Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Warisan Dewan Sepuluh
"Kau menyebutkan Dewan Sepuluh," Sasuke berkata, masih duduk berhadapan dengan Dewa Agung di tengah kehampaan putih itu. "Apa yang terjadi pada anggota lainnya? Apakah mereka juga masih ada, seperti kau?"
Dewa Agung mengangguk pelan. "Sebagian. Setelah perang saudara melawan Kronos, beberapa dari kami memilih menarik diri sepenuhnya dari urusan dunia, terlalu lelah atau terluka untuk terus terlibat aktif. Yang lain, seperti aku, memilih tetap menjaga apa yang tersisa dari perjanjian awal kami, meski dengan cara yang jauh lebih terbatas dari yang seharusnya."
"Apakah ada yang bisa membantu?" Sasuke bertanya, pikirannya mulai mencari solusi praktis dari cerita besar yang baru saja ia dengar.
"Mungkin," Dewa Agung menjawab, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan hati-hati. "Penguasa Benua Dragon, seorang naga purba bernama Vyrthaal, masih cukup aktif menjaga wilayahnya. Ia salah satu yang paling gigih menentang Kronos di masa lalu, dan mungkin bersedia membantu jika didekati dengan cara yang tepat. Tapi dia juga terkenal sangat sulit didekati, dan sangat curiga pada siapa pun yang datang membawa nama Gereja."
"Aku tidak datang atas nama Gereja," Sasuke menunjukkan.
"Itu mungkin justru menjadi keuntunganmu," Dewa Agung berkata, sedikit senyum kembali muncul di wajahnya. "Vyrthaal menghormati kekuatan dan kejujuran jauh lebih dari gelar atau institusi."
---
"Ada satu hal lagi yang perlu kau ketahui," Dewa Agung melanjutkan, nadanya berubah lebih serius. "Tentang permintaanmu dulu, saat pertama kali kita bertemu."
Sasuke mengingat kembali momen itu—empat permintaan yang ia ajukan, batasan-batasan yang diberikan Dewa Agung.
"Kau ingat aku melarangmu meminta System," Dewa Agung berkata. "Alasannya bukan hanya karena itu berbahaya bagi kami secara umum. Itu juga karena System, dalam bentuk aslinya, adalah salah satu kekuatan yang paling dekat kaitannya dengan pengaruh Kronos—salah satu eksperimen terlarang yang pernah ia coba kembangkan sebelum pemberontakannya, dipelajari ulang dan disempurnakan entah bagaimana oleh Eternity setelah kematian Kronos yang sebenarnya tidak pernah benar-benar terjadi."
Sasuke merasakan sesuatu bergeser dalam pemahamannya. "Kau menyiratkan Eternity entah bagaimana terhubung dengan warisan Kronos."
"Aku tidak sepenuhnya yakin bagaimana," Dewa Agung mengakui. "Tapi kemiripan kekuatan System yang dimiliki Eternity dengan catatan-catatan lama eksperimen Kronos terlalu jelas untuk diabaikan sebagai kebetulan. Mungkin Eternity menemukan sisa-sisa pengetahuan itu entah di mana, tanpa menyadari asal-usul gelapnya. Atau mungkin ada hubungan yang lebih langsung yang belum kupahami sepenuhnya."
Ini menambah lapisan baru pada teka-teki yang sudah rumit—Eternity, Kronos, System, semuanya terjalin dengan cara yang bahkan Dewa Agung sendiri tidak sepenuhnya pahami.
---
"Waktu kita hampir habis," Dewa Agung akhirnya berkata, merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan Sasuke, mungkin batasan dari ruang di antara dunia ini. "Tapi sebelum kau pergi, aku ingin memberimu satu hal lagi."
Ia mengangkat tangannya, dan sebuah cahaya kecil terbentuk di telapaknya, melayang perlahan menuju Sasuke sebelum meresap masuk ke dalam dadanya, terasa hangat namun tidak menyakitkan.
"Apa itu?" Sasuke bertanya, merasakan sesuatu yang baru mengalir dalam dirinya.
"Sedikit dari kekuatanku sendiri," Dewa Agung menjawab. "Bukan untuk membuatmu lebih kuat secara langsung, tapi untuk membantumu merasakan kehadiran pengaruh Kronos di masa depan—semacam kewaspadaan tambahan, agar kau tidak lagi terkejut seperti waktu di Katedral kemarin."
"Terima kasih," Sasuke berkata tulus, menghargai bantuan konkret itu di tengah semua ketidakpastian yang baru saja ia pelajari.
"Jangan berterima kasih dulu," Dewa Agung berkata, senyum kecil namun serius menghiasi wajahnya. "Perjalananmu baru saja menjadi jauh lebih rumit, Sasuke. Tapi aku percaya, dari semua yang kusaksikan tentang dirimu sejauh ini, kau akan menemukan jalan untuk menghadapinya—dengan caramu sendiri, bersama mereka yang kau pilih untuk berjalan bersamamu."
Cahaya putih di sekeliling mereka mulai berdenyut, tanda bahwa waktu pertemuan mereka benar-benar akan berakhir.
"Sampai jumpa lagi, Sasuke," Dewa Agung berkata, sosoknya mulai memudar. "Aku akan selalu mengawasi dari kejauhan, meski aku tidak selalu bisa turun tangan langsung. Jaga keluargamu baik-baik."
---
Sasuke membuka matanya, mendapati dirinya kembali duduk di padang terbuka yang sama, bintang-bintang Astral bersinar tenang di atasnya, angin malam berembus lembut menyentuh wajahnya.
Ia bangkit, menemukan Saviera dan Elaina masih menunggu tidak jauh dari sana, keduanya terjaga meski larut malam, wajah Saviera menampakkan kelegaan begitu melihatnya kembali.
"Kau kembali," Saviera berkata, berlari kecil menghampirinya, memeriksa keadaannya dengan mata cemas. "Berapa lama kau pergi? Rasanya hanya beberapa menit, tapi—"
"Waktu terasa berbeda di sana," Sasuke menjelaskan, menggenggam tangannya untuk menenangkan kekhawatirannya. "Aku baik-baik saja. Dan aku punya banyak hal untuk diceritakan pada kalian berdua."
Elaina, yang sejak tadi menunggu dengan sabar meski matanya sudah berat mengantuk, menghampirinya dan memeluk kakinya erat. "Papa cerita semuanya, kan? Janji tadi!"
"Janji tetap janji," Sasuke menjawab, mengangkat Elaina ke gendongannya. "Ayo kita cari tempat nyaman, dan aku akan ceritakan semuanya."
---
Malam itu, di bawah bintang-bintang yang sama seperti pertama kali mereka bertiga benar-benar merasa menjadi satu keluarga, Sasuke menceritakan semua yang ia pelajari—Dewan Sepuluh, Kronos Aetherion, Aldric Thorne yang terjebak, hubungan misterius antara System dan warisan gelap Kronos, hingga penguasa Dragon bernama Vyrthaal yang mungkin bisa menjadi sekutu.
Saviera mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya untuk memperjelas detail, sementara Elaina, meski akhirnya tertidur di tengah cerita karena kelelahan, sempat menyempatkan diri berkomentar dengan mata setengah terpejam.
"Kalau Kronos jahat," ia bergumam mengantuk, "kita harus bantu Kakek Uskup yang sedih itu keluar dari dalam sana. Sama kayak nolongin orang yang kesasar."
Kesederhanaan logika itu, seperti biasa, menyentuh sesuatu yang dalam pada Sasuke dan Saviera, mengingatkan mereka bahwa di tengah semua kerumitan kosmik dan sejarah kelam ribuan tahun, tujuan mereka pada akhirnya tetap sederhana—melindungi yang tidak bersalah, membantu yang membutuhkan, satu langkah pada satu waktu.
"Jadi," Saviera akhirnya bertanya, setelah Elaina benar-benar tertidur di pangkuannya, "ke mana selanjutnya?"
Sasuke menatap ke arah cakrawala timur, arah yang menurut peta akan membawa mereka menuju Benua Dragon, tempat penguasa bernama Vyrthaal mungkin menanti untuk didekati.
"Benua Dragon," ia menjawab, tekad baru terbentuk jelas dalam suaranya. "Kita butuh sekutu untuk apa yang mungkin akan kita hadapi selanjutnya."
---
*Bersambung ke Bab 36: Menuju Benua Dragon*
jangan lupa mampir ya ke novel saya judulnya : di bawah nama yang di pilih Takdir 💪💪