Mobil mogok di depan sebuah rumah makan sederhana mempertemukan Dawin, pasukan khusus elite yang tegas namun berhati lembut, dengan Kwila, perawat baik hati dari keluarga Lidar. Pertemuan yang tak terduga itu berubah menjadi cinta yang tumbuh di tengah bahaya, ketika keluarga Kwila justru menjadi incaran organisasi kriminal BlackSystem yang begitu ditakuti. Antara tugas melindungi negara dan menjaga wanita yang dicintainya, Dawin harus menghadapi pengkhianatan, pengejaran, dan pertaruhan nyawa sementara Kwila belajar bahwa cinta sejati kadang datang justru saat dunia terasa paling berbahaya. Namun kisah ini tak berhenti di pelaminan. “Dawin dan Kwila” adalah saga keluarga yang membentang lintas generasi merayakan pernikahan, kelahiran, perjuangan mengejar mimpi, hingga anak-anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta serta jalan hidup masing masing. Dari aksi menegangkan hingga kehangatan meja makan keluarga, novel 150 bab ini adalah perjalanan panjang tentang keberanian, penebusan, dan bagaimana kebaikan kecil bisa berbuah kebahagiaan yang tak pernah berhenti bertumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring yang mulai terpasang
Setelah berhasil mengumpulkan informasi mengenai kebiasaan Dawin dan Kwila menghabiskan waktu berdua di taman kota tersebut, Piku dan Rangga mulai menyusun rencana lebih detail untuk melancarkan aksi penculikan mereka. Mereka memutuskan untuk tidak lagi mengintai secara langsung di lokasi tersebut, mengingat risiko terdeteksi oleh insting tajam seorang anggota pasukan khusus elite seperti Dawin, melainkan memilih untuk mempersiapkan jebakan di lokasi yang lebih strategis.
"Piku, menurut saya, lebih aman kalau kita nunggu waktu Kwila lagi sendirian, bukan pas dia lagi bareng Dawin. Kalau kita coba di depan mereka berdua, risikonya terlalu besar," usul Rangga, memberikan pertimbangan yang lebih matang mengenai strategi penculikan yang akan mereka jalankan tersebut.
"Betul juga, tapi gimana caranya kita tau kapan dia bakal sendirian?" tanya Piku, mempertimbangkan kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk melancarkan aksi tersebut.
"Kita bisa manfaatin jadwal kerja dia di rumah sakit. Biasanya perawat pulang malam kalau shift-nya panjang, dan itu waktu yang paling rawan buat dia sendirian," jelas Rangga, membagikan strategi yang telah dia pikirkan matang-matang berdasarkan pengamatan yang telah mereka lakukan selama beberapa hari terakhir tersebut.
Piku mengangguk setuju, mulai menyusun rencana lebih rinci mengenai bagaimana mereka akan mengeksekusi penculikan tersebut ketika Kwila pulang kerja sendirian tanpa pengawalan Dawin. Mereka mempersiapkan sebuah mobil van yang telah dimodifikasi khusus, lengkap dengan berbagai peralatan yang diperlukan untuk melancarkan aksi penculikan tersebut secara cepat dan tanpa terdeteksi oleh siapa pun.
Beberapa hari berikutnya, mereka berdua secara bergantian mengawasi rumah sakit tempat Kwila bekerja tersebut, mempelajari pola jadwal shift gadis tersebut dengan seksama, berusaha menemukan momen yang paling tepat untuk melancarkan rencana jahat mereka tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan berlebihan dari pihak keamanan rumah sakit maupun dari Dawin sendiri.
"Piku, saya liat jadwal Kwila, kayaknya besok lusa dia dapet shift malam yang panjang, sampe jam sebelas malem," lapor salah satu anak buah yang mereka tugaskan untuk mengawasi rumah sakit tersebut secara lebih dekat, memberikan informasi penting mengenai jadwal kerja Kwila yang akan mereka manfaatkan tersebut.
Mendengar informasi tersebut, Piku merasa semakin yakin bahwa momen yang telah lama mereka nantikan tersebut akhirnya akan segera tiba. "Bagus, itu kesempatan kita. Siapin semua peralatan dan pastiin semua anggota tim siap malam itu."
Sementara persiapan jahat tersebut terus berjalan tanpa sepengetahuan siapa pun di pihak keluarga Lidar maupun Dawin, kehidupan sehari-hari mereka tetap berjalan seperti biasa, dengan Kwila yang terus menjalani rutinitas kerjanya sebagai perawat, tidak menyadari sama sekali bahwa bahaya besar sedang mengintai dari balik bayang-bayang gelap yang telah lama mengawasi setiap gerak-geriknya tersebut.
Di sisi lain, Dawin yang masih sibuk melanjutkan penyelidikan mengenai BlackSystem bersama Rehan, mulai mendapatkan beberapa petunjuk tambahan mengenai jaringan organisasi tersebut, termasuk informasi mengenai lokasi-lokasi yang diduga menjadi markas operasional mereka di berbagai wilayah kota tersebut. Namun di tengah kesibukannya tersebut, dia tetap menyempatkan diri untuk menghubungi Kwila setiap hari, memastikan keselamatan gadis tersebut meski tidak selalu bisa mendampinginya secara langsung.
"Kwila, gimana kerjaan hari ini? Aman-aman aja kan?" tanya Dawin melalui pesan singkat, sebuah kebiasaan yang mulai dia lakukan setiap hari sejak kencan mereka di taman kota beberapa waktu lalu.
"Aman, Mas. Cuma agak capek aja, banyak pasien hari ini," balas Kwila, tidak menyadari bahwa di balik kelelahan biasa akibat pekerjaannya tersebut, tersimpan ancaman besar yang telah lama disusun oleh orang-orang yang menaruh dendam terhadap kekasihnya tersebut.
Dawin, meski tidak mengetahui secara pasti rencana jahat yang sedang disusun Piku dan Rangga tersebut, tetap merasakan sedikit kegelisahan yang tidak bisa dia jelaskan sepenuhnya, sebuah insting yang telah lama terasah selama bertahun-tahun menjalani berbagai operasi militer berbahaya, insting yang selalu memberitahunya ketika ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya, meski dia belum bisa mengidentifikasi secara pasti sumber kekhawatiran tersebut.
"Kwila, kalau pulang malem, hati-hati ya. Kalau bisa, minta antar temen atau naik taksi aja, jangan jalan sendirian," pesan Dawin melalui telepon, mengungkapkan kekhawatirannya yang mulai muncul tanpa alasan yang jelas tersebut.
"Iya, Mas, saya bakal hati-hati kok. Kenapa emangnya, ada yang bikin Mas khawatir?" tanya Kwila, penasaran dengan perhatian ekstra yang tiba-tiba ditunjukkan Dawin tersebut.
"Nggak ada apa-apa spesifik sih, cuma insting aja. Namanya juga kerjaan saya, kadang suka ada firasat yang susah dijelasin," jawab Dawin, mencoba menjelaskan kekhawatirannya tanpa membuat Kwila terlalu panik, meski dalam hatinya sendiri dia merasa perlu untuk lebih waspada terhadap keselamatan gadis tersebut.
Malam yang telah direncanakan Piku dan Rangga tersebut akhirnya tiba, dengan Kwila yang menjalani shift malamnya seperti biasa, tidak menyadari bahwa di luar gedung rumah sakit tersebut, sebuah mobil van mencurigakan telah terparkir sejak sore hari, menunggu momen yang tepat untuk melancarkan aksi jahat yang telah lama direncanakan tersebut.
Di dalam mobil van tersebut, Piku dan beberapa anak buahnya duduk dengan penuh ketegangan, mempersiapkan diri untuk mengeksekusi rencana penculikan yang telah mereka susun dengan begitu matang tersebut. "Sebentar lagi, dia bakal keluar. Semua siap posisi masing-masing," instruksi Piku kepada seluruh timnya, memberikan aba-aba terakhir sebelum melancarkan aksi berbahaya tersebut.
Sementara itu, di markas militer, Dawin yang sedang menyelesaikan laporan penyelidikannya, tiba-tiba merasakan kegelisahan yang begitu kuat, sebuah perasaan tidak nyaman yang membuatnya secara refleks mengambil ponselnya untuk menghubungi Kwila, memastikan bahwa gadis tersebut baik-baik saja malam itu. Namun panggilan tersebut tidak kunjung terjawab, membuat kekhawatirannya semakin bertambah besar.
"Kenapa nggak diangkat," gumam Dawin dengan nada cemas, mencoba menghubungi Kwila untuk kedua kalinya, namun hasil yang sama tetap dia dapatkan, sebuah keheningan yang begitu mencurigakan mengingat kebiasaan Kwila yang selalu responsif setiap kali dia menghubunginya, sebuah tanda bahaya yang akan segera membawa Dawin pada malam paling menegangkan dalam hidupnya, sebuah malam yang akan menguji seluruh kemampuan dan insting pasukan khusus elite yang telah dia asah bertahun-tahun demi menyelamatkan wanita yang telah mencuri hatinya tersebut dari cengkeraman bahaya yang begitu mengancam nyawanya itu.
Dawin segera menghubungi Rehan yang kebetulan masih berada di markas malam itu, menceritakan kekhawatirannya mengenai Kwila yang tidak merespons teleponnya tersebut. "Rehan, saya ada firasat buruk soal Kwila. Dia nggak angkat telepon saya udah dua kali."
"Coba tenang dulu, Dawin. Mungkin dia lagi sibuk nanganin pasien," jawab Rehan mencoba menenangkan sahabatnya tersebut, meski dia sendiri bisa merasakan keseriusan kekhawatiran yang ditunjukkan Dawin tersebut.
"Nggak, ini beda, Rehan. Insting saya bilang ada yang nggak beres. Saya mau langsung ke rumah sakit sekarang," ujar Dawin dengan tegas, segera bergegas mengambil kunci mobilnya sambil terus mencoba menghubungi Kwila berulang kali, tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tersebut ternyata beralasan, mengingat di saat yang bersamaan, di parkiran rumah sakit tempat Kwila bekerja, aksi penculikan yang telah lama direncanakan Piku dan Rangga tersebut baru saja mulai dieksekusi dengan penuh kekejaman.