Aku Hidup Kembali

Aku Hidup Kembali

Kesempatan hidup Kembali

Bab 1

Karin meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Rasa nyeri saat tubuhnya menghantam bebatuan di dasar jurang masih begitu nyata, seolah peristiwa itu baru saja terjadi beberapa detik yang lalu.

Namun pemandangan di hadapannya membuat napasnya tercekat. Sebuah cermin besar memantulkan sosok wanita muda berusia sekitar dua puluh tahun dengan rambut hitam panjang tergerai. Wajah itu begitu dikenalnya.

Itu adalah dirinya. Dirinya... di masa muda.

Dengan tangan gemetar, Karin menyentuh pipinya. Kulit itu terasa hangat. Ia lalu mencubit pipinya sendiri.

"Aduh..."

Rasa sakit itu nyata.

Ini bukan mimpi.

Karin mundur selangkah hingga tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. Bukankah ia telah mati? Ia masih mengingat dengan jelas saat tubuhnya terjatuh ke jurang dan kesadarannya perlahan menghilang.

"Apa... ini benar-benar nyata?" gumamnya lirih.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat. Potongan demi potongan kenangan bermunculan seperti gulungan film. Kehidupannya saat berusia dua puluh tahun kembali memenuhi ingatannya. Semua terasa begitu jelas.

Tanpa berpikir panjang, Karin berlari menuruni tangga. Begitu sampai di ruang tamu, langkahnya terhenti. Di sana, kedua orang tuanya sedang duduk bersama seorang tamu dari rumah sebelah. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya.

Papa...

Mama...

Mereka masih hidup.

Kerinduan yang selama bertahun-tahun ia pendam seketika menyeruak memenuhi dadanya.

Namun rasa haru itu berubah menjadi sesak ketika pandangannya jatuh pada sosok pria muda yang duduk di hadapan ayahnya.

Gio!

Pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Pria yang menyeret keluarganya ke dalam penderitaan, membuatnya dihina, direndahkan, kehilangan segalanya, hingga akhirnya hidup terlunta-lunta seorang diri.

Kebencian yang selama ini terpendam kembali menyala.

"Karin, kenapa hanya berdiri di situ? Ayo, sini," panggil Hesti dengan senyum hangat.

Senyum yang begitu Karin rindukan. Namun begitu mata mereka bertemu, air mata Karin tak lagi bisa dibendung.

"Hiks..."

"Loh, kok malah nangis? Ada apa?" tanya Hesti panik.

"Ada apa dengan Karin, Ma?" Pak Wirawan ikut berdiri.

Karin menatap kedua orang tuanya bergantian.

Di kehidupan sebelumnya, ayahnya mengembuskan napas terakhir dalam keadaan sakit-sakitan, tubuhnya kurus tinggal tulang. Kini lelaki itu tampak sehat dan penuh semangat.

Dadanya terasa semakin sesak.

"Papa... Mama..."

Tangisnya pecah.

Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia telah kehilangan mereka begitu lama? Bahwa setelah mereka meninggal, ia harus bertahan hidup sendirian menghadapi dunia yang begitu kejam.

"Mama urus Karin dulu," ujar Pak Wirawan kepada tamunya. "Maaf ya, Gio. Niatnya mau berkenalan, malah Karin tiba-tiba menangis."

"Tidak apa-apa, Om. Mungkin Karin sedang kurang sehat," jawab Gio sopan.

"Maaf ya, Nak Gio," kata Hesti.

"Silakan, Tante."

Hesti segera menghampiri putrinya yang masih berdiri di tangga. Ia memeluk Karin erat sebelum menuntunnya menuju kamar.

"Ayo, kita ke kamar dulu."

Begitu duduk di tepi ranjang, Hesti mengusap lembut rambut putrinya.

"Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba menangis?"

Karin langsung memeluk ibunya sekuat tenaga. Pelukan yang selama ini hanya bisa ia rindukan akhirnya kembali ia rasakan. Kenangan pahit saat kehilangan kedua orang tuanya terus berputar di kepalanya.

Bersamaan dengan itu, kebencian terhadap orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya kembali membara.

Termasuk Gio.

Saat itulah Karin benar-benar sadar. Ia telah kembali ke masa lalu. Tuhan telah memberinya kesempatan kedua.

Dan kali ini...Ia tidak akan membiarkan takdir yang sama terulang.

Hesti membalas pelukan putrinya sambil mengusap punggungnya perlahan. Ia membiarkan Karin menangis hingga emosinya mereda.

"Kamu sudah lebih tenang?" tanyanya lembut.

Karin mengangguk sambil menghapus sisa air mata.

"Maaf, Ma. Tadi Karin cuma sakit perut, jadi nggak kuat menahannya."

"Itu saja?" Hesti bertanya penuh khawatir.

"Iya. Sekarang sudah mendingan."

Hesti mengembuskan napas lega.

"Syukurlah. Sebenarnya Mama dan Papa ingin mengenalkanmu pada anak teman Papa. Dia baru pindah ke rumah sebelah setelah ayahnya meninggal."

Karin tentu sudah mengetahui semuanya. Ia pernah menjalani hari ini. Ia juga tahu bahwa candaan tentang perjodohan yang sebentar lagi terlontar akan berubah menjadi kenyataan.

Beberapa bulan kemudian mereka menikah. Dan setahun setelahnya...Hidupnya berubah menjadi mimpi buruk.

Tidak.

Kali ini ia harus menghentikannya sejak awal.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.

"Ma..."

"Iya?"

"Sebenarnya Karin juga ingin mengenalkan seseorang kepada Mama dan Papa."

Hesti tampak terkejut.

"Siapa?"

"Pacar Karin."

Hesti membelalakkan mata.

"Pacar?"

"Iya. Dia sedang liburan ke luar kota. Kalau sudah pulang, Karin akan mengajaknya ke rumah."

Itu bohong.

Namun Karin mengatakannya dengan begitu tenang hingga Hesti sama sekali tidak meragukannya.

Setidaknya, jika Mama percaya ia sudah memiliki kekasih, tidak akan ada lagi pembicaraan soal perjodohan dengan Gio.

Hesti tersenyum sambil mengusap pipi putrinya.

"Ternyata putri Mama diam-diam sudah punya pacar."

Karin tersenyum kecil.

"Karin sudah besar, Ma."

"Siapa namanya?"

Senyum Karin langsung membeku. Ia sama sekali tidak menyiapkan nama.

Otaknya bekerja keras mencari satu nama yang paling mudah diingat.

Lalu...

Sebuah wajah muncul dalam ingatannya.

Kai.

Pemuda berandal di masa kuliahnya. Badboy yang terkenal dingin, cuek, dan sering dicap playboy.

Aneh.

Padahal selama kuliah, Kai tidak pernah sekalipun mengganggunya.

"Iya... namanya Kai."

"Kai?"

"Iya. Nanti Karin kenalkan kalau dia sudah pulang."

Hesti mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah. Mama jadi penasaran dengan pemuda yang berhasil mencuri hati anak Mama."

Karin hanya ikut tersenyum. Di dalam hatinya, ia berharap kebohongan kecil itu cukup untuk mengubah masa depan. Karena kali ini...Ia tidak akan membiarkan Gio menghancurkan hidupnya lagi.

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘBoyᶻᵃ💘🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘBoyᶻᵃ💘🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡

ada notif..otw meluncur /Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2026-07-31

2

 .𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐

.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐

kalo gak ketemu manusia namanya kai gimana wooii

2026-07-31

1

Jess Author abal-abal🌷野溪

Jess Author abal-abal🌷野溪

wah karya baru nih😍

2026-07-30

1

lihat semua
Episodes
1 Kesempatan hidup Kembali
2 Giorgino
3 Pertemuan Pertama
4 Permintaan Yang Mustahil
5 Tawaran Cinta
6 Batas waktu
7 Kesepakatan
8 Undangan Makan Malam
9 Makan Malam Yang Menegangkan
10 Peringatan
11 Fitnah Pertama
12 Bayangan Di Balik Fitnah
13 Saksi
14 Pembatalan Keputusan
15 Perlahan Menjadi Kebiasaan
16 Janji Sederhana
17 Teman Baru
18 Perlahan Menjadi Tempat Bersandar
19 Akhir Pekan Yang Sederhana
20 Jarak Yang Semakin Dekat
21 Perhatian Yang Datang Tiba-Tiba
22 Teman Baru, Langkah Baru
23 Tugas Kelompok
24 Kabar Kai
25 Hujan Dan Undangan
26 Kepercayaan
27 Perhatian Yang Tak Pernah Terucap
28 Perasaan Yang Berubah
29 Riak Yang Mulai Terlihat
30 Retakan Yang Mulai Terlihat
31 Langkah Pertama
32 Perasaan Yang sulit Di Jelaskan
33 Luka Yang Mulai Terlihat
34 Batas Yang Mulai Terlihat
35 Perasaan Yang Mulai Mengganggu
36 Celah Di Antara Mereka
37 Jarak Yang Berubah
38 Kesempatan Yang Di Cari
39 Sesuatu Yang Mulai Berubah
40 Bukan Sekedar Kebetulan
41 Batas Kesabaran
42 Yang Akhirnya Terucap
43 Permainan Yang Mulai Terbuka
44 Langkah Pertama
45 Perang Dingin
46 Noda Yang Di Sengaja
47 Tekanan Yang Bertambah
48 Masalah Yang Mulai Terlihat
49 Melewati Batas
50 Akibat Yang Tak Bisa Di Hindari
51 Lebih Dekat Tanpa Di Sadari
52 Hari-hari Yang Berubah
53 Perasaan Yang Semakin Sulit Di Sembunyikan
54 Tawaran Yang Tak Di Inginkan
55 Sebuah Solusi Dari Masa Lalu
56 Rahasia Yang Akhirnya Terbuka
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Kesempatan hidup Kembali
2
Giorgino
3
Pertemuan Pertama
4
Permintaan Yang Mustahil
5
Tawaran Cinta
6
Batas waktu
7
Kesepakatan
8
Undangan Makan Malam
9
Makan Malam Yang Menegangkan
10
Peringatan
11
Fitnah Pertama
12
Bayangan Di Balik Fitnah
13
Saksi
14
Pembatalan Keputusan
15
Perlahan Menjadi Kebiasaan
16
Janji Sederhana
17
Teman Baru
18
Perlahan Menjadi Tempat Bersandar
19
Akhir Pekan Yang Sederhana
20
Jarak Yang Semakin Dekat
21
Perhatian Yang Datang Tiba-Tiba
22
Teman Baru, Langkah Baru
23
Tugas Kelompok
24
Kabar Kai
25
Hujan Dan Undangan
26
Kepercayaan
27
Perhatian Yang Tak Pernah Terucap
28
Perasaan Yang Berubah
29
Riak Yang Mulai Terlihat
30
Retakan Yang Mulai Terlihat
31
Langkah Pertama
32
Perasaan Yang sulit Di Jelaskan
33
Luka Yang Mulai Terlihat
34
Batas Yang Mulai Terlihat
35
Perasaan Yang Mulai Mengganggu
36
Celah Di Antara Mereka
37
Jarak Yang Berubah
38
Kesempatan Yang Di Cari
39
Sesuatu Yang Mulai Berubah
40
Bukan Sekedar Kebetulan
41
Batas Kesabaran
42
Yang Akhirnya Terucap
43
Permainan Yang Mulai Terbuka
44
Langkah Pertama
45
Perang Dingin
46
Noda Yang Di Sengaja
47
Tekanan Yang Bertambah
48
Masalah Yang Mulai Terlihat
49
Melewati Batas
50
Akibat Yang Tak Bisa Di Hindari
51
Lebih Dekat Tanpa Di Sadari
52
Hari-hari Yang Berubah
53
Perasaan Yang Semakin Sulit Di Sembunyikan
54
Tawaran Yang Tak Di Inginkan
55
Sebuah Solusi Dari Masa Lalu
56
Rahasia Yang Akhirnya Terbuka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!