Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Menghadiri Undangan

Hari pertemuan antar sekte akhirnya tiba. Di halaman utama Sekte Awan Tinggi, puluhan utusan dari berbagai sekte dan kekuatan di wilayah itu sudah berkumpul.

Aula utama dihias dengan indah, meja-meja panjang berjejer, diisi dengan teh dan camilan. Ketua Sekte Chang berdiri di tempat kehormatan, bersama para Tetua Inti-nya. Semua orang hadir — kecuali perwakilan Sekte Surgawi Langit.

"Sudah hampir waktu dimulai... masih belum ada tanda-tanda kedatangan mereka," gumam salah satu Tetua Sekte Awan Tinggi, matanya menatap ke arah gerbang utama. "Mereka tidak berniat datang?"

"Atau mungkin mereka tidak tahu jalan ke sini?" tambah yang lain dengan nada meremehkan.

Ketua Sekte Chang mengangkat tangan pelan, menenangkan mereka. "Tunggu sebentar lagi. Jika waktu habis dan mereka belum datang... kita mulai tanpa mereka."

Detik berganti menit. Hanya tersisa satu menit lagi sebelum acara dimulai. Sebagian utusan mulai berbisik-bisik, ada yang menggelengkan kepala, ada yang tersenyum sinis — seakan membenarkan dugaan mereka bahwa sekte baru itu tidak tahu sopan santun.

Namun tepat saat penghitungan detik terakhir... angin tiba-tiba berhembus kencang di halaman itu. Cahaya putih lembut menyapu gerbang utama.

Sebuah sosok melangkah masuk dengan tenang — jubah putih bersih tanpa kerutan, wajah tenang, seolah dia bukan baru saja menempuh perjalanan jauh, melainkan baru saja berjalan dari halaman sebelah. Itu adalah Bai Yuan.

"Maaf... saya tidak terlambat, bukan?" ucap Bai Yuan pelan, suaranya tidak keras namun terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir. Dia melangkah maju, berdiri di tempat yang disediakan untuknya tepat satu detik sebelum upacara dibuka.

Seluruh halaman menjadi hening seketika. Bukan karena dia datang tepat waktu — tapi karena dia datang dengan aura yang begitu dalam, begitu tenang, sehingga tak ada satu pun yang berani menyuarakan keberatan. Ketua Sekte Chang menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk pelan.

"Kau datang tepat waktu," ucap Ketua Sekte Chang. "Silakan duduk."

***

Setelah pembukaan singkat, Ketua Sekte Chang berdiri, wajahnya terlihat ramah namun matanya tajam.

"Terima kasih semua telah hadir," ucapnya berat. "Tujuan utama pertemuan ini adalah menetapkan batas wilayah dan menjaga kedamaian. Namun ada satu hal penting yang harus disepakati — Gunung Puncak Langit telah lama menjadi wilayah kekuasaan Sekte Awan Tinggi. Selama ini dibiarkan kosong, namun kini ada sekte baru yang mendirikan kediaman di sana."

Suasana berubah menjadi tegang. Para utusan saling berpandangan — mereka tahu ini bukan sekadar pembatasan wilayah. Ketua Chang menatap lurus ke arah Bai Yuan.

"Oleh karena itu," lanjut Ketua Chang dengan nada yang semakin tegas. "Sebagai tanda pengakuan dan izin mendiami wilayah itu, Sekte Surgawi Langit wajib memberikan upeti tahunan kepada Sekte Awan Tinggi. Sepuluh batu spiritual tingkat tinggi setiap tahun, dan sekte kalian tunduk di bawah perintah kami saat dibutuhkan. Bagaimana menurutmu, Tetua Bai?"

Keputusan itu diambil setelah rapat berhari-hari dengan para Tetua lainnya. Mereka sudah berkuasa selama ratusan tahun di wilayah tersebut, kenapa harus takut dengan sekte yang baru menampakkan diri.

Jadi semua Tetua sepakat, agar di acara pertemuan itu untuk memperjelasnya.

Beberapa utusan menahan napas. Tuntutan itu berat — dan sekaligus memaksa Sekte Surgawi Langit menjadi sekte bawahan.

Tak sedikit yang merasa ini berlebihan, namun tak ada yang berani bersuara. Sekte Awan Tinggi adalah penguasa wilayah ini selama ratusan tahun.

Bai Yuan berdiri perlahan. Dia tidak terlihat marah, namun senyum tipis di bibirnya perlahan menghilang.

"Wilayah kekuasaan?" ucapnya pelan, namun setiap kata terdengar jelas. "Gunung Puncak Langit berdiri sejak langit dan bumi terpisah. Tidak ada manusia yang memilikinya sebelum kalian, dan tidak ada yang berhak menuntut bayaran atas tanah yang tidak kalian ciptakan."

Ketua Chang mengernyit, wajahnya mengeras. "Apakah kau menolak? Ingat... di benua ini, kekuatan lah yang menentukan wilayah. Sekte kalian baru muncul, belum memiliki sejarah. Jika menolak... bisa-bisa kedamaian yang kita bicarakan tadi tidak akan tercapai."

Ancaman itu tersampaikan dengan halus namun tegas. Para Tetua Awan Tinggi duduk tegak, aura mereka mulai menyebar — menekan, menunjukkan kekuatan mereka.

Namun Bai Yuan justru tersenyum tipis. Tatapannya berubah, menjadi sedalam samudra yang tak bertepi.

"Jika kekuatanlah yang menentukan..." ucapnya perlahan, suaranya tidak naik, namun membuat seluruh ruangan bergetar pelan. "...bagaimana jika kalianlah yang tunduk dan memberi upeti kepada sekteku?"

Seketika itu juga — Aura Tahap Nirmala menyebar tanpa peringatan.

Tanpa gerakan berlebihan, aura Bai Yuan meledak keluar — bukan berupa gelombang yang menghancurkan, melainkan seperti gunung raksasa yang tiba-tiba menindih seluruh aula.

Udara menjadi berat hingga napas terasa sesak. Para Tetua yang tadi bersikap angkuh kini terkulai di kursinya, wajah pucat.

Ketua Chang sendiri — yang berada di tingkat tertinggi sekte itu — merasakan tulang-tulangnya seolah akan remuk. Dia tidak bisa berdiri. Dia bahkan hampir tidak bisa mengangkat kepala.

"Ini..." bisik Ketua Chang dalam hati, keringat dingin mulai membasahi dahinya. "Kekuatan ini... jauh melampaui apa pun yang saya miliki. Dia bahkan belum mengeluarkan kekuatan sepenuhnya."

Bai Yuan berdiri tenang di tempatnya, seolah-olah aura yang menindih seluruh ruangan itu bukan berasal dari dirinya.

Dia menatap Ketua Chang dengan tatapan yang datar — bukan kebencian, bukan juga kemarahan, melainkan tatapan seseorang yang melihat hal yang tidak sebanding dengan dirinya.

"Kalian menyebut ini wilayah kekuasaan kalian?" ucap Bai Yuan pelan. "Namun di hadapan kekuatan seperti ini... apa yang bisa kalian pertahankan? Nyawa? Harta? Atau sekadar nama besar yang sudah lama kalian banggakan?"

Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Tidak ada satu pun yang berani bersuara. Para utusan dari sekte lain duduk membeku, mata terbelalak — mereka menyadari satu hal yang mengerikan.

Sekte yang baru muncul ini... jauh lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Dan Ketua Chang yang tadi menuntut upeti... kini terdiam tanpa mampu membalas sepatah kata pun.

"Kami tidak meminta upeti dari siapa pun," lanjut Bai Yuan perlahan, auranya perlahan mereda, namun beratnya tetap terasa di hati setiap orang yang hadir.

"Dan kami juga tidak akan menjadi bawahan siapa pun. Wilayah Gunung Puncak Langit adalah milik Sekte Surgawi Langit. Siapa pun yang ingin masuk ke puncaknya... harus meminta izin. Itu saja. Jika kalian merasa tidak terima... silakan datang dan coba ambil dengan kekuatan kalian."

Dia tidak menunggu jawaban. Bai Yuan berbalik perlahan, jubah putihnya berkibar pelan.

"Pertemuan ini sudah selesai untuk saya. Tentang batas wilayah... kalian bebas menuliskannya. Tapi ingat — jangan pernah menuntut apa yang bukan milik kalian."

Dengan demikian, dia melangkah pergi meninggalkan aula itu. Tidak ada yang berani menghentikannya.

Tidak ada yang berani berdiri. Ketua Chang duduk diam, napasnya berat, hatinya penuh ketakutan yang baru pertama kali dia rasakan.

Dia baru saja menyadari — dia hampir menantang kekuatan yang bahkan seluruh Sekte Awan Tinggi pun tidak mampu lawan. Apa sudah terlambat untuk menyesal sekarang?

.

.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!