⚠️ PERINGATAN
Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Atau Baca di judul Bab contoh:
[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA-SUARA YANG SULIT SEPAKAT [POV FRAGMEN KETIGA: ZHUO XUANCHEN]
# BAB 17 — SUARA-SUARA YANG TIDAK PERNAH SEPAKAT
Dua belas perwakilan pedagang kecil duduk mengelilingi meja besar di lantai atas Kedai Teh Tujuh Arah—jumlah yang Zhuo Xuanchen pilih dengan hati-hati agar cukup mewakili keberagaman kepentingan seratus pedagang yang selama ini ia anggap penerima manfaat pasif dari rencananya, tapi tidak terlalu banyak hingga percakapan menjadi mustahil dikendalikan.
Ia tidak menduga percakapan akan menjadi mustahil dikendalikan dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang ia bayangkan.
"Kalau jaringan formasi ini selesai," seorang pedagang bernama Old Kang berkata, suaranya penuh semangat yang tidak coba ia sembunyikan, "kita yang menguasainya sekarang bisa menggantikan posisi Klan Yun dan Bao sepenuhnya. Kenapa kita harus membatasi diri hanya untuk 'keseimbangan'? Kita sudah berjuang cukup lama untuk berada di posisi lemah."
"Itu justru yang ingin kucegah," Zhuo Xuanchen menjawab, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski ia merasakan sesuatu yang tidak nyaman mulai terbentuk di ruangan ini. "Tujuan jaringan ini bukan menciptakan monopoli baru dengan wajah berbeda."
"Bicara mudah bagimu," seorang pedagang lain, seorang wanita bernama Su Lin yang mengelola tiga toko kain, menyela. "Kau bukan orang yang harus bersaing setiap hari untuk bertahan hidup. Bagi sebagian dari kami, kesempatan untuk akhirnya menang, bukan sekadar 'seimbang', adalah satu-satunya alasan kami mendukung rencanamu sejak awal."
---
Perdebatan meluas dengan cepat, jauh melampaui yang bisa dikendalikan Zhuo Xuanchen dengan kefasihan biasanya.
Sebagian pedagang menginginkan ekspansi agresif, menggunakan jaringan untuk mendominasi jalur dagang sepenuhnya. Sebagian lain menginginkan aturan ketat yang mencegah siapa pun—termasuk mereka sendiri—dari mendominasi di masa depan. Sebagian hanya peduli pada keuntungan pribadi jangka pendek, tidak terlalu tertarik dengan visi besar apa pun yang Zhuo Xuanchen coba tawarkan.
Ia menyadari, dengan rasa tidak nyaman yang semakin dalam, bahwa selama enam tahun ini, ia sudah membayangkan "seratus pedagang kecil" sebagai satu kelompok dengan satu kepentingan bersama—korban monopoli yang, jika dibebaskan, akan secara alami memilih keseimbangan dan keadilan.
Kenyataannya jauh lebih berantakan. Mereka adalah seratus individu dengan seratus alasan berbeda, sebagian mulia, sebagian sama sekali tidak berbeda dari keserakahan yang selama ini ia lawan.
---
Bai Rushuang duduk di sudut ruangan, tidak diundang secara formal ke pertemuan ini tapi datang tetap, memperhatikan dalam diam selama sebagian besar perdebatan sebelum akhirnya angkat bicara.
"Bisakah aku menyela?" ia bertanya, meski nadanya membuat jelas ia akan melanjutkan apa pun jawabannya.
Semua orang menoleh.
"Aku mengawasi jaringan ini selama enam bulan terakhir," Bai Rushuang berkata, berdiri agar semua orang bisa melihatnya dengan jelas. "Dan aku ingin mengajukan sesuatu yang mungkin tidak akan disukai siapa pun di ruangan ini, termasuk Tuan Zhuo."
---
"Aku mengusulkan piagam formal," ia melanjutkan, "yang membatasi bagaimana jaringan formasi ini bisa digunakan—bukan hanya membatasi kalian, para pedagang, dari menciptakan monopoli baru, tapi juga membatasi Tuan Zhuo sendiri dari terus mengendalikan jaringan ini secara sepihak seperti yang sudah ia lakukan enam tahun terakhir tanpa sepengetahuan penuh dari orang-orang yang terpengaruh olehnya."
Ruangan menjadi hening sesaat.
"Aku mengusulkan dewan pengawas independen," Bai Rushuang melanjutkan, "terdiri dari perwakilan pedagang, perwakilan Biro Informasi Sungai Perak sebagai auditor netral, dan—ya, Tuan Zhuo, kau boleh punya kursi juga, tapi hanya satu suara dari banyak, bukan kendali penuh seperti sekarang."
---
Zhuo Xuanchen merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan sejelas ini: keinginan kuat untuk menolak, bercampur dengan kesadaran bahwa penolakannya sendiri akan membuktikan tepat apa yang selama ini dicurigai Bai Rushuang tentang dirinya.
"Kalau aku setuju dengan ini," ia berkata perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati yang jarang ia perlukan di depan orang lain, "aku kehilangan kemampuan untuk bertindak cepat kalau situasi membutuhkan keputusan segera, tanpa menunggu persetujuan dewan yang mungkin tidak pernah sepakat—seperti yang baru saja kita saksikan sendiri hari ini."
"Ya," Bai Rushuang berkata, tidak berusaha menyangkalnya. "Itu harganya. Pertanyaannya, apakah kau bersedia membayar harga itu, atau apakah 'efisiensi' selalu jadi alasan bagimu untuk terus memutuskan sendirian atas nama orang lain."
---
Old Kang, pedagang yang menginginkan ekspansi agresif, mendengus. "Kenapa kita harus membatasi Tuan Zhuo? Ia sudah membuktikan kemampuannya membangun ini semua sendirian. Membaginya dengan dewan yang tidak sepakat sama sekali akan memperlambat segalanya."
"Karena," Su Lin menjawab, mengejutkan Zhuo Xuanchen dengan mengambil sisi yang tidak ia duga, "seseorang yang cukup pintar mengendalikan seratus orang tanpa sepengetahuan mereka untuk 'kebaikan mereka sendiri' hari ini, bisa saja cukup pintar mengendalikan mereka untuk sesuatu yang jauh kurang baik esok hari, dan kita tidak akan pernah tahu perbedaannya sampai terlambat."
Zhuo Xuanchen menatap Su Lin, menyadari wanita yang beberapa menit lalu berdebat dengannya soal ekspansi agresif kini secara tidak terduga membela argumen yang membatasi dirinya sendiri.
Manusia, ia menyadari lagi, tidak pernah sesederhana yang ia asumsikan mereka—bahkan mereka yang tampak berlawanan dalam satu hal bisa sepakat sepenuhnya dalam hal lain.
---
Perdebatan berlanjut dua jam lagi, tidak pernah mencapai konsensus penuh. Empat dari dua belas perwakilan menolak piagam itu sepenuhnya, menganggapnya akan memperlambat pertumbuhan yang selama ini mereka nantikan. Tiga lainnya menganggapnya belum cukup ketat, ingin batasan yang bahkan lebih kuat terhadap Zhuo Xuanchen.
Pada akhirnya, dengan suara delapan berbanding empat, piagam dasar disetujui—dewan pengawas dengan tujuh anggota, termasuk satu kursi untuk Zhuo Xuanchen, satu untuk Bai Rushuang mewakili Biro Informasi, dan lima dari perwakilan pedagang yang dipilih bergiliran setiap tahun.
Bukan kesepakatan sempurna. Empat orang yang menolak meninggalkan ruangan dengan wajah tidak puas, dan Zhuo Xuanchen tahu, berdasarkan pengalaman panjangnya membaca manusia, bahwa ketidakpuasan seperti itu jarang benar-benar hilang—ia hanya menunggu kesempatan untuk muncul kembali dalam bentuk lain.
---
Setelah sebagian besar perwakilan pergi, Bai Rushuang tetap tinggal, duduk kembali di seberang Zhuo Xuanchen yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Kau terkejut," ia berkata, bukan pertanyaan.
"Aku terkejut betapa sedikit yang bisa kuprediksi hari ini," Zhuo Xuanchen mengakui, jujur dengan cara yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun. "Aku sudah menghabiskan enam tahun menyusun rencana yang mengasumsikan aku memahami motivasi orang-orang yang kupengaruhi. Hari ini aku belajar aku hanya memahami sebagian kecil dari kerumitan mereka."
"Selamat datang di dunia nyata," Bai Rushuang berkata, dengan nada yang untuk pertama kalinya terdengar seperti bercanda, meski hanya sedikit. "Tempat orang tidak selalu bertindak sesuai kepentingan yang menurutmu seharusnya mereka miliki."
---
"Aku masih tidak yakin ini akan berhasil," Zhuo Xuanchen berkata, menatap piagam yang baru saja ditandatangani, tinta masih basah di beberapa nama. "Dewan yang tidak sepakat bisa melumpuhkan diri sendiri lebih cepat daripada monopoli lama yang kita coba gantikan."
"Mungkin," Bai Rushuang berkata, berdiri untuk pergi. "Tapi setidaknya sekarang, kalau ini gagal, ia gagal karena keputusan bersama, bukan karena satu orang yang menganggap dirinya cukup pintar untuk memutuskan bagi semua orang lain."
Ia berhenti sejenak di pintu, menoleh ke belakang.
"Aku masih akan mengawasimu," ia menambahkan. "Piagam ini tidak menghapus itu. Tapi setidaknya sekarang aku mengawasimu sebagai bagian dari sistem yang sama, bukan sebagai seseorang yang mengintai dari luar."
Ia pergi, meninggalkan Zhuo Xuanchen sendirian dengan piagam di depannya, kipas lipatnya tergeletak diam di atas meja, tidak terbuka sekali pun sepanjang dua jam perdebatan yang baru saja mengubah cara ia akan bekerja untuk sisa hidupnya.
Ia tidak tahu apakah keputusan hari ini akan menyelamatkan jaringan yang sudah ia bangun enam tahun, atau justru menjadi alasan jaringan itu perlahan runtuh dimakan perselisihan internal yang tidak pernah bisa ia kendalikan lagi seperti dulu.
Untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai, itu bukan lagi sepenuhnya keputusannya untuk diambil sendirian.