya dengan rasa bersalah yang teramat pekat.
Pria tegap itu mengikis jarak tanpa menimbulkan suara. Langkahnya mengalun perlahan hingga akhirnya ia merosot perlahan, merendahkan tubuhnya untuk duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, tepat di samping sofa tempat Snow bersemayam. Ia dengan sukarela merendahkan posisinya hingga sejajar dengan jemari kaki Snow.
"Snow..." bisik Arthur amat lirih, suaranya bagaikan desir angin malam yang menyapu dahan kering. Sepasang matanya yang sembap dan memerah menatap wajah cantik itu dengan pasrah murni.
Snow tidak menoleh sedikit pun. Pandangannya tetap terpaku lurus pada paras mungil Ocean yang terpejam menikmati aliran suplemen kehidupannya. Bagi Snow saat ini, keberadaan pria berdarah bangsawan di samping kakinya tak ubahnya sesosok bayangan semu yang tak berhak menyentuh alam pikirannya.
"Aku tahu... tidak ada kata maaf yang cukup padat untuk menutupi dosa dan noda darah yang melepuh di tanganku," sambung Arthur, suaranya bergetar parau, berjuang keras menahan buncahan tangis kehancuran emosional yang siap memecahkan pertahanannya.
"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk melupakan malam laknat itu... Aku juga tidak cukup tahu diri untuk mengemis agar cintamu kembali bersemi. Tapi kumohon dengan sangat... biarkan aku berada disisi hidupmu dan Ocean. Biarkan aku berdiri melindungimu dari balik kegelapan bayang-bayang sampai napas terakhirku berhembus. Apapun yang kau minta dariku... harta, takhta, nyawa, atau kehormatanku... akan kuserahkan tanpa tersisa, demi mengganti rasa bersalahku padamu dan mendiang mommy mu."
Snow tetap membisu bagaikan patung pualam yang dingin. Jemari lentiknya yang pucat hanya bergerak perlahan, mengusap lembut pipi gembul Ocean yang masih sibuk menyusu dengan amat rakus. Keheningan itu merayap, menjadi tembok tak kasat mata yang memisahkan penyesalan mendalam dengan dendam yang tak kunjung padam.
Namun, sentuhan hangat yang terpancar dari aura keibuan Snow serta aroma khas ASI yang memenuhi udara ruangan mendadak membius kesadaran Arthur yang teramat lelah.
Di tengah keputusasaan gila yang menggerogoti setiap sudut otaknya, pria itu tiba-tiba kehilangan kontrol atas akal sehatnya. Pandangan matanya yang mulai sayu dan dipenuhi kelelahan emosional bergulir lambat, menatap kaku pada kepalan bibir mungil Ocean yang sedang melekat erat di atas dada indah Snow.
Tanpa peringatan, tanpa perancangan naluriah, sebuah bisikan melantur keluar begitu saja dari celah bibir Arthur.
"Ocean... kenapa kau jadi serakus itu, hm?" gumam Arthur polos, matanya menerawang jauh dengan tatapan membayang yang ganjil. "Apa... apa aku dulu juga serakus ini kalau sedang menyusu padamu di rumah hutan?"
PLAKK!
"Aw!" Arthur meringis pelan sembari memegangi pipi kirinya yang baru saja dihantam tamparan ringan namun amat menohok dari telapak tangan Snow.
"Kau gila, Arthur?!" desis Snow dengan nada rendah yang menusuk, sementara paras cantiknya yang semula pucat mendadak memerah padam hingga ke ceruk lehernya. Ia menatap pria itu dengan sepasang mata berkilat tajam—sebuah tatapan yang berusaha keras membentengi rasa malu dan gejolak emosi aneh yang mendadak meluap di dalam dadanya.
Arthur menyentuh pipinya yang terasa hangat, lalu mendongak menatap Snow. Sebuah senyuman hancur yang amat tipis dan getir terukir di bibirnya, namun di dasar maniknya tersirat kerinduan liar yang tak mampu ia sembunyikan lagi.
"Aku tidak gila, Honey... Aku hanya mengingatnya," bisik Arthur dengan suara serak yang memendek, napasnya terdengar memburu samar saat kenangan lama merayapi benaknya. "Aku ingat betul bagaimana kau menjerit kesakitan saat pertama kali kita menyatu di atas tempat tidur di rumah hutan itu... Kau menangis sesenggukan, memukul dadaku dengan jemari kecilmu, dan berbisik bahwa tubuhku terlalu besar untuk kau tampung."
Pipi Snow kian membakar hebat, bagaikan ditetesi bara api. Kenangan akan malam-malam panas, liar, dan penuh ketidakberdayaan di rumah hutan bertahun-tahun lalu mendadak berputar ulang tanpa ampun di dalam ingatannya.
Rasa sakit, jemari tegap Arthur yang mencengkeram pinggangnya dengan posesif, hingga deru napas berburu yang memanjakannya dalam perpaduan antara keintiman yang kasar dan rasa nikmat yang menyiksa—semuanya bangkit kembali merebut kesadarannya.
"Tutup mulut kotormu itu sekarang juga, Arthur," potong Snow dingin dan tajam. Ia berusaha keras menekan desir halus di dalam dadanya yang hendak merespon ingatan terlarang tersebut. Dengan sengaja, ia memalingkan wajahnya kembali menatap Ocean, menolak untuk bertatap muka dengan sepasang mata suaminya yang sarat akan intrik memabukkan.
Arthur tidak bergeser sedikit pun. Ia justru menyandarkan sisi kepalanya di tepi sofa, bersandar amat dekat dengan paha Snow yang terbalut kain gaun.
"Kau bisa saja berpura-pura membenciku setengah mati, Snow..." lirih Arthur dengan sepasang mata terpejam, menghirup aroma tubuh wanita itu yang amat ia rindukan. "...tapi kenangan tubuhmu tidak bisa berbohong pada ingatanku. Bagian intimu selalu menyambutku hangat, dan panas, persis seperti saat kau melayaniku di malam-malam itu."
Snow mengertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya menegang keras, bertarung hebat dengan gejolak asing yang merayapi pembuluh darahnya. "Jika kau tidak segera mengunci mulutmu dan keluar dari ruangan ini sekarang juga, aku bersumpah demi nama ibuku... aku akan membawa Ocean pergi jauh dari istana ini sebelum garis fajar menyingsing!"
Ancaman dingin itu seketika merenggut seluruh keberanian Arthur. Pria tegap itu melebarkan kelopak matanya, menatap Snow dengan kepasrahan yang tak bertepis lagi. Ia paham betul bahwa Snow tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Perlahan, Arthur menganggukkan kepalanya dengan lesu.
"Baik... aku akan diam," bisik Arthur, memadamkan binar liar di matanya dan menggantinya dengan penyesalan murni. "Tapi kumohon, biarkan aku di sini... sebentar saja, Snow. Hanya untuk duduk diam dan memperhatikanmu bersama putra kita."