Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Tak berselang lama, pintu kamar suite diketuk dengan tergesa-gesa.

Dokter pribadi yang tadi siang datang kini masuk kembali dengan membawa koper medis lengkap, didampingi oleh dua orang perawat.

Tanpa membuang waktu, sang dokter langsung memeriksa kondisi Mili yang terbaring lemah dengan wajah sepucat kapas.

Stetoskop ditempelkan ke dada Mili, sementara lampu kecil disorotkan ke mata sang istri untuk memeriksa respons pupilnya.

Setelah beberapa menit pemeriksaan yang menegangkan, dokter menegakkan tubuhnya dengan raut wajah yang tampak dilema dan ragu.

"Tuan David, kondisi fisik Nyonya Mili sangat lemah, ditambah lagi syok berat yang dialaminya tadi," ucap dokter dengan nada berhati-hati.

"Untuk memastikan tidak ada cedera dalam atau komplikasi serius akibat pingsannya tadi, sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit. Saya khawatir jika mendiagnosisnya hanya dari sini tanpa pemeriksaan penunjang, ada hal penting yang terlewat."

Mendengar kata 'rumah sakit', wajah David semakin menegang.

Ketakutan terburuknya langsung mencengkeram dadanya.

"Apakah istriku mengalami gegar otak karena jatuh pingsan tadi?!"

"Kita harus lakukan pemindaian di rumah sakit untuk memastikannya, Tuan," jawab dokter cepat seraya segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Instalasi Gawat Darurat rumah sakit rujukan terdekat di Bali.

Tidak butuh waktu lama, suara sirine ambulans terdengar menderu mendekati area hotel.

Para paramedis langsung naik dengan membawa brankar darurat.

Dengan sangat hati-hati, David mengangkat dan membaringkan tubuh Mili ke atas brankar, mengabaikan status sosialnya sebagai CEO besar demi terus berada di sisi sang istri.

Di dalam mobil ambulans yang melaju kencang membelah malam, David tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun.

Ia mendekap jemari Mili yang dingin ke dalam kepalan tangannya yang hangat, sementara keringat dingin membasahi pelipis pria dominan itu.

"David," panggil Mili lirih, suaranya nyaris tak terdengar di tengah bisingnya suara kendaraan medis.

David langsung menunduk, mencium punggung tangan istrinya berkali-kali dengan penuh rasa bersalah dan cinta yang meluap-luap.

"Ssst, tenang dulu ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai. Kamu akan baik-baik saja, ada aku di sini."

Mili menganggukkan kepalanya pelan, memejamkan mata menahan pusing dan rasa mual yang kembali mendera perutnya.

Sesampainya di rumah sakit, perawat dan dokter IGD langsung mendorong brankar Mili masuk ke dalam ruang penanganan darurat.

David terpaksa berhenti di depan pintu otomatis yang tertutup rapat.

Pria itu mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dengan langkah gelisah.

Bayangan kemungkinan terburuk terus berputar di kepalanya.

Tak lama kemudian, langkah kaki tegap terdengar mendekat.

Jonas baru saja menyusul ke rumah sakit setelah menyelesaikan tugasnya mengusir orang tua Gea keluar dari hotel.

Melihat tuannya yang tampak begitu kacau dan rapuh—pemandangan yang seumur hidup belum pernah Jonas saksikan—membuat asisten setia itu langsung berdiri siaga di dekat pintu.

"Tuan, semua urusan di hotel sudah beres. Orang tua Gea sudah diusir dari seluruh kawasan penginapan sesuai perintah Anda," lapor Jonas dengan nada hormat.

David bahkan tidak menoleh. Matanya terpaku sepenuhnya pada lampu merah di atas pintu UGD yang menyala terang.

"Kenapa lama sekali?! Istriku sakit apa sebenarnya?!" ucap David dengan suara tertahan penuh frustrasi, menatap tajam ke arah pintu UGD seolah ingin menembusnya dengan pandangan mata.

Seolah menjawab kecemasan luar biasa yang membakar dada sang CEO, lampu penanda di atas pintu UGD akhirnya berubah warna, dan pintu pun terbuka.

Dokter yang memimpin penanganan melangkah keluar dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.

David langsung melompat maju, mencengkeram kerah jas putih sang dokter dengan mata memerah penuh amarah dan kepanikan.

"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?! Apa dia gegar otak?! Katakan yang sebenarnya!" tanya David menggema di sepanjang koridor rumah sakit.

Dokter tersebut tersentak kaget namun tidak melawan, memahami betul gelora jiwa pria di hadapannya. Ia mengangkat kedua tangannya pelan sambil tersenyum kecil.

"Tenang dulu, Pak David. Tarik napas Anda," ujar sang dokter menenangkan.

"Istri Anda tidak mengalami gegar otak."

Mendengar itu, bahu David yang tadinya tegang seketika merosot turun.

Napasnya yang memburu berangsur melambat, meski rasa khawatirnya belum sepenuhnya hilang.

"Lalu, kenapa dia pingsan dan muntah-muntah?" tanya David dengan suara parau.

Dokter tersenyum lebar, menatap sang penguasa dengan sorot mata penuh ucapan selamat.

"Pasien tidak terluka sedikit pun di kepalanya. Mual dan pingsannya terjadi karena tubuhnya mengalami kelelahan ekstrem, dan juga karena saat ini, Nyonya Mili sedang hamil muda."

Kata-kata itu meluncur begitu tenang dari bibir dokter, namun bagi David Hermawan, kalimat tersebut berdampak bagai hantaman meteor yang mengguncang seluruh dunia di sekitarnya.

Pria yang dikenal dingin, kejam, dan tak tersentuh itu seketika mematung.

Cengkeramannya di kerah jas dokter perlahan melemah, lalu terlepas.

Manik matanya yang tajam membelalak lebar, menatap sang dokter dengan tatapan kosong yang dipenuhi oleh kejut luar biasa.

"Istriku, hamil?"

Kata itu berputar-putar di dalam kepalanya, mendesak keluar segala amarah, dendam, dan rasa panik yang tadinya memenuhi rongga dadanya.

Detik berikutnya, pertahanan emosional pria itu runtuh seketika.

Suara bising di koridor rumah sakit seolah lenyap seketika.

David melangkah mundur satu langkah dengan kaki lemas, tangannya menutup wajahnya yang basah oleh keringat dingin.

Napasnya terengah-engah, bukan karena amarah atau ketakutan lagi, melainkan karena gelombang kebahagiaan yang begitu masif, pekat, dan menyesakkan dada—sebuah anugerah terbesar yang tak pernah berani ia bayangkan akan hadir di tengah badai kehancuran ini.

Jonas yang berdiri di belakangnya sampai terperangah, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya melihat sang tuan besar menangis tanpa suara, bahu bidangnya bergetar hebat menahan isak tangis haru yang teramat dalam.

"Istri, saya hamil?" suara David tercekat di tenggorokan, begitu parau dan bergetar nyaris tak terdengar.

"Ya, Pak David. Usia kandungannya masih sangat muda, sekitar beberapa minggu. Kombinasi dari kelelahan, stres berat, dan syok membuat tubuhnya merespon dengan pingsan serta mual hebat. Tapi tenang saja, setelah ini kami akan berikan vitamin dan penanganan terbaik agar kondisi Nyonya dan calon bayi pulih," jelas dokter itu dengan senyuman ramah.

Seolah tak lagi mampu menahan diri, David menerobos melewati dokter dan perawat begitu pintu ruang penanganan dibuka.

Di atas brankar rumah sakit, Mili berbaring dengan mata sayu.

Wajahnya masih tampak pucat, namun saat ia melihat bayangan pria tinggi besar menerobos masuk ke ruangannya dengan mata memerah dan napas memburu, Mili langsung menatapnya cemas.

"David," panggil Mili lirih, mengira suaminya kembali marah besar atau khawatir setengah mati.

Namun, sebelum Mili sempat mengucapkan kata lain, David sudah menjatuhkan tubuhnya di samping ranjang.

Pria itu membenamkan wajahnya di telapak tangan Mili, mencium jemari istrinya berulang-ulang dengan isak tangis yang akhirnya pecah tak tertahankan.

Air mata kebahagiaan pria paling berkuasa di dunia bisnis itu tumpah di atas kulit Mili.

.

"David, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Mili panik, sebelah tangannya yang bebas mengusap rambut hitam suaminya dengan lembut.

"Apa aku, sakit parah?"

David mendongak. Wajahnya yang biasanya dipahat tegas dan menakutkan itu kini dipenuhi oleh senyuman paling indah, paling tulus, dan paling rapuh yang pernah Mili lihat seumur hidupnya.

Ia meraih tangan Mili, menuntun telapak tangan lembut istrinya untuk diletakkan tepat di atas perut ratanya sendiri.

"Kita, akan punya anak, Mili." bisik David serak, suaranya bergetar hebat penuh puja dan cinta yang meluap tanpa batas.

"Kamu, mengandung anakku, Sayang."

Mili membeku. Napasnya tertahan. Manik matanya membelalak lebar menatap perutnya sendiri, lalu beralih menatap manik mata David yang basah oleh air mata kebahagiaan.

Semburat kehangatan yang luar biasa mendadak merayap memenuhi sekujur tubuhnya, menghapuskan segala luka, rasa sakit, dan air mata kesedihan yang sempat ia tumpahkan malam ini.

Tangan Mili yang gemetar perlahan mengusap perutnya sendiri, sementara senyum merekah di bibirnya, disusul oleh tetesan air mata haru yang kembali tumpah.

David langsung merengkuh tubuh istrinya dengan sangat hati-hati, seolah Mili adalah benda paling rapuh dan berharga di muka bumi ini.

Ia mengecup bibir Mili dengan penuh cinta, menyatukan napas mereka dalam keheningan malam rumah sakit yang kini berubah menjadi awal dari kebahagiaan paling abadi dalam hidup mereka.

"Monster ini akan punya anak..." bisik David pelan dengan suara yang pecah sepenuhnya.

Pria yang biasanya tak tersentuh dan ditakuti oleh lawan-lawan bisnisnya itu kini benar-benar berlutut di samping ranjang rumah sakit.

David membenamkan wajahnya di atas kasur, tepat di samping pinggul Mili, dan menangis sesenggukan bagaikan seorang anak kecil yang baru saja menemukan keajaiban.

Bahu bidangnya yang biasa kokoh menopang segala ancaman kini naik-turun bergetar hebat.

Airmata syukurnya membasahi seprai rumah sakit.

Tangan kirinya tak berhenti menggenggam jemari Mili dengan begitu protektif, sementara tangan kanannya tetap bertahan di atas perut Mili yang masih rata—seolah takut keajaiban kecil di dalam sana akan sirna jika ia melepaskannya sedetik saja.

Mili yang melihat ketakutan dan keharuan yang begitu telanjang dari suaminya merenung dalam diam.

Selama ini, David selalu memosisikan dirinya sebagai pelindung yang tak terkalahkan, monster dingin yang siap mencabik siapa saja yang mengusiknya.

Namun malam ini, di ruangan bercat putih ini, monster itu runtuh oleh cinta dan kehidupan baru yang mereka ciptakan bersama.

Mili merengkuh kepala suaminya, mengusap rambut hitam David dengan jemarinya yang masih sedikit gemetar.

Air matanya sendiri menetes pelan, jatuh menghiasi selimut tempat tidurnya.

"Kamu bukan monster, David." bisik Mili lembut di tengah isak tangis suaminya.

"Kamu suamiku, dan sebentar lagi, kamu akan jadi papa yang luar biasa untuk anak kita."

Mendengar kata 'papa' keluar dari bibir Mili, tangis David semakin pecah.

Ia mendongak, menunjukkan wajah tampannya yang kini berantakan oleh air mata.

Pria itu menyandarkan dahinya ke perut Mili, menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam seolah itu adalah satu-satunya oksigen yang membuatnya tetap bernapas.

"Aku janji, Mili. Aku janji demi nyawaku sendiri," raung David pelan di balik isakannya, mendongak menatap mata istrinya dengan binar kegilaan yang kini dipenuhi oleh cinta yang mutlak.

"Aku akan melindungi kalian berdua. Tidak akan ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh menyakiti kamu dan anak kita. Bahkan jika aku harus membakar dunia ini sampai jadi abu, kalian berdua akan tetap aman di sisiku."

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!