*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Sembilan
# Dua puluh sembilan
Pria yang sedang dipenuhi rindu di hatinya itu, kini melajukan mobil menuju luar kota. Menempuh puluhan kilo lebih hanya untuk segera pulang menemui sang istri. Malam-malam begini ia terobos saja kegelapan malam yang menghadang.
Baginya, bisa melihat Hanum saat ini, itu sudah lebih baik. Sebab beberapa hari lalu, istrinya itu nampak dingin dan hampir tak menyapanya sama sekali. Bila barusan, sang istri sendiri yang menghubungi dirinya. Maka tak butuh waktu lama, Leon langsung meluncur pulang menuju kediamannya.
Dua jam kemudian, deru mesin mobil yang terdengar di halaman rumah membuat Hanum langsung turun ke bawah. Sejak tadi ia tak bisa tidur, pikirannya terlalu banyak dipenuhi oleh sang suami. Perselisihan dingin diantara mereka, membuat hubungan yang semula mesra kini renggang.
Sepertinya Hanum tak bisa lama-lama marah dengan suaminya itu, karena ia sendiri yang menghubungi Leon tengah malam. Hingga suaminya itu memutuskan untuk pulang segera.
Kriett
Belum juga turun dari mobil, tapi Hanum sudah membuka pintu utama rumahnya. Melihat itu, Leon tersenyum kecil. Sepertinya Hanum benar-benar merindukan dirinya.
Setelah menutup pintu mobil, kakinya melangkah melewati kerikil kecil yang terhampar di halaman rumahnya. Dilihatnya dari kejauhan, wajah sendu Hanum yang sudah menantinya di depan sana.
“Belum tidur?” Leon menatap kantung mata Hanum yang sembab, ini karena habis menangis atau memang menahan kantuk? Di dalam hatinya ia bertanya-tanya.
“Belum mengantuk.” Hanum meraih tas dan jas yang ada di tangan suaminya. Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Ketika keduanya masuk ke dalam kamar, suasana hening sejenak. Hanum pun kemudian mencoba memulai pembicaraan.
“Apa mau mandi dulu? Akan aku siapkan air hangat untuk mandi.
“Tidak, aku lelah. Akan tidur saja.” Leon pun duduk di tepi ranjang dan mencoba melonggarkan dasi yang masih ia kenakan.
Hanum malah jadi canggung, mengapa suaminya malah langsung naik ke atas ranjang. Bingung mau ngapain, ia pun memilih lebih baik keluar kamar saja. Tidur bersama Sean, itu sih rencananya. Namun realitanya sangat berbeda. Baru sekali melangkah, Leon sudah memanggil namanya.
“Mau ke mana?”
“Itu.. aku akan tidur di kamar Sean.”
“Aku pulang malam-malam hanya karena ingin segera menemui mu.”
Hening sesaat, Hanum kemudian berbalik. “Lalu?”
“Apanya yang lalu?” Leon langsung meraih tubuh istrinya. Membawanya ke ranjang bersama dengannya.
Mereka pun kini berada di atas ranjang, dengan sama-sama kaku pastinya. Karena sempat perang dingin beberapa waktu yang lalu.
“Aku tak bisa bernapas!” ucap Hanum lirih saat lengan Leon merengkuhnya dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan dirinya.
Mendengar protes Hanum, Leon pun sedikit melonggarkan pelukannya. “Apa sudah bisa?” tanya Leon.
“Hem...”
“Ayo tidur, aku tadi sangat ngantuk saat perjalanan ke sini.”
“Mengapa tak pulang besok saja?”
“Suaramu seolah memanggil untuk aku segera pulang.”
Hanum mencibir, sempat-sempatnya suaminya itu bercanda seperti itu. Ia pun mencoba bertanya mengenai anak Zura.
“Bagaimana dengan anak mantan sekretaris Mas?”
“Kami terlambat, tunggu saja. Kami akan segera mendapatkannya, semakin ia sulit ditemukan. Maka kecurigaan ku sangat besar. Mungkin dia memang bukan putraku.”
“Bagaimana bisa seperti itu? Bila Mas melakukan dengan ibunya, bisa saja memang itu anak Mas.”
“Sudahlah, Hanum! Aku malas membahasnya, mataku perih. Aku mengantuk.” Leon sebenarnya ingin menghindari masalah, baru juga berbaikan. Tidak ingin mereka ribut lagi karena masalah yang belum pasti.
Tidak membantah, Hanum pun diam saja. Dia juga sudah mengantuk, hitungan menit keduanya sudah sama-sama lelap sambil berpelukan.
Matahari pagi bersinar cerah hari ini, sampai cahaya bisa menerobos masuk lewat cela jendela kamar Leon dan Hanum. Cahaya itu menyentuh kulit Hanum, kemudian menyurat ke mata. Membuat Hanum mengerjapkan mata karena silau cahayanya.
Wanita itu pun menyibak kain selimut yang menutupi tubuhnya. Ditatapnya dengan dalam wajah lelap Leon yang terlihat damai. Hatinya masih risau tentang Zura dan anaknya, tapi ia tak bisa lama-lama harus tak bicara dengan suaminya itu.
Seperti biasa, hari ini ketika Leon bangun ia langsung memanggil nama istrinya. “Hanum!” Ia berjala ke luar rumah dengan rambut yang masih acak-acakan, biasanya pria itu nampak rapi dan klimis. Tapi takut bila ia bangun terus Hanum tak ada atau apa, maka ia buru-buru saja mencari sang istri.
“Sudah bangun?” sapa Hanum saat menyiapkan sarapan untuk mereka. Istrinya itu melempar senyum teduh pada dirinya, membuat Leon merasa lega.
“Papa!” teriak Sean yang tak tahu papanya sudah pulang semalam. Leon pun langsung menghampiri putri semat wayangnya tersebut. Mengecup pipi bakpaonya dengan sayang.
“Makan yang banyak ya, Papa mandi dulu.”
Leon pun berbalik, sudah memastikan Hanum yang bersikap hangat padanya ia pun akan kembali ke kamar. Siap-siap dan berangkat kerja.
Sean yang selesai sarapan kali ini di antar ke PAUD oleh sopir dan pengasuh, sedangkan Hanum masih menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dari tadi Leon dilihatnya tak keluar dari kamar. Penasaran mengapa kok lama sekali, ia pun menyusul ke dalam kamar.
“Mas?” Hanum mencari-cari keberadaan suaminya yang tak terlihat sedari tadi.
“Iya,” Leon sedang berdiri di depan cermin setinggi badan. Ia kini sedang memakai dasi. Warna senada dengan jas yang membalut tubuh tegapnya. Membuat penampilannya terlihat makin sempurna.
“Aku bantu!” Tanpa menunggu persetujuan dari Leon, Hanum langsung meraih kain panjang nan kecil itu. Memasangkannya di leher sang suami.
Setelah selesai, ia merapikan dan menepuk lembut jas yang dikenakan suaminya itu. “Sudah!” ucapnya sambil menatap penuh kehangatan.
“Aku berangkat ya.”
“Sarapan dulu, sudah aku siapkan.”
“Ngak, ada meeting satu jam lagi.”
“Jangan telat makan!” protes Hanum pada Leon yang mengabaikan jam makan paginya.
“Iya!”
Cup, Leon mengecup dahi Hanum. Setelah itu meraih tas yang ada di atas meja. Sepertinya Leon memang terlihat sibuk karena sangat terburu-buru sekali pagi itu.
“Hati-hati!” pesan Hanum dengan lirih.
Leon mengangguk pelan, kemudian ke luar kamar menuju lantai bawah. Kali ini ia mengemudikan mobilnya sendiri.
Di dalam mobil, Leon memasang headset di telinganya. Ia bersiap menghubungi orang-orang yang kemarin ia suruh melakukan penyidikan tentang Zura dan putranya.
Ternyata pria itu tidaklah pergi rapat di kantornya. Leon malah menuju ke luar kota kembali, dengan kecepatan penuh ia meluncur di tengah jalan. Memecah kendaraan yang berkerumun di depannya.
Ini sangat penting, ada sebuah titik terang. Sepertinya para anak buahnya sudah menemukan di mana Zura dan putranya. Semua kini sudah ada di bandara. Beberapa pengawal sudah Leon kirim untuk mencari keberadaan Zura.
Jangan sampai wanita itu lepas kali ini, terutama anaknya. Sebab ia ingin kejelasan, apa benar itu anaknya atau bukan.
Di sebuah bandara. Zura sedang berjalan terburu-buru dengan mengandeng anak kecil. Ia mengenakan kacamata hitam lebar serta memakai masker untuk menutupi wajahnya. Begitu pula dengan putranya, Al.
Zura juga mendadani Al agar tak dikenali oleh orang-orang. Memakai topi serta masker, seperti anak artis yang tidak boleh di up ke public.
Saat berjalan, Zura tiba-tiba menghentikan langkahnya.
“Sial!” serunya saat melihat banyak pengawal yang ada di sepanjang bandara. Mata Zura mengendara ke sembarang arah. Mencari cela untuk kabur.
Sambil berjalan dengan santai, Zura berlagak seperti orang biasa. Namun, penampilannya yang serba tertutup malah semakin mencolok. Alhasil, baru beberapa langkah ia sudah ketahuan.
Tiga orang berpakaian serba hitam dengan postur tinggi besar dan tegap menghadang dirinya.
“Sial!” maki Zura menatap para pria di depannya.
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️