Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Keraguan Dan Tekad

 Suasana di dalam restoran Narira perlahan menjadi lenggang. Jam makan siang yang sibuk telah berlalu, dan satu per satu pengunjung yang tadi memenuhi setiap sudut ruangan kini telah pulang, meninggalkan keheningan yang lembut namun terasa begitu panjang di antara meja-meja yang mulai dibersihkan. 

 Cahaya matahari siang yang hangat menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar yang terbuka, menari-nari di atas permukaan meja kayu yang baru saja dilap, sementara angin sepoi-sepoi yang sejuk menggerakkan gorden renda berwarna krem perlahan, seakan ikut bernapas bersama ketenangan yang baru saja datang menyelimuti ruangan itu. Aroma sisa masakan yang lezat bercampur dengan wangi bunga segar di vas-vas kecil di setiap meja, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan namun bagi Rania, ketenangan itu terasa berat, menyesakkan, seakan setiap tarikan napasnya membutuhkan perjuangan yang tak terlihat oleh siapa pun.

 

 Di tengah keheningan itu, Rania berdiri diam di dekat pintu masuk, tangannya memegang kain lap yang sama, bergerak pelan di atas permukaan meja yang sudah bersih berkali-kali dilapnya, seakan ada sesuatu yang mengikatnya di tempat itu, mencegahnya pergi atau sekadar bergerak bebas. Matanya yang indah namun kini tampak sayu terus mengikuti sosok Dila yang berjalan ke sana kemari di seberang ruangan menata peralatan makan, menyapu lantai, dan kini terlihat sedang membungkuk memungut tumpukan piring kotor yang tertinggal di meja paling ujung, jauh dari jangkauan pandangan orang lain. 

 Hati Rania berdebar tak menentu, begitu kencang hingga ia merasa dadanya nyeri, seakan ada sesuatu yang berat menekan dari dalam, sesuatu yang mendesaknya untuk segera berbicara, untuk mengungkapkan keraguan yang selama berhari-hari menggerogoti pikirannya, membuatnya terjaga hingga larut malam, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, mengapa semuanya terasa begitu kabur dan mengapa ia merasa semakin tersisih di tempat yang seharusnya menjadi tempatnya juga.

 

 Akhirnya, ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberanian yang masih tersisa, lalu melangkah mendekat. Langkah kakinya begitu pelan, hampir tak terdengar di atas lantai keramik yang mengilap, seakan ia takut mengganggu keheningan itu sendiri, seakan takut ada mata lain yang melihat, takut ada telinga lain yang mendengar apa yang hendak ia sampaikan. Ia berhenti tepat di samping Dila, berdiri sejenak tanpa berkata apa, hanya menatap punggung sahabatnya itu, sebelum akhirnya mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Dila dengan lembut, ragu-ragu, seakan takut sentuhan itu akan membuat semuanya berubah menjadi lebih buruk.

 

"Dil..." panggilnya pelan, suaranya begitu rendah hingga hampir tertelan suara gesekan kain yang sedang dilap Dila.

 "Kita... kita bisa bicara sebentar?"

 

 Dila berhenti bergerak seketika, tubuhnya yang membungkuk perlahan tegak kembali. Ia menoleh ke arah Rania, alisnya terangkat sedikit melihat wajah sahabatnya yang tampak begitu gelisah, namun senyum ramah yang selalu ia miliki tak hilang dari bibirnya. Di tangannya masih tertahan tumpukan piring kotor yang ia pungut, dan ia menyeimbangkannya dengan hati-hati di lengan kiri, seakan tak ingin membiarkan satu pun jatuh.

 

"Tunggu ya, aku antar ini dulu ke dapur" jawabnya lembut, nadanya tetap tenang dan menenangkan, seakan ia tak menyadari betapa beratnya beban yang sedang dipikul sahabatnya di hadapannya. 

 Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik badan dan berjalan perlahan menuju pintu dapur yang terbuka di ujung ruangan, piring-piring di tangannya beradu pelan menimbulkan bunyi denting halus yang perlahan menghilang seiring ia menjauh, meninggalkan Rania sendirian kembali di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa begitu luas dan sepi.

 

 Rania berdiri mematung di tempatnya, meremas ujung celemek putih yang ia kenakan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Keraguan tiba-tiba menyeruak kembali, apakah ia terlalu berlebihan? Apakah ia seharusnya diam saja, membiarkan semuanya berlalu tanpa bertanya, tanpa mencari tahu? Namun keraguan itu hanya bertahan sesaat sebelum kembali digantikan oleh bayangan yang terus menghantui pikirannya.

 Wajah Dimas yang tampak terburu-buru, pesan singkat yang ia kirim namun tak kunjung mendapat jawaban yang memuaskan, dan bayangan seorang wanita yang belum pernah ia lihat wajahnya secara langsung namun sudah ia anggap sebagai saingan sosok yang selalu disebut dengan penuh hormat, sosok yang seakan hadir di setiap percakapan, di setiap keheningan, di setiap tatapan yang tak terucap. Semua itu kembali memenuhi pikirannya, mendesaknya untuk tetap berdiri di sana, menunggu, meski hatinya bergetar hebat.

 

 Tak lama kemudian, pintu dapur terbuka kembali dan Dila muncul. Tangannya kini bersih, rambutnya yang sedikit berantakan tadi telah dirapikan kembali, dan wajahnya tampak lebih tenang, siap mendengarkan apa pun yang ingin dikatakan sahabatnya. Ia berjalan mendekat ke arah Rania, lalu berhenti tepat di hadapannya, menatapnya dengan pandangan yang tulus dan penuh perhatian, seakan siap menampung segala sesuatu yang selama ini tersimpan di hati gadis itu.

 

"Mau bicara apa, Ran?" tanyanya lembut, suaranya penuh kehangatan yang seharusnya menenangkan, namun justru membuat mata Rania terasa memanas.

 

 Belum sempat Dila menyelesaikan kalimatnya, Rania sudah meraih tangan sahabatnya, menggenggamnya erat seakan takut Dila akan menghilang jika ia melepaskannya walau sedetik pun. Tanpa menjawab pertanyaan itu, ia menarik tangan Dila perlahan, berjalan menjauh dari ruang makan utama, menuju lorong samping yang sepi dan teduh, menuju halaman belakang yang jarang dikunjungi siapa pun.

 

"Eh, Ran... mau ke mana?" seru Dila, langkahnya tergesa-gesa mengikuti langkah Rania yang semakin cepat. 

 Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cemas, matanya melebar melihat lorong yang sepi itu. "Gimana kalau tiba-tiba ada pelanggan datang? Atau Bu Sita keluar dan mencariku? Kamu tahu sendiri dia tidak suka kalau kita pergi tanpa pamit, nanti dia marah..."

 

 Rania tetap diam, tak menoleh, tak melepaskan genggamannya. Ia terus berjalan menuju tempat yang paling ia butuhkan saat ini tempat yang sejuk, tenang, dan jauh dari jangkauan siapa pun. Langkah kakinya berhenti di bawah pohon mangga tua yang rindang di sudut halaman belakang, tempat di mana dedaunan hijau lebat meneduhkan tanah di bawahnya, tempat di mana hanya terdengar suara angin yang berdesir di antara dahan-dahan dan kicauan burung yang bersembunyi tinggi di sana. Di sinilah akhirnya ia berhenti, melepaskan tangan Dila, lalu berbalik badan menghadap sahabatnya, wajahnya yang biasanya ceria kini tampak pucat, serius, dan penuh ketakutan yang tak bisa disembunyikan lagi.

 

"Dila..." suaranya bergetar pelan, matanya menatap lekat-lekat wajah sahabatnya, seakan mencari sesuatu yang tak terlihat, sesuatu yang bisa menenangkan kegelisahannya.

 "Aku cuma mau tanya sesuatu... Kamu sudah bekerja di sini jauh lebih lama dariku, kan?"

 

 Dila mengangguk pelan, kebingungan mulai menyelimuti wajahnya namun tetap tersabar. "Iya, sudah hampir satu tahun. Aku mulai bekerja di sini sejak restoran ini baru dibuka, saat belum banyak meja, belum banyak orang. Kenapa, Ran? Ada apa sebenarnya? Kamu membuatku khawatir..."

 

"Kamu kenal... pemilik restoran ini?" tanya Rania, napasnya tertahan di kerongkongan, matanya tak berkedip menatap Dila. "Maksudku, benar-benar kenal. Siapa dia sebenarnya? Seperti apa sosoknya? Apakah dia... orang yang baik?"

 

 Dila tersenyum tipis, seakan sekadar menyebut nama itu sudah membawa kehangatan di hatinya sendiri. 

"Tentu saja aku kenal, Ran. Namanya bu rosita merina wijaya ..Dia yang mendirikan tempat ini dari nol, dengan tangan sendiri, dengan kerja keras yang tak semua orang tahu. Dia orangnya luar biasa baik, lembut, dan bijaksana"

 

 Jantung Rania seakan berhenti berdetak sesaat. Rina. Nama itu. Sama persis seperti nama kakaknya. Ia menelan ludah yang terasa berat, menahan rasa perih yang tiba-tiba menyergap di dadanya, rasa yang begitu asing namun begitu kuat campuran antara cemburu, takut, dan rasa tidak layak yang perlahan menggerogoti kepercayaan dirinya.

 

" Rosita merina..." gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara desiran angin. "Dan... apakah dia sering datang ke sini? Sering berkunjung?"

 

"Sering, tapi tidak setiap hari" jawab Dila jujur, menatap ke arah pintu belakang seakan membayangkan sosok wanita itu muncul di sana.

 "Dia datang untuk memeriksa keuangan, berbicara dengan Bu Sita, atau sekadar menyapa kami semua, menanyakan kabar kami satu per satu. Dia tidak pernah membedakan siapa pun, Ran.. sopan kepada semua orang, ramah, selalu tersenyum tulus. Semua orang yang pernah bertemu dengannya pasti menyukainya"

 

 Setiap kata pujian itu terasa seperti tusukan halus yang berulang-ulang menyentuh luka di hati Rania. Sopan. Ramah. Disukai semua orang. Dan Dimas juga menyukainya mungkin lebih dari sekadar menyukainya. Ia meremas ujung celemeknya begitu erat hingga jari-jarinya terasa kaku, berusaha menahan rasa cemburu yang mulai membara di dadanya, rasa yang begitu asing, begitu menyakitkan, namun begitu kuat menghimpitnya dari segala sisi.

 

"Apakah..." Rania berhenti sejenak, menarik napas panjang berusaha menenangkan suaranya yang gemetar, namun gagal. "Apakah dia kak rina? Nama itu terlalu mirip tapi nama ka rina, rosita merina putri wijaya" gumam rania.

 

 Dila mengerutkan kening, kini benar-benar merasa ada sesuatu yang berat tersembunyi di balik pertanyaan-pertanyaan itu. Ia melangkah mendekat sedikit, menatap Rania dengan tatapan penuh kekhawatiran dan kasih sayang.

 

"Ran... kamu sebenarnya mau tanya apa?" tanyanya lembut, suaranya penuh kelembutan yang justru membuat mata Rania semakin berkaca-kaca.

 "Kalau ada masalah, atau ada sesuatu yang membebani hatimu, ceritakan saja. Kita kan teman, bahkan lebih dari saudara. Kamu tidak perlu menanggungnya sendirian, aku di sini untuk mendengarkanmu."

 

 Rania tersenyum tipis  senyum yang dipaksakan, senyum yang tak sampai ke matanya yang kini tampak berkabut oleh air mata yang tertahan. Ia ingin bercerita, ingin sekali menceritakan semuanya tentang Dimas, tentang perasaannya yang tumbuh perlahan namun begitu kuat, tentang ketakutannya kehilangan, tentang perasaan tidak cukup baik yang selalu menghantuinya. 

 Namun ia menelan kembali kata-kata itu, menekannya ke tempat paling dalam di hatinya. Belum saatnya, pikirnya. Belum saatnya orang lain tahu, apalagi Dila yang mungkin justru memihak pada bu rosita, wanita yang sempurna itu.

 

"Tidak ada masalah, Dila. Benar-benar tidak ada" ucapnya, berusaha terdengar meyakinkan namun suaranya bergetar. 

"Aku cuma... penasaran saja. Itu saja."

 

 Dila menatapnya ragu sejenak, lalu menghela napas pelan dan mengangguk, seakan menghormati keputusan sahabatnya. "Baiklah... kalau itu yang kamu katakan. Tapi kalau nanti ingin bercerita, aku selalu ada." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan, "Ada pria yang sesekali datang, Ran. Dia tampan, sopan, selalu tersenyum hangat. Mereka terlihat sangat dekat, saling menghormati satu sama lain, berbicara lama di ruangan Bu rosita dengan pintu tertutup. Kami tidak berani mengganggu, karena Bu rositaselalu berkata mereka sedang membicarakan hal penting."

 

 Wajah Rania seketika memucat. Itu pasti Dimas. Ia tahu itu, merasakannya di setiap detak jantungnya yang kini terasa perih. Pria yang dicintainya, datang ke sini, menemui wanita itu, berdua saja di ruangan tertutup... Rasa sakit itu menjalar begitu cepat dari dadanya ke seluruh tubuh, hingga ia harus menopang dirinya ke batang pohon mangga di sampingnya agar tidak terjatuh. Kakinya terasa lemas, napasnya terasa sesak.

 

"Ran?" Dila segera mendekat, memegang kedua lengan sahabatnya dengan cemas. "Kamu pucat sekali... apa kamu sakit? Mau aku panggilkan Bu Sita atau duduk sebentar di ruang istirahat?"

 

"Tidak... tidak perlu." Rania menarik lengannya perlahan, berusaha berdiri tegak kembali meski tubuhnya masih terasa gemetar. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya agar air mata yang menggenang di matanya tidak jatuh.

 "Aku baik-baik saja. Mungkin cuma kurang tidur semalam, itu saja... jangan khawatir."

 

 Dila mengangguk pelan, meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran yang tak hilang. "Sudah aku bilang berkali-kali, jangan begadang terus. Kerja itu penting, tapi kesehatanmu jauh lebih penting. Kalau lelah, bilang saja ke Bu Sita, minta izin istirahat sebentar. Dia orang yang baik, pasti mengerti dan mengizinkanmu."

 

"Iya... nanti aku ingat." Rania mengangkat wajahnya kembali, berusaha menyunggingkan senyum yang terasa berat di bibirnya. 

"Terima kasih, Dila... maaf sudah menyusahkanmu dengan kecemasanku yang tidak beralasan."

 

"Sama-sama, Ran. Kita teman, kan?" Dila tersenyum tulus, lalu merangkul bahu sahabatnya dengan lembut.

 "Sudah, ayo masuk. Nanti Bu Sita mencarimu, nanti dia marah. Ayo, kita kembali bersama-sama."

 

 Keduanya berjalan kembali menuju pintu belakang restoran, langkah mereka beriringan namun perasaan di dalam hati masing-masing kini terasa begitu jauh. Dila berjalan dengan tenang, sesekali melirik sahabatnya dengan kekhawatiran yang tak hilang, sementara Rania... setiap langkah yang diambilnya terasa semakin berat, namun di tengah keberatan itu tumbuh sesuatu yang lain sesuatu yang tajam, teguh, dan tak tergoyahkan. Bukan lagi keraguan, melainkan tekad.

 

 Saat Dila melangkah lebih dulu masuk ke dapur untuk mencuci tangan, Rania berhenti sejenak sendirian di lorong yang sepi itu. Matanya menatap lurus ke arah pintu ruangan pemilik yang tertutup rapat di ujung lorong, pintu kayu yang tampak biasa saja namun baginya menyimpan segala rahasia yang ingin ia ketahui, segala sesuatu yang ingin ia miliki dan perjuangkan.

 

"Tunggu saja..." bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri, suaranya bergetar namun penuh keyakinan yang baru tumbuh. 

"Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Di sini, setiap hari, aku akan membuktikan bahwa aku lebih pantas lebih pantas dicintai, lebih pantas diperjuangkan, dan aku tidak akan mundur sebelum aku tahu kebenarannya sendiri."

 

 Ia menarik napas panjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan untuk menenangkan diri, lalu melangkah masuk ke ruang makan dengan senyum yang sudah dipasang kembali senyum yang kini menyembunyikan rencana dan tekad yang semakin kuat di hatinya. 

 Restoran ini bukan sekadar tempat bekerja baginya. Ini adalah tempat di mana ia akan bertarung  bukan melawan orang lain, melawan keraguan dalam dirinya sendiri, melawan ketakutan yang selama ini menguasinya. Dan ia tidak akan kalah.

 

 

 

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!