"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Cerai! Siapa takut
"A-apa?! Penggelapan dana?!" sela Bu Rini dengan suara gemetaran, memegang lengan Rian dengan erat. "Rian! Jangan bilang kamu beneran pakai uang kantor buat beli perhiasan mewah puluhan juta yang dibilang si Nisa kemarin malam?!"
Rian mengusap wajahnya dengan kasar, menghindari tatapan mata ibunya. Keringat dingin mulai merembes deras dari pelipis dan dahi pria berusia 28 tahun itu.
"Nggak, Bu! Nisa cuma asal bicara! Nisa sengaja mau memfitnahku!" dalih Rian panik, mencoba bersandiwara untuk menyelamatkan mukanya di depan sang ibu.
Rian lalu kembali menatap Annisa dengan tatapan penuh ancaman. "Nisa! Mas peringatkan kamu ya! Kalau sampai besok wewenang keuanganku di kantor tidak dipulihkan, dan kalau sampai kamu tidak mau membuka blokir kartu kredit Sisil serta menyerahkan seluruh uang simpananmu untuk menutupi kekurangan di rekening Mas ... Mas tidak akan segan-segan menjatuhkan talak dan menceraikan kamu hari ini juga!"
Ruang tamu mendadak senyap seketika.
Bu Rini dan Sisil tersenyum sinis di belakang Rian. Dalam pikiran mereka, ancaman perceraian adalah senjata paling ampuh untuk membuat wanita pengangguran dan tak beranak-pinak seperti Annisa berlutut memohon ampun. Mereka yakin, Annisa yang tidak punya keluarga dan tempat tinggal lain pasti akan ketakutan setengah mati jika diancam dibuang ke jalanan.
"Dengar itu, Nisa?!" timpal Bu Rini dengan nada angkuh. "Kamu mau jadi janda terlunta-lunta di jalanan, hah?! Mumpung Rian masih baik mau memberi kamu kesempatan, cepat serahkan seluruh uang simpananmu dan minta maaf sama Rian dan Sisil!"
Annisa menatap Rian, Bu Rini, dan Sisil secara bergantian. Tak ada satu tetes pun air mata di matanya. Tak ada kepanikan, tak ada getaran ketakutan sedikit pun di wajah cantik berusia 24 tahun itu.
Sebaliknya, Annisa justru tertawa pelan—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat merdu namun memancarkan keangkuhan yang luar biasa berkelas.
"Menceraikan Nisa, Mas?" tanya Annisa seraya merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah map dokumen tebal berwarna merah tua.
"Mas Rian pikir ... Nisa akan takut kalau Mas Rian menceraikan Nisa?"
Annisa melemparkan map dokumen tebal itu tepat ke atas meja kaca di hadapan Rian. Lembaran-lembaran kertas berkualitas tinggi mencuat keluar dari dalam map tersebut.
"Apa ini?!" bentak Rian dengan dahi berkerut tajam.
"Itu adalah surat gugatan cerai resmi yang sudah Nisa daftarkan ke Pengadilan Agama tadi siang," sahut Annisa dengan suara tenang yang sangat tegas. "Beserta seluruh berkas tuntutan ganti rugi atas penyalahgunaan fasilitas dan penggelapan dana pribadi Nisa selama tiga tahun terakhir."
Rian, Bu Rini, dan Sisil melotot lebar. Napas mereka seolah terhenti seketika.
"K-kamu ... kamu menggugat cerai Mas?!" gagap Rian tak percaya. Tangannya gemetaran saat menyambar map dokumen tersebut dan membaca lembar demi lembar isinya.
Di sana, tertera nama lengkap sang penggugat: Annisa Septiani.
Dan di halaman berikutnya, tercantum salinan sertifikat kepemilikan tanah dan bangunan rumah berlantai dua yang saat ini mereka tempati, beserta bukti pelunasan seluruh cicilannya.
"Dan satu hal lagi yang perlu Mas Rian, Ibu, dan Sisil ketahui," lanjut Annisa seraya menegakkan bahunya, menatap ketiga orang itu dengan pandangan membunuh dari seorang putri penguasa Vantara Group.
"Rumah berlantai dua yang kalian tempati ini ... seratus persen adalah milik pribadi Annisa Septiani. Dan besok pagi jam delapan ... tim pengacara dan juru sita saya akan datang untuk mengosongkan rumah ini dari orang-orang parasit seperti kalian," kata Annisa sebelum kembali masuk ke kamarnya.
***
Pagi hari jam tujuh kurang lima belas menit. Suasana di rumah berlantai dua tempat tinggal Rian terasa sangat pekat oleh aroma kepanikan. Udara di dalam rumah masih terasa hangat dan agak pengap karena pendingin ruangan tidak bisa dinyalakan sejak semalam.
Di ruang tamu Bu Rini duduk bersandar di sofa dengan wajah pucat dan mata yang bengkak. Pikirannya benar-benar kacau setelah membaca lembaran dokumen yang dilemparkan Annisa semalam. Di sampingnya, Rian duduk membisu dengan kedua tangan menopang kepala. Rambutnya berantakan, dan kemeja yang dikenakannya sejak kemarin belum sempat diganti.
Sementara itu, Sisil berdiri di tengah ruangan sambil menggoyang-goyangkan lengannya dengan raut wajah amat histeris.
"Mas Rian! Ibu! Ini gak mungkin, kan?!" jerit Sisil dengan suara melengking yang memecah keheningan pagi. "Mbak Nisa pasti cuma gertak sambal! Mana mungkin rumah mewah ini punya dia?! Mas Rian kan Manager di perusahaan raksasa, masa rumah sendiri atas nama cewek pengangguran kayak gitu?!"
Rian tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Ucapan adiknya bagaikan sembilu yang menyayat-nyayat rasa gengsinya yang sudah di ambang kehancuran.
"Sisil! Kamu bisa diam tidak?!" bentak Rian dengan suara parau dan berat. "Mas lagi pusing setengah mati! Jangan makin bikin kepala Mas mau pecah!"
"Gimana Sisil bisa diam, Mas?!" balas Sisil tak mau kalah, matanya memerah menahan amarah dan rasa malu. "Hari ini Sisil ada ujian presentasi di kampus! Temen-temen geng Sisil udah pada nunggu di grup! Sisil butuh uang buat bayar iuran proyek kampus dan beli bahan presentasi lima ratus ribu! Mana uangnya, Mas?! Katanya Mas mau ganti uang Sisil yang kemarin?!"
Bu Rini mengelus dadanya yang terasa sesak, lalu menatap Rian dengan pandangan penuh penuntut. "Iya, Rian ... kasih adiknya uang dulu. Masalah rumah ini nanti kita bicarakan baik-baik sama si Nisa kalau dia sudah turun. Ibu yakin dia cuma emosi sesaat karena kamu jarang pulang."
Rian memejamkan matanya erat-erat. Rasa pahit merayapi tenggorokannya. Uang dari mana lagi yang harus ia berikan?!
Sisa limit pinjaman online daruratnya kemarin sudah ludes untuk membayar makanan tim pemasaran dan menutup kekurangan biaya di kantor. Rekening pribadinya saat ini benar-benar nol rupiah, sementara seluruh kartu kredit fasilitas kantornya sudah ditarik secara paksa oleh Pak Danu kemarin sore!
"Mas gak ada uang tunai lagi, Sisil!" desis Rian dengan gigi tergemeluk, menghindari tatapan mata adik dan ibunya.
"Apa?! Gak ada uang?!" jerit Sisil makin histeris. "Bohong! Mas Rian bohong, kan?! Masa Manager besar cuma punya uang nol rupiah?! Mas bercanda ya?!"
Sisil yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat panik dan gengsi tinggi mendadak membalikkan badan. Mata liarnya menatap ke arah lantai dua. Pikiran piciknya menyimpulkan satu hal: semua kekacauan ini, semua rasa malu yang menimpanya sejak kemarin, seratus persen adalah kesalahan Annisa Septiani!
"Ini semua pasti gara-gara cewek sialan itu!" maki Sisil dengan napas memburu.
Tanpa mendengarkan cegahan Rian, Sisil melangkah lebar-lebar menaiki tangga menuju lantai dua. Suara hentakan kakinya bergema keras di sepanjang koridor.
"Sisil! Mau ngapain kamu?!" teriak Bu Rini dari bawah, namun Sisil sudah tidak peduli lagi.
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu