Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022 - Puing-puing Cinta

Selama lima belas hari, aku hidup seperti orang yang lupa cara bangun.

Aku tetap pergi kuliah, tetapi tidak mencatat. Tetap makan, tetapi tidak mengenali rasa. Setiap malam aku terbangun sebelum pukul tujuh, saat tubuhku mengingat pesan ulang tahun Arkana lebih baik daripada pikiranku.

Dia tidak menelepon.

Cincin bunga merah juga tidak kembali.

Pada hari kesepuluh, dosen pianoku menghentikan permainanku di tengah etude. Ia menutup penutup tuts, memaksaku menarik tangan.

"Kau memainkan semua nada dengan benar," katanya. "Tapi tidak ada seorang pun di dalam musik itu."

"Saya akan berlatih lebih keras."

"Bukan jarimu yang bermasalah. Kau sedang bersembunyi."

Aku menunduk. Di ruang latihan, pantulan wajahku pada permukaan piano terlihat pucat dan asing.

"Kalau musik ini diberikan seseorang kepadamu, kembalikan," lanjutnya. "Kalau musik ini milikmu, perjuangkan. Tapi jangan duduk di antara keduanya. Panggung tidak menerima orang yang tidak memilih hadir."

Aku meninggalkan kelas tanpa menjawab. Di lorong, poster seleksi beasiswa London tertempel di papan pengumuman. Tanggal pendaftaran berakhir satu bulan lagi. Dahulu aku selalu melewatinya karena Arkana tidak suka aku pergi terlalu jauh. Hari itu aku mengambil satu lembar formulir, melipatnya, lalu menyimpannya di buku.

Aku belum siap mengisi.

Namun untuk pertama kalinya sejak ulang tahunku, aku membawa sesuatu pulang selain kesedihan.

Mbak Tania menemukanku tertidur di ruang ganti Club Aurora dengan buku kuliah sebagai bantal. Dia menendang kaki kursi sampai aku terbangun.

"Kau tidak bisa terus begini."

"Aku hanya lelah."

"Kau datang ke Club setiap malam, duduk sampai tutup, lalu berangkat kuliah. Itu bukan lelah. Itu menyiksa diri dengan cara yang membosankan."

Aku duduk dan merapikan rambut. "Setidaknya aku tidak mengganggu siapa pun."

Tania berjongkok di depanku. "Ceritakan sekali lagi. Kali ini jangan membela dia."

Aku sudah menceritakan tentang Puspita, piano, bunga, dan cincin. Namun setiap kali sampai pada kalimat terakhir Arkana, aku selalu mencari alasan mengapa dia mengatakannya.

Malam itu aku berhenti mencari.

"Dia tidak mencintaiku," kataku.

"Mungkin dia bodoh. Itu berbeda."

"Aku diberi nama orang lain. Aku menjalani impian orang lain. Bahkan gaun pengantin yang kupakai terasa seperti kostum untuk hantu."

Tania menggenggam kedua tanganku. "Laras, dengarkan. Dia boleh menjadi alasan kau mengenal piano. Dia boleh menjadi orang yang membayar sekolahmu. Tapi tangan yang berlatih sampai berdarah itu milikmu. Musik yang dimainkan di restoran itu milikmu. Hidupmu bukan milik perempuan mati atau lelaki hidup mana pun."

Aku menatap sahabatku melalui air mata.

"Lalu hidupku milik siapa?"

"Milikmu. Sudah waktunya kau mengambilnya kembali."

Pintu ruang ganti terbuka. Seorang staf memberi tahu Tania bahwa Arkana baru datang bersama seorang perempuan. Dadaku langsung menegang, seolah tubuhku masih menganggap namanya sebagai perintah.

Aku seharusnya tetap di dalam.

Namun aku berjalan ke lorong balkon dan melihat ke lantai utama.

Arkana duduk di sofa VIP. Perempuan bergaun perak berada di sampingnya, cukup dekat untuk menyentuh lengannya. Arkana membiarkannya. Wajahnya tenang saat perempuan itu membisikkan sesuatu di telinganya.

Lima belas hari.

Hanya itu waktu yang dia perlukan untuk menemukan pengganti dari seorang pengganti.

Aku mundur sebelum dia melihatku. Napasku pecah di lorong servis. Tania menyusul dan memelukku tanpa mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia cukup jujur untuk tahu malam itu memang tidak baik.

"Aku ingin pulang," kataku.

"Aku antar."

"Tidak. Aku ingin berjalan sendiri."

Di dekat pintu belakang, suara Bayu terdengar dari ruang kantor yang tidak tertutup rapat.

"Perempuan yang duduk di bawah itu bahkan tidak kaukenal," katanya.

Langkahku berhenti.

"Aku mengenalnya cukup untuk satu malam," jawab Arkana.

"Jangan lakukan ini di tempat Laras bisa melihat."

"Justru itu tujuannya."

Tania menarik lenganku, mengajak pergi, tetapi aku menggeleng. Aku ingin mendengar seberapa jauh kekejamannya dapat berjalan.

Bayu mengumpat pelan. "Kau membuatnya membencimu supaya dia tidak kembali. Lalu setiap malam kau berdiri di balkon seperti orang kehilangan rumah."

"Dia memang harus membenciku."

"Aku pernah berpikir begitu tentang seorang perempuan." Suara Bayu merendah. "Aku mendorongnya pergi karena mengira rasa sakit sesaat lebih baik daripada hidup dalam bahaya bersamaku. Sampai sekarang aku tidak tahu apakah dia selamat, bahagia, atau bahkan masih mengingatku. Jangan jadikan lukaku sebagai contoh."

Ada keheningan panjang.

Arkana akhirnya berkata, "Larasati akan hidup lebih baik tanpa aku."

Kalimat itu seharusnya terdengar seperti cinta. Bagiku, kalimat itu tetap sebuah keputusan yang dibuat tanpa bertanya kepada orang yang harus menjalaninya.

Aku melangkah menjauh.

"Kau mau masuk dan menamparnya lagi?" bisik Tania.

"Tidak."

"Menangis di jalan?"

"Mungkin sedikit."

Tania menggandeng lenganku. Kami keluar melalui pintu belakang menuju udara malam Jakarta. Di trotoar, aku melepas sepatu hak dan berjalan tanpa alas kaki. Aspal masih menyimpan panas siang hari.

"Besok aku akan kembali latihan," kataku.

"Piano?"

"Piano, kuliah, semua hal yang kutinggalkan karena terlalu sibuk mencintainya. Aku akan mencari beasiswa. Aku akan bermain dengan namaku sendiri, meski nama itu pertama kali milik orang lain."

Tania tersenyum. "Itu baru sahabatku."

Aku menangis dalam perjalanan pulang, tetapi tidak berbalik ketika mobil hitam Arkana muncul jauh di belakang kami. Biarkan dia melihatku berjalan pergi dengan kakiku sendiri.

Selesai berarti selesai.

Setidaknya, itulah yang kupercayai sebelum badai berikutnya menemukan pisau di antara puing-puing cinta kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!