"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gatra seutuhnya
"Hiks.. Aakhhh" Kenanga kesakitan tapi dia tetap membuka mulutnya karena ingin bisa bicara normal.
"Tahan Kenanga, kamu pasti kuat" bujuk Lintang dan Hamka juga terus membantu dengan memberikan energinya pada Harsya yang tidak bisa terlalu lama menggunakan keahliannya.
"Cabut kak!" ucap Harsya dan Liam langsung mencabutnya
"Hhkkkk... Aakkhh!" pekik Kenanga dengan suara lantang
"Hiks ..."
"Jangan bicara dulu, ayo minum air garam ini, Ini bisa menghilangkan efek dari gangguan gaib di tubuh kamu" bujuk Langit memberikan air garam yang sudah dia buat, bahkan energi miliknya juga sudah di masukkan ke dalam air itu agar bisa membantu menyembuhkan Kenanga.
Glek. Glek.
"Kamu kuat dan aku bangga padamu Kenanga" ungkap Liam memeluk Kenanga yang masih menangis karena kesakitan.
"Istirahat dulu ya, jangan di paksa bicara" ucap Lintang dan Kenanga mengangguk. Dia langsung memeluk Liam lagi dan memejamkan matanya.
"Terima kasih ya Harsya, dad, Liam bawa Kenanga dulu ke kamar, kalian tidurlah" ungkap Liam
"Iya kak, sama sama" jawab Harsya
"Tidurlah, Daddy juga akan istirahat karena besok akan pulang pagi pagi sekali" jawab Langit menyusul Liam untuk tidur ke kamarnya.
Lintang juga pamit ke kamarnya bersama Laily, Hamka juga membawa dia anak anak itu ke kamarnya karena besok anak anak itu akan pulang bersama Langit, Sagara dan Miqdad. Langit tidak menginap di rumah Dirman, dia di minta Sagara untuk tidur di rumah itu dengan menggunakan kalung khusus agar Langit bisa membantu Kenanga sembuh dengan energi miliknya.
"Papa, Shan masih mau di sini, rasanya masih kurang Shan main dengan papa" rengek Zeeshan
"Iya, halsa juga masih mau di sini, main dengan kak Fatih" sambung Harsya
"Tapi besok kan Opa pulang, kalian harus ikut, tadi juga kan kita sudah mancing dan bermain di hutan sampai sore" ucap Hamka
"Masih betah" rengek keduanya memeluk Hamka
"Bulan depan deh, papa dan Abang jemput kalian ke sini lebih awal, datang dengan mama" bujuk Hamka
"Besok papa antar kami kan?" Tanya Zeeshan
"Iya, papa akan antar kalian" jawab Hamka
"Ikut kami pulang ke lumah kan?" Tanya Harsya
"Abang tidak bisa, kan harus mengajar sekolah di sini, ditambah besok akan ada bulan gelap, bahaya kalau kalian di sini" jawab Hamka dan kedua anak itu tampak kecewa.
"Bagaimana kalau setelah shalat subuh kita ke tempat kak Jaka lagi untuk minta di ambilkan ikan, kalian bawa untuk pulang, oleh oleh untuk di resort" bujuk Hamka
"Mau" jawab keduanya yang akhirnya kembali ceria
"Sekarang tidur, besok jangan sampai kesingan kalau kalian mau ke air terjun itu lagi" bujuk Hamka
"Baik papa, Abang" jawab keduanya
"Baca do'anya di dalam hati, selamat malam anak anak Soleh" ucap Hamka mengecup kening kedua anak itu.
Di kamar Liam, dia juga masih mengusap punggung Kenanga yang masih terisak karena menahan sakit di tenggorokannya, ada rasa khawatir Kenanga justru jadi tidak bisa bicara karena sejak jarum emas itu tercabut dan di hancurkan Langit, Kenanga masih belum mengatakan apapun bahkan membuka mulutnya juga tidak.
#######
"Itu pa ikannya nyangkut di jaring" ucap Zeeshan yang sejak subuh sudah di air terjun bersama Hamka dan Harsya.
"Tangkap bang" ucap Harsya senang karena ikan ikan itu terlihat besar.
Ikan itu tidak datang dengan sendirinya, tapi di bantu oleh Kalia agar anak anak itu senang, apalagi mereka akan pulang ke resort pagi itu, jadi dia memberikan ikan terbaik yang ada di sungai tempat air terjun itu berada.
"Wah.. Shan jadi sayang kalau di goreng, di pelihara boleh tidak pa?" tanya Zeeshan saat dia memegang ikan mas berwarna putih dan merah yang di ambil Hamka dari dalam jaring ikan yang di lepas di dekat muara air terjun itu.
"Boleh, nanti kita kasih plastik ikan, di rumah Opa Sagara ada banyak" jawab Hamka
"Ini untuk kalian, ini buah berry hutan, kalian suka kan" ucap Gatra memberikan dua bungkus berry yang dia petik
"Terima kasih Om" ungkap keduanya memeluk Gatra yang sengaja menyamar jadi manusia bersama Kalia
"Sama sama, kalau kalian sempat, datang lagi kemari, kak Jaka dan Ayu pasti senang" ucap Gatra
"Mau, kami mau ke sini lagi" jawab keduanya
"Ayu, kak Halsa pulang dulu ya, kamu jangan lewel" ucap Harsya memeluk Ayu yang sekarang sudah berusia enam bulan
"Kak Shan akan bawakan sepatu untuk ayu dan sandal untuk kak Jaka kalau kami ke sini lagi" ucap Zeeshan
Ayu terlihat senang dan terus meminta di gendong oleh Zeeshan dan Harsya, bahkan dia tidak mau lepas dari keduanya yang sejak kemarin sore menghabiskan waktu di tempat itu sambil membakar ikan dan sosis yang di bawa Hamka dari rumah.
"Ayu kenapa tidak ikut kami saja dengan kak Jaka?" tanya Zeeshan
"Tugas mereka di sini, Jaka juga ikut sekolah dengan papa kalian, hanya saja dia sekolah di rumah pak Sagara" jawab Kalia karena Jaka adalah anak orang yang dulu di bunuh oleh warga karena di kira seorang pengkhianat, jadi jika warga tahu Jaka masih hidup, nyawanya akan terancam.
"Ayo kita pulang, kalian sudah dapat banyak" ajak Hamka
"Iya pa"
"Tunggu bang"
Harsya dan Zeeshan mencium tangan Kalia dan Gatra, tapi saat giliran Harsya memeluk Gatra, dia menekan satu helai bulu yang ada di tengkuk Gatra hingga Gatra memekik kesakitan tapi sebisa mungkin dia tahan rasa panas dan juga perih yang tiba tiba masuk ke dalam tubuhnya.
"Aakkhh!"
"Harsya apa yang kamu lakukan?" tanya Hamka khawatir bahkan terus meminta maaf pada Gatra.
"Satu helai lambut itu belbahaya kalau di cabut olang, Om Gatla bisa jadi manusia lagi dan pasti akan mati kalena sudah tua, jadi akan lebih baik, Om jadi dili Om yang sekalang kalena sebenalnya Om sudah bukan manusia lagi" jawab Harsya lalu dia pingsan.
"Astagfirullah Harsya" panik Hamka langsung menggendong Harsya
Satu helai rambut itu memang adalah penanda kalau Gatra masih memiliki sisi manusia, tapi jika sampai itu tercabut, otomatis Gatra akan kembali ke sosok asalnya yang pastinya sudah sangat tua bahkan mungkin seharusnya sudah mati karena usianya sudah ratusan tahun.
"Cepat bawa ke dalam" ucap Kalia segera memeriksa Harsya, sementara Jaka menjaga Zeeshan dan Ayu di luar gubuk agar tidak menggangu mereka.
"Energinya dia paksa kaluar untuk menekan rambut yang ada di tengkuk kamu kang" ucap Kalia menyalurkan energinya agar Harsya segera sadar bahkan Hamka memberikan minyak kayu putih ke badan Hamka karena di sana juga udaranya dingin.