Permintaan Yang Mustahil

Bab 4

Karin mematung beberapa detik.

Keberadaan Gio di depan gerbang kampus benar-benar di luar dugaannya.

Padahal, di kehidupan sebelumnya, pria itu baru mulai sering datang setelah hubungan mereka semakin dekat. Namun kini, semuanya terasa lebih cepat.

Seolah perubahan yang ia lakukan justru membuat alur takdir ikut berubah.

"Karin?"

Suara Nia membuyarkan lamunannya.

"Itu siapa?"

Karin mengulas senyum tipis.

"Kenalan orang tua."

"Kelihatannya ganteng, lho."

Karin hanya mengangguk sekilas tanpa menanggapi.

Baginya, wajah tampan Gio hanyalah topeng. Di balik senyum ramah itu tersembunyi sosok yang sanggup menghancurkan siapa saja demi memenuhi ambisinya.

Gio berjalan menghampiri dengan langkah tenang.

"Halo, Karin."

"Halo."

"Kebetulan aku ada urusan di sekitar sini," katanya santai. "Kupikir sekalian menjemputmu."

"Aku tidak minta dijemput."

Jawaban Karin membuat senyum Gio sedikit kaku.

"Oh... aku cuma ingin berbuat baik."

"Terima kasih."

"Tapi aku bisa pulang sendiri."

Nia melirik Karin bergantian dengan rasa penasaran.

Suasana berubah canggung.

Namun Gio tampaknya tidak berniat menyerah.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Tidak lama."

"Maaf."

"Aku sudah punya janji."

Padahal itu bohong.

Gio memperhatikan wajah Karin beberapa saat.

"Janji dengan pacarmu?"

"Iya."

Jawaban singkat itu membuat mata Gio menyipit tipis.

"Berarti... pacarmu sudah pulang?"

Karin sempat terdiam.

Ia hampir lupa kalau sebelumnya mengatakan bahwa pacarnya sedang berada di luar kota.

"Iya. Semalam."

Untungnya kebohongan itu masih terdengar masuk akal.

"Kalau begitu kapan aku boleh bertemu dengannya?"

Karin mengangkat alis.

"Untuk apa?"

"Penasaran saja."

"Tidak perlu."

Jawaban dingin itu membuat Nia sampai menahan napas.

Baru kali ini ia melihat seseorang berbicara setegas itu kepada pria seramah Gio.

Namun anehnya, Gio justru tersenyum.

"Baiklah."

"Aku tidak akan memaksa."

"Tapi aku tetap berharap kita bisa berteman."

Tanpa menunggu jawaban, Gio melangkah pergi. Mobil hitamnya perlahan meninggalkan area kampus.

Nia langsung menarik lengan Karin.

"Ya ampun!"

"Itu siapa sebenarnya?"

"Teman Papa."

"Cuma teman?"

"Iya."

"Kalau lihat caranya memandangmu, sepertinya bukan cuma teman."

Karin tersenyum hambar.

"Sudahlah."

"Ayo pulang."

-

-

-

Di sisi lain...

Gio tidak langsung pulang. Mobilnya berhenti di sebuah kedai kopi yang berada tidak jauh dari kampus. Ia duduk di dekat jendela sambil mengingat kembali sikap Karin.

"Aneh..."

Menurut cerita Om Wirawan, Karin adalah gadis yang lembut dan mudah akrab dengan orang baru. Namun gadis yang ditemuinya hari ini benar-benar berbeda.

Tatapan Karin penuh kewaspadaan. Bahkan seperti... kebencian. Padahal mereka baru bertemu dua kali.

"Apa aku pernah melakukan kesalahan?"

Gio menggeleng pelan.

Tidak mungkin. Ia bahkan baru mengenal Karin.

Kalau begitu...

Kenapa gadis itu bersikap seolah sudah mengenalnya sejak lama?

Semakin dipikirkan, rasa penasarannya justru semakin besar.

-

-

-

Sementara itu, Karin memilih duduk sendirian di taman kampus sebelum pulang.

Angin sore berembus pelan.

Namun kepalanya terasa semakin berat.

"Aku tidak bisa terus-terusan berbohong."

Hari ini ia berhasil menghindar.

Besok?

Lusa?

Bagaimana jika Gio benar-benar meminta bertemu dengan pacarnya?

Atau bahkan datang lagi ke rumah?

Semakin dipikirkan, semakin buntu.

Bruk.

Seseorang meletakkan tas di bangku sebelah.

Karin menoleh.

Seorang mahasiswa duduk tanpa berkata apa pun. Rambut hitamnya sedikit berantakan.

Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku.

Kai.

Ia tampak sama sekali tidak menyadari keberadaan Karin.

Atau mungkin...

Memang tidak peduli.

Kai membuka botol minum, lalu meneguk air beberapa kali. Di sudut bibirnya, masih terlihat luka kecil akibat perkelahian tadi.

Entah mengapa, Karin merasa kasihan.

"Masih sakit?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Kai menghentikan gerakannya.

Ia menoleh.

"Kamu bicara denganku?"

"Iya."

Kai menyentuh sudut bibirnya.

"Oh...Lumayan."

Hening.

Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan.

Kai kembali meneguk air minumnya.

Karin menggigit bibir bawah.

Haruskah ia bertanya?

"Tadi...Kenapa kamu membela mahasiswa baru?"

Kai tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis.

"Karena aku tidak suka melihat orang lemah ditindas."

Jawaban itu begitu sederhana. Namun membuat Karin terdiam.

Seseorang yang dicap badboy ternyata memiliki prinsip seperti itu.

"Semua orang menganggapmu suka berkelahi."

Kai terkekeh pelan.

"Memangnya salah?"

"Bukan begitu."

"Kamu tidak pernah menjelaskan."

"Buat apa?"

Kai menutup botol minumnya.

"Orang selalu percaya pada apa yang ingin mereka percaya."

Ucapan itu membuat Karin merenung.

Benar juga.

Bukankah ia sendiri dulu ikut percaya semua gosip tentang Kai?

Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Kai berdiri.

"Aku pergi dulu."

Baru dua langkah berjalan, Karin spontan memanggilnya.

"Kai."

Kai berhenti.

"Ada apa?"

Karin membuka mulut.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Ia ingin meminta bantuan. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Tidak.

Belum sekarang.

Ia bahkan baru berbicara beberapa menit dengan Kai.

"Terima kasih."

Kai terlihat bingung.

"Untuk apa?"

"Karena sudah membantu mahasiswa baru tadi."

Kai mengangguk pelan.

"Lain kali...Kalau mau berterima kasih...Belikan aku es teh."

Setelah mengatakan itu, Kai pergi begitu saja.

Karin menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Tanpa sadar ia tersenyum kecil.

Pria itu ternyata tidak sedingin yang dibicarakan orang.

-

-

-

Sore itu, sesampainya di rumah, Karin mendapati kedua orang tuanya sedang duduk di ruang tamu.

"Kamu baru pulang?" tanya Pak Wirawan.

"Iya, Pa."

"Duduk dulu."

Nada suara ayahnya terdengar serius.

Karin mulai merasa tidak enak.

"Ada apa?"

Pak Wirawan saling berpandangan dengan Hesti.

"Tadi Gio datang lagi."

Deg.

Jantung Karin langsung berdegup lebih cepat.

"Dia bilang ingin mengenalmu lebih dekat. Kami sudah bilang kalau kamu punya pacar. Tapi dia tetap tidak keberatan."

Karin mengepalkan tangan.

Persis seperti kehidupan sebelumnya. Gio memang bukan tipe pria yang mudah menyerah.

"Papa juga bilang...Kalau memang pacarmu sudah pulang, ajak dia makan malam di rumah akhir pekan ini."

Dunia Karin seakan berhenti berputar.

Makan malam?

Akhir pekan?

Artinya ia hanya punya waktu beberapa hari untuk menghadirkan seorang pacar yang bahkan tidak pernah ada.

"Karin?"

Hesti menggenggam tangan putrinya.

"Kalau memang belum siap, tidak usah dipaksa."

Namun Karin tahu. Kalau ia terus mengulur waktu, kebohongannya akan terbongkar.

Malam itu, setelah masuk ke kamar, ia duduk termenung di tepi ranjang.

Nama demi nama muncul di kepalanya. Namun tidak ada satu pun yang bisa dimintai bantuan.

Hingga akhirnya...

Wajah seorang pria dengan rambut sedikit berantakan kembali terlintas.

Kai.

Karin menghela napas panjang.

"Mungkin..."

"Hanya dia satu-satunya harapanku."

Keputusan itu memang terdengar gila.

Tetapi demi mengubah takdirnya...

Ia tidak punya pilihan lain.

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Author.N.

Author.N.

mau es teh jumbo yang 4rebuan apa 5rebuan nih bang

2026-08-03

0

Author.N.

Author.N.

ganteng tapi nyakitin 😌😌

2026-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 Kesempatan hidup Kembali
2 Giorgino
3 Pertemuan Pertama
4 Permintaan Yang Mustahil
5 Tawaran Cinta
6 Batas waktu
7 Kesepakatan
8 Undangan Makan Malam
9 Makan Malam Yang Menegangkan
10 Peringatan
11 Fitnah Pertama
12 Bayangan Di Balik Fitnah
13 Saksi
14 Pembatalan Keputusan
15 Perlahan Menjadi Kebiasaan
16 Janji Sederhana
17 Teman Baru
18 Perlahan Menjadi Tempat Bersandar
19 Akhir Pekan Yang Sederhana
20 Jarak Yang Semakin Dekat
21 Perhatian Yang Datang Tiba-Tiba
22 Teman Baru, Langkah Baru
23 Tugas Kelompok
24 Kabar Kai
25 Hujan Dan Undangan
26 Kepercayaan
27 Perhatian Yang Tak Pernah Terucap
28 Perasaan Yang Berubah
29 Riak Yang Mulai Terlihat
30 Retakan Yang Mulai Terlihat
31 Langkah Pertama
32 Perasaan Yang sulit Di Jelaskan
33 Luka Yang Mulai Terlihat
34 Batas Yang Mulai Terlihat
35 Perasaan Yang Mulai Mengganggu
36 Celah Di Antara Mereka
37 Jarak Yang Berubah
38 Kesempatan Yang Di Cari
39 Sesuatu Yang Mulai Berubah
40 Bukan Sekedar Kebetulan
41 Batas Kesabaran
42 Yang Akhirnya Terucap
43 Permainan Yang Mulai Terbuka
44 Langkah Pertama
45 Perang Dingin
46 Noda Yang Di Sengaja
47 Tekanan Yang Bertambah
48 Masalah Yang Mulai Terlihat
49 Melewati Batas
50 Akibat Yang Tak Bisa Di Hindari
51 Lebih Dekat Tanpa Di Sadari
52 Hari-hari Yang Berubah
53 Perasaan Yang Semakin Sulit Di Sembunyikan
54 Tawaran Yang Tak Di Inginkan
55 Sebuah Solusi Dari Masa Lalu
56 Rahasia Yang Akhirnya Terbuka
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Kesempatan hidup Kembali
2
Giorgino
3
Pertemuan Pertama
4
Permintaan Yang Mustahil
5
Tawaran Cinta
6
Batas waktu
7
Kesepakatan
8
Undangan Makan Malam
9
Makan Malam Yang Menegangkan
10
Peringatan
11
Fitnah Pertama
12
Bayangan Di Balik Fitnah
13
Saksi
14
Pembatalan Keputusan
15
Perlahan Menjadi Kebiasaan
16
Janji Sederhana
17
Teman Baru
18
Perlahan Menjadi Tempat Bersandar
19
Akhir Pekan Yang Sederhana
20
Jarak Yang Semakin Dekat
21
Perhatian Yang Datang Tiba-Tiba
22
Teman Baru, Langkah Baru
23
Tugas Kelompok
24
Kabar Kai
25
Hujan Dan Undangan
26
Kepercayaan
27
Perhatian Yang Tak Pernah Terucap
28
Perasaan Yang Berubah
29
Riak Yang Mulai Terlihat
30
Retakan Yang Mulai Terlihat
31
Langkah Pertama
32
Perasaan Yang sulit Di Jelaskan
33
Luka Yang Mulai Terlihat
34
Batas Yang Mulai Terlihat
35
Perasaan Yang Mulai Mengganggu
36
Celah Di Antara Mereka
37
Jarak Yang Berubah
38
Kesempatan Yang Di Cari
39
Sesuatu Yang Mulai Berubah
40
Bukan Sekedar Kebetulan
41
Batas Kesabaran
42
Yang Akhirnya Terucap
43
Permainan Yang Mulai Terbuka
44
Langkah Pertama
45
Perang Dingin
46
Noda Yang Di Sengaja
47
Tekanan Yang Bertambah
48
Masalah Yang Mulai Terlihat
49
Melewati Batas
50
Akibat Yang Tak Bisa Di Hindari
51
Lebih Dekat Tanpa Di Sadari
52
Hari-hari Yang Berubah
53
Perasaan Yang Semakin Sulit Di Sembunyikan
54
Tawaran Yang Tak Di Inginkan
55
Sebuah Solusi Dari Masa Lalu
56
Rahasia Yang Akhirnya Terbuka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!