Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

...

Di Ruang Kerja Altair

Malam itu suasana ruang kerja terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu kota yang berkilauan di balik dinding kaca tidak mampu mengurangi tekanan yang memenuhi ruangan luas tersebut.

Altair duduk di kursi kerjanya sambil menatap layar monitor di depannya. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja marmer.

Di hadapannya, Aron berdiri tegak.

"...Jadi kau bilang Loren Holdings juga sudah menandatangani kerja sama dengan Danesha Group?" suara Altair terdengar tenang.

Aron menelan ludah."Ya, Tuan."

Hening Beberapa detik berikutnya justru terasa lebih menakutkan dibanding amarah Lalu-

Crack.

Pulpen mahal di tangan Altair patah menjadi dua. Aron

refleks menundukkan kepala.

"Aku baru tahu sekarang..." gumam Altair. Senyum tipis muncul di wajahnya. Namun senyum itu sama sekali tidak terlihat ramah.

Malah menyeramkan.

"Berani sekali dia ikut campur." Altair bersandar ke kursinya.

"Evelyn..." Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Entah kenapa semakin banyak orang mulai mendekati gadis itu. Dan fakta itu membuatnya tidak nyaman. Sangat tidak nyaman.

Altair mengambil ponselnya lalu mengetik beberapa pesan singkat. Tak sampai satu menit. Ponsel Aron bergetar. Aron membaca isinya. Matanya sedikit membesar.

"Tuan... Anda ingin menjalankan skenario itu?"

Altair mengangguk pelan. "Hubungi tim proyek Aurelius. Beritahu mereka ada masalah serius pada kerja sama pembangunan sistem distribusi logistik Danesha."

Aron mengerutkan dahi.

"Tapi proyek itu berjalan normal."

"Aku tahu." Senyum Altair semakin tipis. "Itulah sebabnya ini disebut alasan."

"..."

Aron langsung paham.

Altair melanjutkan. "Buat laporan bahwa ditemukan potensi kebocoran data vendor dan konflik hak akses pada sistem jaringan logistik. Itu cukup serius untuk memaksa rapat darurat."

Aron mengangguk. Memang masuk akal.

Jika terjadi kebocoran data vendor atau kesalahan akses sistem distribusi, proyek bernilai miliaran bisa langsung tertunda.

Dan pihak pemilik proyek harus turun tangan.

"Bilang bahwa jika Danesha ingin mempertahankan kerja sama, pemimpinnya harus hadir malam ini. Secara langsung." ucap Altair membuat Aron terdiam sesaat.

Lalu bertanya pelan. "Tuan.. . apakah saya perlu menyiapkan ruang rapat utama?"

"Tidak." Altair berdiri. "Aku sendiri yang akan menemuinya."

Mata Aron sedikit melebar. Karena selama bertahun-tahun... Altair hampir tidak pernah memperlihatkan dirinya secara langsung kepada mitra bisnis. Biasanya orang lain yang maju. Direktur. Komisaris. Atau eksekutif kepercayaannya.

Namun kali ini berbeda.

"Dan satu lagi."

Altair mengambil jas hitamnya. "Jangan gunakan namaku. Anggap saja aku salah satu pejabat senior Aurelius."

Aron menunduk. "Saya mengerti."

Namun dalam hati ia hanya bisa menghela napas.

'Kalau sampai Tuan turun

tangan sendiri hanya untuk bertemu seseorang...

Ini sudah jauh dari urusan bisnis.'

_______

Di sisi lain kota.

Di dalam mobil mewah Danesha Group. Evelyn masih tenggelam dalam rasa malu akibat kejadian beberapa menit lalu.

Wajahnya terkubur di bantal kecil mobil.

"AAAAAAAAAA...."

"Aku pengen pindah planet..." gumamnya pelan.

Reon yang sedang menyetir hanya menghela napas.

"Nona."

"Hm?"

"Kita masih tinggal di bumi."

"Sayangnya."

"..."

Kadang Reon benar-benar tidak tahu harus merespons bagaimana.

Namun tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk. Dari salah satu manajer proyek yang menangani kerja sama Danesha dengan Aurelius Consortium.

Ekspresi Reon langsung berubah serius. Ia segera menepikan mobil ke bahu jalan.

Evelyn yang masih memeluk bantal mengangkat kepala.

"Hah? Ada apa?"

Namun Reon hanya mengangkat telunjuk. Memberi isyarat agar ia diam. Panggilan diterima.

"Ya?"

Suara dari seberang terdengar tergesa-gesa. Wajah Reon berubah sedikit demi sedikit.Awalnya serius. Lalu terkejut. Lalu panik.

"Apa?"

"Bagaimana bisa?"

"..."

"Apakah sudah diverifikasi?"

"..."

"Sial..."

Evelyn langsung duduk tegak. Jarang sekali ia mendengar Reon mengumpat. Artinya masalahnya benar-benar serius.

Setelah percakapan beberapa menit, telepon akhirnya ditutup. Mobil menjadi sunyi. Sangat sunyi.

"Ada masalah Pak Reon?"

tanya Evelyn.

Reon mengusap pelipisnya. "Nona... Saya baru menerima laporan dari Aurelius."

Perasaan tidak enak langsung muncul dalam diri Evelyn. "Apa yang terjadi?"

Reon terdiam beberapa saat sebelum menjawab "Masalah besar."

Seketika jantung Evelyn ikut berdegup.

"Jangan bilang perusahaan bangkrut."

"Bukan."

"Syukurlah."

"Tapi lebih buruk."

"..."

"..."

Evelyn langsung duduk tegak.

Reon mengusap wajahnya.

"Pihak Aurelius menemukan indikasi konflik hak akses dalam sistem distribusi proyek bersama. Mereka menduga ada potensi kebocoran data vendor dan kesalahan integrasi jaringan logistik."

Evelyn berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

"Bahasa manusia, Pak."

Reon menghela napas lalu menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana.

"Beberapa data pengiriman dan vendor yang digunakan Danesha ternyata tidak sinkron dengan sistem milik Aurelius."

"Nah?"

"Nah, jika data itu digunakan untuk operasional nanti, mereka bisa mengalami kerugian miliaran."

"Oh."

"Dan menurut klausul kontrak..." Reon berhenti sebentar.

"...jika salah satu pihak dianggap menyebabkan risiko finansial besar, pihak lain berhak menuntut kompensasi."

Evelyn mulai merasa tidak enak.

"Berapa kompensasinya?"

Reon menyebut angka. "Seratus lima puluh miliar"

Hening seketia. Mata Evelyn membelalak.

"HAH?!"

"Itu angka atau nomor telepon?!"

Reon memijat pelipisnya.

"Itu dendanya, Nona."

"Kejam amat!" Evelyn hampir melompat dari kursi. "Itu bisa buat beli rumah satu kompleks!"

"Bahkan dua." jawab Reon datar.

Evelyn langsung memeluk bantal lagi. "Ya Tuhan..."

Namun penderitaannya belum selesai. Reon melanjutkan "Aurelius meminta pertemuan darurat malam ini."

"Dengan siapa?"

"Anda."

"..."

"Sendiri."

"..."

Evelyn menatap kosong ke depan. "Hah?"

"Mereka hanya ingin

berbicara dengan pemimpin Danesha."

"Alias saya?"

"Ya."

"Alias aku?"

"Ya."

"Aku yang baru dua minggu belajar laporan keuangan?"

"Ya."

Evelyn memejamkan mata.

Mencoba mencari ketenangan batin. Tidak ketemu. Ia membukanya lagi. "Lalu kalau aku nggak datang?"

Reon menjawab tanpa ragu.

"Mereka akan memproses penalti kontrak."

"..."

"Dan kemungkinan meninjau ulang seluruh kerja sama."

"..."

"Termasuk proyek yang sedang berjalan."

Evelyn ingin menangis. Sungguh. Baru beberapa jam lalu ia berhasil menjalin kerja sama dengan Loren Holdings.

Sekarang malah dapat ancaman denda fantastis dari Aurelius. "Hidup gue kenapa susah banget sih..." gumamnya lemah.

Reon menahan senyum. "Nona."

"Hm?"

"Kita masih bisa memperbaikinya."

Evelyn menatapnya.

"Yakin?"

"Setidaknya mari kita dengarkan dulu apa yang mereka inginkan."

Evelyn terdiam cukup lama. Lalu akhirnya menghela napas pasrah. Panjang.

"Baiklah. Aku ikut. Kalau memang harus ketemu. Tapi kalau orang Aurelius itu nyebelin..."

Evelyn menyipitkan mata. "...aku bakal ngomel."

Reon hampir tertawa. Sementara jauh di tempat lain.

Seseorang baru saja membaca pesan bahwa umpannya berhasil.

Malam semakin larut.

 

Lampu-lampu kota berkilauan di balik jendela kaca restoran mewah yang menjadi lokasi pertemuan darurat itu.

Suasana koridor menuju ruang VVIP terasa begitu tenang hingga suara langkah sepatu Evelyn terdengar jelas di lantai marmer.

Jujur saja.

Ia masih belum bisa menerima kenyataan.

Dua jam lalu ia masih sibuk memikirkan rasa malunya karena hampir menjatuhkan diri ke pelukan Loren Vancy.

Lalu satu jam kemudian ia mendapat ancaman denda puluhan miliar rupiah.

Dan sekarang...

Ia harus menghadiri rapat darurat dengan salah satu petinggi Aurelius Consortium.

Hidup gue kenapa berubah jadi mode hard begini sih...

Evelyn menghela napas panjang. Kemudian menarik napas sekali lagi. Lalu membuangnya perlahan.

Di belakangnya, Reon berdiri sambil membawa beberapa dokumen penting.

"Tenang saja, Nona."

"Aku tenang kok."

Reon menatapnya. "Kedipan mata Anda sejak lima menit lalu sudah lebih dari seratus kali."

"..."

"Baiklah, aku tidak tenang."

Reon menahan senyum. "Saya yakin Anda bisa."

Evelyn memandang pintu besar di depannya. Pintu kayu gelap dengan ornamen emas yang tampak mewah dan mengintimidasi.

Rasanya seperti pintu menuju ruang sidang terakhir sebelum hukuman mati.

"Nona."

"Hm?"

"Jangan terlalu gugup."

"Aku sedang berusaha."

Pelayan yang berjaga di depan pintu membungkuk sopan. "Silakan masuk."

Klik.

Pintu perlahan terbuka.

Evelyn segera memasang senyum profesional yang selama beberapa minggu terakhir mati-matian ia pelajari.

Punggung tegak. Dagu sedikit terangkat. Ekspresi tenang. Minimal terlihat seperti CEO muda yang kompeten.

Bukan mahasiswa yang tiga hari lalu masih menangis karena tugas kuliah.

Langkahnya memasuki ruangan. Pintu kembali tertutup perlahan di belakangnya.

Di luar. Reon hanya bisa berdiri sambil memandang pintu itu. Lalu berdoa dalam hati.

Semoga nona tidak menjatuhkan gelas.

Semoga nona tidak tersandung karpet.

Semoga nona tidak mengatakan sesuatu yang aneh.

Dan yang paling penting...

semoga nona tidak membuat masalah baru.

Di dalam ruangan. Evelyn melangkah dua langkah. Lalu berhenti. Senyumnya membeku. Matanya berkedip beberapa kali.

Otaknya seakan mengalami error. Karena pria yang duduk santai di kursi utama ruangan itu... Sangat ia kenal. Rambut hitam. Wajah tampan yang selalu terlihat datar.

Tatapan tenang yang sulit ditebak. Dan sekarang sedang memegang secangkir kopi sambil menatapnya.

"..."

"..."

"..."

Evelyn merasa dunia berhenti berputar selama beberapa detik. Lalu tanpa sadar sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

"Eh..."

Kael mengangkat pandangannya. Sedikit. Namun sudut bibirnya tampak bergerak. Seolah menahan sesuatu.

"Evelyn." Suara pria itu terdengar tenang seperti biasa.

Sebaliknya. Evelyn menunjuk ke arahnya.

"Kael? Kenapa lo ada di sini?!"

Hening.

Ruangan langsung sunyi.

Benar-benar sunyi. Kael menatapnya selama beberapa detik. Kemudian meletakkan cangkir kopinya. Dengan santai.

Sangat santai.

"Seseorang menyuruhku bertemu dengan mu."

"..."

"..."

Otak Evelyn kembali mengalami error. 'Apa?.. bilang dia magang di perusahaan itu..'

Jangan

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!