Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
Bab 30
Pagi itu, hujan rintik-rintik turun membasahi halaman kampus. Mahasiswa berlarian kecil menuju gedung fakultas sambil melindungi kepala dengan tas atau jaket.
Kai baru saja memarkir motor pinjaman Pak Surya ketika sebuah payung berhenti di sampingnya.
"Kai."
Kai menoleh.
Maureen berdiri di sana sambil memegang payung berwarna biru muda.
"Masih gerimis."
"Iya."
"Pakai payungku saja."
Kai menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa."
"Kalau kamu basah nanti sakit."
"Aku sudah biasa." Jawabannya tetap singkat.
Namun Maureen tidak menyerah. Ia membuka payung lebih lebar hingga tanpa sadar menaungi Kai juga.
"Ayo."
Kai sempat ragu. Kalau terus menolak, ia merasa tidak enak. Akhirnya mereka berjalan berdampingan menuju gedung fakultas.
Dari kejauhan, Karin baru turun dari bus. Langkahnya terhenti sesaat. Ia melihat Kai berjalan bersama Maureen di bawah payung yang sama. Bukan karena Kai meminta. Melainkan karena Maureen dengan sengaja mendekat.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat dada Karin terasa sesak. Ia segera menggeleng pelan.
"Jangan berpikir macam-macam."
Lalu ia kembali berjalan seperti biasa.
Begitu memasuki gedung, Maureen menutup payungnya.
"Untung nggak kehujanan."
Kai mengangguk.
"Makasih."
Satu kata itu sudah cukup membuat Maureen tersenyum sepanjang pagi. Baginya, perhatian kecilnya mulai diterima.
-
-
-
Di kelas gabungan...
Raka datang sambil mengusap rambutnya yang basah.
"Buset... hujannya niat banget."
Nia melirik sekilas.
"Kamu nggak bawa jas hujan?"
"Bawa."
"Terus?"
"Ketinggalan."
Nia memijat pelipis.
"Hebat."
"Kan namanya juga ketinggalan."
Kai yang duduk di belakang hanya menggeleng kecil.
Raka langsung menunjuknya.
"Tuh kan, Kai juga setuju aku kasihan."
Kai menjawab datar.
"Nggak."
Karin tertawa pelan.
Suasana kelas kembali cair.
Namun hari itu Karin tidak seceria biasanya.
Beberapa kali pandangannya tanpa sadar mengarah kepada Maureen.
Dan hampir setiap kali itu pula, Maureen sedang melihat Kai.
-
-
-
Jam istirahat.
Karin pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Saat berjalan keluar dari rak buku, ia mendengar suara pelan dari balik lorong.
"...makasih ya."
Suara Maureen.
Karin menghentikan langkah.
"Ada apa?" tanya Kai.
"Aku cuma mau balikin buku yang kemarin kamu pinjam."
"Oh."
Kai menerimanya.
"Terima kasih."
Maureen tidak langsung pergi.
"Aku dengar kamu kerja tiap sore."
"Iya."
"Pasti capek."
Kai tersenyum tipis.
"Biasa."
"Kalau suatu hari kamu butuh bantuan... bilang ya."
Kai tampak sedikit bingung.
"Bantuan apa?"
"Apa saja."
Kai menggeleng pelan.
"Terima kasih. Lain kali."
Maureen tersenyum.
"Aku pergi dulu."
Setelah gadis itu berlalu, Karin baru keluar dari balik rak. Kai terlihat sedikit terkejut.
"Kamu dari tadi?"
"Baru datang."
Karin berbohong.
Ia tidak ingin Kai tahu bahwa dirinya tanpa sengaja mendengar percakapan tadi.
Kai tersenyum tanpa tahu apa-apa.
-
-
-
Sore harinya yang paling di sukai mahasiswa karena kegiatan perkuliahan telah berakhir, Maureen duduk sendirian di sebuah kafe. Beberapa menit kemudian Gio datang.
"Dari wajahmu... sepertinya ada perkembangan."
Maureen menatapnya datar.
"Aku nggak mau lagi pura-pura."
Gio tersenyum tipis.
"Bagus."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Gio menyesap kopinya.
"Berarti sekarang kita punya tujuan yang sama."
Maureen menggeleng.
"Nggak."
"Apa maksudmu?"
"Aku mendekati Kai bukan lagi karena permintaanmu."
Tatapan Maureen berubah tegas.
"Aku benar-benar menyukainya."
Gio terdiam beberapa saat. Namun kemudian ia justru tersenyum.
"Lebih baik."
"Kenapa?"
"Karena orang yang jatuh cinta biasanya akan berusaha lebih keras."
Maureen mengepalkan jemarinya.
"Aku nggak akan menyakiti Kai."
"Aku juga nggak pernah memintamu menyakitinya."
"Lalu?"
Gio menyandarkan tubuhnya.
"Kalau Karin melihat kalian semakin dekat...biarkan dia yang mengambil kesimpulannya sendiri."
Maureen terdiam. Ia tahu kalimat itu berbahaya. Namun di sisi lain, ada bagian dalam dirinya yang mulai berharap Karin benar-benar menyerah.
Sementara yang lain sudah mulai beristirahat, Kai masih bekerja hingga malam hari di bengkel.
Ia sedang sibuk ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Maureen.
Terima kasih sekali lagi buat kemarin. Jangan lupa makan malam.
Kai membaca pesan itu beberapa detik. Lalu membalas singkat.
Iya. Terima kasih.
Tidak lebih, tidak kurang. Namun bagi Maureen, balasan sederhana itu sudah cukup membuatnya tersenyum. Ia mulai yakin. Selama terus berada di dekat Kai, suatu hari nanti, pria itu pasti akan membuka hati. Ia mulai berharap, Kai akan memilihnya.
Di tempat lain, Karin menatap layar ponselnya. Biasanya, setelah selesai bekerja, Kai selalu mengirim pesan sederhana.
"Sudah sampai rumah?" atau "Jangan tidur terlalu malam." Namun malam itu, tidak ada pesan.
Karin memeluk bantal kecil di kamarnya. Ia mencoba menghibur diri.
"Mungkin dia benar-benar sibuk." Gumamnya lirih.
Padahal di saat yang sama, Kai memang masih sibuk bekerja. Bukan karena melupakan Karin.
Melainkan karena beberapa motor pelanggan harus selesai malam itu.
-
-
-
Bersambung...