"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindrom Bucin Sang CEO
Kabar tentang kehamilan Nyonya Muda Nandotomo menyebar seperti ombak besar yang membawa kebahagiaan tak bertepi ke seluruh penjuru kediaman utama keluarga Nandotomo. Orang yang paling gempar mendengar berita ini adalah Pak Baskoro. Sang kakek bahkan langsung membatalkan semua agenda pertemuannya dengan kolega bisnis di luar negeri hanya demi pulang dan memeluk cucu menantunya dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru.
"Senjani, mulai hari ini kamu dilarang mengambil barang apa pun yang beratnya melebihi satu kilogram!" titah Pak Baskoro dengan nada suara berwibawa yang dipaksakan, namun matanya yang tua berbinar jenaka saat sarapan bersama di meja makan panjang pagi itu. "Kakek sudah memerintahkan Adriano untuk menambah lima pelayan wanita khusus di lantai dua. Tugas mereka hanya satu, yaitu memastikan semua keinginan dan kebutuhan gizi cicit pertama Kakek terpenuhi tanpa cela!"
Senjani hanya bisa tersenyum simpul, wajah cantiknya merona merah menahan rasa canggung sekaligus bersyukur. Dia melirik ke arah sampingnya. Di sana, Jiro duduk dengan setelan kemeja kasual hitam tanpa jas. Pria itu tampak sibuk memotong daging steak wagyu di piringnya menjadi potongan-potongan kecil berukuran sekali suap, lalu menukarnya dengan piring milik Senjani yang masih kosong.
"Mas Jiro... porsi ini kebanyakan kalo dipakai untuk sarapan," bisik Senjani pelan, merasa tidak enak pada kakeknya yang sedang mengawasi mereka dengan senyuman lebar.
"Habiskan, Senjani. Dokter spesialis kandungan kemarin bilang berat badanmu masih kurang dua kilogram dari grafik ideal awal kehamilan," jawab Jiro dengan nada suara bariton yang datar, dingin, namun sarat akan otoritas bucin yang tidak bisa dibantah. Pria itu menyodorkan garpu berisi potongan daging tepat ke depan bibir istrinya. "Ayo, buka mulutmu. Jangan membuat anak kita kelaparan di dalam sana."
Senjani mengembuskan napas pasrah, membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu di bawah tatapan puas dari suaminya. Sisi kejam sang CEO Nandotomo Group yang ditakuti di dunia bisnis fana luar sana mendadak menguap tanpa bekas setiap kali dia berada di radius satu meter dari istrinya yang sedang mengandung. Jiro telah resmi bertransformasi menjadi sosok suami protektif tingkat tinggi yang sangat posesif.
...----------------...
Perubahan tabiat Jiro kian mencapai puncaknya saat usia kandungan Senjani memasuki bulan keempat. Malam itu, jarum jam dinding di kamar pengantin mewah mereka sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Atmosfer di dalam kamar terasa sangat tenang dengan suhu pendingin ruangan yang diatur hangat sesuai dengan kenyamanan ibu hamil.
Jiro terbangun dari tidur nyenyaknya saat merasakan pergerakan gelisah dari tubuh kecil di sampingnya. Dia membuka sepasang netra elangnya dengan cepat, langsung menegakkan tubuh bidangnya bersandar pada kepala ranjang. Di bawah temaram lampu tidur yang meremang keemasan, dia melihat Senjani sedang duduk memegangi perutnya yang mulai tampak sedikit membuncit dengan raut wajah yang bimbang.
"Sayang? Ada apa? Perutmu lilit lagi? Atau bayinya nendang?" tanya Jiro dengan nada suara yang dipenuhi kepanikan yang mendalam. Tangan kekarnya langsung meraba permukaan perut Senjani dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut menyakiti janin di dalamnya.
Senjani menoleh, menatap suaminya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus keinginan yang sangat kuat yang sulit dia tahan. Indra penciuman dan pengecapnya sejak satu jam lalu mendadak terusik oleh sebuah memori rasa yang sangat spesifik.
"M-Mas Jiro... maafin aku karena membangunkanmu," bisik Senjani lirih, jemari tangannya meremas ujung selimut sutra mereka. "Aku... aku mendadak ingin sekali memakan sesuatu."
Jiro mengembuskan napas lega, ketegangannya sedikit mengendur. Dia tersenyum sangat tipis, mengusap puncak rambut harum lavender milik istrinya dengan penuh kelembutan yang teramat sangat. "Mengidam, hm? Bilang aja, kamu mau makan apa? Steak dari restoran bintang lima Prancis? Atau sup sirip hiu yang biasa kakek pesan dari Singapura? Aku akan menyuruh koki pribadi kita memasaknya di dapur sekarang."
Senjani menggelengkan kepalanya perlahan, membuat dahi Jiro berkerut heran. "Bukan makanan mewah seperti itu, Mas... Aku... aku ngidam banget nasi goreng kambing legendaris yang dijual pakai gerobak pinggir jalan di dekat area stasiun lama tempat klinik lamaku dulu."
Nasi goreng gerobak pinggir jalan? Jam satu malam?
Logika milik Jiro sebagai seorang konglomerat elite yang selalu menjaga higienitas makanan tingkat tinggi seketika bergolak. Namun, begitu dia menatap sepasang mata jernih Senjani yang mulai berkaca-kaca, sebuah senjata mutlak yang selalu berhasil meruntuhkan seluruh ego dan pertahanan es di hatinya dalam sekejap, Jiro langsung menyerah kalah tanpa syarat.
"Oke. Tunggu di sini, jangan turun dari ranjang," perintah Jiro datar, bangkit berdiri dengan tegap. Kedua kakinya melangkah dengan sangat stabil, tanpa ada lagi sisa kelumpuhan masa lalu.
Jiri tidak menyuruh Adriano atau pengawalnya untuk membeli makanan tersebut. Insting kepemilikannya yang posesif menuntut bahwa dia sendiri yang harus memenuhi keinginan mengidam pertama dari wanita penyembuh hatinya. Dengan hanya mengenakan jaket jins hitam di atas kaus tidurnya dan celana kain santai, Tuan Muda Nandotomo yang terhormat nekat menyetir mobil sport pribadinya sendirian membelah sepinya malam kota Jakarta menuju area pinggiran Depok yang padat penduduk.
...----------------...
Satu jam kemudian, Jiro kembali ke dalam kamar pengantin dengan membawa sebuah bungkusan kertas minyak cokelat sederhana yang memancarkan aroma bumbu rempah dan daging kambing yang sangat menyengat.
Senjani yang melihat kedatangan suaminya langsung menegakkan tubuhnya dengan binar mata yang dipenuhi kebahagiaan yang luar biasa besar. "Mas Jiro... Kamu beneran membelinya sendiri?"
"Iya lah. Penjualnya aja sempat bingung lihat mobilku terparkir di samping gerobaknya," dengus Jiro ketus, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya yang sangat kentara. Pria itu duduk di tepi ranjang, membuka bungkusan nasi goreng itu dengan telaten, lalu menyuapkan sendok pertama ke dalam mulut Senjani. "Makanlah sampai habis. Jika anak kita nanti lahir dengan hobi mengidap makanan pinggiran seperti ini, itu adalah kesalahan genetik darimu, Nona Terapis."
Senjani tertawa renyah, sebuah suara tawa manis yang selalu berhasil mengusir seluruh sisa kelelahan di dalam jiwa Jiro dalam sekejap. Dia mengunyah makanan itu dengan lahap, merasakan kehangatan yang menjalar dari ulu hatinya menuju ke seluruh tubuhnya. Di sela-sela kunyahannya, Senjani tiba-tiba memajukan wajahnya dan memberikan sebuah kecupan singkat yang sangat manis di pipi kaku suaminya.
"Makasih ya, Suamiku yang paling tampan dan paling bucin di dunia," bisik Senjani dengan senyuman yang sangat memikat.
Deg!
Kata 'bucin' yang diucapkan Senjani membuat telinga Jiri seketika memerah padam karena malu yang bercampur dengan luapan kabut asmara yang membara di dalam dadanya. Pria angkuh itu meletakkan bungkusan makanan di atas nakas, lalu dengan cepat menarik tubuh kecil Andini ke dalam pelukan pelindungnya yang sangat erat di atas kasur mewah mereka. Dia menyandarkan kening mereka bersama, membiarkan embusan napas hangat mereka menyatu dalam keheningan malam yang sunyi.
"Panggil aku seperti itu lagi besok pagi, Senjani... dan aku pastiin seluruh toko nasi goreng di kota ini akan kubeli atas namamu," bisik Jiro dengan suara bariton yang serak dan penuh gairah kepemilikan yang mutlak sebelum mengecup bibir manis istrinya dengan penuh kelembutan abadi. Perjalanan mereka yang semula berawal dari nikah paksa, konflik etika medis, dan badai air mata, kini telah resmi bermutasi menjadi sebuah kisah asmara paling bucin yang takkan pernah bisa dipisahkan oleh siapa pun lagi seumur hidup mereka.