Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemblengan Tanpa Ampun

Suara langkah kaki Ki Wira yang menjauh menuruni anak tangga rumah panggung perlahan menghilang, digantikan oleh bunyi gesekan logam tajam ketika Sekar menghunus bilah parangnya dari sarung kulit di pinggangnya. Suara itu mendesing pelan, dingin, jauh berbeda dari nada ramah yang biasa menemani sesi latihan pagi Galih selama beberapa hari terakhir. Udara pagi yang tadinya sejuk mendadak terasa lebih tajam, seolah ikut merasakan perubahan suasana di halaman itu.

Galih berdiri tegak di tengah halaman, mengira hari ini akan berjalan seperti biasa. Ki Wira pamit sejak subuh, katanya ada urusan penting yang harus diselesaikan di desa sebelah, dan berjanji akan kembali sebelum senja. Galih sudah menyiapkan diri untuk latihan ringan seperti biasanya, memukul batang kayu, berlari mengelilingi halaman, sesekali dikoreksi dengan sabar. Ia bahkan sempat meregangkan otot-ototnya yang masih pegal dari latihan kemarin, membayangkan hari ini mungkin akan sedikit lebih ringan.

Namun sosok yang berdiri di hadapannya sekarang jelas bukan menjanjikan hal yang sama.

Sekar melangkah mendekat, wajahnya datar tanpa secuil pun senyuman. Matanya menatap Galih tajam, seolah sedang menilai daging di hadapan seekor predator.

"Kakek terlalu lembut padamu," katanya dingin, memutar parangnya sekali di tangan sebelum mengambil kuda-kuda. "Kalau caranya diteruskan, butuh waktu setahun baru kau bisa berdiri tegak menghadapi Tuyakra tanpa gemetar."

"Se... Sekar?" Galih mundur setengah langkah, tidak menyukai arah pembicaraan ini.

"Aku tidak akan membiarkan orang lemah jadi beban di desa ini," lanjutnya, suaranya tetap datar namun setiap kata terasa seperti sabetan. "Selama tinggal di rumah ini, kau bagian dari tanggung jawabku. Aku tidak mau kau mati konyol begitu keluar dari halaman ini. Nama keluarga ini sudah cukup dipertaruhkan tanpa harus menanggung kematian orang yang seharusnya kami lindungi."

Belum sempat Galih mencerna kalimat itu sepenuhnya, tubuh Sekar sudah melesat maju.

Sebilah kayu tumpul, senjata latihan pengganti parang tajam, menyambar cepat ke arah rusuknya. Galih melompat mundur reflek, hanya selamat beberapa senti dari hantaman pertama. Belum sempat ia menstabilkan pijakan, serangan kedua sudah datang dari arah berlawanan, memaksanya berguling menghindar di atas tanah berdebu.

"Bangun! Jangan cuma menghindar seperti kelinci ketakutan!" bentak Sekar, tidak memberi jeda sedikit pun.

Galih berusaha bangkit, namun sebelum lututnya benar-benar tegak, kayu tumpul itu sudah menghantam pundaknya, membuatnya terhuyung ke samping. Rasa nyeri menjalar panas dari titik pukulan, menembus hingga ke tulang.

"Sekar, tunggu, aku belum siap..."

Kalimatnya terputus oleh sabetan lain yang menyapu kakinya, membuat keseimbangannya goyah total. Galih jatuh terguling di tanah, debu memenuhi mulut dan hidungnya. Ia terbatuk, mencoba bangkit lagi meski setiap sendi terasa berteriak protes. Serangan demi serangan datang bertubi-tubi, cepat dan tanpa ampun, memaksa Galih terus bergerak, menghindar, melompat, berguling, meski tubuhnya semakin lambat merespons setiap kali. Sesekali kayu tumpul itu berhasil mengenai lengan atau punggungnya, meninggalkan bilur merah yang perlahan berubah menjadi luka lecet terbuka.

Keringat bercampur debu mengalir di wajahnya, perih menyengat setiap kali masuk ke luka kecil di pipi dan dahinya. Napas Galih memburu tak beraturan, dadanya naik turun cepat berusaha memasok oksigen yang terasa tidak pernah cukup. Lengan bajunya yang dulu putih kini penuh noda coklat tanah bercampur bercak merah dari luka-luka kecil yang terus bertambah.

"Kenapa kau masih diam saja," desis Sekar, menghentikan serangannya sejenak, menatap Galih yang terduduk lemas dengan darah menetes tipis dari siku dan lututnya yang tergores tanah dan sabetan kayu. "Kau pikir monster di luar sana akan menunggumu sampai siap?"

Galih ingin membalas, ingin menjelaskan bahwa ia sudah berusaha semampu yang ia bisa, tapi suaranya tersendat oleh napas yang masih memburu. Ia hanya bisa menatap Sekar dengan mata berkaca-kaca, campuran antara sakit fisik dan rasa frustrasi yang menumpuk sejak hari pertama tiba di dunia ini. Sebagian kecil dirinya ingin marah, ingin bertanya kenapa harus sekasar ini, namun bagian lain yang lebih jujur tahu bahwa amarah itu tidak akan mengubah apa pun.

Namun di balik tatapan dingin Sekar, ada sesuatu yang tidak sepenuhnya kejam. Ia tidak menyerang membabi buta seperti Tuyakra kemarin. Setiap pukulannya terarah, terukur, seolah sengaja mendorong Galih ke titik paling ekstrem tanpa benar-benar melukainya secara fatal. Seperti sedang mencoba memecahkan sesuatu yang terkunci rapat di dalam diri Galih, sesuatu yang menurutnya hanya bisa keluar lewat tekanan yang cukup besar. Tangan yang memegang kayu tumpul itu bahkan sesekali gemetar halus, tanda bahwa keputusan ini tidak semudah kelihatannya bagi Sekar sendiri.

"Ki Wira bilang energimu berbeda," kata Sekar pelan, nyaris seperti bergumam pada dirinya sendiri, sebelum kembali mengambil kuda-kuda. "Kalau begitu, tunjukkan. Jangan cuma jadi beban yang menangis kesakitan."

Galih memaksa dirinya berdiri, kakinya gemetar hebat menahan berat tubuhnya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan tangis yang sudah menggantung di ujung matanya. Giginya bergemeletuk menahan perih di lutut dan siku yang terus mengalirkan darah tipis, namun ia tidak mau ambruk lagi di depan Sekar, tidak mau terlihat selemah itu untuk kesekian kalinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang masih tersisa di dadanya yang berdenyut nyeri.

Sekar menyerang lagi, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Galih mencoba menghindar, namun kakinya yang sudah lemas gagal merespons cukup cepat. Kayu tumpul itu menghantam rusuknya, membuat seluruh udara di paru-parunya seolah terhisap keluar dalam satu hentakan. Ia sempat melihat kilatan cahaya putih di sudut matanya sebelum rasa sakit itu benar-benar menjalar.

Tubuhnya limbung, pandangannya berkunang-kunang sesaat sebelum akhirnya ambruk mencium tanah halaman yang keras. Debu beterbangan di sekitarnya, rasa sakit menjalar dari seluruh persendian yang sudah tidak sanggup lagi menopang beratnya sendiri. Telinganya berdenging, dan untuk beberapa detik suara di sekitarnya terdengar teredam, seolah kepalanya terendam air.

Ia berbaring sesaat, dadanya naik turun cepat, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya lolos tanpa bisa dicegah, membasahi pipinya yang kotor bercampur debu dan darah. Bukan hanya karena sakit fisiknya, tapi juga karena rasa tidak berdaya yang menumpuk sejak ia terbangun sendirian di hutan asing itu, sesuatu yang selama ini ia coba tahan dengan susah payah di depan orang-orang yang baru ia kenal.

Di atasnya, bayangan Sekar berdiri tegak, menatapnya tanpa ekspresi kasihan sedikit pun. Namun matanya, jika diperhatikan lebih dekat, menyimpan sesuatu yang bukan sekadar kekejaman, sesuatu yang lebih mirip keputusasaan seorang kakak yang tidak tahu cara lain untuk membuat adiknya bertahan hidup.

"Bangun," katanya dingin, suaranya tidak menyisakan ruang bagi Galih untuk menyerah. "Kita belum selesai."

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!