Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 Siluet di Balik Jendela

Disclaimer​!!!

Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan insiden adalah hasil imajinasi pengarang. Wujud kemiripan dengan nama instansi atau tokoh nyata adalah kebetulan semata.

Selamat membaca😊

✨✨✨

Dinding kaca lantai empat Gedung Fakultas Ekonomi Universitas Jagatara pagi itu menyajikan pemandangan kota yang padat. Namun, bagi Ravian Adhikara Evander, tempat itu hanyalah satu dari sedikit ruang di mana ia bisa bernapas tanpa perlu mengkhawatirkan pergerakan saham, intrik papan direksi, atau kejaran media bisnis.

Di tempat ini, ia bukan lagi seorang CEO, melainkan seorang dosen muda luar biasa yang terkenal irit bicara, berjarak, dan tak segan memberi nilai E bagi mahasiswa yang meremehkan kelasnya.

Dengan penampilan yang sederhana dan bersahaja tanpa dibalut jam tangan mewah seharga ratusan juta, tak ada satupun mahasiswa yang menduga bahwa pria berusia 30 tahun itu adalah seseorang yang memiliki pengaruh kuat dan juga pemilik sah Evander Corp, raksasa teknologi yang menguasai pasar Asia Tenggara.

Ravian menyesuaikan posisi kacamata berbingkai tipis yang bertengger di pangkal hidungnya. Ia merapikan gulungan kemeja putihnya hingga sebatas siku. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu Ruang 207. Riuh suara mahasiswa terdengar dari dalam hingga luar. Ravian memegang gagang pintu, memejamkan mata sejenak disusul helaan napas pelan, lalu memutarnya.

Kriekkk

Bunyi pintu yang dibuka perlahan seketika menghentikan aktivitas yang terjadi di dalamnya. Hening seketika menyergap ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu. Suara riuh khas hari pertama semester baru mendadak senyap begitu sosoknya melangah masuk. Puluhan pasang mata menatap lurus ke arah podium depan. Presensi kaku dan aura dingin yang dibawanya sanggup membungkam ruangan hanya dalam hitungan detik.

Ravian menaruh map kulit yang dibawanya di atas meja dosen, kemudian menegakkan tubuhnya dan menatap seisi kelas. Tatapan matanya yang tajam bagaikan elang menyapu barisan kursi dari kiri ke kanan mengabsen seluruh deretan bangku. Wajah-wajah yang tegang, buku catatan yang masih bersih, dan beberapa mahasiswa yang terlihat mengalihkan pandangan.

Hingga pandangannya terhenti pada baris ketiga dekat jendela, tepat di sisi jendela yang terbuka.

Seorang mahasiswi duduk di sana, seberkas sinar matahari pagi dari balik jendela jatuh tepat di atas wajahnya. Rambut cokelat gelapnya dicepol asal-asalan, meninggalkan beberapa helai lepas yang membingkai wajahnya. Terdapat kacamata berbingkai tipis yang yang sedikit melorot dari pangkal hidungnya, pipi yang tampak merona karena tertawa kecil bersama teman yang duduk di sebelahnya, hingga akhirnya ia tersadar dan buru-buru memperbaiki duduknya.

Bak dihantam gelombang tak kasat mata, dada Ravian bergetar hebat. Sebuah getaran impulsif yang belum pernah ia rasakan sepanjang 30 tahun hidupnya. Waktu seolah berhenti berputar. Suara deru pendingin udara, gesekan kertas, dan hembusan angin mendadak redup. Hanya ada siluet gadis itu di bawah pendar cahaya pagi.

Ravian, seorang pria yang terkenal sangat rasional, dingin, terbiasa mengendalikan ribuan karyawan dan menghadapi negosiasi bisnis senilai triliunan rupiah, kini berdiri kaku di depan kelas hanya karena satu tatapan mata. Reaksi fisiknya sama sekali tak masuk akal dan terasa asing.

Cinta pada pandangan pertama? Nonsens. Baginya itu hanya bualan pemasaran novel Picisan, setidaknya sampai detik ini.

“Pak?” suara mahasiswa yang berada di barisan depan memecah keheningan.

“Ekhemmm” Ravian berdehem pelan demi mengembalikan artikulasi suaranya, kemudian membetulkan kacamata bacanya.

"Selamat pagi," suara Ravian terdengar datar dan tegas, menggema pelan di dalam ruangan. "Saya Ravian Adhikara. Selama satu semester ke depan, saya yang memegang mata kuliah Bisnis dan Manajemen Strategis."

"Kalian di sini untuk belajar bagaimana sebuah entitas bisnis bertahan di tengah krisis, bukan untuk bersantai," tegas Ravian, matanya sengaja menyapu ke arah lain. "Silakan buka silabus yang sudah dikirim ke portal mahasiswa. Dan satu hal lagi... saya tidak menerima keterlambatan, alasan tugas tertinggal, atau interaksi yang tidak perlu di kelas saya."

Gadis yang berada di sisi jendela, Liora Valeska Arwen mengeriputkan hidungnya pelan.

"Galak banget, Ra," bisik Rhea teman sebangkunya, seraya merapatkan tubuh. "Gue dengar dia dosen killer nomor satu di jurusan ini. Nilai paling tinggi semester lalu cuma B+."

"Kelihatan kok dari mukanya," balas Liora berbisik, berusaha membenarkan posisi kacamatanya yang melorot. "Kaku banget. Tapi... suaranya kok mirip seseorang, ya?"

"Mirip siapa?"

Liora menggeleng samar. "Nggak tahu. Perasaan gue aja kali."

Liora kembali menatap ke depan, memperhatikan Ravian yang mulai menuliskan poin-poin materi di papan tulis. Garis rahang yang tegas dan postur tubuh yang terlalu tegap untuk ukuran seorang dosen biasa. Namun, Liora segera menepis pikiran itu. Hari ini ia punya hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan daripada dosen barunya yang menyebalkan.

Sore nanti, pengumuman hasil seleksi magang jalur prestasi di Evander Corp akan keluar. Liora telah menaruh seluruh harapannya di sana.

***

Gedung Evander Corp berdiri megah di pusat kawasan bisnis Jakarta.

Ravian melangkah keluar dari lift khusus eksekutif di lantai empat puluh dua. Kemeja putih yang membalut tubuh atletisnya saat di kampus kini sudah dilapisi jas tailor-made berwarna abu-abu gelap. Kacamata baca yang tadi membingkai wajah tampannya sudah dilepas, tergantikan oleh tatapan tajam nan dominan khas seorang pemimpin konglomerasi teknologi terbesar di Indonesia.

"Selamat sore, Pak Evander," panggil Julian Vance, Kepala Tim Hukum sekaligus sahabatnya, yang sudah menunggu di depan pintu ruang kerja CEO.

"Bagaimana laporan seleksi internship jalur prestasi?" tanya Ravian tanpa menghentikan langkah.

"Sudah difinalisasi oleh divisi HRD dan Helena," jawab Julian seraya mengekor Ravian masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas. "Ada tiga orang yang lolos ke tahap akhir untuk posisi Asisten Pribadi Direksi. HRD baru saja mengirimkan berkas fisiknya ke meja Bapak untuk tanda tangan terakhir."

Ravian menduduki kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit berkualitas tinggi, lalu menarik map tebal berlogo Evander Corp di atas meja.

"Kamu tahu saya tidak suka menerima peserta magang di ring satu eksekutif, Julian," ujar Ravian dingin seraya membuka halaman pertama. "Asisten pribadi butuh efisiensi, bukan anak kuliah yang masih harus diajari cara membuat kopi."

"Aturan baru dari dewan komisaris untuk program CSR akademis, Ravian. Lagi pula, anak-anak ini jalur prestasi dengan IPK di atas 3.8," sahut Julian santai, menyandarkan punggungnya di sofa. "Coba lihat dulu profilnya."

Ravian menghela napas singkat, membalik lembar berkas pertama. Kosong. Lembar kedua...

Napas Ravian terhenti seketika. Tubuhnya mendadak tegang.

Di lembar kertas itu, terpampang foto formal berlatar merah. Wajah yang sama. Kacamata yang sama meski di foto terlihat lebih rapi dan nama lengkap yang tertulis tegas di bawahnya:

Liora Valeska Arwen.

Program Studi Bisnis & Manajemen – Universitas Jagatara.

Ravian menatap lembar kertas itu tanpa berkedip. Bayangan tawa hangat di sisi jendela ruang kuliah pagi tadi mendadak berputar kembali di kepalanya dengan sangat jelas.

"Ravian? Kenapa?" Julian mengernyit heran melihat sahabatnya yang mendadak membeku. "Ada masalah sama kandidatnya?"

Ravian menormalkan kembali ekpresi wajahnya, perlahan menutup map tersebut. Jemarinya tertaut di atas meja kayu mahoni. Dinding tebal yang selama ini memisahkan dunia akademisnya yang tenang dan dunia bisnisnya yang penuh intrik... baru saja runtuh tanpa bersisa.

"Tidak," jawab Ravian, suaranya terdengar jauh lebih dalam dari biasanya. "Kandidat ini... diterima."

✨✨✨

Halo, teman-teman! ✨

Kalau kalian sudah membaca karya ini, jangan lupa untuk bantu dukung dengan memberikan like, komentar, dan vote. Dukungan kecil dari kalian sangat berarti dan menjadi semangat aku untuk terus melanjutkan cerita ini💚

Aku juga akan dengan senang hati menerima kritik dan saran dari kalian. Novel ini adalah karya pertamaku, jadi mungkin masih ada banyak kekurangan, baik dalam penulisan, alur cerita, karakter, maupun penggunaan kata. Aku masih dalam proses belajar dan berkembang.

Jadi, kalau menemukan bagian yang kurang sempurna, jangan ragu untuk menyampaikannya dengan baik. Kritik dan saran dari kalian akan menjadi bahan pembelajaran agar karya-karyaku berikutnya bisa menjadi lebih baik.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca, mendukung, dan menemani perjalanan karya pertamaku. Semoga kalian menikmati ceritanya! 💚📖

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!