Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Hujan gerimis membilas kaca mobil hitam yang terparkir di sebuah lorong gelap tak jauh dari kawasan studio foto tua di sudut kota.

Di dalam kabin yang gelap, James menyandarkan punggungnya seraya mengembuskan napas panjang. Sebagai salah satu orang kepercayaan Nicolas Vance yang bergerak di balik layar, James sengaja menghilang selama beberapa minggu terakhir.

Sementara seluruh perhatian terfokus pada kebakaran penthouse dan perburuan Sofia, James menjalankan misi rahasia yang paling berbahaya, mencari jejak malam tragedi penembakan sebelas tahun lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam oleh Claudia Ophelia dan putranya Liam.

James merogoh saku mantelnya, menatap sebuah catatan kecil berisi nama Evander.

Evander adalah fotografer ternama yang disewa khusus untuk mengabadikan pesta ulang tahun Nicolas yang ke-15 di mansion utama Vance sebelas tahun silam.

Pria itu telah tewas terbunuh secara misterius, yang James ketahui merupakan tindakan bungkam dari Liam atas perintah Claudia.

Seluruh barang bukti fisik berupa kaset video camcorder dan flashdisk cadangan di studio Evander pun telah dimusnahkan secara total oleh orang-orang Claudia tak lama setelah tragedi pembunuhan Evander beberapa bulan lalu.

Namun, James bukanlah pria yang mudah menyerah pada jejak yang tampaknya sudah bersih.

"Tidak ada kejahatan yang benar-benar sempurna," gumam James kaku seraya mematikan mesin mobilnya.

James melangkah menembus gerimis menuju bangunan dua lantai bekas studio milik Evander yang kini terbengkalai dan berdebu. Pintu besi belakang studio itu telah berkarat. Dengan keahliannya, James membobol kunci selot pintu tersebut tanpa menimbulkan suara yang berarti.

Suasana di dalam studio terasa sangat lembab. Bau jamur, kertas lapuk, dan debu tebal menyengat hidung. James menyalakan senter kecil bertenaga tinggi, mengarahkan pendar cahayanya menyisir setiap sudut ruangan yang berantakan.

James tahu persis bahwa mencari kaset atau flashdisk di tempat ini adalah hal yang sia-sia. Claudia dan Liam sudah membersihkannya.

Namun, berdasarkan riset mendalam James mengenai kebiasaan kerja Evander, fotografer kawakan itu selalu menggunakan sistem backup otomatis pada server lokal tua bernomor seri internal, sebuah perangkat penyimpanan fisik tersembunyi yang tersambung langsung ke kamera utama saat proses dokumentasi berlangsung.

James melangkah menuju ruang bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai kamar gelap pencucian foto. Di sana, di balik tumpukan papan kayu lapuk dan kerangka mesin cetak tua, James menemukan sebuah koper besi kedap udara milik Evander yang tertutup lapisan debu tebal.

Dengan pisau lipat yang selalu ia bawa kemana-mana, James merusak engsel koper besi tersebut.

Di dalamnya tidak ada kaset maupun flashdisk. Namun, terdapat sebuah kamera camcorder profesional model lama yang fisiknya telah terbakar sebagian pada bagian bodi luar, beserta sebuah kartu memori micro-SD berukuran sangat kecil yang terselip di celah mekanisme lensa internal, bukan di slot memori utama.

"Kau sangat cerdik, Evander," bisik James seraya mencabut kartu memori berukuran mikro itu dengan pinset khusus. Kartu memori itu luput dari pemusnahan karena Evander menyembunyikannya di dalam kompartemen optik kamera sebelum ia dihabisi.

James segera memasukkan kartu memori tersebut ke dalam perangkat pembaca data khusus yang terhubung ke laptop terenkripsi miliknya.

Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, menembus korupsi file yang sebagian besar telah rusak akibat usia dan terbakar panas.

Setelah proses rekonstruksi data berjalan selama dua puluh menit yang menegangkan, sebuah berkas video berdurasi lima menit berhasil dipulihkan.

James memasang headphone, lalu menekan tombol play.

Layar laptop menampilkan rekaman video malam hari sebelas tahun silam. Waktu di sudut kanan bawah rekaman menunjukkan pukul 22.00, beberapa saat setelah pesta ulang tahun Nicolas yang ke-15 resmi berakhir.

Kamera camcorder tersebut tampaknya ditinggalkan begitu saja oleh Evander di atas tripod di area balkon lantai dua yang mengarah langsung ke taman belakang mansion, dalam kondisi tombol rekam yang masih menyala tanpa disengaja.

Gambar awal memperlihatkan taman yang sepi dan remang di bawah sorot lampu taman.

Namun, beberapa detik kemudian, sesosok wanita dengan gaun malam yang anggun melangkah masuk ke dalam bingkai kamera.

Claudia Ophelia.

Di sampingnya, berjalan anak laki-lakinya, Liam, yang saat itu masih remaja. Wajah Claudia di dalam rekaman tampak sangat dingin, bertolak belakang dengan senyuman lembut yang biasa ia tampilkan. Di hadapan mereka, berdiri Christina Vance, ibu kandung Nicolas yang tampak sangat lemah dan bersandar pada tiang gazebo taman.

James menahan napasnya tatkala melihat interaksi di dalam video tersebut.

Setelah adu mulut sebentar dengan Christina, Claudia menarik sebuah senjata api berperedam suara dari balik tas tangannya. Di depan mata anaknya sendiri, Liam, Claudia melepaskan tembakan tepat ke dada Christina Vance.

Christina roboh seketika di atas rumput taman. Liam muda tampak terkejut, namun Claudia dengan dingin menepuk bahu putranya, menyuruhnya untuk tetap tenang.

Namun, kejutan di malam naas itu belum berakhir.

Dari arah pintu samping taman, seorang pria berjaket kusam yang membawa kotak hantaran makanan melangkah masuk. Pria itu adalah Hans Sinclair, seorang kurir makanan yang tanpa sengaja masuk untuk mengantarkan pesanan terakhir pesta dan menyaksikan pembunuhan itu secara langsung dari jarak dekat.

Hans menjatuhkan kotaknya, menatap horor ke arah Claudia.

Panik karena aksinya terlihat oleh saksi mata, Claudia tanpa ragu memutar tubuhnya dan melepaskan tembakan kedua yang tepat mengenai dada Hans Sinclair, Hans ambruk bersimbah darah di dekat taman, tak jauh dari tubuh Christina.

Claudia kemudian merenggut tangan Liam muda dan kabur melintasi kegelapan taman, meninggalkan dua tubuh yang tergeletak kaku di atas tanah.

Video itu terus berjalan secara konstan. Satu menit kemudian, seorang anak perempuan kecil dengan seragam sekolah yang lusuh berlari masuk ke dalam taman seraya menangis histeris.

Sienna Sinclair kecil.

Gadis kecil yang polos itu menjerit memeluk tubuh ayahnya yang terkulai. Dalam kepanikan dan ketakutan yang luar biasa melihat ayahnya tidak bergerak, Sienna kecil melakukan sebuah tindakan fatal yang kelak menghancurkan seluruh hidupnya, dengan tangan gemetar dan niat polos untuk menjauhkan benda berbahaya itu dari sang ayah, Sienna memungut pistol yang ditinggalkan oleh Claudia pada genggaman tangan Hans.

Kamera merekam dengan sangat jelas detik-detik saat jemari mungil Sienna memegang senjata api bersimbah darah tersebut, menciptakan ceceran sidik jari yang kelak dijadikan bukti utama oleh pihak kepolisian korup untuk menjebaknya dan almarhum ayahnya sebagai pelaku tunggal.

Klik.

Video berakhir. Layar laptop kembali menjadi hitam.

Di dalam kamar gelap yang dingin itu, James terduduk kaku. Keringat dingin mengucur di dahinya. Seluruh teka-teki berdarah yang menyiksa Nicolas Vance, Sienna Sinclair, dan Hans Sinclair selama sebelas tahun akhirnya terkuak secara jelas di depan matanya.

Bukan Hans Sinclair yang membunuh Christina Vance. Dan Sienna hanyalah korban tak berdosa dari skenario kejam yang disusun oleh Claudia Ophelia.

Dengan tangan yang mengepal erat, James menyalin berkas video tersebut ke dalam tiga drive terenkripsi yang berbeda.

"Kebenaran ini sudah terlalu lama terkurung dalam kegelapan," ujar James dengan intonasi rendah yang sarat akan ketegasan. "Sudah waktunya Tuan Nicolas menerima bukti ini."

James menutup laptopnya, merapikan seluruh peralatannya, lalu melangkah keluar menembus kegelapan malam menuju kota, membawa dokumen visual mematikan yang akan menjadi palu eksekusi bagi Claudia dan Liam.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!