Indonesia
NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Penyelamat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: achmad abdur roufur rokhim

Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.

​Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.

​Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Fitnah Keji di Antara Aroma Roti dan Runtuhnya Kepercayaan

​Pagi di distrik selatan selalu dimulai dengan ritme yang sama. Suara pedagang sayur keliling, deru motor-motor tua yang membelah gang sempit, dan celoteh anak-anak yang berangkat ke sekolah.

​Di dalam rumah kontrakan berbingkai pintu kayu jati yang mewah itu, Senja Kirana tengah mengikat tali celemek cokelatnya dengan semangat yang berapi-api. Hari ini, perasaannya sangat luar biasa ringan. Demamnya telah benar-benar hilang, teror rentenir Bang Jali entah bagaimana seolah menguap ditelan bumi, dan yang paling penting... pria amnesia bertubuh raksasa yang tengah duduk memperhatikannya dari atas kasur itu kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.

​"Kak Arga, aku berangkat dulu ya! Hari ini kedai pasti sangat sibuk karena ada pesanan katering roti tawar untuk acara kelurahan," ucap Senja riang, meraih tas kain usangnya yang sudah dijahit ulang di bagian talinya.

​Arga Danendra menatap gadis itu lekat-lekat. Kemeja putihnya yang digulung sebatas siku menonjolkan urat-urat maskulin di lengannya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini hanya ia sediakan eksklusif untuk satu orang di dunia ini.

​"Hati-hati di jalan. Jangan memaksakan diri mengangkat karung tepung yang berat," pesan Arga dengan nada bariton yang mengayomi. "Kalau bosmu itu menyuruhmu lembur tanpa bayaran tambahan, pulang saja."

​Senja tertawa pelan. "Pak Yanto bukan bos yang jahat, Kak! Beliau sangat baik. Justru beliau selalu memberiku kelebihan roti untuk dibawa pulang. Pokoknya, Kakak diam saja di rumah, jangan bergerak sembarangan supaya luka Kakak cepat kering. Nanti malam kita makan sayur sop hangat!"

​Setelah melambaikan tangan, Senja keluar dari rumah dan mengunci pintu jati tersebut. Arga menatap kepergian gadis itu dari balik jendela kaca tebal. Hati sang CEO terasa sangat tenang. Ia tahu bahwa mulai hari ini, Kedai Roti 'Harum Manis' secara hukum telah menjadi milik Danendra Group berkat kerja cepat Raka semalam. Senja pada dasarnya sedang bekerja di perusahaan milik suaminya—meski gadis itu belum berstatus sebagai istri, dan belum tahu siapa Arga sebenarnya. Arga merasa yakin, di bawah kepemilikannya, tidak akan ada hal buruk yang menimpa Senja di kedai itu.

​Namun, Arga lupa pada satu pepatah kuno: Sebaik apa pun sebuah sistem dibangun, sifat iri dengki manusia selalu bisa menemukan celah untuk menghancurkan.

​Kedai Roti 'Harum Manis' sudah disesaki oleh pembeli sejak pukul delapan pagi. Aroma mentega, ragi yang dipanggang, dan gula karamel menguar hingga ke jalan raya, memancing siapa saja untuk mampir.

​Senja bergerak selincah burung layang-layang. Ia menyeka meja, menyajikan nampan roti manis ke dalam etalase kaca, dan melayani pelanggan dengan senyum secerah matahari pagi. Keramahannya membuat banyak pelanggan, terutama ibu-ibu dan anak sekolah, selalu mencari Senja setiap kali mereka datang.

​"Senja, tolong ambilkan dua potong roti cokelat keju untuk Ibu ini!" seru Pak Yanto dari balik mesin kasir, wajah tuanya tampak sedikit berkeringat namun gembira melihat omzet yang melonjak.

​"Baik, Pak Yanto!" balas Senja cepat.

​Di sudut lain kedai, tepatnya di belakang etalase kue tart, berdiri seorang wanita berusia akhir dua puluhan dengan riasan wajah yang cukup tebal. Namanya Siska. Ia adalah kasir senior dan kepala pelayan di kedai tersebut yang sudah bekerja selama lima tahun.

​Siska menatap Senja dengan sorot mata yang menyiratkan kebencian yang mendalam. Rahangnya mengeras saat melihat seorang pelanggan memberikan uang tip kembalian kepada Senja sambil memuji kesopanan gadis yatim piatu tersebut.

​Di mata Siska, Senja adalah ancaman. Sebelum Senja masuk bekerja enam bulan lalu, Siska adalah anak emas Pak Yanto. Namun sejak kedatangan gadis miskin yang selalu ceria dan tak pernah mengeluh itu, perhatian Pak Yanto dan para pelanggan sepenuhnya beralih. Siska merasa posisinya tergeser.

​Apalagi, pagi ini Siska mendengar desas-desus yang dibawa oleh seorang tetangga gang Senja yang kebetulan berbelanja roti. Ibu-ibu penggosip itu bercerita bahwa kemarin, rumah kontrakan Senja diamuk oleh rentenir pasar karena paman Senja berutang puluhan juta rupiah.

​Sebuah rencana licik dan keji mulai terbentuk di dalam kepala Siska yang dipenuhi bisa kedengkian. Gadis miskin yang sedang terjerat utang rentenir... ini adalah kesempatan yang terlalu sempurna untuk membuangnya dari kedai ini, batin Siska tersenyum sinis.

​Menjelang pukul dua belas siang, suasana kedai mulai sedikit lengang karena jam makan siang.

​Pak Yanto keluar dari ruang kerja kecilnya di bagian belakang. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat tebal yang tertutup rapat. Ia memanggil Siska dan Senja untuk mendekat.

​"Bapak harus pergi ke bank sebentar, ada urusan mendadak mengenai pergantian manajemen kepemilikan bangunan ini," ucap Pak Yanto, wajahnya tampak sedikit bingung namun serius. (Tentu saja ia bingung, karena pagi tadi pengacara dari perusahaan cangkang Danendra Group baru saja menghubunginya bahwa kedai ini telah dibeli dengan harga fantastis tanpa mengubah posisinya sebagai manajer).

​"Di dalam laci meja kerja Bapak, ada amplop cokelat berisi uang tunai sepuluh juta rupiah," lanjut Pak Yanto, menunjuk ke arah pintu ruangannya yang setengah terbuka. "Itu uang untuk membayar tagihan bahan baku kepada Pak Budi, supplier tepung kita. Pak Budi akan datang mengambilnya jam satu siang nanti. Siska, karena kamu kasir senior, tolong nanti serahkan uang itu padanya. Dan Senja, tolong bereskan gudang belakang."

​"Baik, Pak Yanto," jawab Siska dan Senja serempak.

​Sepeninggal Pak Yanto, Senja langsung mengambil sapu dan berjalan menuju gudang penyimpanan tepung yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerja bosnya, sementara Siska berjaga di meja kasir depan.

​Di dalam gudang, Senja menaruh tas kain usangnya di dalam loker kayu terbuka yang biasa digunakan para karyawan untuk menyimpan barang bawaan mereka, lalu mulai menyapu debu tepung yang berserakan.

​Siska yang berdiri di depan, memastikan tidak ada pelanggan yang masuk. Ia melirik ke arah lorong belakang. Terdengar suara gesekan sapu Senja dari dalam gudang tepung.

​Dengan langkah mengendap-endap bak seekor ular berbisa, Siska meninggalkan mesin kasir. Ia menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Pak Yanto. Matanya langsung tertuju pada laci meja kayu yang tidak dikunci. Ia menarik laci itu perlahan, dan senyum iblisnya mengembang saat melihat amplop cokelat tebal tergeletak di sana.

​Siska mengambil amplop berisi uang sepuluh juta rupiah itu. Namun, ia tidak berniat menyimpannya untuk dirinya sendiri. Uang bisa dicari, tapi menyingkirkan Senja selamanya adalah bayaran yang jauh lebih memuaskan bagi ego busuknya.

​Dengan jantung berdebar penuh adrenalin kelicikan, Siska berjalan tanpa suara menuju pintu gudang tepung yang terbuka. Ia melihat Senja sedang membelakanginya, sibuk mengepel lantai di sudut ruangan yang jauh.

​Siska mengalihkan pandangannya pada loker karyawan di dekat pintu masuk gudang. Tas kain usang milik Senja tergeletak di sana dalam keadaan resleting yang setengah terbuka karena rusak. Dengan satu gerakan cepat, Siska menyelipkan amplop cokelat tebal itu jauh ke dasar tas Senja, menutupi amplop tersebut dengan syal tipis milik gadis itu.

​Setelah memastikan aksinya tak terekam oleh siapa pun, Siska kembali melangkah keluar dari lorong dan kembali berjaga di meja kasir, mengatur napasnya dan memasang wajah sedatar mungkin. Ranjau telah dipasang, ia hanya tinggal menunggu bom itu meledak.

​Tepat pukul satu siang, seorang pria paruh baya berkumis tebal datang ke kedai. Itu adalah Pak Budi, supplier tepung gandum langganan kedai.

​Pak Yanto yang juga baru saja kembali dari bank, menyambut Pak Budi dengan hangat. Mereka berbincang sebentar di meja depan, sebelum akhirnya Pak Yanto menoleh pada Siska.

​"Siska, tolong ambilkan amplop di laci meja Bapak untuk Pak Budi," perintah Pak Yanto.

​"Baik, Pak," sahut Siska tenang. Ia berjalan menuju ruang kerja Pak Yanto, berdiam di dalam sana selama beberapa detik, lalu tiba-tiba...

​"YA AMPUN! PAK YANTO!!"

​Jeritan melengking Siska dari arah belakang memecah ketenangan kedai. Beberapa pelanggan yang sedang memilih roti terkejut. Pak Yanto, Pak Budi, dan Senja yang baru saja selesai mengepel lantai gudang, buru-buru berlari menghampiri ruang kerja tersebut.

​"Ada apa, Siska?! Kenapa menjerit?" tanya Pak Yanto panik melihat Siska berdiri dengan wajah pucat yang sangat jelas dibuat-buat.

​"U-Uangnya, Pak... Amplop cokelat di dalam laci itu... HILANG!" seru Siska dengan nada bergetar, menunjuk ke arah laci meja yang kini terbuka lebar dan kosong melompong.

​Wajah Pak Yanto seketika menegang. "Hilang? Jangan bercanda, Siska! Bapak baru saja meletakkannya di sana sebelum ke bank siang tadi. Jumlahnya sepuluh juta rupiah!"

​"Saya tidak bercanda, Pak! Saya berani bersumpah! Tadi saya masuk ke sini dan lacinya sudah kosong!" Siska menatap Pak Yanto dengan mata yang dikaca-kacakan, sebuah kemampuan akting yang luar biasa licik.

​Senja yang berdiri di ambang pintu ikut terkejut. "Hilang? Bagaimana bisa? Padahal tidak ada orang luar yang masuk ke area belakang sejak tadi, Pak."

​Mendengar kalimat polos Senja, Siska langsung menggunakan kesempatan itu untuk memutarbalikkan fakta. Wanita itu membalikkan badannya dengan cepat, menatap Senja dengan tatapan tajam dan penuh tuduhan.

​"Kau benar, Senja," desis Siska, suaranya dinaikkan agar terdengar oleh pelanggan dan karyawan lain di luar ruangan. "Tidak ada orang luar yang masuk ke belakang. Hanya ada KITA. Dan selama Pak Yanto pergi, aku terus berjaga di meja kasir depan melayani pelanggan. Satu-satunya orang yang berada di belakang, yang memiliki akses penuh ke ruangan ini... ADALAH KAU, SENJA!"

​Deg!

​Jantung Senja seolah berhenti berdetak selama satu detik. Matanya membelalak lebar, tak memercayai apa yang baru saja telinganya dengar.

​"M-Mbak Siska... a-apa maksud Mbak? Mbak Siska menuduhku mencuri?" suara Senja bergetar, lututnya tiba-tiba terasa lemas.

​"Siapa lagi?!" teriak Siska histeris, menunjuk tepat ke depan hidung Senja. "Jangan pura-pura lugu, Anak Yatim! Aku dengar dari gosip ibu-ibu pagi ini kalau rumahmu semalam diamuk oleh rentenir pasar! Pamanmu meninggalkan utang puluhan juta rupiah, dan kau diancam akan dijual organ tubuhmu jika tidak bisa melunasinya! Kau butuh uang cepat, kan?! Karena itulah kau mencuri uang sepuluh juta itu untuk menyicil utangmu!"

​Ruangan itu seketika hening mencekam. Para pelanggan yang tadinya sibuk berbelanja kini mulai berkerumun di dekat kasir, berbisik-bisik dan menatap Senja dengan pandangan yang berubah 180 derajat. Tatapan yang tadinya penuh simpati dan kekaguman, kini berubah menjadi tatapan menghakimi, penuh curiga, dan jijik.

​Pak Yanto menatap Senja dengan raut wajah yang sangat rumit. Kekecewaan, ketidakpercayaan, dan konflik batin terlihat jelas di matanya. "Senja... apa yang dikatakan Siska itu... tentang rentenir... apakah itu benar?"

​Air mata langsung menggenang di pelupuk mata Senja. Fakta bahwa rahasia kelam dan penderitaannya semalam kini diumbar di depan umum, dijadikan senjata untuk menghancurkan harga dirinya, membuat hati Senja serasa diiris oleh belati berkarat.

​"I-Itu benar, Pak... Rumah saya memang didatangi rentenir," isak Senja, tidak berani berbohong pada Pak Yanto. "Tapi saya berani bersumpah demi nama almarhum orang tua saya! Saya tidak pernah mengambil uang itu! Saya tidak mencuri, Pak! Tolong percayalah pada saya!"

​"Halah! Maling mana ada yang mau mengaku!" potong Siska dengan suara melengking. "Kau ini memang pandai bermain drama! Mentang-mentang wajahmu melas, kau pikir kau bisa menipu kami semua? Pak Yanto, kita tidak bisa membiarkan pencuri berkeliaran di kedai ini! Kita harus menggeledah barang-barangnya sekarang juga!"

​"Geledah saja! Saya tidak takut, karena saya memang tidak mengambilnya!" tantang Senja sambil menangis terisak. Keberanian murni terpancar dari matanya karena ia tahu ia berada di pihak yang benar. Ia tidak merasa melakukan kejahatan apa pun.

​Siska tersenyum penuh kemenangan dalam hati. "Baik! Pak Yanto, Pak Budi, tolong saksikan! Kita geledah lokernya sekarang!"

​Rombongan kecil itu bergerak menuju gudang tepung. Senja berjalan di depan dengan langkah gemetar namun kepala tegak, membuka pintu loker kayu miliknya, dan mengambil tas kain usangnya.

​Ia menyerahkan tas itu kepada Pak Yanto. "Silakan periksa, Pak. Isinya hanya dompet kosong, botol minum, dan payung lipat saya."

​Pak Yanto, dengan tangan yang sedikit bergetar karena ragu, menerima tas itu. Ia tidak ingin memercayai bahwa Senja yang rajin dan tulus ini adalah seorang pencuri. Ia menarik resleting tas yang sudah rusak itu, memasukkan tangannya ke dalam, dan membongkar isinya di atas meja kayu.

​Sebuah dompet kain. Botol minum plastik. Payung patah.

​Lalu... sebuah amplop cokelat tebal jatuh berdebum ke atas meja.

​[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]

(Ada sebuah luka sistemik di dalam masyarakat kita yang sangat jarang disadari. Sering kali, kemiskinan tidak hanya merampas kenyamanan hidup seseorang, tetapi juga merampas privilesenya untuk dipercayai.

​Ketika sesuatu hilang atau sebuah kejahatan terjadi, telunjuk masyarakat akan selalu terarah pertama kali kepada mereka yang paling miskin, yang bajunya paling lusuh, dan yang hidupnya paling kesulitan. Seolah-olah, menjadi miskin adalah bukti yang cukup untuk sebuah motif kejahatan. Kemiskinan dijadikan alasan pembenar untuk sebuah prasangka buruk. Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan; orang miskin bukan hanya harus berjuang melawan rasa lapar, tapi mereka juga harus berdarah-darah mempertahankan martabat dan kejujuran mereka dari tatapan menghakimi dunia yang menganggap mereka berpotensi menjadi penjahat.)

​Udara di dalam gudang itu seakan tersedot habis.

​Mata Pak Yanto membelalak ngeri. Pak Budi mendecak keras, menggelengkan kepalanya dengan tatapan muak. Sementara Siska melipat tangannya di dada dengan senyum merendahkan yang sangat menjijikkan.

​"Nah! Terbukti kan?!" teriak Siska lantang. "Kau mau mengelak apa lagi sekarang, Gadis Yatim?! Amplop itu ada di dasar tasmu yang buluk ini!"

​Senja menatap amplop cokelat di atas meja itu dengan pandangan kosong. Jantungnya berhenti berdetak. Seluruh darah di tubuhnya seolah turun ke kakinya, membuatnya membeku seperti patung es.

​"I-Ini... tidak mungkin..." bisik Senja, suaranya nyaris hilang tenggelam oleh deru ketakutan di kepalanya. "Aku tidak tahu menahu soal amplop itu... Aku bersumpah... Seseorang pasti meletakkannya di sana! Aku tidak mencurinya!!"

​"Bohong!!" Siska menggebrak meja dengan kasar. "Siapa lagi yang mau menaruhnya di sana?! Loker ini milikmu! Kau sendiri yang menaruh tasmu di sini! Kau butuh uang untuk membayar utang pamanmu, jadi kau mencurinya! Sudah miskin, banyak utang, mencuri pula! Kau benar-benar sampah yang tidak tahu diuntung!"

​Makian kasar Siska bergema hingga ke depan kedai. Para pelanggan yang mendengar bukti telah ditemukan mulai melontarkan komentar-komentar pedas.

​"Sayang sekali ya, padahal wajahnya lugu. Ternyata tangannya panjang."

"Itulah kenapa kita harus hati-hati pada orang miskin yang tiba-tiba kerja rajin."

"Dasar tidak tahu malu. Sudah diberi pekerjaan malah menggigit tangan bosnya."

​Setiap kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang di luar sana melesat bagaikan ribuan jarum beracun yang menghujam tepat ke jantung Senja.

​Dunia Senja runtuh. Runtuh sehancur-hancurnya.

​Saat rumahnya dihancurkan oleh rentenir, ia masih bisa menangis di pelukan Arga. Namun saat harga dirinya, kejujurannya, dan nama baik orang tuanya dihancurkan oleh fitnah keji ini di depan umum, Senja merasa tidak ada lagi tempat baginya untuk berpijak di bumi ini. Ia telah berjanji pada ibunya di depan pusara untuk selalu menjadi orang baik dan jujur, dan kini dunia meludahinya, menuduhnya sebagai maling hina.

​Senja jatuh berlutut di lantai gudang yang keras. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya berguncang hebat. Tangisan keputusasaan yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh mereka yang tidak pernah difitnah.

​"Pak Yanto... saya berani bersumpah atas nama Tuhan... bukan saya, Pak..." isak Senja dengan suara yang sangat memilukan, memohon pada satu-satunya sosok ayah yang ia kenal di tempat itu.

​Namun Pak Yanto hanya bisa menghela napas panjang, membuang muka karena tidak sanggup menatap mata Senja. Hati pria tua itu hancur, namun bukti di depan matanya terlalu kuat. "Bapak sangat kecewa padamu, Senja. Sangat kecewa. Bapak tidak peduli sebesar apa utang rentenirmu, mencuri bukanlah jalan keluarnya."

​"Penjarakan saja dia, Pak Yanto!" hasut Siska tanpa ampun. "Biar dia membusuk di penjara bersama para maling lainnya! Dia sudah mencemarkan nama baik Kedai Harum Manis!"

​"Tidak... tolong, jangan penjarakan saya... saya tidak mencuri..." Senja terus menggelengkan kepalanya di lantai, meremas ujung celemeknya dengan putus asa. Bayangan penjara yang dingin dan gelap membuatnya ketakutan setengah mati. Jika ia dipenjara, lalu bagaimana nasib Kak Arga yang sakit dan amnesia di rumah? Siapa yang akan menjaganya?

​"Pak Yanto, jangan ragu-ragu! Saya akan menelepon polisi sekarang juga!" Siska merogoh ponsel di saku seragamnya, jarinya menari cepat bersiap memutar nomor darurat, senyum kemenangan terlukis jelas di wajah liciknya.

​"Tunggu, Siska. Jangan panggil polisi," suara Pak Yanto terdengar berat, sebuah sisa kebaikan hati yang masih ia miliki untuk Senja. "Uangnya sudah kembali. Bapak tidak akan menyerahkanmu ke polisi, Senja. Tapi... Bapak tidak bisa lagi mempekerjakan seorang pencuri di kedai ini."

​Pak Yanto menatap gadis yang sedang menangis tersedu-sedu di lantai itu dengan pandangan dingin.

​"Kau dipecat, Senja. Bawa tasmu, dan pergi dari kedai ini sekarang juga. Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di sini."

​Kata "dipecat" itu bagaikan palu godam terakhir yang menghantam kepala Senja. Pekerjaan ini adalah nyawanya. Satu-satunya sumber kehidupannya dan Arga. Jika ia dipecat, ia tidak akan memiliki uang untuk membeli beras esok hari, apalagi membayar cicilan pintu dan jendela yang dijanjikan Arga (karena ia mengira itu utang dari pemerintah).

​Siska tertawa puas. Ia meraih tas usang milik Senja dari atas meja, melemparkannya dengan kasar hingga mengenai wajah Senja yang sedang menunduk.

​"Kau dengar apa kata bos, kan?! Pergi sana, Maling Yatim! Bawa tubuh kotormu keluar dari kedai ini, dan jangan pernah membuat kami jijik dengan wajah pura-pura melasmu itu lagi!" bentak Siska kejam.

​Senja tidak melawan. Hatinya telah mati rasa oleh syok dan penghinaan bertubi-tubi. Dengan tangan gemetar dan lutut yang lecet, gadis itu memeluk tas usangnya di depan dada, menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan berjalan tertatih-tatih keluar dari gudang.

​Saat ia berjalan melewati meja kasir menuju pintu keluar, ia harus melewati puluhan pelanggan yang menatapnya dengan pandangan menjijikkan, berbisik-bisik, dan menghujatnya. Tidak ada yang menolongnya. Tidak ada yang mendengarkan pembelaannya. Di mata dunia hari ini, Senja Kirana telah resmi menjadi seorang penjahat yang hina.

​Begitu kakinya melangkah keluar dari Kedai Roti Harum Manis, udara panas siang hari di ibu kota menyambutnya. Namun bagi Senja, dunia terasa sangat dingin, gelap, dan membekukan.

​Di bawah terik matahari, gadis yang kehilangan pekerjaan, harga diri, dan kepercayaannya pada dunia itu berjalan gontai tanpa arah. Air mata terus mengalir membasahi pipinya yang kusam, sementara hatinya menjerit memanggil satu-satunya nama yang kini menjadi jangkar dalam hidupnya.

​Kak Arga... tolong aku... Senja takut...

​Dan tanpa Senja ketahui, dari seberang jalan, seorang pria ber-hoodie hitam dan bertopi baseball yang sejak tadi duduk di atas motor bututnya, baru saja menyaksikan seluruh drama pengusiran tersebut melalui kaca jendela kedai.

​Mata Raka Narendra memicing berbahaya. Tangan kirinya merogoh ponsel satelit terenkripsinya, sementara jari kanannya mengelus gagang pistol di pinggangnya dengan aura yang sangat mengancam.

​"Halo, Bos," suara Raka terdengar sangat rendah dan dingin saat panggilan itu tersambung, layaknya seorang malaikat maut yang bersiap mencabut nyawa.

​"Kurasa aku punya berita buruk untukmu. Ada segerombolan tikus bodoh di kedai rotimu... yang baru saja membuat bidadarimu menangis dan mengusirnya layaknya anjing jalanan."

​Di seberang telepon, di dalam rumah kontrakan yang sunyi, suhu udara seolah anjlok menembus titik nol mutlak. Keheningan yang mematikan mengudara selama beberapa detik, sebelum sebuah suara bariton yang sarat akan janji pembantaian terdengar.

​"Kunci seluruh akses kedai itu, Raka. Jangan biarkan satu pun serangga di dalamnya keluar hidup-hidup sebelum aku tiba."

1
𝐀⃝🥀Weny
kira² apa yang mau dilakukan Natasya ya🤔
𝐀⃝🥀Weny: astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sebelumnya kuracuun dirimu🤣🤣😜😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
aduuuh... mama Rini gangguin aja, kan Arga sudah menahan diri lama😜😜😜😜🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang luka yg ditorehkan masa lalu tidak bisa hilang begitu saja... jadi kamu harus bersabar senja dan bangunlah kepercayaan kembali untuk Arga 😊
𝐀⃝🥀Weny
Alhamdulillah.. mamanya Arga gak kayak orang kaya yg jahat🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
ya pastinya kamu Raka 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya senja sudah memaafkan Arga... semoga Arga tidak membuat ulah lagi 😅🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkin permintaan senja, kalau memang Arga mencintainya jangan pernah ikut campur urusannya.. biarlah waktu mengalir sebagaimana mestinya...
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ren₂₄🏡s⃝ᴿ M⃟3💋
mampir
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 😍😍😍🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
hempaskan saja si hama itu, bikin sakit mata saja😅😅😅
𝐀⃝🥀Weny: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
𝐀⃝🥀Weny
demi mengejar cinta, apa saja akan ku lalui ... ahaaaay🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
heemmm.. padahal cinta, kenapa gengsi😅🤣🤣🤣jangan pantang menyerah Arga, kejarlah trs😄
𝐀⃝🥀Weny
wah bakalan seru nih, si Natasha juga sudah balik dan mau menemui Arga 😄 aduh senja, meskipun kamu menyamar gak bakalan bisa lari dari Arga Karena dia punya insting yang bagus🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: preeeett 😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
larilah sejauh yang kamu mau senja, tapi ingatlah sejauh apa pun kamu lari.. pasti ditemukan juga sama Arga.. kecuali yang membantumu lari itu musuhnya Arga 😅🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: asek aseeeek... cinta palsu🤣🤣🤣😜
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
sudah dikasih kebebasan sesuai keinginan kenapa gak langsung keluar😅 sekarang menyesalkan, tadi aja sok²an gak mau😏🤣🤣🤣
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
sejatinya kebahagiaan tidak di ukur dengan harta, tapi nek gak punya harta Yo meh ngenesss/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ɛʟƑ⃝🧚‍Miko miaw🧚: ooooooooooooooo
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
terkadang yg di butuhkan bukan kemewahan, melainkan sederhanaan dan kedamaian 🥰
𝐀⃝🥀Weny
sebuah kekuasaan memang pemenangnya 🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: 😪😪😪😪😪
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan... senja kecewa😅 harusnya sebelum pergi tu alasan kalau ingatanya sudah pulih, gak langsung pergi gitu aja😪🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny
mungkinkah Arga pura² tidak kenal senja untuk mengelabuhi musuh soal kelemahannnya🤔
𝐀⃝🥀Weny
kasihan senja ditinggal gitu aja😪 bersabarlah senja, suatu saat nanti kamu pasti tau kebenaran tentang Arga😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!